
Suara motor beriringan mulai terdengar belum begitu dekat. Jaraknya masih lumayan jauh, tapi pemilik restoran itu tahu jika itu adalah Rafli dan anak buahnya.
Mereka datang pasti untuk menghancurkan restorannya jika Andy tidak segera pergi.
"Tuan, anda sepertinya bukan berasal dari sini. Anda tidak tahu jika Rafli dan gengnya sangat berbahaya. Pergilah Tuan, semua tamu juga sudah pergi, tinggal Tuan saja,"
"Ayo Andy, sebelum mereka kemari," Diana bangkit dari duduknya.
Dreeetttt!
Greeeekkkk!
Pemilik itu segera menutup restorannya dan akan segera pergi.
Andy masih kesal dan tidak bergeming.
"Tuan, saya mohon, pergilah, sebelum mereka datang, mereka pasti membalas dan akan datang beramai-ramai," kata pemilik restoran itu dengan panik karena Andy keras kepala dan tidak bergeming.
Diana segera menarik Andy.
"Kau kenapa? Ayo segera pergi!"
Diana menarik Andy dan akhirnya Andy bangun lalu keluar dari restoran itu. Begitu Andy keluar, pemiliknya segera menutup dan masuk kedalam mobilnya.
Dia akan segera meninggalkan tempat itu. Namun baru saja akan keluar dari halaman parkir, motor Rafli dan anak buahnya sudah berbaris menghadangnya.
"Sial! Mereka sudah sampai!" Umpat pemilik restoran itu dengan tetap berada didalam mobilnya.
Andy masih ada direstoran itu dan baru akan jalan keluar halaman.
"Itu orangnya!" teriak salah seorang yang tadi dipukul oleh Andy dan mengadu pada bosnya.
"Rupanya dia sendirian! Dia hanya bersama seorang wanita!"
"Ayo kita hajar dia!" Kata bosnya.
Mereka lalu menyalakan mesin motornya dan suaranya menderu-deru begitu berisik.
Diana sudah mulai panik.
"Terlambat! Mereka sudah datang! Kali ini kau harus menghadapinya," Diana lalu menyingkir dan membiarkan Andy yang melawan para geng motor itu.
Mereka mengelilingi Andy dengan motornya yang seakan akan menabrak Andy.
"Kau rupanya masih disini! Kau bernyali besar! Kau belum tahu siapa kami!" Teriak Rafli.
"Memangnya siapa kau!" Andy menatap Rafli dengan meremehkan. Dia hanya anak orang kaya yang menggunakan uang dan kekuasaan untuk bertindak sesuka hati, pikir Andy.
"Aku adalah Rafli! Aku anak dari penguasa ditempat ini. Tidak ada yang bisa menghalangi keinginanku dan tidak ada yang berani menentang ku selama ini!"
"Sungguh luar biasa. Kau mudah mengendalikan orang lain hanya karena ayahmu berkuasa! Dasar anak tidak ada akhlak!"
"Kurang ajar! Tutup mulutmu!" Teriak Rafli yang menurut Andy usianya baru belasan tahun atau mungkin 17 tahunan.
"Teman-teman! Ayo kita beri pelajaran pada pria ini! Biar dia tahu siapa kita!" Teriak Rafli dan serentak teman-temannya maju semua. Mereka mengarahkan motornya kearah Andy.
Andy sudah siap dengan mengumpulkan kekuatan pada telapak tangannya.
Begitu dua motor maju kedepan, Andy segera menahanya dengan kedua tangannya dan menendang motor itu hingga mereka terjungkal.
Dua motor dibelakangnya segera maju saat melihat dua temanya jatuh.
Andy segera melompat keatas kepalaerrka dan menendang mereka berdua secara bersamaan.
Buk! buk!
Mereka berdua terlempar dari motornya dan tersungkur dilantai.
Andy berdiri dengan tegak dan menunggu serangan berikutnya.
Kali ini empat motor menyerangnya bersamaan. Mereka menggunakan samurai untuk melukai Andy.
Andy lebih berhati-hati dan mengangguk-angguk. Pantas saja pemilik restoran ketakutan. Mereka menyerang dengan keroyokan dan menggunakan senjata tajam.
Andy segera mengambil satu motor yang bekas dikendarai anak buah Rafli yang sudah tersungkur dilantai.
Andy menggunakan motor itu dan menuju kearah mereka berempat.
Andy terlibat kejar-kejaran dengan mereka dan Andy segera melompat ke udara saat jarak mereka sangat dekat dibelakang Andy. Andy lalu menendang mereka dari arah belakang dan tendangannya tepat menyasar punggung mereka.
Tendangan Andy sungguh begitu kuat, sekali tendang mereka terkapar dilantai dengan senjata ditangan mereka.
Beberapa Anak buah Rafli datang dengan membawa senjata begitu melihat teman-teman nya sudah tersungkur dilantai.
Mereka mengelilingi Andy dan mulai menyerang dengan samurai.
Rafli nampak tenang duduk diatas motornya dan yakin jika malam ini adalah malam terakhir untuk Andy. Anak buahnya pasti mengalahkanya, begitu pikir Rafli.
Namun Rafli sangat terkejut saat dia melihat semua anak buahnya terlempar tiga meter dalam sekali tindakan yang dilakukan oleh Andy.
Tiba-tiba Andy menghilang karena gerakannya yang sangat cepat dan tidak terlihat seperti sebuah bayangan.
Rafli bingung melihat kejadian itu. Begitu tahu anak buahnya tidak tersisa dan semua berhasil dikalahkan oleh Andy, maka Rafli segera tancap gas dan akan pergi dari tempat itu.
Namun Andy melesat seperti bayangan dan sudah ada didepanya.
__ADS_1
"Kau mau kemana?"
Andy menantangnya untuk bertarung mengalahkanya.
"Aku akan pergi! Mennyingkir dariku!"
"Tidak semudah itu bro! Kau sudah banyak berbuat onar! Kau harus dihukum agar jera!"
"Hahahaha, tidak akan! Aku kebal hukum!" Teriak Rafli.
"Jika begitu, maka aku yang akan membuatmu jera!"
Andy segera menendang motornya dan Rafli segera melompat ketanah. Kali ini dia sudah tidak ada waktu untuk kabur, maka dia harus menghadapi Andy.
"Majulah! Kau lebih muda dariku!" kata Andy menantang Rafli yang sok jagoan tapi ternyata nyalinya kecil saat sendirian.
Rafli segera mengambil samurai dan siap untuk menebas kepala Andy.
Andy dengan tenang menahan samurai itu dengan kedua telapak tangannya. Tanpa terluka sedikitpun Andy segera menendang perut Rafli.
Duag!
Senjata Rafli berada ditangan Andy, dan dirinya tersungkur dilantai.
"Bangun bro! Kau harus mengalahkan aku!" kata Andy tenang dan membuang samurai yang kini ada ditanganya.
Rafli segera bangun dan siap untuk menendang Andy. Andy tenang dan diam saja saat Rafli menendangnya.
Duag!
Andy tidak bergeming, dan Rafli sungguh terkejut. Dia mengerahkan semua kekuatan pada tendanganya tapi pria yang didepanya tidak bergeming sedikitpun.
"Tendangan yang bagus!" puji Andy mengejek Rafli.
Begitu Rafli akan menendangnya sekali lagi, maka Andy memutar kakinya dan menangkap dua tangan Rafli lalu memutarnya kebelakang.
Andy mematahkan tulang ditangan Rafli.
Kretek! kretek!
Aaaaaaa!
Rafli berteriak kesakitan.
"Ampun! Ampun!" Teriak Rafli memohon ampun.
Andy sengaja tidak akan membunuhnya dan hanya akan membuatnya jera saja.
"Katakan kau tidak akan mengganggu orang lagi bersama teman-teman mu!" Teriak Andy melotot pada Rafli.
"Iya Tuan, saya berjanji!" kata Rafli sambil menahan sakit karena tanganya masih dicengkeram oleh Andy.
Ao ao aaaaaa
Rafli menjerit saat Andy meremas dengan kuat.
"Jika aku melihatmu berbuat onar lagi maka aku akan membuat tulang kakimu patah dan kau tidak bisa berjalan!"
"Jangan Tuan! Ampun, saya berjanji!" Kata Rafli sambil meringis menahan sakit.
Duag!
Andy lalu melepaskan dan menendang Rafli setelah itu dia pergi bersama Diana menyelinap dikegelapan malam.
Rafli mencari pria yang baru saja pergi dengan matanya, tapi tidak menemukanya.
Andy mengajak Diana pergi dari tempat itu dan naik kekapal boatnya.
Sementara pemilik restoran sudah pergi dari tadi saat mereka sedang berkelahi.
"Kita harus segera pergi dari sini," kata Andy.
"Sudah kubilang sebaiknya kita pergi dari tadi, tapi kau malah berurusan dengan mereka," Diana nampak kesal.
"Aku harus memberi pelajaran pada anak-anak itu."
"Kita bisa tertangkap jika ada yang tahu kau ada disini," kata Diana mengkhawatirkan anak buah Robert yang untungnya tidak melintas saat itu.
Andy segera menyalakan kapal boatnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
***
Keesokan harinya Andy sudah sampai di markas dan langsung beristirahat dirumahnya di negara MX.
Lewis dan Sony segera memberi laporan padanya. Mereka melakukan tugas yang diberikan Andy dengan cepat dan semuanya sudah selesai tepat waktu.
"Apakah Bos ada?" tanya Lewis pada Diana yang sedang duduk santai diteras.
"Ya, dia didalam. Akan aku panggilkan." kata Diana dan segera masuk menemui Andy yang sedang duduk santai.
"Ada Lewis dan Sony diluar. Mereka ingin bertemu denganmu," kata Diana.
"Suruh mereka masuk," kata Andy.
Lewis lalu masuk bersama Sony. Diana keluar dan membiarkan mereka berbicara bertiga.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Andy saat mereka sudah duduk.
"Ya. Semua sudah selesai. Rumah warga sudah dibangun dan mereka sudah pindah. Sekarang pelabuhan sedang dalam masa pembangunan. Alat-alat berat sudah ada disana. Brigit divisi tiga bersama Hektor bekerja dengan baik."
"Terimakasih, kalian sudah sangat membantuku. Martin juga ada disana bukan? Dia pemimpin divisi tujuh." kata Andy.
"Aku tidak melihatnya beberapa hari ini. Dia tidak nampak sama sekali." kata Sony.
"Dia bertanggung jawab untuk proyek pelabuhan. Sedangkan Brigit lebih fokus pada jalan yang berhubungan dengan pelabuhan."
"Aku sudah mencarinya dan bertanya pada beberapa orang, tapi dia tidak kelihatan beberapa hari ini."
"Cari dia! Jika dia tidak datang maka aku akan menggantinya dengan orang lain,"
"Baik. Kami akan segera mencarinya,"
"Jika begitu kalian boleh pergi, aku mau istirahat sebentar," kata Andy dan mulai memejamkan matanya karena sangat mengantuk.
"Ya, kami permisi," kata Lewis dan Sony lalu pergi dan bertemu Diana diluar.
Mereka mengangguk pada Diana dan Diana membalasnya dengan anggukan juga.
Diana bergegas masuk kedalam dan dia lihat Andy sudah tidur dikursi.
"Dia mendengkur," kata Diana sambil mengambil selimut untuk menyelimuti Andy. Lama Diana menatap Andy dan memperhatikan wajahnya dan badanya yang banyak berubah.
Dia menjadi pria perkasa dan kuat. Badanya berotot dan wajahnya menjadi gagah dan tampan. Jauh berbeda saat pertama kali melihatnya tersesat di hutan. Pria semampai dan takut pada ketinggian.
Polos dan begitu sederhana. Saat ini Andy benar-benar menjelma seperti bos besar, dengan stelan jas mahal dan sepatu hitam. Rambut tertata rapi dan rahang yang sempurna.
Diana menatap batu dileher Andy. Batu ini benar-benar ajaib. Diana sungguh takjub dengan kekuatan batu yang tergantung dileher Andy.
Diana lalu menyentuhnya pelan. Diana ingin mengusap batu itu saat Andy tertidur. Warnanya semakin gelap dan pekat. Entah keajaiban apa lagi yang akan terjadi setiap kali batu itu berubah warna.
Andy terbangun saat Diana begitu dekat dengan dadanya. Andy tidak melewatkan kesempatan itu dan segera menariknya lalu memeluknya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Andy membuat kaget Diana saat tiba-tiba Andy terbangun dan tangan kekarnya sudah menarik punggung Diana hingga mereka bersentuhan sangat dekat.
"Ehm, tidak ada. Aku hanya melihat batu yang kau pakai terus berubah warna."
"Benarkah?" Andy berbisik di telinganya dan menarik kalungnya lalu melihatnya.
"Sepertinya tidak. Dari kemarin warnanya memang seperti ini."
"Ehm, aku merasa batu itu semakin gelap. Aku hanya berfikir, apa lagi keajaiban yang mungkin terjadi?"
"Tidak ada. Semua keajaiban sudah terjadi. Kau lelah bukan? Ayo kita istirahat. Tutup pintunya," kata Andy lalu menggendong Diana masuk kedalam kamar.
***
Robert sedang mengajak jalan-jalan tamunya, Teo dan Pedro. Dia juga singgah dirumah penguasa kota itu.
"Mereka adalah tamu saya dari negara MX, kenalkan ini Teo dan ini Pedro."
"Teo,"
"Pedro,"
"Hasan," Mereka lalu berjabat tangan dan berbincang-bincang.
Begitu mendengar Robert mendapat pesanan kapal pesiar dengan harga fantastis dan yang pasti Hasan, sang penguasa kota itu juga akan mendapatkan pemasukan darinya.
Hasan begitu penasaran karena yang memesan kapal perusahaan baru dari negara MX.
Negara yang miskin dan semrawut, datang untuk memesan kapal pesiar mewah, tentu itu adalah kabar yang sangat mencengangkan.
Dia lalu mengundang Robert dan tamunya untuk datang kerumahnya.
"Ohh jadi kalian adalah dari perusahaan Marco. Aku baru mendengar nama itu."
"Benar Tuan," jawab Teo.
"Silahkan diminum, ini minuman terbaik koleksi saya," kata Hasan.
"Rasanya sungguh luar biasa," kata Pedro yang baru saja meminum satu cangkir kecil.
"Apakah kalian sudah berjalan-jalan melihat kota kami?"
"Sudah, kami sungguh kagum dengan kota ini. Pertama kali datang dan kota ini sungguh bersih dan rapi. Semua warganya hidup makmur dan sejahtera." kata Pedro.
"Bagaimana kabar negara kalian? Sepertinya sekarang mulai banyak perubahan. Aku dengar kejahatan banyak berkurang. Aku baru membaca kabar dari koran internasional kemarin," kata Hasan.
Pedro dan Teo saling bertatapan. Mereka tersenyum tipis.
Tentu saja kejahatan berkurang, bagaimana tidak? Semua mafia tunduk pada perintah Andy. Dia memegang kendali sekarang dan membuat mereka semua bergabung dengan perusahaan nya.
"Benar Tuan. Negara kami sudah aman sekarang. Dan lain kali datanglah ke negara kami untuk melihat perusahaan kami." Kata Teo.
"Tentu, tentu. Kami sungguh ingin mengunjungi tempat wisata disana yang begitu indah. Tapi kami selalu khawatir karena keadaan yang tidak aman. Tapi sekarang, jika kau berkata begitu, maka kami senang. Suatu hari nanti kami akan liburan kesana dan menikmati tempat-tempat yang indah."
"Kami akan mengajak tuan-tuan berkeliling dan kami jamin, Tuan akan aman bersama kami," kata Pedro.
"Tentu saja." Kata Hasan diikuti anggukan oleh Robert.
Robert juga sangat penasaran dengan perusahaan yang memesan kapal padanya. Dan ingin bertemu dengan bosnya secara langsung.
__ADS_1
Mereka berbicara dan setelah itu Robert mengajak mereka pergi ke beberapa perusahaan dibawah naunganya.
Teo dan Pedro sungguh kagum pada Robert. Diusia semuda itu tapi dia sudah berhasil dan memiliki perusahaan terbesar di Asia. Mereka tidak tahu jika perusahaan itu milik ayah Andy, yang tidak lain adalah bos mereka.