Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Tombak pusaka untuk Andy


__ADS_3

Didesa dihutan terpencil Tetua bersama warga yang lainya mengadakan upacara untuk keselamatan dan juga mengenang para leluhur. Sekarang semakin banyak orang asing yang datang kepulau mereka yang tentu saja suatu saat bisa menjadi ancaman untuk keselamatan mereka.


Andy duduk bersama Tetua. Semua jamuan makanan enak dimasak dan boleh dimakan setelah upacara adat.


"Angkatlah tanganmu dan aku akan menyerahkan tombak pusaka padamu." Kata Tetua lalu menyerahkan tombak milik nenek moyangnya pada Andy.


"Kami sangat mempercayaimu bahwa kamu adalah manusia titisan dewa yang akan melindungin kami,"


Andy menerima tombak dan menyimpannya, dia juga mengucapkan terimakasih karena diberikan kepercayaan untuk menjaga warisan nenek moyang mereka.


Andy akan segera menikah dengan Diana beberapa hari lagi. Hari baik itu sebentar lagi tiba. Karena Naina masih menjalani masa Iddah maka Diana lah yang akan menikah lebih dulu dengan Andy.


Diana berjalan mendekati Andy dengan senyum mengembang manis di bibirnya. Dia lalu duduk didekat Andy setelah upacara selesai.


"Kau sudah makan?" Tanya Diana sambil membawa daging ular dipiringnya. Dia lalu memberikannya pada Andy.


"Makanlah, ini sangat enak."


"Kau saja. Aku sudah kenyang," kata Andy dan Diana lalu menghabiskannya.


Pipinya agak merona merah sesaat setelah Diana makan daging ular itu.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Diana menatap Andy dengan hangat.


"Maksudmu?" Tanya Andy menatap Diana dengan bingung.


"Kita akan menikah beberapa hari lagi. Apakah kau senang? Maksudku apakah jantungmu berdebar? Bolehkah aku memegangnya?"


Andy mengangguk.


"Sedikit," kata Diana.


"Apanya?"


"Berdebar, hanya sedikit. Kau pasti sudah mempersiapkan dirimu jauh-jauh hari. Bagus karena jantungmu tidak berdebar kencang, artinya kau sudah lebih siap daripada aku,"


"Kau ini, ada-ada saja," ucap Andy dan beranjak bangun.


"Mau kemana? Duduklah dulu, aku masih ingin berbicara denganmu, aku ingin bercerita banyak hal padamu," kata Diana menarik pergelangan tangan Andy.


Akhirnya Andy duduk kembali.

__ADS_1


"Ayo kita jalan-jalan, acaranya sudah selesai bukan?"


Andy mengangkat bahunya.


"Ayolah," Diana sedikit memaksa Andy.


Andy terpaksa menuruti keinginan Diana. Bagaimana pun andy lama-lama merasa lebih nyaman tinggal di pulau ini.


Apalagi sekarang dia sudah menemukan jalan keluar masuk pulau tanpa tersesat. Peta itu menunjukan jalan yang benar.


Andy duduk sambil menatap api buatan yang kadang redup kadang bergoyang tertiup angin. Andy berfikir, jika dia bisa menarik uang dan keuntungan dalam jumlah banyak, maka dia ingin membuat pembangkit listrik di pulau ini.


Biayanya akan mahal, tapi jika dia memutuskan untuk tinggal disini, dia akan mengusahakan agar ada listrik di pulau ini.


Mengajukan pada pemerintah setempat sangatlah tidak mungkin, kemungkinan disetujui itu sangatlah kecil. Harus dari uang sendiri baru bisa mewujudkannya.


Apalagi jika tempat ini diketahui publik maka akan banyak turis asing datang dan keasrian yang selama ini alami akan diubah menjadi destinasi wisata.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Diana yang sejak tadi dia lihat Andy melamun dan melihat pada api yang menyala.


"Tidak ada listrik disini. Aku berfikir untuk membuatnya suatu saat nanti,"


"Ehm, maksudmu seperti dikota? Semua lampu menyala dengan terang. Malam hari terasa bagaikan siang."


"Siapa yang akan membuatnya?" Diana terlihat dingin dan merasa apa yang dikatakan Andy mustahil.


"Aku. Aku akan membuat lampu-lampu disini menyala terang saat malam hari,"


"Sebaiknya kau hanya mengatakanya padaku. Jangan sampai orang dikampung tahu. Jika mereka punya harapan besar padamu dan kau tidak mewujudkannya, mereka akan sangat kecewa."


"Jika uangku cukup maka aku akan mewujudkanya,"


"Apakah artinya kau akan tinggal disini selamanya?"


"Maksudku, kita akan punya anak dan membesarkannya dipulau ini?"


Andy mengangguk pelan.


Diana lalu memeluknya dan mencium pipi Andy. Andy menoleh dan menatap Diana dengan kaget. Diana tersenyum dan tertunduk malu.


"Hari sudah malam, sebaiknya kau tidur," Andy beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Diana.

__ADS_1


Diana bangun dan Andy mengantarkannya pulang lalu dia berpamitan untuk pulang kerumahnya.


Saat Andy membuka rumahnya Naina sedang duduk sendirian diruang tamu. Dia pasti teringat pada mendiang ali, pikir Andy.


Anaknya sudah tidur semua. Andy yang tadinya akan langsung tidur membatalkan niatnya. Dia duduk disamping Naina.


"Kau belum tidur?" Tanya Andy dan meraih api agar lebih dekat dan terang.


Wajah Naina yang sembab menjadi terlihat lebih jelas oleh Andy. Naina pasti baru saja menangis.


"Kau menangis? Apakah kau sakit? Jika kau perlu bantuan, jangan sungkan, aku pasti akan membantumu," kata Andy merasa bersalah meninggalkan Naina terlalu lama. Dia mungkin merasa kesepian, pikir Andy.


"Aku teringat pada Ali." Tiba-tiba Naina yang biasanya diam mau berbicara lebih terbuka padanya.


"Ya, kau pasti sangat merindukannya,"


"Tidak hanya merindukannya, aku benar-benar merasa sedih, hampa, dan hidup serasa tidak berarti lagi tanpa dirinya,"


Andy mengubah posisi duduknya dan memegang tangan Naina.


"Jika kau ingin menangis, menangis lah, itu akan membuat perasaanmu lebih tenang." Andy memberikan bahunya agar Naina bersandar padanya.


Tiba-tiba Naina benar-benar menyandarkan kepalanya dan menangis sepuasnya. Sudah lama dia menutupi hatinya yang rapuh dan terlihat tegar. Hari ini dia benar-benar ingin menangis dan mengeluarkan segala penderitaannya.


Andy membiarkan Naina menangis tanpa menyentuhnya. Andy merasa Naina selama ini berusaha tegar dan kuat. Tapi rasa hampa dan penderitaan sudah benar-benar tidak mampu dia tahan lagi.


Naina tiba-tiba mengangkat kepalanya dan tertunduk.


"Terimakasih, aku sudah merasa lebih baik."


"Ya,"


"Kapanpun kau merasa sendiri dan ingin aku temani, maka katakan saja. Aku tahu ini sangat berat untukmu, dan aku bisa mengerti apa yang kau rasakan," kata Andy agar Naina tidak merasa sungkan lagi padanya.


Naina terlihat mengangguk dan berdiri.


"Aku akan tidur, selamat malam," kata Naina lalu berjalan ke kamarnya


Andy menatapnya hingga Naina masuk kedalam. Andy lalu berjalan menutup dan mengunci pintu.


Dia dan Naina tinggal satu rumah. Mereka tidur dikamar masing-masing. Andy sudah berjanji untuk menjaga Naina hingga menolak saat tetua akan memberikan rumah untuk Naina.

__ADS_1


Rossa sedang duduk sendirian didalam kamarnya. Angannya melayang jauh dan semakin jauh harapannya untuk hidup bersama orang yang dia sukai.


Andy akan menikah dengan Diana sebentar lagi, setelah itu dia akan menikah dengan Naina. Aku semakin terlempar jauh dari kehidupanya, gumam Rossa.


__ADS_2