Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Terkejut


__ADS_3

Azam membuka matanya perlahan, begitu juga Eduardo. Mereka berdua memegang kulitnya dan mencari bekas lukanya. Kulit mereka pilih seperti sedia kala dan tidak nampak satupun goresan bekas luka.


"Dimana yang tadi terluka?" tanya Azam bingung pada ayahnya.


"Aku juga," kata Eduardo.


"Ayah sudah mengobatinya," kata Andy.


"Dengan sihir?" tanya Azam langsung menatap wajah ayahnya.


"Tidak, dengan batu ini," kata Andy. Mereka berdua kompak menatap batu secara bersamaan. Mereka tak berkedip dan lama memandanginya.


"Mainlah lagi, dan jangan bertengkar," kata Andy lalu meninggalkan mereka berdua.


Andy masuk kedalam dan memeluk Rossa dikamarnya. Dikamar, Rossa sedang merapikan tempat tidur yang akan digunakan nanti malam. Karena hari ini Andy akan menginap dirumahnya, maka kamarnya harus rapi agar nyaman saat ada didalamnya.


"Andy, nanti anak-anak melihatnya," kata Rossa dan menaruh selimut yang sedang dia rapikan didekat bantal.


"Tidak, mereka sedang bermain," kata Andy lalu membalikkan badan Rossa.


"Aku akan menginap disini malam ini," kata Andy.


"Ya," ucap Rossa lalu menatapnya.


Andy lalu mengajak Rossa untuk keluar dan berjalan-jalan disekitar rumah mereka. Karena hari masih belum malam, maka mereka menghabiskan waktu diluar rumah.


Andy membetulkan beberapa kerusakan dirumah panggung Rossa.


"Aku akan membuatkan minuman segar untukmu," kata Rossa saat melihat keringat didahi suaminya.


"Ya...." jawab Andy tanpa menoleh.


Dia masih menata kayu bakar agar terkena sinar matahari. Karena musim penghujan hampir sudah tiba, maka dia memindahkan beberapa kayu kering kedekat dapur.


Hal itu membuat keringatnya mengalir deras. Pekerjaan seperti ini tidak pernah dia lakukan sebelumnya saat tinggal dikota.


Dia hanya akan duduk dan melihat beberapa pekerjaan anak buahnya, setelah itu pulang kerumahnya. Namun dipulau, semuanya harus dia kerjakan sendiri, karena disini tidak ada pelayan yang akan melayaninya.


Jika biasanya dia memakai jas saat bekerja, maka sekarang dia cukup memakai kaos putih saat bekerja dan tanpa alas kaki.


Semua anak buahnya tidak ada yang bisa menghubunginya, karena dipulau tempat Andy tinggal tidak ada listrik serta signal.


Andy selesai membereskan semuanya dirumah Rossa dan sekarang dia mandi setelah menimba air. Semuanya dikerjakan secara manual dan tidak ada alat otomatis yang tinggal pencet atau putar air langsung mengalir.

__ADS_1


"Jika kau lelah, maka biarkan aku membantumu," kata Rossa yang duduk tidak jauh dari Andy menimba air.


"Tidak, kau duduk saja, selama aku pergi kau melakukanya sendirian. Maka sekarang aku akan melakukanya untukmu," kata Andy.


"Jangan memaksa, kau belum terbiasa, nanti kau sakit," kata Rossa.


"Aku seorang pria, tentu pekerjaan seperti ini adalah hal sepele bagiku,"


"Terserah jika kau tidak mau mendengarkanku," kata Rossa.


Andy lalu selesai menimba air dan mandi.


***


Malam harinya, anaknya sudah tidur, Azam sudah dijemput Naina dan pulang kerumahnya, sementara Andy ada dikamar bersama Rossa.


Andy merengkuh Rossa kedalam pelukannya, dan Rossa merasakan badan Andy panas sekali saat menyentuhnya.


"Kau demam," kata Rossa memegang kening Andy.


"Tidak, ayo kemarilah, dan merapat didadaku," kata Andy yang ingin menunaikan kewajibannya setelah sekian tahun tidak bertemu.


"Badanmu panas sekali,"


"Andy, aku serius, kau benar-benar demam,"


"Iya, aku demam karena merindukanmu," kata Andy dan wajahnya mendekat pada wajah Rossa.


Rossa merasakan jika bibir Andy terasa semakin panas.


"Andy, jangan memaksa, kau sedang tidak fit, nanti kau sakit," ulang Rossa. Namun Andy terus saja menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua.


"Hhhhhh" Andy mulai mengigil saat melepaskan baju istrinya. Rossa membuka selimutnya dan berbaring disamping Andy lalu memegang keningnya.


"Sudah kubilang kau demam. Biarkan aku mengobatimu," kata Rossa lalu mengambil kompresan karena Andy terus menginggil. Sekarang mata Andy terpejam dan merasakan sensasi kedinginan akibat demam tinggi.


Rossa dengan lembut mengambil handuk kecil dan mencelupkannya kedalam air dibaskom kecil. Setelah itu memerasnya dan menempelkannya di kening Andy.


Sepanjang malam Rossa berjaga disamping suaminya dan demamnya belum juga turun. Maka Rossa memanggil Diana dan Naina untuk bergantian merawatnya. Dia sudah sangat lelah dan mengantuk.


"Diana, bisakah kau datang kerumah? Andy demam dan aku berjaga semalaman," kata Rossa masih dengan wajah kusutnya.


"Ya, aku akan kesana bersama Nicolas." kata Diana bergegas kerumah Rossa begitu juga Naina saat mengetahui suaminya demam.

__ADS_1


Mereka bertiga berdiri dalam satu kamar dan menatap Andy. Ini adalah pertama kalinya mereka bertiga berkumpul dalam satu ruangan karena suatu keadaan.


Biasanya mereka sibuk dirumahnya masing-masing. Kali ini mereka menatap pria yang sedang berbaring sambil memejamkan mata dengan rasa cemas.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Diana pada Rossa. Mereka bertiga duduk disamping suaminya.


"Dia kemarin seharian membetulkan rumah dan menimba air sangat banyak. Sudah ku peringatkan, tapi kau tau dia tidak mau mendengarnya,"


"Hh, pantas saja, dia tidak pernah bekerja berat sebelumnya. Kau tahu, dirumahnya ada begitu banyak pelayan. Dan semuanya menyediakan segala keperluannya," kata Diana bercerita pada Naina serta Rossa.


"Kalau begitu, kenapa dia harus memaksa untuk bekerja keras, biarkan kami melakukanya, kami sudah terbiasa," kenang Rossa.


"Mungkin suami kita ingin melakukan yang terbaik dan meringankan beban istrinya," kata Naina menimpali.


"Tidak perlu begitu, kita tahu jika dia bukanlah pria yang terlahir dari pulau ini. Semua pekerjaan itu pasti terasa berat baginya. Dia tidak terbiasa. Makanya dia jadi demam," kata Rossa.


"Dia ingin menjadi pria yang perkasa dan bertanggungjawab bagi para istrinya, itu pasti yang dia pikirkan," kata Diana.


"Untuk apa berfikir seperti itu, kita bahkan sudah tahu kalau dia tidak bisa naik pohon, kami menerimanya apa adanya dan tidak akan memaksanya melakukan hal yang dia tidak bisa," kata Rossa.


"Jangan bicara begitu, nanti dia tersinggung," kata Naina.


"Aku kesal, dia begitu keras kepala," kata Rossa lalu Andy terbangun.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Andy dan melihat istrinya satu persatu dan tersenyum.


"Tidak ada, kami hanya mengkhawatirkan keadaanmu," kata Diana dan istri yang lainya saling berpandangan.


"Ya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku hanya kelelahan, sekarang kalian bisa pergi, aku sudah sehat," kata Andy dan berusaha untuk bangun.


Ketiga istrinya lalu membantunya bangun dan mereka duduk bersama.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya ketiga istrinya serempak membuat Andy kaget dan menatap mereka bertiga dengan aneh.


"Apa maksudnya begitu? Aku hanya demam, bukan akan mati, tapi kalian berkumpul seakan aku akan mati saja,"


"Kenapa kau malah berbicara begitu?" tanya Diana kesal.


"Ini hanya sakit biasa. Tapi ketiga istriku berkumpul seakan aku akan sakaratul maut," kata Andy.


"Aku yang mengundang mereka," kata Rossa.


"Sekarang, aku sudah lebih baik, sebaiknya kalian pulang, jangan sampai orang dikampung tahu dan semuanya berkumpul disini, aku sungguh malu," kata Andy.

__ADS_1


"Iya, baiklah, kami akan pulang," kata Diana dan mengajak Naina keluar dari rumah Rossa.


__ADS_2