
Andy membawa Diana pulang kerumah dan mengenalkannya sebagai istrinya pada ayahnya.
Saat itu ayahnya sedang duduk sendirian sambil membaca surat kabar.
Andy masuk lebih dahulu baru disusul oleh Diana. Ayahnya nampak tersenyum ramah pada Diana. Gadis ini pernah diajak oleh Andy beberapa waktu lalu, dan sekarang mereka terlihat bersama lagi.
"Ayah, kenalkan ini istri Khan, Diana."
"Istri? Kalian sudah menikah?" Tuan Harun Malik nampak terkejut meskipun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Belum lama. Dan aku ingin mengajaknya berbulan madu di sini." Kata Khan menunggu reaksi ayahnya. Khan tidak ingin menyembunyikan pernikahanya dari ayahnya. Meskipun begitu, dia juga tidak bisa berterus terang siapa sebenarnya Diana.
"Duduklah, selamat! Ayah ikut senang akhirnya kau menikah dan cepatlah punya anak, ayah akan membuat pesta untuk kalian nanti malam,"
"Terimakasih ayah."
Mereka bertiga lalu bercerita panjang dan lebar tentang Diana dan darimana asal Diana. Khan terpaksa mengarang cerita asal usul Diana didepan ayahnya. Ayahnya tidak akan setuju jika Diana berasal dari pulau terpencil.
"Orang tuanya sedang pergi untuk perjalanan bisinis, setelah pernikahan kami. Jadi nanti malam tidak bisa datang," ujar Khan pada ayahnya.
"Ohh, jadi begitu, ya sudah tidak papa. Kita tetap akan membuat pesta untuk kalian. Dunia harus tahu jika putraku Khan sudah menikah dan punya seorang istri."
Khan mengangguk dan mengedipkan mata pada Diana agar tidak berbicara tentang pulau itu.
Khan dan Diana berbicara dikamarnya. Diana mengatakan jika yang dilakukan Khan itu tidak benar.
"Kenapa harus berbohong? Katakan saja jika aku datang dari sebuah pulau,"
"Tidak Diana. Ini tidak semudah yang kau pikirkan. Pulau mana maksudmu? Jika ayahku tahu pulau itu, maka kehidupan kalian akan terganggu. Dan mungkin tidak hanya ayahku yang mulai datang kesana, banyak orang yang menginginkan pulau itu. Kehidupan yang tadinya aman akan mulai menjadi petaka, jika orang luar tahu apa saja yang tersimpan dipulau itu."
"Bagaimana jika suatu saat mereka tahu?"
"Itu kita pikirkan nanti. Yang penting sekarang kau harus berpura-pura dan tidak boleh berkata tentang pulau asal usulmu pada siapapun," kata Andy.
Diana akhirnya mengangguk dan mengikuti saran Andy.
"Oh ya, kenapa mereka memanggilmu Khan, Berapa nama yang kau punya?"
__ADS_1
"Namaku Khan Louise Malik. Tapi mereka memanggilku Andy sejak lama. Dan aku terbiasa dengan nama itu." Kata Andy.
"Ohh, apa yang harus aku lakukan untuk pesta nanti malam?"
"Tidak perlu kau pikirkan. Mereka akan mendandanimu lalu kau cukup berjalan dengan anggun dan mengangguk sambil sedikit tersenyum dan tidak perlu berkata apapun pada tamu yang datang,"
"Baiklah,"
"Tetaplah disini sampai aku kembali," kata Andy yang keluar dan berbicara pada Lewis.
Lewis sudah menunggu dari tadi.
"Dia istrimu?" tanya Lewis kaget.
"Sorry kawan. Aku tidak mengundangmu diacara pernikahan kami. Semuanya cepat dan mendadak. Aku bahkan tidak punya waktu untuk memberi tahu siapapun."
"Dia sangat cantik dan cerdas. Kau beruntung mendapatkannya," puji Lewis.
Mereka lalu membuat pesta kecil dan saat Robert pulang dia sangat terkejut ada pesta di rumahnya.
Amaya lalu bertanya, "mana kekasihmu yang akan kau kenalkan sebagai calon istrimu. Kau bilang kau akan segera membawanya. Dimana dia? Aku tidak melihatnya," Amaya nampak menoleh ke kanan dan ke kiri.
Robert tertegun, kecewa dan terdiam dihadapan Amaya.
Amaya berbisik,"Jika Andy punya keturunan maka kekayaanya akan menjadi berkali lipat. Sementara jika kau tidak menikah maka kekayaamu tidak akan pernah bertambah."
Saat itu Diana keluar dari kamarnya dan berjalan kedepan untuk memperkenalkan diri. Robert yang sedang berdiri berhadapan dengan ibunya terpana melihatnya secantik itu.
Ibunya diam saja dan melihat gadis itu dengan sinis.
"Dia istrinya Andy."
"Apa!!" Robert sangat terkejut, karena mendengar apa yang dikatakan ibunya.
"Mana mungkin?"
"Mereka menikah di tempat gadis itu. Dan besok akan diresmikan disini. Akan ada pers juga yang datang kerumah."
__ADS_1
"Ayahmu sudah mempersiapkan pesta yang besar dan meriah untuk mereka."
"Sudah kubilang kau tidak bisa meremehkannya kali ini. Berulang kali dia satu langkah lebih cepat darimu dalam bertindak. Dia bukan anak kecil lagi sekarang."
"Ahh, sial!"
Robert terduduk lemas saat dia tahu pujaan hatinya benar-benar menikah dengan Andy. Amaya menatap putranya dengan aneh.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat putus asa. Apakah ada masalah yang lebih besar dari ini?"
Amaya bertanya sambil melihat Robert yang tertunduk.
"Ya."
"Apa itu?"
"Aku telah kalah."
"Kalah bagaimana maksudmu?"
"Sekarang aku akan kekamar. Aku butuh menyendiri." Robert lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kekamarnya.
Didalam kamar, Robert mulai mengamuk. Pintu sudah tertutup rapat. Tidak terdengar dari luar meskipun dia melempar Vas kedinding. Dan meskipun tangannya terluka karena menghantam dinding dengan sangat keras.
Semua itu tidak terdengar oleh siapapun. Dia hanya pria yang sedang terluka dan kecewa saat ini. Dan baru kali ini dia merasakan kecewa karena seorang gadis yang tidak dia ketahui asal-usul nya. Begitu dia yakin bahwa dia adalah pasangan yang paling tepat untuknya, dirumahnya justru ada pesta perayaan pernikahan adiknya dan orang yang dia sukai.
Miris sekali, seorang yang perkasa dan sering mematahkan hati banyak perempuan, hari ini mengurung diri dalam gelap karena wanita yang baru dia kenal belum lama dan dia sudah mematahkan hatinya begitu cepat.
Tok tok tok
Ibunya mengetuk pintu karena sekarang acara pesta akan dimulai. Jika Robert dirumah dan tidak keluar, maka ayahnya akan bingung dengan sikapnya. Apalagi ini acara keluarga, dan banyak pers yang akan hadir untuk meliput acara ini.
"Robert!"
"Buka pintunya!"
Robert tidak membuka pintu, maka Amaya mencari kunci duplikat dan membukanya. Betapa terkejutnya Amaya, saat dia melihat kamarnya berantakan dan dia tertidur dalam kondisi bau minuman.
__ADS_1