
Andy, Diana, serta Naina masuk kedalam mobil. Sementara kedua pelayan itu tidak ikut bersama mereka. Andy mengamati Naina dari spion diatasnya. Saat melihat Naina juga sedang melihat dirinya dan pandangan mereka bertemu, Andy tersenyum padanya.
Diana melihat kearah Andy dan berusaha tegar jika pada kenyataanya dia memang harus berbagi kasih dengan Naina.
"Kita akan segera sampai di pelabuhan. Kita akan berlayar mengarungi samudra dan pergi kepulau terpencil itu. Apakah kau masih menyimpan peta itu? Aku menyuruhmu untuk membawanya, kuharap kau tidak lupa," kata Andy melirik pada Diana yang duduk disampingnya.
Diana lalu membuka resleting tas yang dihadiahkan kepadanya, dan mencari selembar peta penunjuk jalan menuju pulau mereka.
"Ada, aku menyimpannya, jantungku hampir saja copot saat kau menanyakan ya. Aku pikir tertinggal di rumahmu."
"Jika tertinggal maka terpaksa harus kembali,"
"Syukurlah aku tidak meninggalkannya."
Naina hanya diam saja dan bayinya tiba-tiba menangis.
Dia terlihat haus, sehingga Naina membuka bajunya dan akan menyusuinya. Tapi dia masih sungkan membukanya karena mereka berada didalam mobil. Ada Andi disana dan mereka belum muhrim atau resmi menjadi suami istri.
Naina ragu untuk terus membuka bajunya, dan Andy menyadari apa yang Naina pikirkan, bayi itu menangis semakin keras.
"Susuilah bayimu, aku akan menutup spionnya." Kata Andy lalu menutup spion itu dengan sebuah syal.
Baru Naina merasa lega dan mulai menyusui bayinya dan Andy tidak akan menoleh kebelakang selama Naina menyusui.
Sementara diruangan Norman sedang ada ketegangan antara dirinya dan Robert.
"Kenapa kau berbohong? Kau bilang sedang tidur, rupanya kau tidak ingin menemuimu? Ada apa ini?" Robert menatap tajam kearah Norman.
"Aku tidak berani menemuimu." Kata Norman beralasan. Bagaimanapun dia harus menyelamatkan dirinya dari pria didepannya. Dia juga harus mencari alasan yang tepat untuk menipunya.
"Kenapa?"
"Naina melarikan diri. Aku belum menandatangani suratnya. Aku berusaha mencarinya, dan aku belum menemukanya sampi sekarang? Bagaimana aku bisa membubuhkan tanda tangan kerja sama kita sedangkan orang yang kau inginkan tidak ada bersamaku?" Kata Norman pura-pura kesal dan memegang kepalanya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
__ADS_1
"Bagaimana aku akan memberitahumu? Aku ingin menyelesaikan masalahku tanpa merepotkanmu. Jika Naina ditemukan baru aku akan menemuimu. Kau malah sudah datang dan Naina belum ditemukan. Aku sungguh bingung dan harus mengatakan apa padamu, itulah kenapa aku tidak mau menemuimu," kata Norman pura-pura menyesal karena Naina berhasil kabur.
"Apakah kau bisa dipercaya?"
"Apakah aku kelihatan sedang berbohong? Untuk apa aku berbohong? Naina adalah putriku, tapi dia seperti ibunya. Mereka tidak ada yang peduli padaku, ohh malangnya nasibku," kata Norman terus berusaha menegaskan bahwa Naina benar-benar kabur. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa demi menutupi kesepakatan dengan Andy.
"Awas jika kau mempermainkan aku! Aku tidak akan mengampunimu," Robert mulai percaya pada apa yang dikatakan Norman.
"Tidak. Ini yang sesungguhnya. Dia kabur saat aku menemuimu," Norman memegang keningnya lagi dengan kedua tangannya.
"Kemana dia pergi?" Tanya Robert.
"Aku tidak tahu. Jika aku tahu dia sudah ditemukan sejak semalam,"
"Aku akan mencarinya,"
"Ya, carilah dia," kata Norman dan pura-pura sedih dengan batalnya kontrak kerjasama antara dirinya dan Robert.
Robert lalu pergi dari ruangan Norman dan masuk kedalam mobilnya. Dia akan bertemu dengan orang kepercayaannya untuk pergi mencari Naina.
Andy, Diana dan Naina sudah berada di atas kapal pesiar yang akan membawa mereka kepulau terpencil itu.
Mereka terus berlayar dan sudah sampai disetengah perjalanan sesuai peta yang dibawa.
Mereka bertiga tidur dikamar besar dengan tiga tempat tidur. Andy tidak bisa tenang jika membiarkan mereka tidur terpisah.
Andy tidur ditempat tidur bagian tengah, sementara Naina dan Diana dikanan kirinya.
Diana tidak bisa tidur dan menatap Andy yang mulai terlelap. Sementara Naina sedang menidurkan bayinya dan juga anaknya yang lain.
"Andy, apakah kau sudah tidur?" Tanya Diana dan Andy tidak menyahut. Lampu sudah dimatikan jadi Diana tidak bisa melihat dengan jelas apakah Andy sungguh-sunggub sudah tidur apa belum.
Tidak lama kemudian Dianapun tertidur, sementara Naina juga tertidur, Andy masih terjaga seorang diri.
Andy lalu memiringkan tubuhnya menghadap ke ranjang Naina. Andy menatapnya sangat lama dan tersenyum sendirian.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Andy juga tertidur sambil terus memandangi wajah Naina yang sudah lelap tertidur dalam gelap dan hanya ada sedikit penerangan.
Wajahnya samar-samar tetap terlihat cantik dan manis dimata Andy.
Sementara seorang anak buah Robert memberitahu jika Andy pergi meninggalkan negara dan sedang berlayar entah kemana. Namun anak buahnya tidak tahu jika Andy membawa serta Naina bersamanya.
"Kapan kau melihatnya?"
"Siang tadi,"
"Laporkan padaku jika ada yang mencurigakan!" kata Robert dengan kesal.
Saat ini Robert sedang berbaring malas diranjangnya. Dia kesal karena tidak bisa menikahi Naina untuk yang kedua kalinya.
Padahal dia benar-benar ingin melihat Naina bertekuk lutut dihadapanya, dan melayaninya selayaknya seorang pelayan.
Dia ingin menguasai Naina hingga wanita itu tidak bisa melakukan apapun lagi selain melayaninya.
"Sial!"
"Wanita itu lagi-lagi berhasil kabur!" umpat Robert seorang diri.
"Bagaimana dia kabur semudah itu? Siapa yang sudah membantunya?"
Robert lalu bangun dan iseng lewat dikamar Andy. Dia membuka pintu itu perlahan. Dia menatap seisi ruangan lalu duduk diranjang yang kosong itu.
Tiba-tiba dia membuka laci didekat tempat tidur Andy, dan membalikan sebuah foto yang tersimpan di laci.
Begitu foto itu dibalik, Robert sangat terkejut saat melihat jika itu adalah foto Naina.
"Naina? Ada hubungan apa Andy dan Naina? Kenapa dia menyimpan foto Naina?" Robert memegang foto itu dan melihatnya sambil berfikir dengan keras.
Kenapa ada fotonya dikamarnya? gumam Robert dan menaruh foto itu kembali.
"Apakah Andy mengenal Naina? Jangan-jangan......" Robert segera berlari keluar dan mengendarai mobilnya.
__ADS_1