
Andy mulai tertidur, beberapa menit kemudian, dia ada ditengah hutan. Lima ekor singa sudah mengepungnya. Dia kaget dan tidak menduga tiba-tiba ada singa disekeliling nya. Singa itu terus berputar dan menyeringai ke arahnya. Untunglah saat itu tombak ada ditanganya.
Andy berusaha tenang meskipun sebenarnya dia juga panik dan takut. Satu ekor singa sudah membuatnya sangat takut, tapi ini lima ekor singa malah sudah mengelilinginya dan siap memakan tubuhnya.
Mereka hanya berjarak satu meter dari tanah tempat Andy berdiri. Mereka berputar secara bersamaan dan Andy tidak melakukan gerakan apapun. Dia akan mencari kesempatan untuk keluar dari lingkaran dan kurungan kelima singa itu.
Andy menarik nafas panjang, dan kakinya mundur kebelakang, dia menancapkan tombaknya ketanah lalu menggunakan tongkat itu sebagai kekuatan untuk melompat jauh.
Tiba-tiba dalam sekejap Andy sudah berhasil keluar dan melompat tiga meter dari para singa itu. Sekarang Andy sudah dalam posisi siap bertarung. Kelima singa itu mendekat dan Andy memukul tiga singa sekaligus dengan ujung tombaknya.
Posisi Andy lebih diuntungkan karena sekarang singa itu ada dihadapanya semua. Dengan gerakan lompatan cepat dan mengerahkan seluruh kekuatannya, plak! plak! plak!
Tiga singa terluka di bagian kepala. Tombak itu memiliki pisau yang tajam dibagian ujungnya. Darah mengucur deras membasahi ketiga singa itu. Dia singa lainya menjadi lebih beringas saat melihat ketiga temanya terluka.
Dua singa yang tersisa menyerang Andy dan Andy memutar tombaknya didepanya sambil melangkah mundur. Singa itu tidak bisa menyentuhnya karena putaran tombak yang cepat.
Satu singa melompat keatas dengan kemarahan yang luar biasa, dengan cepat Andy menghunuskan tombaknya tepat mengenai perut singa itu kala dia tepat melayang diatas kepala Andy. Craaaassshhhh!
Darah muncrat mengenai tubuh Andy, singa itu terkapar karena pisau diujung tombak menghunus dalam kebagian perutnya.
Tinggal satu singa lagi. Tiba-tiba mata singa itu berubah menjadi merah menyala seperti api. Andy menatapnya dan berpikir ini mungkin layaknya mata kucing yang akan menyala saat gelap.
Tiba-tiba sekeliling Andy menjadi berkabut putih. Andy tidak bisa melihat apapun, tapi dia bisa mendengar gerakan singa itu mendekat padanya.
Langkahnya begitu ringan dan satu meter dibelakangnya. Andy tidak peduli meskipun dia tidak bisa melihat apapun, tapi dia berputar dengan cepat dan menggunakan instingnya dia menghunuskan tombaknya. Craaaassshhhh!
Darah segar membasahi baju Andy. Kabut itu mulai menghilang, Andy mulai bisa melihat sekelilingnya lebih jelas.
Dan kelima ekor singa yang tadi terluka tidak ada disana. Andy kaget dan heran. Dalam keadaan terluka parah, kemana mereka semua pergi.
Andy berjongkok untuk melihat bekas tanah yang ternoda darah. Tidak ada darah setetes pun. Andy melihat ujung tombaknya yang dia gunakan untuk menusuk mereka, tapi tombaknya berkilau seakan tidak ada bekas darah setitik pun. Tingkat itu utuh seperti semula, bersih dan berkilau.
Andy lalu melihat badanya yang terkena noda darah, tapi bajunya juga bersih tanpa ada sedikitpun noda bekas bertarung.
Andy lalu melihat jejak di tanah bekas para singa berjalan, namun tanah itu terlihat rata dan tidak ada bekas injakan para singa atau gesrekan kuku tajam mereka.
"Kemana mereka pergi? Mereka menghilang bersama kabut tebal,"
Andy seperti tidak percaya apa yang baru saja dia alami. Nyaris dia dalam bahaya dan nyawanya melayang jika saja dia tidak punya ilmu bela diri. Semua itu seakan nyata, pertarungan itu nyata, kekuatan dan tenaga yang dia keluarkan juga nyata. Tapi hasilnya hanya seperti sebuah ilusi.
"Andy bangun!" teriak Naina yang mendengar Andy seperti sedang mimpi buruk.
Perlahan Andy membuka matanya dan menatap Naina.
"Bajumu basah karena keringat. Kau bangunlah, kau mungkin baru saja mimpi buruk,"
"Kau benar, aku bermimpi bertarung dengan lima ekor singa, dan mereka menghilang tanpa jejak setelah aku berhasil mengalahkannya."
__ADS_1
Andy duduk dipinggir ranjang, dan Naina memberinya segelas air putih.
"Minumlah ini, aku akan kembali kamarku,"
Naina lalu keluar dari kamar Andy. Andy minum lalu meletakkan gelas kosong itu.
Andy melihat tombak itu sekarang ada dikamarnya.
"Bagaimana mungkin, kemarin aku menaruhnya diruang tamu, sekarang kenapa ada dikamarnya?"
"Siapa yang sudah memindahkanya?"
Keesokan harinya, Andy sarapan bersama Naina. Andy menanyakan keanehan tadi malam.
"Naina, apakah kau memindah kan tombakku?"
"Tidak," jawab Naina.
"Aku meletakkanya diruang tamu tapi saat bangun tombak itu sudah ada dikamar. Aku pikir kau yang memindahkanya."
"Aku langsung tidur tadi malam, dan bangun saat terdengar suara kau seperti sedang mimpi buruk, aku lalu membangunkanmu,"
Selesai sarapan Andy menemui tetua dan menceritakan mimpinya.
"Itu adalah ujian. Singa itu mungkin para nenek moyang yang sedang mengujimu. Dan jika kau bisa mengalahkan mereka semua artinya kau layak mendapatkan tombak warisan mereka."
Andy tertegun.
"Artinya, apakah aku cukup kuat untuk memiliki tombak itu?"
"Ya. Tombak itu tetap bersamamu semalam, artinya kau adalah pemiliknya sekarang."
"Dia berpindah dari ruang tamu kekamar, tidak ada yang memindahkanya," terang Andy.
"Ya, itulah salah satu keajaibanya. Ada kekuatan didalam tongkat itu yang tidak bisa dilihat oleh mata."
Setelah berbincang sebentar, Andy lalu pamitan dan pergi kerumah Rossa.
"Rossa!" teriak Andy. Saat itu Rossa membawa keranjang dan akan pergi kehutan untuk memetik buah-buahan.
Rossa berhenti dan menoleh. Andy berlari kecil mengejarnya.
"Kau mau kemana?"
"Aku akan memetik beberapa buah-buahan, stok dirumah sudah habis."
"Aku akan ikut denganmu,"
__ADS_1
"Baiklah,"
Sampai dihutan Rossa segera memanjat pohon mangga. Sekarang lagi musim mangga. Rossa memetik yang sudah masak dan yang masih ranum untuk dijadikan rujak.
Tidak lama kemudian keranjang itu sudah penuh. Rossa turun dari atas. Dan tanpa sadar kakinya terpeleset karena bekas hujan tadi malam
Untunglah Andy dengan sigap menangkapnya, merekapun berguling diatas tanah.
Andy dibawah menopang tubuh Rossa, Rossa berada diatasnya dengan wajah merona merah.
Andy menatapnya tak berkedip dan senang saat melihatnya seperti ini. Rossa segera bangkit dan disusul oleh Andy.
"Terimakasih," Rossa membersihkan bajunya dari beberapa tanah yang menempel.
Andy mengambil keranjang dan mereka berjalan pulang.
"Untunglah kau tidak apa-apa, apakah ada yang sakit?" tanya Andy memastikan lagi.
"Aku tidak apa-apa. Untung kau cepat menangkapku. Apakah kau ada yang sakit?"
Rossa balik bertanya.
"Punggungku terasa terbakar," kata Andy lalu memegang punggungnya.
"Sampai dirumah aku akan langsung mengobatinya," Rossa menjadi khawatir.
"Ya,"
Sesampainya dirumah, Rossa segera mengambil obat untuk dioleskan pada punggung Andy. Mungkin punggungnya terkilir saat menangkap dirinya, batin Rossa.
Andy tersenyum senang saat Rossa mengobati dan mengelus lembut punggungnya.
"Sudah, kau bisa memakai bajumu kembali,"
"kok, sudah?"
"Maksudmu?" Rossa bingung.
Andy segera memakai bajunya.
"Ehm, masih sedikit sakit,"
"Setelah obatnya merasuk kedalam, maka sakitnya akan hilang," terang Rossa.
"Kalau begitu, aku permisi," kata Andy lalu bangkit dari duduknya.
"Bawalah ini untuk Naina," kata Rossa yang sudah memasukan buah dikeranjang kecil untuk dibawa pulang oleh Andy.
__ADS_1
"Terimakasih,"
Andy pulang dengan buah mangga untuk Naina, dan selama perjalanan, Andy senyum-senyum sendiri saat membayangkan Naina mengoleskan obat dipunggungnya. Dia benar-benar menaruh hati padanya, tapi apalah daya, ada Diana dan juga Naina yang sudah akan dinikahinya karena janji.