Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Pembangunan dipulau


__ADS_3

Naina kerumah Nyi anker pagi-pagi sekali. Andy menginap dirumah Tetua hingga pagi. Naina masih merasa mual terlebih saat pagi hari, maka dia segera pergi kerumah Nyi anker untuk memeriksakan keadaanya.


tok tok tok!


"Masuk!"


Naina lalu masuk kedalam. Dia duduk didekat Nyi Anker.


"Berbaringlah," Nyi Anker menatap Naina dan menyuruhnya berbaring. Dengan melihat wajahnya, Nyi Anker sebenarnya sudah tahu keluhan tamunya. Namun dia tetap memeriksa nadinya.


Setelah itu dia memeriksa perutnya dengan ilmu kesaktiannya.


"Kau sedang hamil. Masih muda, jadi harus banyak istirahat. Kehamilanmu lemah," kata Nyi anker.


"Benarkah Nyi?"


"Terimakasih Tuhan...." kata Naina dengan senang.


Sekarang dia sedang hamil anak dari pernikahan keduanya dan Naina tidak sabar memberikan kabar bahagia ini untuk Andy.


Setelah berpamitan pada Nyi anker, Naina akan pulang, tapi dijalan dia malah melihat Andy yang akan kerumahnya, maka Naina memanggilnya dan mereka jalan bersama.


"Andy!" panggil Naina.


Andy menoleh dan menghentikan langkahnya. Dia menunggu Naina yang berjalan dengan cepat.


"Kau darimana sepagi ini?" tanya Andy.


"Dari rumah Nyi anker," jawab Makan berbinar.


"Apa katanya?" Andy tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.


"Aku hamil," jawab Naina.


"Aku senang mendengarnya, aku akan menggendongmu kerumah," kata Andy.


"Tidak, nanti aku malu jika dilihat banyak orang,"


"Tidak papa, kenapa harus malu,"


"Tidak ..." Naina tetap menolaknya.


"Tapi...."


"Tapi apa?" tanya Andy sambil merangkul istrinya.


"Kandunganku lemah, Nyi anker bilang aku harus banyak istirahat," kata Naina mengingat pesan Nyi anker.


"Baiklah jika begitu, mulai sekarang, aku yang akan melakukan tugasmu. Kau beristirahatlah dikamar,"


"Tapi...."


"Kali ini, tidak ada kata tapi, kau akan beristirahat sepanjang hari. Aku yang akan mengurus pekerjaan rumah," kata Andy dan mereka sampai dirumah.


Kedua anaknya masih tidur. Andy mengantar Naina hingga kekamarnya.


"Sebenarnya aku sangat mengantuk, bagaimana jika tidur sebentar saja?" kata Andy pada Naina.


Naina menatapnya dan berfikir sejenak. Andy merengkuhnya dalam pelukannya.


"Mendekatkatlah," Andy merapatkan tubuh mereka berdua dan mengunci pintunya dari dalam.


Tapi, tiba-tiba Azam mengetuk pintu dari luar.


"Ibu....apakah sudah bangun. Azam lapar," kata Azam dan membuat Diana menggelengkan kepalanya melihat sikap Andy yang masih memeluknya.


"Ohh my God!" keluh Andy.


Naina menurunkan selimutnya dan akan bangun membukakan pintu.


"Tidak, kau berbaringlah, aku yang akan membuat sarapan untuk mereka," kata Andy lalu membukakan pintu untuk Azam.


"Kenapa lama sekali baru dibuka?" tanya Azam polos.


"Ehm, ibu harus istirahat, ayah yang akan memasak kali ini," kata Andy dan Azam menatapnya tak berkedip.


"Memang ayah bisa?"


"Tentu. Ayah bisa memasak. Ayo bantu ayah kedapur sekarang," kata Andy lalu mengedipkan mata pada Naina agar dia beristirahat. Naina tersenyum dan berbaring tanpa banyak bergerak.


Andy berjalan kedapur dan mulai mencari beras untuk dimasak.


"Dimana ibumu menyimpan berasnya?" tanya Andy.


"Biar Azam tanya pada ibu," kata Azam sambil melihat ayahnya dengan lucu.


"Tidak usah. Ayah akan cari sendiri," kata Andy dan mulai membuka semua lemari kayu itu.

__ADS_1


"Ini dia!" seru Andy saat dia menemukan beras untuk dimasak.


Andy lalu memasak beras agar menjadi nasi dengan kayu bakar. Azam membantu memisahkan sayuran dari akarnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Alvian yang baru bangun dan masuk kekamar mandi.


"Kami sedang memasak," jawab Andy.


"Dimana ibu?" tanya Alvian setelah keluar dari kamar mandi dan bergabung dengan mereka. "Aku sangat lapar," kata Alvian.


"Ibu sedang tidak enak badan, harus banyak istirahat. Kau mau bantu kami masak?" tanya Andy menatap Alvian yang sudah besar.


"Ya, baiklah," diapun duduk didekat persiapan dan memasukan kayu bakar agar apinya besar.


"Tangkap ayam itu, kita akan memotongnya," kata Andy.


"Ayam?"


"Ya, kita akan bikin ayam goreng. Dimana ibumu menyimpan minyak kelapanya?"


"Disana," kata Alvian menunjuk pada sebuah botol.


"Sepertinya cukup, kita bisa menggunakanya untuk menggoreng," kata Andy.


"Ya, baiklah, aku akan menangkap ayam itu," Alvian lalu keluar dan menangkap ayam yang belum dikeluarkan dari kandangnya.


Andy lalu menyembelih dan membersihkan serta memberikan bumbu sebisanya. Maka tidak lama kemudian, ayamnya sudah matang, nasinya juga.


"Kalian makanlah disini, ayah akan makan bersama ibu," kata Andy dan membawa sepiring makanan untuk mereka berdua.


"Heeemmm, siapa yang memasak?" tanya Naina saat Andy masuk.


"Aku membuat ayam goreng,"


"Baunya sangat harum," puji Naina.


"Aku akan menyuapimu makan, anak-anak juga sedang makan," kata Andy lalu duduk disamping Naina.


Andy menyuapinya sesuai demi sesuap, namun baru beberapa suap, Naina tidak mau makan lagi?


"Kenapa, habiskan ya...."


"Tidak, aku mual, aku tidak bisa makan lagi..." kata Naina dan menggelengkan kepalanya.


"Jika begitu apa yang ingin kau makan?"


"Aku ingin buah mangga, tapi....." Naina segera teringat jika Andy tidak bisa naik pohon, sedangkan buah mangga yang tidak jauh dari rumah mereka pohonnya sangat tinggi.


"Ya sudah, tunggulah disini, aku akan cari buah mangga untukmu," kata Andy menatap lembut wajah Naina.


Naina mengangguk dan kedua anaknya masuk duduk disamping ibunya. Sementara Andy keluar untuk memetik buah mangga.


Andy berjalan kebelakang rumah dan mencari pohon mangga.


Dia saat ini sudah menemukan pohon mangga dan berada tepat dibawahnya. Andy melihat ke atas dan berfikir cara naik keatas.


Lama dia berfikir dan mengambil galah, namun panjang galah itu tetap tidak bisa menjangkau buah mangganya. Pohonnya terlalu tinggi, maka jalan satu-satunya dia harus naik keatas.


Andy lalu mendekati pohon dan memeluknya, akan naik. Dia melihat pada kalungnya dan berharap bisa mendapatkan keajaiban untuk naik pohon.


Setelah itu dia mengangkat satu kakinya dan bergantian dengan kaki lainya untuk memanjat.


Batu sampai beberapa panjatan, tubuhnya gemetar, apalagi saat dia melihat kebawah. Dia bingung antara akan naik keatas demi keinginan istrinya atau turun kebawah dan mencari alasan.


Tiba-tiba Diana lewat karena baru saja menukarkan barang dari rumah tetangganya dengan minyak kelapa.


Diana kaget melihat Andy naik pohon namun hanya seperti memeluk saja. Tidak naik-naik keatas.


Maka Diana berjalan kearah pohon itu.


"Andy?" Andy menoleh dan merasa senang karena Diana kebetulan lewat.


"Apa yang kau lakukan? Kau ingin mangga? Maka biarlah aku yang naik, kau turunlah," kata Diana dan dijawab senyuman oleh Andy.


Dia tidak ingin pura-pura menolak kali ini. Dia membutuhkan mangga untuk Naina, dia tidak ingin pulang dengan tangan kosong.


"Ya, tapi sepertinya banyak semut, badanku sangat gatal, aku lebih baik turun saja," kata Andy lalu melompat turun.


"Peganglah ini, biar aku yang naik," kata Diana lalu menyerahkan botol berisi minyak kelapa pada Andy. Dia akan naik keatas pohon untuk memetik mangganya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Diana sudah sampai diatas.


"Aku petik yang masak," teriak Diana dari atas.


"Yang muda juga. Naina ingin mangga muda," kata Andy dari bawah.


Naina memetik mangga dan memasukkanya kedalam keranjang dari bambu.

__ADS_1


Setelah memetik buah mangga Diana lalu turun dan berdiri disamping Andy.


"Yang masak baru sedikit. Ini banyak yang muda. Apakah akan membuat manisan?" tanya Diana.


"Tidak, sebenarnya Naina sedang hamil, dia ingin makan buah mangga,"


"Apa?" Diana terlihat kaget sekaligus bahagia.


"Naina hamil?" tanya Diana sekali lagi.


"Ya, tapi kandunganya lemah. Dia harus banyak istirahat, aku mengerjakan pekerjaan rumah untuknya," kata Andy.


"Jika begitu, maka setiap hari aku akan memasak makanan lebih banyak. Aku akan memberikan separo untuk Naina," kata Diana.


"Terimakasih, tapi apakah tidak merepotkanmu?" tanya Andy tersenyum.


"Tidak. Apanya yang merepotkan. Aku senang, karena ada berita bahagia," kata Diana lalu berpamitan pulang.


***


Beberapa bulan kemudian, Naina melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Dan semua sangat bahagia, karena ini adalah anak perempuan satu-satunya.


Maka Andy langsung menggendongnya setelah dia lahir dan tubuhnya dibersihkan.


"Anak kita perempuan," kata Andy memberikanya pada Naina untuk disusui.


"Dia cantik seperti ibunya," kata Andy lalu mencium kening istrinya yang baru saja melahirkan.


Diana dan Rossa juga ada disana dan mereka bersama-sama memasak untuk para tamu yang hadir.


Malam harinya ada acara dirumah Andy. Para warga berdatangan untuk memberikan doanya dan setelah itu acara makan-makan.


"Siapa namanya?" tanya Azam.


"Namanya Sofia," kata Andy sambil mengelus rambut Azam. Sedangkan Eduardo bergelendot dibahu ayahnya.


"Bagus," kata Eduardo.


"Kita akan menjaganya bersama setelah dia besar," seru Alvian.


"Tentu saja. Dia adik kalian perempuan satu-satunya. Kalian harus menjaganya dengan baik," kata Andy saat keluarga besarnya berkumpul dirumah Naina.


"Nicolas, kemarilah sayang...." kata Andy dan Nicolas berlari memeluknya.


"Ayah...aku ingin tidur denganmu," kata Nicolas pada ayahnya.


"Baiklah, malam ini, ayah akan tidur bersama Nicolas." kata Andy menatap pada Diana.


***


Ibu Diana membantu Naina dirumahnya karena dia baru saja melahirnya. Sedangkan Andy menginap dirumah Diana malam ini. Sudah lama dan hampir satu bulan dia tidak tidur bersama Diana. Maka karena permintaan Nicolas maka dia menginap dirumah Diana.


Semua ini terjadi karena Diana selalu memberikan jatah malamnya untuk Naina. Naina sedang hamil besar, dan dia khawatir jika tiba-tiba dia akan melahirkan dan tidak ada suaminya disana.


Begitu juga Rossa, dia memberikan kunjungan malam Andy untuk diberikan pada Naina. Dia juga memikirkan keselamatan Naina dan juga bayinya.


Maka satu bulan penuh, Andy berada dirumah Naina.


Malam ini Diana berbaring disamping Andy dan memeluknya setelah sekian lama.


***


Keesokan harinya Andy pergi keluar untuk melihat beberapa anak buahnya yang bekerja membuat benteng serta pembangkit tenaga listrik.


Andy bertemu dengan Jones.


"Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Andy pada orang kepercayaannya.


"Ya. Tidak ada kendala yang berarti. Beberapa perompak kadang datang dan menghadang perjalanan kami saat berlayar kemari," kata Jones.


"Syukurlah jika begitu..."


"Apakah kau singgah ke perusahaan Harun Malik? Bagaimana kabar ibuku?"


"Ya aku singgah disana. Kami mengadakan beberapa kerja sama. Dan ibumu sehat, Haidar juga sepertinya menjaganya dengan baik," kata Jones.


"Syukurlah jika begitu,"


"Bagaimana dengan tower?"


"Maksudmu? Signal?"


"Ya, kau membutuhkanya, untuk berkomunikasi dengan kami," kata Jones.


"Kau aturlah, aku setuju dengan pendapatmu untuk tower," kata Andy.


"Oh ya, bagaimana jika terjadi gelombang tinggi atau tsunami? Apakah benteng itu mampu menghadangnya?"

__ADS_1


"Semoga saja bentengnya bisa menghadangnya," jawab Jones.


__ADS_2