
Andy berjalan sampai ditengah hutan, tapi begitu sampai Andy tidak langsung berburu, melainkan mengajak mereka ke suatu tempat.
"Ayo ikut ayah kesana,"
"Ada kelinci disana?" tanya Alvian.
"Bukan, nanti ayah tunjukan setelah sampai disana," kata Andy dan berjalan kesebuah pemakaman umum.
Andy masuk dan meninggalkan busurnya dipintu makam.
"Katanya berburu, kok malah ke kuburan?" ujar Azam tapi tetap mengikuti apa yang dilakukan ayahnya. Dia menaruh busurnya dan berjalan dibelakang ayahnya.
Alvian mengedarkan pandanganya pada sekeliling tempat itu. Sampai pada sebuah makam, bertuliskan Ali, maka Andy berhenti dan duduk disana.
"Ada apa yah?"
"Duduklah disini," kata Andy.
Mereka berdua pun lalu duduk disamping sebuah makam.
"Ini makam siapa yah?" tanya Alvian.
"Ayah kalian, namanya Ali, kami bersahabat dan saat itu kalian masih kecil, kalian ingat bukan?"
Alvian mengangguk tapi tidak dengan Azam. Azam tidak ingat apapun tentang Ali, karena saat itu dia masih bayi. Sedangkan Alvian juga hanya mengingatnya samar-samar.
"Ayah....."
"Ya, berdoalah untuk ayah kalian, agar dia tenang disana."
Merekapun menurut lalu berdoa dan tidak bertanya lagi.
"Jika sudah selesai ayo kita pergi," kata Andy.
"Iya yah,"
"Ibu kalian tidak pernah datang kemari?"
"Kami tidak tahu, tapi kami belum pernah kemari, jika ibu, mungkin ibu datang sambil mencari sayuran," kata Alvian.
"Baiklah, sekarang ayo kita keluar," kata Andy mengangguk.
Mereka lalu pergi kehutan dan suara burung mulai terdengar saat matahari terbit. Beberapa kelinci mulai terlihat disemak-semak.
"Ayah! Ada kelinci disana. Aku melihatnya," kata Azam.
"Ayo kita kesana," ajak Andy lalu pergi mendekati semak-semak dengan pelan.
"Pelan, lalu kita akan memanahnya," kata Andy dan sudah siap melepaskan anak panahnya.
swiinggg!
Crash!
"Ambilah!" Kata Andy saat anak panahnya tepat sasaran. Alvian segera berlari dan mengambil kelinci itu.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan dan melihat beberapa kelinci sedang makan wortel.
"Banyak kelinci ayah," kata Azam.
"Biarkan mereka makan dulu," kata Andy.
__ADS_1
"Biar gendut ya yah,"
"Iya..." jawab Andy tersenyum tapi tetap bersembunyi dan diam tanpa melakukan gerakan yang membuat kelinci itu terusik.
"Diam dik," kata Alvian saat melihat Azam terus menggerakkan kakinya.
"Banyak semut kak," Azam berkata sambil berusaha mengusir semut itu.
Melihat kedua anaknya terus saja gelisah, Andy lalu mengarahkan anak panahnya sebelum Azam mengusir mereka dengan beberapa gerakan kakinya.
Andy hanya bisa memanah dua kelinci saja, satu kelinci berhasil kabur dan bersembunyi.
"Aku akan mengejarnya," kata Alvian.
"Tidak usah. Kita akan mencari lagi ditempat lain," kata ayahnya.
"Ini gara-gara kakimu bergerak terus. Kelincinya jadi kabur satu," gerutu Alvian setelah mengambil dua kelinci yang tergeletak.
"Apaan sih?!" Azam tidak mau disalahkan dan berjalan disamping ayahnya seakan tidak peduli dengan ocehan kakaknya.
Saat siang hari tiba, mereka sudah mendapatkan banyak kelinci. Andy dan kedua anaknya lalu pulang, untuk menyerahkan kelinci itu pada Naina.
"Banyak sekali kelincinya," kata Naina saat Alvian meletakkannya didapur.
"Ada yang masih hidup juga ibu," teriak Azam yang baru saja memasukkan kelinci disebuah kurungan.
"Masih hidup?"
"Iya, yang satu perempuan yang satu laki-laki. Nanti anaknya jadi banyak, kata ayah," seru Azam sangat senang.
"Ohh, ya...kalian harus memberinya rumput dan wortel setiap hari, maka kelincinya akan gemuk dan sehat," ujar Naina.
"Masaklah lebih banyak, nanti bagi untuk Rossa juga," kata Andy pada istrinya.
"Baiklah, kau akan kesana sore ini?" tanya Naina.
"Ya.... aku akan melihat Eduardo," ujar Andy.
"Ayah, aku ikut ya," kata Azam.
"Kau boleh ikut," Andy lalu mengajak Azam masuk dan menyuruhnya mandi jika mau ikut.
Azam menurut dan segera masuk kekamar mandi, tapi sampai dipintu, kakaknya telah masuk lebih dulu dan mengunci pintunya dari dalam.
"Aku duluan!" Teriak Alvian sambil mengunci pintu kamar mandi, Azam sangat kesal dan menendang pintu kamar mandi.
Duuaaakkk!
"Gantian mandinya," seru Naina dari dapur.
***
Setelah makan siang, Naina memberikan kotak makanan berisi daging kelinci untuk diberikan pada Rossa.
Azam ikut bersama ayahnya kerumah Eduardo.
Sampai disana, Rossa sedang mengejar Eduardo karena terus berlari dan tiba-tiba Eduardo menabrak Andy.
Mereka bertatapan. Eduardo, menatap Andy dengan bingung, karena saat itu dia masih bayi, dan Andy lama meninggalkan mereka, baru sekarang kembali.
"Andy?" Rossa berjalan mendekati mereka bertiga.
__ADS_1
Eduardo melihat ibunya dengan tatapan bingung. Ibunya tersenyum dan mengatakan sesuatu ditelinga Eduardo.
"Dia ayahmu," kata Rossa pelan.
Mata Eduardo langsung berbinar dan memeluk ayahnya. Andy menggendongnya masuk kedalam.
"Ini dari Naina," kata Andy menyerahkan kotak makanan pada Rossa.
Rossa mengambil kotak itu dan menggandeng Azam.
"Masuklah," kata Rossa.
Andy lalu duduk sambil memangku Eduardo, dan Rossa menatapnya lama sambil mengusap air matanya. Ingin rasanya dia langsung memeluk suaminya, tapi ada Azam disana, dia sungguh malu melakukan itu didepan Azam.
"Kau lama tidak mengunjungi kami," kata Rossa.
"Maafkan aku," kata Andy.
"Ada banyak hal yang terjadi. Aku baru bisa menyelesaikannya."
"Ya, kami terus mengkhawatirkan dirimu dan Diana." kata Rossa.
"Kemarilah," kata Andy pada Rossa dan menurunkan Eduardo.
"Mainlah bersama kak Azam," kata Andy dan Eduardo langsung mengajak Azam bermain diluar.
Rossa duduk disebelah Andy. Andy lalu memeluknya setelah kedua anaknya main diluar. Andy mencium kening Rossa dan bibirnya.
Rossa menghapus airmatanya yang berulang kali menetes tak terhentikan.
"Aku sudah kembali, dan tidak akan pergi lagi. Aku memutuskan untuk tinggal disini bersama keluargaku," kata Andy sambil mendekap Rossa.
Rossa juga memeluknya erat dan menatap Andy tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kau hanya menghiburku?"
"Tidak, aku bicara sungguhan, sudah ku putuskan untuk tinggal dekat dengan istri dan anak-anak ku," kata Andy mengusap rambut Rossa yang lurus dan lembut.
"Terimakasih, akhirnya kita tidak akan berpisah lagi," kata Rossa.
"Ya...."
Tidak lama kemudian Eduardo masuk karena Azam menangis.
"Ayah, Azam jatuh!" kata Eduardo.
Rossa segera berlari keluar dan menggendong Azam masuk kedalam. Sementara Andy menggendong Eduardo yang ketakutan.
"Dia mendorongku," kata Azam mengadu pada ayahnya.
"Lihatlah, kakiku berdarah, Hua hua," Azam menangis semakin keras.
"Aku tidak sengaja, aku terpeleset dan satu tanganku berusaha berpegangan pada pohon. tapi....." kenang Eduardo yang tidak begitu kuat, saat memegang pohon dengan hanya satu tangan, akhirnya terpeleset dan mendorong Azam.
Andy segera tersentak dan menyadari jika Eduardo hanya memiliki satu tangan.
"Sudahlah, tidak apa-apa, pejamkan mata kalian, ayah akan menyembuhkan ya." kata Andy.
Eduardo dan Azam lalu memejamkan matanya, dan sebuah keajaiban terjadi. Andy sudah mengoleskan kalung permatanya pada luka Azam dan Eduardo.
Luka mereka langsung sembuh dan membuat Azam serta Eduardo terkejut.
__ADS_1