
Beberapa bulan kemudian, Andy pergi keluar pulau sendirian dan mendatangkan kapal pesiar untuk mereka semua. Andy ingin mengajak semua warga dipulau berjalan-jalan dengan kapal pesiar miliknya.
Andy mendatangkan kapal itu dari perusahaan Marco dinegara MX. Dia sudah memberikan semua miliknya yang ada di kota kelahirannya pada pewarisnya yang sesungguhnya.
Jadi untuk segala yang dia butuhkan sekarang dia mengambil dari perusahaan miliknya sendiri. Didalam kapal itu ada beberapa anak buahnya yang sengaja dia undang untuk membuat pembangkit tenaga listrik dipulau terpencil.
Setelah musyawarah dengan Tetua maka akhirnya mereka setuju akan adanya perubahan. Karena esok atau lusa, perubahan akan tetap datang hanya lebih cepat atau lebih lambat.
Andy juga mendatangkan anak buahnya untuk membangun benteng yang tinggi disekitar kampung tempat tinggal mereka dan juga hutan yang mereka kuasai.
Andy sudah mengambil uang hasil keuntungan dari perusahaan Marco untuk pembangunan besar-besaran. Tetua sadar, suatu saat dia akan tiada karena sekarang sudah tua, maka dia menyerahkan masa depan pulau pada Andy dan juga anak-anaknya.
Kapal pesiar datang dan semua warga sudah berkumpul dipinggir pulau untuk menyambutnya. Mereka tidak sabar untuk naik kapal pesiar yang baru pertama kali ini dilihat secara nyata untuk seumur hidup mereka.
"Aku naik duluan! Aku duluan! Ayo kita naik semua!" Teriak riuh para warga dan juga anak-anak berhamburan naik kekapal pesiar milik Andy.
Ada Azam serta Naina disana masih berdiri dan antri paling terakhir.
"Kau tidak mau naik?" tanya Andy pada Azam serta Alvian.
Mereka menatap ibunya dan ibunya seperti melamun dan teringat pada kehidupannya dimasa lalu.
"Apa yang kau pikirkan, naiklah, mereka juga ingin naik. Kita hanya akan berjalan mengelilingi pulau ini," kata Andy.
"Aku...teringat masa laluku..." kata Naina menatap pada udara kosong.
"Aku tahu, kita tidak akan ke kota, kita hanya akan mengelilingi pulau ini saja," kata Andy lembut.
"Ayo ibu, kita naik sekarang," kata Azam tidak sabar.
"Ssstttt...." bisik Alvian sambil menatap wajah ibunya.
"Lihatlah mereka, masa lalumu sudah berlalu, sekarang masa depan mereka yang menantimu," kata Andy dan Naina lalu tersenyum setelah menatap kedua wajah anak lakinya.
Naina mengangguk dan tersenyum lalu berjalan kearah kapal pesiar itu.
Diana dan Rossa melambai dari jendelanya.
"Naina! Kemari!" Teriak Rossa di iringi lambaian Diana.
"Iya...." Naina akhirnya naik kekapal pesiar bersama kedua anaknya.
Andy dan tetua masih menunggu dibawah karena khawatir ada warga yang masih tertinggal.
__ADS_1
"Apakah semua sudah naik?" tanya Tetua.
"Sepertinya sudah," jawab Andy.
"Ayo kita juga naik jika begitu, aku juga ingin naik kapal pesiar milikmu, konon dulu nenek moyang kita juga naik kapal seperti ini saat terdampar di pulau ini," kata Tetua dijawab anggukan oleh Andy.
"Ya, mereka datang dengan kapal pesiar," kata Andy lalu naik keatas kapal bersama Tetua.
Suasana didalam kapal sangat gaduh. Beberapa anak buah Andy bahkan kewalahan menjelaskan semua alat yang ditanyakan oleh para warga dipulau.
Semua alat serba otomatis dan canggih didalam kapal pesiar. Dan Andy sudah mempersiapkan semua anak buahnya untuk membantu warga yang ingin tahu dan mencoba berbagai hal.
Ada kolam renang didalam kapal pesiar. Beberapa warga berkumpul bersama anak-anak untuk mencoba kolam renang itu.
Ada sauna juga dan mereka juga berendam di sauna.
Beberapa dari mereka juga menikmati makanan yang lezat dari koki yang didatangkan Andy dan menyediakan semua masakan terenak untuk warga dipulau.
"Ibu, makananya sangat enak," kata Azam.
"Koki yang memasak semuanya," jawab Andy.
"Apa itu koki?" tanya Alvian.
"Kok ibu tahu banyak hal?" tanya Alvian pada Diana.
"Tentu saja. Ibu sudah sering naik kapal pesiar seperti ini, meskipun ibu lahir dipulau," ujar Diana mengedipkan matanya pada Andy.
"Ya, ibu Diana sering menemani ayah keluar dari pulau," kata Andy.
"Kami juga ingin seperti ibu Diana. Keluar dari pulau," ujar Azam.
"Tidak," jawab Naina tegas.
Mereka semua menatap Naina.
"Ya, kalian akan keluar saat nanti sudah dewasa seperti ayah," jawab Andy yang tahu apa yang dirasakan Naina hingga melarang kedua buah hatinya keluar dari pulau.
***
Mereka berkeliling dan beberapa jam kemudian mereka sudah sampai dipulau kembali. Mereka semua turun dan beberapa anak buah Andy juga turun.
Para warga pulang kerumah masing-masing sambil masih terus bercerita sepanjang perjalanan. Sedangkan anak buah Andy berkumpul membuat tenda untuk mengerjakan tugas dari Andy.
__ADS_1
Mereka sebagian membuat tenda dan akan mengerjakan pembangunan benteng mulai besok. Dan sebagian mendirikan tenda didekat danau dan akan mulai membuat pembangkit listrik untuk penerangan dan lain-lain.
Kapal pesiar itu menjauh dari pulau terpencil dan kapal berukuran sedang berdatangan. Semua kapal itu berasal dari negara MX. Mereka membawa semua peralatan dan bahan-bahan untuk membuat benteng serta keperluan lain.
Ada Jones disana yang mengatur semuanya. Andy lalu meninggalkan mereka semua dan membiarkan Jones yang mengambil alih tugasnya. Andy akan fokus bersama ketiga istrinya saja. Dan semua itu sudah sangat menyita waktunya.
Percakapan dirumah Naina. Ada Diana dan Rossa disana sedang berkumpul.
"Malam ini, siapa yang akan bermalam bersama Andy?" tanya Diana sambil menyuapi Nicolas.
"Kau..." jawab Naina karena dia merasa sedang tidak enak badan.
"Ya, kau saja," kata Rossa karena sedang datang bulan.
"Baiklah," jawab Diana.
Tiba-tiba Andy masuk dan mengedarkan pandangan pada ketiga istrinya.
"Kalian masih disini?" tanya Andy pada ketiga istrinya yang masih berkumpul dirumah Naina.
"Ya, kami akan segera pulang," kata Rossa dan Diana.
"Malam ini aku akan menginap dirumah Tetua, ada beberapa hal yang perlu kami bicarakan berdua saja," kata Andy mengambil jaketnya dirumah Naina.
Ketiga istri Andy saling berpandangan dan tertawa.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Andy bingung dengan sikap istrinya yang kadang tidak masuk akal
"Tidak, kami akan pulang," kata Diana lalu pamitan. Begitu juga Rossa dan terakhir Andy pamitan pada Naina.
"Aku dengar kau sedang tidak enak badan. Apakah perlu aku menginap disini untuk menjagamu?" tanya Andy pada Naina.
"Tidak, aku hanya mual saja," kata Naina.
"Mual?" Andy sangat terkejut dan berfikir lebih dalam.
"Mungkinkah kau hamil?" tanya Andy langsung menatap perut Naina.
"Apa? Entahlah, aku belum memeriksanya," kata Naina.
Andy lalu berjalan dan berdiri didekatnya. Andy memeluknya dan mencium keningnya lalu berbisik di telinganya.
"Semoga kau benar-benar hamil, besok pergilah kerumah Nyi anker." kata Andy dan Naina lalu mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1