
Andy bertabrakan dengan Diana. Dan Diana menoleh ke belakang, mencari pria yang tadi dia temui, tapi pria itu entah pergi kemana, tiba-tiba lenyap begitu saja.
"Kau darimana?" tanya Andy khawatir.
"Aku tadi tersesat saat akan kembali, tapi ada pria yang menunjukan arah padaku. Tapi dia tiba-tiba lenyap entah kemana," kata Diana masih sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Siapa dia?" tanya Andy penuh selidik.
"Ehm, dia, siapa tadi namanya, aku jadi tidak ingat,"
"Ya sudah, lupakan saja. Ayo kita kerumah Naina. Kita tidak punya banyak waktu. Kita hanya punya waktu sampai akhir Minggu ini."
"Baiklah, aku akan menaruh baju ini dulu."
"Ya, sudah, cepatlah," Andy melihat sekali lagi kearah yang berbeda. Tadi sekilas dia seperti melihat bayangan seseorang.
Tapi saat ini dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal yang lainya. Dia harus bertemu ayah Naina dan membawanya kembali ke pulau dengan selamat.
Andy pergi bersama Diana untuk menemui Norman. Saat itu Norman baru saja bangun dari tidurnya. Dia segera memanggil tangan kanannya.
"Aku akan menemui pemilik tanah itu, Apakah Robert sudah datang?" dia bertanya sambil melirik jam tangannya.
"Belum bos, tapi kemarin ada seorang pemuda kaya raya yang datang dan sepertinya ingin mengajak bekerja sama," kata tangan kanannya penuh semangat.
"Siapa dia?" Norman menatap tajam lurus ke matanya dan penuh dengan rasa ingin tahu.
"Ini kartu namanya. Dia datang dengan seorang gadis naik mobil mewah dilapisi emas. Dia anak orang kaya sepertinya," kata anak buahnya sambil mengingat tamunya kemarin.
"Kenapa kau tidak membangunkan aku!?" Kata Norman mulai emosi dan berbicara dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
"Saya tidak berani membangunkan bos karena bos bilang hanya akan menemui tamu yang sudah membuat janji," kata pelayannya dengan pelan.
__ADS_1
Norman terlihat sangat marah, seakan baru saja kehilangan sejumlah uang besar.
"Bodoh!" Tiba-tiba Norman bangun dan berjalan mendekati anak buahnya. Tanganya memegang dan meremas pergelangan tangan dan jari-jarinya hingga berbunyi seakan tulangnya beradu.
"Ampun bos, sakit bos," Anak buahnya meringis menahan rasa sakit. Norman tanpa ekspresi melepaskan genggamannya dengan kasar.
"Cari siapa orang yang kemarin datang!" Titahnya dengan keras hingga membuat anak buahnya mundur satu langkah ke belakang.
"Baik bos, saya akan mencari sampai dapat," Norman lalu mengambil stik golf dan mengangkatnya ke atas. Anak buahnya sudah ketakutan, dan segera berpamitan untuk keluar dari ruanganya.
Anak buahnya berpamitan dan keluar dari ruangan bos Norman. lima menit kemudian dia kembali dengan wajah lebih cerah. Rasa takutnya mulai lenyap saat dia melihat tamu yang datang.
"Kenapa kau kembali?" Tanya Norman sambik mengelus batang stik golf itu. Dan siap untuk melepaskan pukulan jika anak buahnya membawa kabar buruk.
"Kau sudah menemukanya?!" Hardik Norman.
"Sudah bos. Dia ada didepan. Sekarang sedang menunggu untuk bertemu dengan anda," Norman lalu melempar stik golf itu dan anak buahnya dengan cepat menangkapnya.
Anak buahnya nampak lega setelah menemukan orang yang hampir saja membuatnya celaka ditangan bos Norman.
"Baik bos," Anak buahnya lalu pergi untuk menemui tamunya, sedangkan norman duduk sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Klek!
Andy membuka pintu dan terlihat Norman sudah siap berbicara bisnis denganya. Diana mengikuti dibelakang Andy. Andy tidak bisa meninggalkan Diana diluar itu sangat berbahaya.
Norman melirik sebentar ke arah Diana yang cantik dan anggun. Norman tersenyum manis pada Diana lalu pada Andy.
"Silahkan duduk," kata Norman dengan ekspresi yang lebih bersahabat. "Kita pernah bertemu?" Tanyanya pada tamu yang duduk dihadapannya.
"Namaku Khan, aku pewaris dari perusahaan kapal pesiar milik ayahku, Malik."
__ADS_1
Mulut Norman ternganga lebar dan tak percaya jika tamu yang ada dihadapannya adalah pewaris perusahaan kapal pesiar terbesar di Asia. Diapun lalu mengubah posisi duduknya.
"Haha, Siapa yang tidak mengenal ayahmu? Aku tidak menyangka ternyata orang penting yang mencariku. Maafkan anak buahku karena membuatmu datang dua kali." kata Norman berbasa-basi.
"Katakan, kenapa kau ingin mencariku dan apa yang bisa aku lakukan untukmu?" Tanya Norman sedikit merendahkan dirinya didepan orang penting yang kaya raya.
Andy sudah tahu watak dari lawan bicaranya melalui Lewis. Mudah baginya untuk mengendalikannya jika dia sudah tahu kelemahanya.
"Aku tertarik untuk bekerja sama denganmu. Aku dengan kau seorang importir. Kau tentu ingin barang sampai dengan cepat dan aman. Kau juga butuh gudang yang besar didekat pelabuhan. Aku bisa menyediakan semua itu untukmu."
"Wow wow wow, kau benar-benar keturunan Malik. Kau langsung pada topik yang menguntungkan, tentu saja ini tawaran ya g bagus. Kerja sama seperti apa yang kau inginkan?" Norman tahu jika ini tidak cuma-cuma. Pasti ada yang dia inginkan dari Norman. Bisnis seperti ini bukan hal baru baginya. Setiap yang ingin menawarkan keuntungan pasti punya maksud dan tujuan.
"Aku punya banyak kapal miliki sendiri. Karena kau seorang importir, maka yang aku tawarkan adalah mempermudah barang sampai kepadamu. Kau bisa menggunakan kapal kami sebanyak yang kau mau. Aku juga punya tanah yang luas didekat pelabuhan. Kau bisa membuatnya menjadi gudang. Tapi aku punya syarat," kata Andy dan menatap wajah pria didepanya dengan tenang.
"Syarat? hahahaha, tentu, tentu, pasti ada syaratnya, tidak ada pemberian yang gratis didunia ini. Sudah menjadi hukum alam, jika bisnis itu harus saling menguntungkan, katakan apa syaratnya?"
"Syaratnya mudah dan simpel. Putrimu Naina. Aku dengar dia sudah pulang. Aku sangat tertarik denganya, aku ingin dia bersamaku dan menjadi istriku,"
"Heeemmmm, Naina, ya, dia bersamaku, tapi dia punya dua anak. Dia bukan perawan, maaf aku harus berterus terang padaku. Jika ini kesepakatan maka aku tidak ingin kau membeli kucing dalam karung. Jadi, aku tidak bisa berbohong padamu, kau adalah putra tuan Khan, aku tidak berani untuk tidak berkata jujur."
"Aku sudah tahu semua tentang Naina. Tidak masalah, aku akan membawanya beserta anaknya. Kata orang jika suka sama ibunya maka harus menerima anaknya juga. Aku menerima Naina apapun keadaanya,"
"Apa!?" Norman tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sekarang pewaris yang kaya raya ingin memperistri putrinya yang sudah janda beranak dua. Ini tidak masuk akal, pikirnya. Tapi untuk apa dia memikirkanya jika dia akan mendapatkan keuntungan berlipat dari yang dijanjikan Robert. Robert terlalu berbelit-belit menurutnya, dan bahkan dia harus repot mengurus kedua anak Naina jika Naina menikah dengan Robert.
Robert hanya ingin Naina, dan dia tidak menginginkan kedua anaknya.
"Bagaimana?" Andy tidak sabar dengan jawaban Norman.
Pilihan yang sulit. Dua pria yang akan menjadi mesin pencetak uangnya menginginkan wanita yang sama. Dan dia adalah putrinya yang tidak disangka akan mendatangkan keuntungan berkali lipat untuknya.
Meskipun dia membenci ibunya karena dia pikir telah mengkhianatinya tapi setidaknya anak perempuannya memberikan banyak keuntungan untuknya.
__ADS_1