Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
SEASON 2-9


__ADS_3

Eduardo, Roger, dan Julio meninggalkan desa Delilah. Mereka berlayar untuk menjemput semua teman-temannya.


Sampai disana, mereka tidak menemukan satu temannya pun. Setelah mereka turun dari kapal, tidak ada siapapun disana.


Hal itu, tentu saja membuat Eduardo, Roger dan Julio saling berpandangan.


Mereka lalu berteriak memanggil nama teman-temannya.


"Bang Roky!" Teriak Julio.


"Ayah!" Teriak Eduardo memanggil Roky yang sudah mengangkat dirinya menjadi anaknya.


"Bison! Teman-teman! Kalian dimana?" Teriak Roger sambil membulatkan kedua telapak tangannya membentuk corong dimulutnya.


Tidak ada sahutan sama sekali.


Mereka lalu berjalan kedalam hutan. Eduardo dan teman-temannya masih bersahut-sahutan memanggil nama kawan-kawannya.


"Bagaimana ini?" tanya Julio menoleh pada Eduardo.


"Tidak ada tanda-tanda mereka masuk kedalam hutan," kata Roger.


"Kau benar, hanya ada dua kemungkinan. Mereka tertangkap atau ...."


"Atau apa?" tanya Julio.


"Mungkin mereka sudah meninggalkan pulau ini," kata Eduardo menebak.


"Tidak mungkin, bagaimana mereka bisa pergi tanpa kita?" tanya Julio.


"Mungkin mereka berfikir kita tidak pernah kembali, sehingga sebelum tertangkap oleh para prajurit itu, mereka meninggalkan pulau ini," kata Eduardo berasumsi.


Mereka lalu duduk disebuah batu yang besar ditengah hutan. Batu itu mungkin berasal dari letusan gunung berapi.


Disampingnya juga banyak batu-batu besar dan kecil tapi semuanya sudah betlumut.


Air bekas aliran sungai juga nampak mengering.


Mereka lalu merebahkan badannya diatas batu-batu besar itu. Melihat ke langit yang cerah.


"Aku harap mereka benar-benar meninggalkan pulau ini. Jangan sampai mereka dibawa oleh para Prajurit itu," kata Eduardo bergumam.


"Aku juga berharap demikian," kata Roger dan Julio.


*


*


Setelah melepas lelah, mereka lalu kembali ke desa Delilah.


Saat itu, Delilah sudah selesai masak dibantu oleh ayahnya.


Semua hidangan laut tersedia disana.


Delilah duduk didepan rumahnya menunggu kedatangan mereka. Ayahnya duduk disampingnya.

__ADS_1


"Apakah mereka akan datang?" tanya Delilah gelisah bertanya pada ayahnya, Jason.


"Entahlah, sampai sekarang mereka belum terlihat," sahut ayahnya.


"Delilah berharap mereka kembali,"


"Kau benar-benar sangat gelisah, apakah kau benar-benar jatuh cinta pada salah satu pemuda itu?"


"Jatuh cinta?" Delilah menatap ayahnya tersipu malu.


"Ya, seperti kau menjadi gelisah dan tidak tenang seperti ini. Biasa itu tanda-tanda kalau kau tertarik pada seseorang,"


Dari jauh nampak sebuah kapal merapat. Eduardo dan teman-temannya datang dan mendekati mereka berdua.


Delilah nampak senang melihat kedatangan mereka, namun sekaligus dia juga terkejut. Karena hanya mereka bertiga yang datang, dia lalu berfikir dimana rombonganya.


"Hai, kenapa hanya bertiga? Dimana kawan kalian?" Delilah bangun lalu menyapa mereka.


"Saat kami kesana, mereka tidak ada. Sudah kami cari tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali," kata Eduardo merasa sangat lapar.


"Ya sudah, jika begitu, kalian makanlah dulu, nanti batu bercerita,"


Mereka lalu makan dengan lahap sambil bercerita beberapa kemungkinan yang menyebabkan temannya hilang.


Selesai makan mereka bertiga istirahat dirumah Delilah. Besok mereka akan berlayar keluar dari tempat ini.


Malam harinya Delilah tidak bisa tidur karena memikirkan jika besok ketiga kawannya itu akan pergi.


Keesokan harinya mereka bertiga sudah bangun pagi-pagi. Delilah dan ayahnya sudah selesai masak untuk sarapan.


Delilah nampak senyum-senyum sendiri karena ayahnya mengijinkan dirinya ikut bersama mereka.


Ayahnya tidak mungkin membiarkan putrinya bersama mereka tanpa dia. Itulah yang mbuat dia juga memutuskan untuk ikut berlayar.


"Kami akan segera pergi," kata Eduardo.


"Aku sudah memilik kapal terbaik disini untuk kalian. Putriku ingin ikut karena sebagian warga disini sudah pindah ke kota. Dia merasa kesepian. Dan karena dia ikut, maka aku tidak bisa membiarkanya pergi sendirian," ujar ayahnya.


Eduardo melirik pada gadis itu.


"Baiklah, jika begitu kita jadi berlima,"


Kedua temannya mengangguk setuju dan senang Delilah ikut bersama mereka.


Delilah senyum-senyum sendiri dan segera naik kekapal lebih dulu. Di susul oleh teman-temannya lalu ayahnya.


Kapal segera berlayar ke tengah laut. Mereka kali ini mengambil arah yang berbeda.


Mereka berlayar terus dan sampailah pada sebuah pulau yang pohonnya begitu besar-besar.


Mereka segera merapatkan kapalnya dan akan singgah dulu disana.


Karena ternyata ada kapal lain juga yang singgah lebih dulu.


Namun tidak ada satu orangpun yang terlihat disekitar kapal itu.

__ADS_1


Mungkin mereka sudah masuk kedalam hutan. Eduardo dan kawan-kawan serta Delilah juga turun dan masuk kedalam hutan.


"Aku pernah dengar dipulau ini ada harta karunnya," seru ayah Delilah. Dan karena ayah Delilah mereka datang ke pulau ini.


"Darimana kau tahu?" tanya Eduardo.


"Para Prajurit itu berbisik-bisik selagi aku tertangkap. Dan aku pernah dengar dari beberapa warga didesa kami jika ada harta Karun dipulau ini. Namun...."


"Namun apa yah?" tanya Delilah.


"Namun sumur yang menyimpan harta Karun itu hanya akan terlihat disaat purnama saja,"


"Apa!?" Eduardo berjingkat menatap ayah dan anak itu.


"Maksud mu itu adalah sumur siluman?"


"Entahlah, menurut keyakinan warga, ada sumur yang akan muncul setiap purnama. Namun sebelum sumur itu muncul, biasanya ada siluman atau hewan jadi-jadian akan menjaganya,"


Terdengar Julio dan Roger tertawa.


"Hahahaha, Pak Jason pasti sedang bercanda...." kata Julio.


"Tidak, ini bukan candaan. Lihatlah ke atas. Sebentar lagi purnama, mari kita buktikan," kata Pak Jason yang juga penasaran dengan keberadaan Sumur tua yang akan muncul satu bulan sekali.


"Ayo kita masuk sekarang. Kita harus kedalam dan mencari keberadaan sumur itu," kata Eduardo.


Mereka menatap Eduardo lalu mengangguk.


Mereka berlima masuk kedalam hutan. Semakin dalam, dan suasana didalam hutan itu semakin sunyi dan gelap.


Mereka mencari dimana sumur itu akan muncul. Sedangkan hutanya begitu luas. Dan orang yang menaruh kapal itu juga tidak kelihatan sama sekali.


"Apakah kita tersesat?" tanya Delilah.


"Tidak, aku sudah memberi tanda pada setiap pohon yang kita lewati," kata Eduardo.


Mereka lalu duduk dibawah pohon yang rindang. Sambil menunggu bulan purnama benar-benar penuh.


Jika sudah penuh, maka mereka akan mencari sumur yang akan muncul.


Jia sumur itu belum muncul maka sulit sekali menerka-nerka keberadaan nya.


Saat ini bulan purnama hampir sempurna. Namun terdengar jeritan ditengah hutan. Mereka berlima lalu saling berpandangan.


Dan segera berdiri untuk bersiaga. Mungkin akan muncul hewan jadi-jadian disekitar mereka.


"Siapa yang berteriak minta tolong?"


"Intinya ada orang lain yang juga datang menunggu sumur itu muncul,"


Tiba-tiba ada sebuah benda bersinar jauh didepan mereka.


"Lihat itu? Bersinar?" Teriak Julio.


"Jangan didekati dulu....kita lihat dulu,"

__ADS_1


Dan untunglah mereka tidak mendekat, ternyata itu adalah sepasang mata harimau yang bersinar.


Harimau itu berjalan mendekati mereka berlima.


__ADS_2