
Diana dan Andy naik kapal yang berbeda dan mereka menuju ke pusat pelabuhan. Saat mereka sampai, tiga mobil sudah standby disana.
Seorang berbadan besar membukakan mobil untuk Andy, dan sepuluh orang pegawai ayahnya akan naik mobil yang berbeda.
Andy tidak suka dikawal seperti ini, tapi dia memaklumi kekhawatiran ayahnya.
"Kota ini sangat indah," gumam Diana menoleh ke arah Andy.
"Disini aku dilahirkan dan dibesarkan,"
"Banyak bangunan dan mobil dimana-mana. Terasa panas dan bising."
"Kau tidak menyukainya?"
"Jika hanya beberapa saat, tentu menyenangkan. Tapi selamanya disini, mungkin tidak. Aku lebih suka tinggal dipulau peninggalan nenek moyang kami."
"Ya, aku mengerti maksudmu. Sudah sampai, ayo kita turun!"
Seorang berbadan besar membukakan pintu untuk Andy. Dia juga membuka payung untuknya agar bosnya tidak merasa panas.
Andy menggelengkan kepalanya tanda dia tidak menyukai penyambutan seperti ini.
"Baik. Mari silahkan masuk. Tuan besar sudah menunggu anda," kata seorang yang berbadan tegap dan besar.
Andy mengajak Diana masuk kedalam. Ayahnya tersenyum senang karena melihat putranya telah kembali.
Mereka berpelukan dan ayahnya menatap Diana. Andy lalu mengenalkan Diana pada ayahnya. "Ayahnya menyelamatkan aku," kata Andy duduk dekat dengan ayahnya. Diana tersenyum dan berjabat tangan dengan ayah Andy.
__ADS_1
"Kau kemana saja? Kenapa tidak kembali?" Ayahnya menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Aku tersesat di pulau terpencil." Kata Andy yang tidak ingin membuat ayahnya khawatir tentang orang yang berusaha mencelakainya.
Andy curiga pada Robert dan ibu tirinya. Jika dia mengatakannya maka sulit membuktikan kejahatan mereka. Mereka punya anak buah banyak dan justru Andy tidak bisa membasmi para bandit yang melawan ayahnya diam-diam.
"Ayah senang akhirnya kau kembali. Dimana orang yang sudah menyelamatkanmu? Aku akan memberinya hadiah."
"Mereka ada di pulau terpencil. Pulau itu tidak ada didalam peta."
"Baiklah, aku sangat penasaran. Suatu saat aku ingin melihat pulau yang bahkan tidak ditemukan oleh semua anak buahku saat mencarimu."
"Pasti aku akan mengajakmu ayah,"
Setelah berbincang, Andy mengajak Diana untuk beristirahat di kamarnya.
Saat ini mungkin saja anak buah yang tinggal bersama ayahnya juga seorang mata-mata ibunya. Wajah yang sama dan sikap yang sama. Bagaimana mengetahui kepada siapa mereka berpihak?
"Andy, kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Kata Diana menatap Andy tajam.
"Tidak. Tidak ada yang aku sembunyikan."
"Gaun ini bukan hadiah dari temanku bukan? Rumah besar ini, mungkinkah kau juga akan mengatakan ini adalah hadiah?" Andy lalu menatap Diana dengan terkejut.
Diana terlalu cerdik untuk bisa dikelabuhi. Meskipun dia berasal dari pulau terpencil tapi dia cerdas dan pintar. Bagaimana bisa berbohong padanya dalam waktu lama?
"Maafkan aku. Aku tidak ingin kau tahu siapa aku, karena kau akan...." Andy tidak meneruskan ucapannya. "Banyak masalah yang harus aku ungkap di sini. Keluargaku tidak sama dengan keluargamu. Kami tinggal bersama dengan misi berbeda. Sedangkan kau, satu kampung bahkan seperti keluarga dan punya misi yang sama."
__ADS_1
Diana mengangguk dan mengerti alasanya kenapa Abdy tidak mengatakan siapa sebenarnya dirinya.
"Besok, kita akan pergi mencari Naina, tapi sebelum itu, aku akan menemui temanku dulu,"
Diana mengangguk lalu merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk.
Pinggiran kasur itu berwarna kuning keemasan dan terukir dengan indah. Semua interior dilapisi emas karena memang ayahnya Andy sangat kaya raya.
Pagi harinya, Andy berpamitan pada Ayahnya untuk pergi lagi.
Ayahnya terlihat sedih, tapi setelah Andy menjelaskan jika ini sangat penting, ayahnya akhirnya mengangguk pelan.
"Jika masalah Andy sudah selesai, maka Andy akan mengunjungi ayah lagi. Jaga kesehatan ayah," kata Andy lalu berpamitan dan mengajak Naina pergi.
Mereka naik mobil berwarna kuning keemasan. Mobil itu sengaja dilapisi emas hingga semua terlihat berkilau keemasan.
"Diana, naiklah, kita akan menemui temanku sebelum mencari Naina." Kata Andy dan menuju ke tempat pembuatan kapal pesiar.
Bondan sahabatnya bekerja disana. Andy juga sering disana untuk melihat bagaimana Bondan begitu hebat hingga bisa membuat kapal pesiar dan dipercaya ayahnya.
Bondan sedang tertunduk saat Andy datang. Bondan sedang memikirkan keluarganya yang terus diteror oleh Robert dan ibunya untuk menekan dirinya.
Bondan benar-benar serba salah saat ini. Siapa yang harus dia pilih, sahabatnya atau keluarganya. Hal itu benar-benar membuatnya dilema.
"Hai kawan, kau bekerja dan tidak ingat pada sahabatmu ini," kata Andy menepok Bondan hingga membuatnya terperanjat.
Andy?
__ADS_1
Bondan lalu menoleh dengan kaget. Dia baru saja memikirkannya dan sekarang orang yang dia pikirkan sudah ada dibelakangnya.