Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Langkah kelima


__ADS_3

Andy menunjuk lima mafia untuk membebaskan tanah disekitar rumah penduduk. Dan menghubungi pemimpin di kota itu untuk memberikan ijin.


Ada penduduk disana dan sebelum memulai usahanya maka lahan itu harus dalam keadaan kosong. Hari ini harus menyelesaikan dokumen dengan pemimpin di kota itu dan Andy akan bermusyawarah dengan para warga dipinggir laut itu untuk memberikan ganti rugi.


"Diana, kau sudah siap?" kata Andy saat dia sudah menggunakan jas termahal dengan membawa koper berisi uang dan dokumen.


"Ya," Diana sudah memakai baju seperti yang dipakai wanita karir. Dia mulai merubah penampilannya.


Andy tersenyum melihat Diana yang berubah total.


"Kau cantik," Andy mengulurkan tanganya pada Diana


"Terimakasih," Diana menyambutnya lalu berjalan ke mobil mereka.


"Aku akan menemui pria yang membuat identitas untuk kita," kata Andy lalu mulai menyetir.


Tidak lama kemudian mereka sampai ditempat pria itu. Tapi kantornya masih tutup, dan terlihat kosong, Andy berfikir apakah pria itu mungkin sudah mati?


"Kita tunggu disini saja," kata Andy lalu duduk didepan kantor yang masih ada tulisan 'close' itu. Setelah satu jam mereka menunggu mereka melihat sebuah mobil datang.


Seorang pria turun dengan map ditanganya.


"Hai Tuan! Maaf, kalian menunggu, aku menyelesaikan beberapa data."


"Ini, identitasmu, Tuan Marko" kata orang itu sambil menyerahkan beberapa berkas pada Andy.


"Baiklah, ini bayaranmu!" Kata Andy melemparkan koper kecil berisi uang yang sudah disepakati.


"Oke, lain kali aku pasti kembali. Aku suka orang sepertimu, kau cepat dalam menyelesaikan masalah." Andy dan Diana lalu pergi dan menemui lima mafia yang sudah berkumpul di markas.


Kelima mafia itu sedang bermain kartu sambil menunggu kedatangan Andy. Mereka tadinya adalah musuh satu dengan yang lainya. Tapi karena sekarang bekerja untuk orang yang sama, maka mereka menjadi kawan.


"Darimana pria itu?" Kata seorang yang sedang memegang lima kartu.


"Maksudmu Andy?" jawab pria disampingnya.


"Entahlah, dia bukan dari negara kita, dia juga bukan dari negara sebelah. Dia mungkin dari benua lainya," jawabnya kemudian.


"Aku kagum padanya. Tubuhnya benar-benar kuat dan dia berotak cerdas," kata pemegang lima kartu.


"Pekerjaan seperti apa yang akan dia berikan pada kita?"


"Aku dengar dia akan membuat pelabuhan yang besar, butuh ijin dari pemimpin kota ini, tugas kita adalah meyakinkan para pejabat itu. Dan tentu uang penutup mulut yang tidak sedikit."


"Dia akan membuat gudang? Apakah kita masih akan menyelundupkan barang-barang setelah bekerja denganya? Dan dia memberikan fasilitas itu?"


"Entahlah, aku masih bertanya-tanya, apa yang akan dia lakukan?"


Tidak lama kemudian Andy datang bersama Diana dan tersenyum pada mereka semua. Dia benar-benar senang karena sekarang bisa mengendalikan orang untuk menuruti kemauannya.

__ADS_1


Andy duduk dan menyilangkan kakinya. Diana duduk agak jauh dan hanya melihat apa yang mereka lakukan.


"Aku butuh ijin untuk membuat pelabuhan. Aku akan membuat perusahaan yang menyediakan gudang tempat penyimpanan barang dan kapal-kapal transportasi yang dibutuhkan dikota ini. Aku lihat disini pelabuhan masih sangat tertinggal dan fasilitasnya jauh dari kata bagus. Jumlah kapal sangat sedikit dan yakinkan mereka apa yang akan aku lakukan ini pasti akan membuat perubahan besar bagi penduduk di daerah sini." Kata Andy.


Andy melihat kota ini begitu tertinggal, rakyatnya juga jauh dari kata hidup layak dan makmur. Mereka mungkin penduduk asli wilayah ini. Tidak ada turis yang berani ke kota ini apalagi menanamkan modalnya karena kota ini penuh dengan mafia dan kriminal yang tinggi. Membuat penduduknya tidak berkembang dan hidup dalam kemiskinan.


Mereka berlima saling pandang. Dan akhirnya mengangguk.


"Ini identitasku,"


"Tuan Marko?"


"Itu nama samaran,"


"Baiklah," mereka lalu beranjak pergi dengan beberapa berkas yang sudah disiapkan Andy didalam sebuah map.


Andy lalu mengajak Diana pergi menemui para penduduk di pesisir dan akan bermusyawarah.


Mereka sampai disana dan diterima baik oleh kepala desa disana.


Ada sepuluh desa yang akan terkena gusuran imbas proyek yang akan dia lakukan.


Andy mengutarakan niatnya dan ditolak oleh kepala desa itu dengan alasan mereka tidak akan punya penghasilan jika pindah ketempat lain.


"Berapa jumlah kepala keluarga disini?" Tanya Andy tetap tenang meskipun niatnya ditolak mentah-mentah.


"Bagaimana jika saya memperkerjakan mereka. Saya akan membuat pelabuhan besar dan banyak kapal internasional akan singgah disini. Akan ada bongkar muat, dan tentu butuh tenaga manusia untuk melakukan semua itu. Saya akan memberikan gaji yang layak. Dan cukup untuk kebutuhan hidup mereka dan keluarganya," Andy berusaha berbicara sebijak mungkin menyelesaikan masalah pembebasan lahan.


Dia tidak akan menggunakan kekuatannya pada rakyat biasa. Dia hanya akan menggunakanya pada para preman dan mafia.


Kepala desa itu nampak berfikir,


"Saya harus bermusyawarah dulu dengan para warga disini, saya tidak bisa membuat keputusan berdasarkan pemikiran sendiri. Harus melalui musyawarah baru bisa diputuskan. Besok datanglah kemari setelah kami bermusyawarah."


"Baiklah jika begitu, maka saya akan kembali besok." Kata Andy lalu berpamitan pada mereka semua.


Andy dan Diana tidak langsung pergi kemobil, mereka berjalan kaki disepanjang pesisir itu dan melihat-lihat rumah para warga yang terlihat sudah lawas.


"Rumah mereka sudah rapuh dan harusnya mereka menerima tawaranku, untuk memperbaiki ekonomi dan kesejahteraan mereka."


"Tidak mudah pergi meninggalkan kampung halaman," ujar Diana.


"Demi hidup yang lebih baik, apa salahnya?" kata Andy dengan pemikirannya.


"Bagi sebagian orang meninggalkan tempat dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan secara turun temurun tidaklah mudah," ucap Diana.


"Untuk apa bertahan ditempat yang tidak membuat mereka hidup sejahtera? Harus ada perubahan agar bisa hidup makmur,"


"Itu menurutmu, bagaimana jika mereka tidak berfikir sejauh dirimu? Mereka bahkan tidak mendapatkan pendidikan yang tinggi disini, cara berpikirnya pasti berbeda."

__ADS_1


"Aku akan membuat mereka mengikuti keinginanku bagaimana pun caranya. Setelah mereka hidup layak dan makmur, mereka akan berterimakasih karena aku membuka cara berfikir mereka,"


"Kau akan menggunakan kekuatanmu untuk menekan mereka?" Diana menoleh pada Andy.


"Tidak. Kali ini dengan cara yang lebih halus, jika sampai mereka menolaknya,"


"Kau benar-benar berambisi kali ini,"


"Tentu saja. Aku harus memanfaatkan kekuatan ini, aku tidak tahu apakah kekuatan ini akan bertahan selamanya atau hanya sesaat," kata Andy tersenyum.


"Kenapa memilih kota ini?"


"Karena disini masih tertinggal. Banyak para mafia dan aku ingin memanfaatkan mereka sekaligus menghabisi mereka. Dan disini masih mudah mendapatkan ijin membuat perusahaan. Jika aku memilih negara maju, maka akan lebih sulit."


Diana tersenyum pada Andy setelah mendengar apa yang dia katakan dan apa yang dia pikirkan selama ini.


Mereka lalu pulang dan bertemu dengan Jones dijalan. Jones mengangguk hormat pada Andy lalu melanjutkan perjalanannya.


"Aku akan menggunakanya untuk memesan kapal pada Robert. Jika aku menyuruh Sony dan Lewis maka akan terjadi masalah," kata Andy lalu putar arah dan mengejar Jones.


Bruuukkkk!


Andy menabrakkan mobilnya pada bagian belakang milik Jones.


Jones menoleh dan menghentikan mobilnya setelah tahu jika itu adalah Andy.


Mereka lalu mampir di sebuah klub ditempat itu.


"Aku ingin kau pergi menemui seseorang bernama Robert. Kau pasti mengenalnya, dia membuat kapal terbesar di Asia."


"Robert? Pembuat kapal? Ok! Lalu untuk apa aku menemuinya?"


"Aku ingin kau memesan kapal terbaik dan terbesar padanya. Dan kapal itu harus dilengkapi dengan senjata yang modern dan canggih,"


"Apakah dia akan mempercayaiku?"


"Aku akan memberikan cek padamu sebagai uang muka,"


"Baiklah jika begitu, siapa yang akan pergi bersamaku?" tanya Jones.


"Beberapa mafia akan pergi denganmu. Kau akan pergi dengan pesawat."


"Baiklah," kata Jones mengangguk setuju.


"Kau harus berhasil dan aku tidak mau mendengar kata gagal. Aku tidak suka itu,"


"Tentu saja, jika ada uang, kenapa harus gagal?" ujar Jones.


Andy mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2