
Gina perlahan melepaskan pegangan tangan Fina yang terus memohon padanya, jika teringat apa yang sudah saudaranya lakukan padanya, maka tidak mudah baginya untuk mengampuninya.
Gina mundur dan keluar dari ruangan itu. Dia lalu meninggalkan Fina sendirian dan dua polisi masuk membawanya kembali kedalam sel tahanan.
Gina masuk kedalam mobil, dan akan menunggu dua Minggu untuk mengambil hasil tes DNA.
Sementara dipulau Andy dan semua orang sudah selesai mengadakan ritual adat untuk mengusir roh jahat dari kalung yang Andy bawa. Sekarang kalung itu sudah terbebas dari energi jahat.
Tetua menyimpan kalung dan meletakkannya bersama beberapa benda pusaka lainya.
Hari sudah larut, dan Andy berjalan kerumah Rossa, dia mendengar jika Rossa sedang hamil putranya, maka itu adalah kabar yang sangat ditunggu oleh semua orang.
tok! tok! tok!
Andy berdiri didepan pintu depan rumah Rossa. Tidak lama kemudian Rossa membukakan pintu dan tersenyum senang karena suaminya datang mengunjunginya.
"Andy? Masuklah," Rossa lalu menutup pintunya kembali. Dan mengajaknya duduk dimeja makan.
"Apakah kau sudah makan?" tanya Rossa lalu mengambilkan minum untuk suaminya.
"Sudah,"
"Syukurlah, hari ini aku hanya masak sedikit, jika tahu kau datang, aku akan masak masakan yang enak untuk menyambutmu," kata Rossa menyesali karena tidak punya persiapan makanan sedangkan suaminya berkunjung kerumahnya.
"Aku datang karena suatu keperluan, aku juga ingin melihat keadaan kalian, besok kau bisa memasak makanan yang enak untukku, bagaimana kabarmu?" tanya Andy menatap istrinya dengan lembut.
"Jika kau lama disini, aku akan memasak makanan yang enak setiap hari, dan, kabarku....aku seperti yang kau lihat, aku baik, aku sedang mengandung...." kata Rossa sambil melihat perutnya sendiri.
Andy lalu berjalan mendekat dan mengelus perut Rossa. Andy menggandengnya untuk beristirahat dikamar karena hari sudah larut.
"Terimakasih...kau sudah mengandung anakku, dan maafkan aku, karena tidak bisa selalu disampingmu," kata Andy lalu mencium kening istrinya.
Rissa mengangguk dan menyandarkan kepalanya dibahu suaminya.
"Bagaimana kabar Diana?"
__ADS_1
"Dia terus bersamaku, aku mengajaknya kemanapun aku pergi, dia senang dan cepat menyesuaikan diri saat berada diluar pulau," kata Andy lalu merebahkan kepala istrinya dibanta disampingnya.
"Aku senang mendengarnya, apakah dia tidur dirumah Naina?"
"Tidak, dia tidur dirumah Tetua," kata Andy lalu menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya juga istrinya.
Mereka menghabiskan malam bersama dan Andy memberikan kewajiban nya untuk istri keduanya. Nafkah batin yang hanya bisa dia berikan saat mereka bertemu.
Keesokan harinya Andy sarapan dan pergi untuk melihat istri ketiganya, Naina. Disana dia juga disambut dengan hangat oleh Naina. Mereka makan dan Andy bermain dengan anak yang mendiang Ali tinggalkan untuk dia jaga.
Mereka sangat lengket dengan Andy dan mulai terbiasa dengan kehadirannya yang menggantikan ayah kandungnya.
Naina sudah mendengar jika suaminya kembali bersama Diana, sehingga dia segera mempersiapkan makanan dan tempat tidur untuknya.
Setelah menginap dirumah Rossa maka Andy biasanya akan menginap dirumahnya. Begitu terus hingga dia kembali ke negaranya.
Malam ini terasa begitu dingin berbeda dengan malam sebelumnya, Andy mengatakan pada Naina untuk tidur dikamar yang besar agar kedua anaknya bisa tidur satu ruangan bersamanya.
Kedua anak Naina sudah tidur lebih dulu, Naina lalu keluar dan melihat Andy yang masih duduk diruang tamu sambil memegang beberapa barang peninggalan Ali.
Andy menoleh dan menatap Naina lalu mengangguk.
"Kau selalu membersihkan semua ini?" tanya Andy yang melihat jika barang-barang itu begitu bersih dan terawat. Artinya meskipun suaminya sudah tiada, Naina tetap menjaga dengan baik semua barang peninggalan suaminya, dengan sering membersihkanya.
"Ya, setiap hari aku mengelapnya," jawab Naina lalu duduk disamping suaminya.
"Jika melihat semua barang ini, aku tidak bisa melupakan kebersamaan kami," kenang Andy.
Naina tersenyum lalu menatap Andy. Setelah itu Naina mengambil barang dari tangan Andy dan menyimpannya. Andy hanya menatap nya tidak mengerti saat Naina mengambil barang-barang itu dari tangannya. Setelah itu Naina membawanya ke ruang kosong.
Tidak lama kemudian Naina kembali, Naina hanya ingin menjaga perasaan Andy dari kenangan masa lalunya bersama mantan suaminya yang sudah tiada. Itulah alasannya kenapa Naina menyimpan semua barang peninggalan suaminya saat Andy berkunjung kerumahnya.
Naina laku mengajak Andy untuk pergi kekamar mereka. Andy mengangguk pelan dan berjalan dibelakang Naina.
"Hari sudah larut, istirahatlah," kata Naina pada Andy.
__ADS_1
Merekapun masuk lalu Naina menutup pintunya. Andy menatap dua bocah yang sedang tertidur pulas. Dua anak itu adalah anak sambungnya, anak dari sahabatnya yang dititipkan padanya.
Andy lalu mengelus pipi mereka dan mencium kening mereka dengan lembut.
"Apakah kau kerepotan menjaga mereka berdua?" tanya Andy pada Naina yang pura-pura merapikan selimut.
"Tidak, kadang Rossa juga datang kemari membantuku,"
"Syukurlah jika begitu, aku pikir jika kau kerepotan maka aku akan mengajakmu keluar dari pulau ini dan ikut bersamaku dirumahku, agar aku bisa membantumu menjaga mereka," kata Andy lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang dibuat warga.
"Tidak, aku senang tinggal dipulau ini. Jauh dari hiruk pikuk, jauh dari segala macam keributan, semua warganya hidup dengan saling membantu dan aku seakan seperti punya sebuah keluarga besar," kata Naina lalu diapun merebahkan dirinya disamping Andy.
"Baiklah, jika kau lebih suka tinggal disini, maka aku juga senang karena kau bersama dengan orang-orang yang baik," kata Andy lalu memiringkan badannya menatap Naina.
Andy berfikir untuk memberikan nafkah batin pada Naina, karena mereka adalah suami istri. Terlihat oleh Andy dada Naina yang naik turun akibat rasa cemas.
Andy lalu mengusap kening Naina dan menyibakkan rambutnya kebelakang telinganya. Naina hanya diam saja, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut hingga kedadanya.
Andy segera tahu jika Naina belum siap. Andy lalu tersenyum dan menatap langit-langit dikamar mereka.
"Tidurlah, kau mungkin lelah karena seharian menjaga mereka berdua. Aku juga akan tidur," kata Andy lalu memejamkan matanya.
Saat Andy Tertidur, Naina terlihat sangat gelisah. Dia memiringkan tubuhnya dan belum bisa memejamkan matanya. Dia lalu menatap Andy dan bergumam sendirian.
"Maaf, aku masih belum bisa menerimamu sepenuh hatiku...aku butuh waktu, dan semoga kau bersabar menungguku...." Naina bergumam sendirian.
Tiba-tiba mata Andy terbuka dan mengagetkan Naina yang sedang memandanginya saat dia tertidur. Andy lalu tersenyum karena menangkap basah Naina yang diam-diam menatap wajahnya.
"Kau belum tidur?" tanya Andy yang membuat Naina salah tingkah. Naina segera mengangguk dan menarik selimut untuk menutupi sebagian mukanya, lalu memiringkan badannya menghadap dinding.
Andy tersenyum dan menepok bahu Naina. Naina tidak menoleh dan pura-pura sudah sangat mengantuk lalu memejamkan matanya.
Andy lalu memejamkan matanya dan tidur kembali. Andy tahu apa yang dirasakan oleh Naina. Andy adalah suami yang bijaksana, dia memahami setiap istrinya dengan cara yang berbeda. Dia juga belajar untuk mengingat karakter dari setiap istrinya sehingga dia mudah untuk mengerti apa yang mereka inginkan.
Dia memahami Diana yang lebih terbuka dan berkepribadian bebas. Atau Rossa yang bijak dan bersikap dewasa. Dan yang terakhir adalah Naina yang lebih pemalu dan pendiam.
__ADS_1
Andy sangatlah beruntung, semua istrinya saling memahami dan tidak ada yang menuntut untuk diperlakukan lebih spesial. Mereka sadar, jika Andy juga punya keterbatasan, dan belum lagi poligami sudah menjadi suatu keharusan di pulau itu. Demi keadilan dan agar semua wanita merasakan manisnya berumah tangga, mengingat stok pria yang terbatas maka mereka melakukanya dengan rela.