
Setelah memakai kalung ajaib itu, Eduardo pergi kedepan dan mendekat pada beberapa orang yang berusaha untuk mencabut pedang itu.
Delilah tidak melihat jika Eduardo juga ikut dalam sayembara karena dia duduk agak jauh dan lagi banyak prajurit didepannya yang berbaris menjaga keselamatan nya.
Beberapa orang sudah mundur, karena tetap tidak mampu mencabut pedang itu meskipun sudah bersusah payah. Mereka sudah mengerahkan seluruh kesaktian dan kemampuannya, namun pedang itu masih tertancap di tempatnya semula.
Sekarang giliran, Eduardo yang berdiri di dekat pedang yang tertancap itu. Maka dia berdoa pada nenek moyangnya agar membantunya mencabut pedang pusaka itu.
Dan dalam sekali usaha, diapun berhasil mencabut pedang itu. Semua orang langsung bersorak dan memberikan tepuk tangan atas keberhasilan Eduardo.
Delilah yang sejak tadi menyaksikan sayembara itupun terkejut. Dia penasaran siapa gerangan yang berhasil mencabut pedang pusaka itu.
Maka Eduardo dibawa oleh pada pengawal untuk menghadap sang ratu. Dengan wajah senang dan di ikuti oleh saudara serta ayahnya, maka Eduardo segera menghadap sang ratu.
Delilah awalnya tidak menyadari jika yang datang adalah Eduardo. Dia berjalan dengan tertunduk dan ada dua pengawal didepannya. Setelah Delilah turun dari kursi dan ingin melihat langsung calon suaminya, maka dia menjadi kaget saat melihat wajah Eduardo yang melihat dan tersenyum padanya.
"Eduardo?"
"Ratu," sapa Eduardo sambil tersenyum pada Delilah.
"Duduklah disini," ajak Delilah dan mengajaknya duduk ditempat yang sudah disediakan.
"Sudah ku duga kau akan datang, karena sebenarnya sayembara ini untuk memanggilmu datang,"
"Benarkah? Bagaimana jika aku tidak datang?"
"Kau pasti datang," kata Delilah dan menanyakan tentang dua orang yang bersamanya.
__ADS_1
Eduardo lalu tersenyum melihat keyakinan Delilah.
"Apakah mereka keluargamu?"
"Ya, kenalkan, ayahku, Andy dan mereka berdua saudaraku, Alvian dan Azam,"
"Senang berjumpa dengan kalian," kata Ratu Delilah mempersiapkan jamuan untuk tamu istimewanya.
"Kami juga," kata Andy dan menatap pada Delilah serta Eduardo sambil tersenyum.
Beberapa pelayan datang mempersiapkan jamuan makan untuk tamu sang ratu. Dan Eduardo serta Delilah memilih untuk berjalan-jalan ditaman sementara keluarga mereka makan bersama dan berbincang.
Mereka berjalan mengitari taman dan bercerita bagaimana semua ini bisa terjadi.
"Aku mengkhawatirkan mu selama ini. Saat kami sadar, ternyata kau tidak ada disana. Lalu banyak peti didepan kami, dan berisi harta Karun,"
"Ya, sebenarnya aku mengeluarkan peti itu dari dalam sumur. Namun tanpa sengaja aku memecahkan sebuah batu dan saat aku berhasil naik, dunia menjadi berhenti termasuk kalian. Semua orang menjadi patung dan aku berusaha mencari pertolongan. Aku pergi menemui ayahku, dan begitu sampai disana, sebuah keajaiban terjadi, dunia kembali seperti semula lagi,"
"Benarkah? Jadi kau yang mengeluarkan semua peti itu?" Delilah terkejut meski awalnya sudah menduganya.
"Ya, dan ayahku melarang aku kembali lagi. Dia mengatakan hidup dipulau terpencil tidak membutuhkan semua harta karun itu. Kami makan dari hasil pertanian dan perkebunan," kata Eduardo.
"Lalu kau tidak kembali untuk bertemu kami lagi,"
"Ibu melarangnya, akupun tidak bisa melihatnya bersedih lagi setelah sebelumnya meninggalkanya," kata Eduardo dan menggandeng tangan Delilah.
"Bagaimana kau yang menjadi ratu disini? Dan kerajaan ini sungguh sangat indah,"
__ADS_1
"Ini ide mereka semua. Pak Roky khawatir terjadi pertumpahan darah akibat harta Karun itu. Lalu kami berbicara dan membangun kerajaan ini,"
"Dan idemu dengan sayembara yang kau buat sungguh cemerlang,"
"Apakah kita akan menikah setelah ini?" tanya Eduardo.
"Ya, sesuai aturan maka kita akan menikah besok," Delilah menatap Eduardo dan mereka saling bertatapan dengan mesra.
"Aku mencintaimu Delilah,"
Delilah mengangguk saat Eduardo menyatakan cintanya.
"Aku juga," ucap Delilah dan saat mereka akan berpelukan Roky datang dari sebuah pondok didekat air mancur.
"Haaiiii, kita bertemu lagi," datang disaat yang tidak tepat membuat Delilah dan Eduardo kaget dan mundur satu langkah. Lalu mereka berdua tersenyum pada Roky yang berjalan mendekati mereka berdua.
"Hai Pak," sapa Eduardo lalu memeluknya, yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri.
"Kenapa kau baru muncul. Kau kemana saja?" kata Roky menepuk pundak Eduardo.
Eduardo menatap Delilah dan mereka saling melempar senyum.
"Maaf pak, aku tersesat," kata Eduardo lalu mereka tertawa.
"Ayo kita makan didalam, kebetulan semua sudah menunggu kalian berdua," ucap Roky dan mengajak Eduardo serta Delilah masuk kedalam.
Mereka bergabung dengan semua keluarga yang sudah saling berkenalan dan semua tersenyum bahagia melihat Delilah dan Eduardo yang serasi.
__ADS_1