
Andy sudah bersama warga bersama-sama untuk merakit kapal. Dengan buku panduan yang ditinggalkan nenek moyangnya, satu persatu lempengan-lempengan itu bisa disatukan.
Sekarang sudah membentuk kapal meskipun belum sempurna. Jenset menyala setelah diperbaiki oleh Andy.
Dan berkat jenset itu, Andy berfikir untuk memperbaiki handphone miliknya. Andy pun langsung pulang dan mengambil handphone miliknya yang rusak dan batrenya habis.
Andy nampak lari dengan cepat dan mulai memperbaiki handphone dengan keahlian yang dia miliki.
Alhasil tidak lama kemudian layar itu menyala dan Andy terlihat sangat senang.
"Aku bisa menguhungi Bondan dan minta bantuanya," gumam Andy lirih lalu memasukkan handphone itu kesaku bajunya.
"Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Rossa yang duduk disamping Andy.
"Aku berhasil memperbaiki handphone milikku. Aku akan menggunakanya saat nanti sudah bisa keluar dari pulau ini,"
"Apakah barang itu sangat penting aku belum pernah melihatnya sebelumnya."
"Ya. Di kehidupan kami, barang ini selalu kami bawa kemanapun kami pergi. Handphone bisa digunakan untuk berbicara jarak jauh tanpa harus bertemu."
"Benarkah? Rasanya pasti sangat menyenangkan jika disini ada barang seperti yang kau miliki itu." kata Rossa.
"Ya. Suatu saat nanti, jika aku sudah kembali pada keluargaku, aku akan membuat agar semua warga disini bisa memiliki handphone dan menggunakanya untuk jarak jauh."
"Apakah kau sehebat itu?" ujar Rossa sambil tersenyum manis. Membayangkan pria semampai yang ada disampingnya berjanji untuk membuat perubahan besar dipulau terpencil ini.
"Aku akan berusaha menjadi hebat. Rossa, teruslah tersenyum seperti itu, kau sangat manis saat tersenyum seperti tadi,"
__ADS_1
"Jangan mulai lagi Andy. Kau sudah membuat janji pada banyak orang. Aku tidak ingin terperangkap pada janjimu yang selalu kau ucapkan." kata Rossa dan membuat Andy terhenyak.
"Maafkan aku Rossa. Aku tahu aku telah mengecewakanmu. Semua yang terjadi, serta keadaan yang tiba-tiba berubah, terjadi diluar batas kemampuanku."
"Jika begitu, jangan mudah berjanji. Karena tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari,"
"Kau sangat kecewa padaku. Itu terlihat jelas dimatamu,"
"Kau sekarang bahkan sok tahu dan mencoba menjadi seorang peramal." kata Rossa melirik Andy sebentar.
Andy menatap Rossa sebentar dan menunduk kelantai.
Saat tengah malam, kapal itu hampir selesai. Andy sedang duduk bersama Diana dan berbicara.
"Andy, aku akan ikut denganmu, aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri," kata Diana sambil memainkan kayu kecil ditanganya.
Diana nampak kecewa karena penolakan Andy. Padahal dia sangat ingin bersamanya karena terus mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Dia juga bosan menunggu Andy yang akan pergi mencari Naina.
"Justru karena ini berbahaya maka aku ingin ikut denganmu. Mungkin saja ada yang bisa aku lakukan untuk membantu mu,"kata Diana sambil menggenggam tangan Andy.
"Tetua tidak akan mengizinkan mu," Andy berusaha mencegah Diana agar tidak ikut dengan nya.
"Aku sudah minta izin pada ayah, dan ayah mengizinkannya."
"Apa!?" Andy kaget dan tersentak. "Jika tidak di izinkan aku akan pergi diam-diam," ujar Diana.
"Dasar gadis ini," gumam Andy dalam hati. "Ya sudah kau boleh ikut," Andy terpaksa membiarkan Diana ikut bersamanya.
__ADS_1
Saat tengah malam tiba, kapal yang mereka buat sudah jadi dan ditarik oleh warga beramai-ramai. Andy dan Diana sudah bersiap dan berpamitan pada tetua.
"Jaga diri kalian baik-baik," kata tetua saat mereka berpamitan. Andy dan Diana juga berpamitan pada semua warga yang sudah membantu membuat kapal dan mereka semua mendoakan agar mereka berdua bisa membawa kembali Naina.
Perlahan kapal itu mulai bergerak ke tengah laut. Diana terlihat senang dan berdiri diujung kapal dengan merentangkan kedua tangannya ke samping.
Dia membiarkan rambutnya tergerai berantakan tertiup angin laut. Sesaat Diana memejamkan matanya dan menikmati malam yang dingin.
Andy melirik ke arahnya dan mendekatinya, berbisik didekat telinganya, "apa yang kau lakukan?"
"Aku sedang menikmati angin laut dan ini adalah pertama kalinya aku keluar dari pulau dan berlayar ditengah lautan. Ini sangat menyenangkan," ungkap Diana dengan gembira.
Tiba-tiba Andy melompat menjauh.
"Diana kemarilah, ambil senjatamu!" teriak Andy.
"Ada apa?" Diana kaget dan mengambil senjatanya.
"Ada kapal mendekat dari arah selatan. Bersiaplah, mungkin mereka adalah para perompak."
Andy mulai bersiaga sambil melihat kapal yang semakin mendekat. Sementara kapalnya berjalan dengan tenang.
Diana juga berdiri dengan sikap siaga. Dia melihat kapal yang sama dengan yang dilihat Andy. Mereka mengamati dan menunggu apa yang akan terjadi dan diinginkan mereka.
"Sudah kubilang tidak mudah keluar dari pulau ini. Ada perompak dimana-mana," ujar Andy sambil menyiapkan busur dan tombaknya.
Kapal itu semakin dekat dan merapat.
__ADS_1