Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Bersikap aneh


__ADS_3

Pagi harinya Gina bangun lebih dulu. Dia terkejut melihat Diana yang tidur disofa. Tadi malam Andy yang tidur disana, sekarang gantian istrinya, Gina menggelengkan kepalanya.


Pelan-pelan Gina membangunkan Diana sebelum para pelayan bangun dan melihatnya.


"Diana, sudah pagi, bangunlah, pindah kekamarmu," kata Gina pelan sambil menyentuh bahu Diana.


Diana terbangun dan membuka matanya. Ditatapnya wajah Gina dan membuatnya kaget.


"Oh, ibu, apakah sudah pagi?"


"Ya, sebentar lagi pagi, kenapa kau tidur disini, sebelum para pelayan melihatmu, sebaiknya kau pindah kekamar Khan," kata ibu mertuanya.


"Ya," sahut Diana lalu melipat selimut dan berdiri.


Diana berjalan ke kamar Khan, ibu mertuanya melihatnya dengan bingung, namun hanya diam ditempatnya.


Diana mengetuk kamar Khan, tapi ternyata kamar itu tidak dikunci dan sudah dibuka.


Khan baru saja keluar dari kamar mandi dan kaget melihat Diana masuk ke kamarnya.


"Apa yang kau lakukan disini? Keluar!" Khan berteriak dengan keras karena kaget. Dia benar-benar tidak ingat jika Diana adalah istrinya.


Diana tersentak mendengar teriakan suaminya.


"Khan, ini kamar kita. Aku adalah istrimu, kenapa kau suruh aku keluar?"


"Aku tidak mengenalmu. Keluar dari kamarku!" Khan berteriak masih dengan handuk terlilit ditubuhnya. Dia menarik Diana dengan kasar dan menyeretnya keluar lalu menutup pintunya.


Diana tersungkur dilantai dan ibu mertuanya yang akan melihat Khan kaget melihat Diana duduk dilantai.


"Diana apa yang kau lakukan? Kenapa kau duduk dilantai?" Tanya ibunya tidak tahu jika Khan sudah mendorong Diana keluar dari kamarnya.


"Entah apa yang terjadi dengan Khan, dia tidak mengenaliku dan mengusirku dari kamarnya," kata Diana mengadu pada ibu mertuanya.


"Khan tidak mengenalimu?" Gina nampak bingung dan tidak mengerti dengan maksud menantunya.


Akhirnya untuk membuktikan kebenaran apa yang dikatakan Diana, ibu mertuanya mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


"Khan, ini ibu," kata Guna dan menyuruh Diana berdiri disampingnya.


Tidak lama kemudian Khan membukakan pintu untuk ibunya.


Kreeekkk!


"Ibu? Masuklah," kata Khan yang baru saja memakai baju dan dasi belum terpasang sempurna.


Ibunya segera melangkah masuk. Dan saat Diana akan ikut masuk juga, Khan menahannya dengan tanganya.


"Kau tetap diluar, pelayan!" Kata Khan dengan kasar dan mendorong Diana keluar dari kamarnya.


Ibunya sekarang yakin jika terjadi sesuatu dengan Khan. Gina lalu mendekati putranya dan berdiri didepannya.


"Biarkan ibu memasang dasinya," ujar Gina sambil memikirkan sesuatu.


Dengan cekatan ibunya memasang dasi putranya dan mengajaknya duduk.


"Kau baik-baik saja?"


"Maksud ibu?"


"Kau tidak ingat gadis itu?"


"Tidak! Siapa dia? Dari semalam terus mengikutiku." Kata Khan acuh tak acuh.


"Ya, kau benar, kau tidak perlu mengingatnya. Dia hanyalah seorang pelayan."


"Kenapa ibu membiarkanya terus menggangguku? Aku ingin dia tidak sembarangan masuk ke kamarku. Aku juga tidak ingin dia terus mengikutiku," kata Khan sambil mengambil jasnya.


"Kau mau kemana?" Tanya ibunya.


"Aku akan menemui Sony dan Lewis," kata Khan.


"Baiklah, jika begitu maka aku akan mengurus gadis itu," kata Gina lalu bangun dan keluar dari kamarnya.


Diana masih berdiri diluar dan kaget saat pintu terbuka. Ternyata yang keluar adalah ibu mertuanya.


"Ibu, apa yang Khan katakan?" Diana tidak sabar ingin tahu apa yang terjadi dengan suaminya.


"Dia tidak ingat siapa dirimu. Jadi sebelum dia mengusirku dan membencimu, sebaiknya kau tidak mengganggunya lagi," kata ibu mertuanya.

__ADS_1


"Apa maksud ibu? Aku tidak mengerti,"


"Jika ingin tetap disampingnya, kau harus menjadi pelayannya. Dan jangan bersikap seakan kau adalah istrinya. Dia sedang tidak ingat apapun. Hal buruk bisa terjadi padamu jika kau memaksanya,"


"Apa?" Diana terkejut dengan ide ibu mertuanya.


"Hanya itu yang bisa ibu sarankan padamu, jika kau masih ingin disampingnya,"


"Khan tidak ingat jika aku adalah istrinya. Dan sekarang ini mertuanya ingin agar dia menjadi pelayan dirumah besar ini?" Diana bergumam pelan.


"Diana, Khan akan segera pergi. Kau bisa keluarkan bajumu dari kamarnya selagi dia pergi. Aku akan mencarikan kamar untukmu." Kata ibu mertuanya sambil berlalu.


Karena tidak punya pilihan lain, Diana mengangguk dan menyetujui ide ibu mertuanya. Terpaksa Diana harus menjadi pelayan mulai hari ini.


Dan jika ingin melihat suaminya dan berbicara dengannya, maka dia harus menjadi pelayan agar bisa keluar masuk ke kamarnya dan menemuinya.


Diana mulai berfikir tentang batu itu. Apakah batu yang berubah warna menjadi hitam pekat yang membuat suaminya menjadi berubah?


Sikapnya juga mulai kasar sejak tadi malam, dimana batu itu menjadi gelap pekat.


Ini sangat aneh, jika batu itu penyebabnya, maka Diana harus membuat Khan melepaskan batu itu dari lehernya.


Tapi, bagaimana caranya? Apalagi sekarang dia tidak bisa sedekat dulu dengan Khan, Diana berfikir dan menduga-duga.


Khan keluar dari kamarnya dan Diana sedang berdiri memikirkan semuanya. Khan berjalan melewatinya tanpa menoleh padanya apalagi menyapanya.


Diana hanya menatapnya dengan kaget dan sekarang dia yakin jika Khan dalam pengaruh sesuatu.


Khan menoleh dan berbalik saate menyadari Diana berdiri dibelakangnya.


Khan lalu berjalan dan mendekatinya.


"Aku akan pergi, rapikan dan bereskan kamarku. Jika ada kesalahan maka aku akan menghukum!" Hardik Khan dengan kasar bahkan pada seorang pelayan pun, dulu dia tidak pernah berbicara sekasar itu.


Diana mengangguk.


"Kau dengar apa yang ku katakan? Jika ada kesalahan sedikit saja, aku akan menghukumu!" Ulang Khan sekali lagi.


"Ya, tidak akan ada kesalahan!"


"Cepat pergi ke kamarku dan bersihkan sebelum aku kembali!" Khan berbicara kasar lalu berlalu dan pergi dengan mobilnya.


***


Kenapa dalam semalam sikapnya bisa berubah seperti itu?


Gina lalu memikirkan sesuatu dan menghubungi rekanya yang bekerja sama dengannya selama ini.


"Kau dimana?"


"Dirumah sakit,"


"Aku akan kesana,"


"Tidak perlu, aku segera pergi sebentar lagi,"


"Ada yang ingin kubicarakan. Ini penting,"


"Temui aku dilantai 30 apartemen Marina."


"Baiklah, aku akan segera kesana,"


Setelah berbicara dengan rekanya melalui telepon, maka Guna segera berkemas dan akan segera pergi.


Dia tidak melihat Diana diruang tamu. Maka dia pergi tanpa berpamitan denganya.


Gina yang bisa mengendarai mobil sendiri, maka segera mengambil salah satu mobil koleksi Tuan Harun Malik dan menyalakannya.


Dia segera meluncur ke apartemen Marina. Dia memakai kacamata hitam dan memakai syal dilehernya. Dia berjalan menuju lift. Tidak lama kemudian lift berhenti dan Diana masuk kedalam. Memencet nomor 30 lalu naik keatas.


Setelah sampai dia segera membuka lift dan mencari rekanya.


"Aku dilantai 30," ujar Gina menelponnya.


"Kamar 22."


"Baiklah," Gina segera mencari nomor kamar yang disebutkan rekanya.


Gina segera menelponya saat sudah berdiri didepan pintu kamarnya.


Seorang pria membukakan pintunya, ternyata dia adalah Tom.

__ADS_1


Tom baru saja keluar dari rumah sakit dan langsung kembali ke apartemennya.


"Kau yakin tidak ada yang melihatmu datang kemari?" Tanya Tom.


"Tentu saja tidak. Mereka mengira aku pergi berbelanja," kata Gina.


"Apa yang ingin kau katakan?" Tom memberikan minuman dingin untuk Gina.


"Sikap Khan, dia berubah 180 derajat."


"Maksudmu?"


"Dia bahkan tidak mengenali istrinya. Semalam dia membiarkan istrinya tidur diluar. Selain itu sikapnya menjadi kasar,"


"Apa yang terjadi dalam semalam?"


"Itu yang tidak kutemukan jawabannya. Aku mengetahui nya dipagi hari saat istrinya tidur diluar,"


"Baiklah, mari kita pikirkan apa yang bisa kita manfaatkan dari situasi ini," ujar Tom.


"Dia lebih respect padaku. Dia menganggap aku adalah ibunya. Aku akan mengendalikanya perlahan-lahan,"


"Ide yang bagus. Kau akan lebih mudah mengendalikanya, kau adalah ibunya,"


"Hahahaha, ibu atau bibi, sama saja. Wajah kami sangat mirip, siapa yang akan menduganya,"


"Bagaimana dengan ibu kandungnya? Dimana dia?"


"Dia menjadi gila dan tidak mengenali siapapun. Sepanjang hari berteriak memanggil bayinya,"


"Berhati-hati lah, jangan sampai Khan tahu jika ibunya yang asli kau sekap dan itu akan sangat buruk untukmu jika dia mengetahuinya." Kata Tom.


"Apa rencanamu?" Tanya Gina.


"Aku akan bersembunyi sementara waktu. Aku harus melanjutkan hidupku dan sementara tidak berurusan dengan Khan."


"Pergilah, jika kau butuh sesuatu, aku akan membantumu,"


***


Andy turun dari mobil dengan jas berwarna hitam, kacamata hitam, rambut tersisir rapi dan sempurna, sepatu hitam yang berkilau, dan jam tangan mewah ditanganya.


Dia berjalan memasuki kantornya yang berada didekat pelabuhan. Dia tidak tersenyum pada siapapun yang ditemuinya. Dia membuka pintu kantornya dan mulai memanggil semua orang.


Dia menelpon Sony dan Lewis.


Tidak lama kemudian, Sony dan Lewis datang dan kaget melihat penampilannya.


"Ya bos, anda memanggil kami?" Sikap Sony dan Lewis mulai berubah saat berhadapan dengan Andy.


"Aku ingin semua tempat dirapikan dalam dua hari ini. Semua harus selesai tepat waktu. Kerahkan orang sebanyak mungkin agar pekerjaan selesai sesuai yang aku inginkan." Titah Andy datar.


"Baik bos!" Lewis dan Sony saling berpandangan. Mereka segera pergi dan menjalankan perintah dari bosnya.


Sementara Sony keluar untuk menemui Caroline yang baru saja datang. Dia menyusul Sony karena setelah mendapat ijin dari ayahnya untuk berlayar menemui suaminya.


Caroline segera memeluk Sony saat bertemu dengannya. Andy melihat dari jendela dan mencebikkan bibirnya.


Andy lalu memanggil seorang pelayan untuk membersihkan ruang kantornya.


"Ya Tuan,"


"Bersihkan tempat ini dan jangan sampai ada satu debupun yang terlihat dimataku. Jika kau tidak melakukanya dengan benar, besok kau tidak usah bekerja lagi!" Titah Andy lalu pergi dan pelayan wanita itu hanya bengong dengan sikap Khan yang berbeda.


Khan pergi ke pergulatan tinju yang diadakan didekat pantai bersebelahan dengan Bar.


Dia datang seorang diri kesana. Dia adalah pemain baru dan ingin menunjukan kemampuannya pada semua orang.


Khan segera naik keatas ring dan melepas jasnya. Seorang pelayan datang membantunya melepaskan sepatunya dan mengambil jasnya.


"Kita kedatangan pemain baru. Permainan kali ini akan lebih seru!" Teriak wasit.


Disambut sorak-sorai oleh para penonton. Mereka bertepuk tangan sebelum wasit meniup peluitnya.


Sekarang seorang petinju yang sudah tiga Minggu mendapatkan kemenangan akan berhadapan dengan Khan sang pendatang baru.


Mereka mulai terlihat saling menyerang satu sama lain. Mereka saling meninju dan saling dorong. Awalnya lawannya menguasai pertandingan, namun setalah itu, Khan menunjukan kemampuannya.


Dia selalu bisa mengelak dari pukulan lawan ya, dan bahkan memukulnya berulang kali.


Lawannya mulai mengeluarkan darah dari hidungnya.

__ADS_1


Khan tidak berhenti sampai disitu, dia terus menyerang dengan memukul kepala lawanya dan menjatuhkannya dilantai.


__ADS_2