Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
SEASON 2-3


__ADS_3

Perseteruan


Eduardo masih bersembunyi disemak-semak.


"Kemana pria tadi? Tadi ada tiga pria," kata seorang dari mereka yang berbaju merah.


"Ayo kita cari," ajak tanya lagi. Mereka lalu berdiri saling membelakangi. Mata mereka was menatap ke sekeliling hutan itu yang gelap.


Sementara didalam semak-semak. Eduardo diam tidak bergerak sama sekali. Dia menunggu sampai dua orang itu pergi dan menjauh darinya. Setelah merasa aman, dia lalu keluar perlahan.


Matanya awas dan telinganya terus mendengarkan setiap gerakan yang mungkin akan membahayakan jiwanya.


Dia berhasil keluar dari tempat persembunyiannya dan mencari teman-temannya.


Di dalam goa.


"Aku tidak melihat Eduardo? Dimana dia? Apakah dia tidak ikut kemari?" tanya Roky melihat setiap wajah anak buahnya.


Mereka semua saling melihat dan mencari di sekitar mereka.


"Sudah ku bilang, anak itu merepotkan," kata seorang lainnya.


"Aku akan mencarinya, mungkin dia ada dalam bahaya," kata Roky akan berbalik.


Namun saat dia akan berjalan kepintu goa. Eduardo sudah berdiri disana dengan kelinci yang banyak.


"Ohh, syukurlah kau kembali. Aku pikir kau tersesat. Aku baru akan mencarimu, dan...apa yang kau bawa itu?".


"Apa lagi? Ini untuk makan malam kita. Mari kita masak dan lekas makan," kata Eduardo.


Orang bertubuh gemuk segera menghampirinya dan mengambil hewan buruan ya.


"Masih kecil tapi kau sungguh hebat. Bagaimana kau bisa menangkap mereka semua?" Mereka semua terpana dengan kehebatan Eduardo.


"Aku belajar semua ini dari ayahku. Dia mengajariku cara menangkap buruan dalam waktu cepat."


"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Apakah kau bertemu mereka?"

__ADS_1


"Ya, aku hampir tertangkap. Tapi aku berhasil lolos. Kita harus hati-hati. Ini daerah konflik. Mereka bermusuhan, dan sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini, sebelum kita mati sia-sia disini," kata Eduardo.


"Kali ini kau sungguh berfikir seperti orang dewasa. Aku setuju denganmu. Kita harus segera pergi begitu bisa meloloskan diri," kata beberapa orang lainnya.


"Kenapa tidak mengajakku tadi?" tanya Julio pada Eduardo saat dia sudah duduk menunggu buruannya dimasak.


"Lain kali aku akan mengajakmu,"


"Kita kehabisan kayu bakar, dan tidak ada bumbu apapun disini." kata orang bertubuh gemuk.


"Cari di tasku. Aku masih menyisakan beberapa bumbu praktis disana. Kau gunakan saja. Kalau soal kayu bakar, siapa diantara kalian yang akan mencarinya?" tanya Roky pada mereka yang tidak membantu memasak.


Tidak ada yang menjawab.


"Biar kami saja," Kata Julio menoleh pada Eduardo.


"Ayo kita cari kayu bakar," kata Julio.


Eduardo dan Julio lalu keluar mencari kayu bakar disekitar Goa sambil terus berhati-hati.


Tidak lama kemudian mereka datang dengan membawa ranting yang kering dan memberikanya pada teman yang memasak.


"Kurang satu. Ini hanya 19 dan kita berjumlah 20 orang."


"Jika begitu, pisahkan ukuran yang paling besar. Nanti akan dibagi dua. Begitu lebih mudah membaginya," kata Roky


"Ngomong-ngomong, kalungmu sangat bagus, bisa aku melihatnya?" tanya Julio pada Eduardo.


"Ini sangat berharga bagiku. Ini milik keluargaku. Dan warisan nenek moyang kami,"


Eduardo melihat Julio agak kecewa. Dia lalu akan melepaskan kalung itu, tapi Roky mengedipkan matanya dan menggelengkan kepalanya sebagai isyarat pada Eduardo.


"Lain kali, jika ada batu permata yang mirip seperti ini, aku akan memberikannya padamu," kata Eduardo agar temanya tidak kecewa.


"Ya..."


"Hai, ayo berkumpul, kita makan bersama-sama," seru beberapa temanya yang sudah menyiapkan masing-masing dari mereka satu daging yang sudah dipanggang.

__ADS_1


"Sepertinya sudah matang, ayo kita makan!" ajak Eduardo.


Saat mereka makan, terdengar suara gemuruh ledakan.


Boooaammm!


Dor! Dor! Dor!


Boooaammm!


"Suara apa itu?" kata seorang bertubuh gemuk dan segera memasukkan sisa daging ke mulutnya.


"Mereka sedang berperang," kata Roky dan dengan cepat mereka menyelesaikan makan mereka.


"Jangan sampai mereka kemari dan kita tertangkap. Mereka punya senjata dan kita tidak," kata Roky.


"Ya, dan selain itu, kita akan di curigai sebagai mata-mata," imbuh Roger.


"Apa yang harus kita lakukan?" ujar Julio.


"Tetap disini. Sebisa mungkin kita tidak berurusan dengan mereka semua. Pergi dari sini dengan selamat," kata Roky.


"Harusnya ada lorong bawah tanah, di goa ini," kata Eduardo.


"Maksudmu?" tanya Roky.


"Jika ada lorong bawah tanah maka kita akan keluar dari hutan dan wilayah ini tanpa ketahuan. Setelah itu baru bisa tenang."


"Ayo kita cari jika begitu. Kita tidak pernah tahu, siapa tahu seseorang berfikir untuk membuatnya dulu,"


"Ya, mari kita berpencar. Kita periksa setiap bagian goa. Jika ada yang mencurigakan segera kasih tahu," kata Roky.


Eduardo juga ikut mencari setiap bagian yang dicurigai sebagai sebuah pintu keluar.


Diujung lorong goa ada sebuah air yang menggenang.


Sepertinya dimanfaatkan untuk mandi dan bersih-bersih.

__ADS_1


Maka ada dua buah batu besar. Eduardo duduk diatas batu itu. Berharap dengan mengucapkan beberapa mantra, dia bisa membuat sebuah jalan keluar dari kesaktian batu permata dikalungnya


__ADS_2