
Entah kenapa Khan seperti tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia terus menyerang lawannya meskipun lawanya sudah tak berdaya. Ada semacam kekuatan dari dirinya yang terus membuat tangannya bergerak.
Dia terus memukul dan menghajar lawanya hingga berdarah-darah. Wasit segera melerainya karena pertandingan sudah tidak seimbang, tapi Khan masih terus menyerangnya. Jika wasit tidak cepat bertindak, maka lawanya akan mati diatas ring.
Khan nampak masih belum puas dan masih ingin memukul bahkan ada semacam dorongan untuk menghabisi setiap lawanya.
Huh hah huh!
Khan terengah-engah sambil berusaha menerobos wasit.
"Berhenti! Hentikan dia!" Teriak wasit dan tiba-tiba Khan meninju wasit dan wasit itu terlempar keluar Ring.
Khan tidak bisa mengendalikan dirinya, dia masih ingin menyerang lawannya, sampai empat orang berbadan kekar dan tinggi membawa lari lawanya dan memasukkanya kesebuah ruangan lalu menutupnya.
Khan akan mengejarnya, tapi semua keamanan sudah memeganginya dan mengamankan dirinya.
Khan masih terengah-engah dan matanya merah.
"Berhenti Tuan! Permainan selesai!" Teriak wasit yang lainya.
Semua penonton keluar dan keamanan segera memberikan baju milik Khan.
"Ini Tuan bajunya, silahkan anda keluar, kami akan segera menutup gedung ini, hari ini selesai sampai disini," kata pria yang berkacamata disamping Khan.
Khan merebut baju miliknya dan segera memakainya. Dia lalu keluar dari gedung itu dan masuk kedalam mobilnya.
"Untunglah kau segera menyelamatkanya, pria tadi sangat berbahaya. Dia hampir saja membunuh juara kita," kata pria berbaju biru.
"Dia pemain baru, tapi dia bermain diluar aturan. Dia tidak boleh ikut bermain lagi. Dia bisa membunuh orang jika cara bermainnya seperti itu." kata temanya berbaju hitam.
"Bagaimana keadaanya?"
"Wasit membawanya kerumah sakit. Dia cedera parah. Dia tidak akan bisa bermain beberapa bulan."
"Sial!" gerutu temanya.
"Keamanan harus lebih diperketat mulai besok. Pria itu tidak boleh bermain lagi atau menonton acara kita. Semua penonton akan ketakutan, dan jika itu terjadi maka kita tidak bisa menjual karcis. Kas akan kosong dan kita tidak punya pekerjaan,"
Keesokan harinya Khan kembali lagi untuk melihat permainan itu. Dia ingin bertarung dan menang. Didalam hatinya seperti ada perintah, 'habisi! habisi! habisi!"
Energi membunuh yang sangat kuat mendorongnya untuk melakukan tindakan kriminal.
"Hari ini Tuan tidak boleh masuk, Tuan bermain melanggar aturan permainan," cegah bodyguard didepan pintu.
Khan hanya tersenyum tipis dan mendekati satu pria didekatnya. Tanganya mengepal dan badanya memepet pria itu.
Duag! duag! duag!
Khan meninju perutnya dari jarak dekat. Pria itu langsung terkulai dilantai. Temanya ketakutan dan segera berlari kedalam.
Tidak lama kemudian, keamanan keluar dan mengepung Khan.
"Ini yang aku tunggu,"
__ADS_1
Energi membunuh yang sangat kuat benar-benar membuat tangan dan kakinya bergerak untuk menghajar mereka semua yang ada dihadapannya.
Duag! duag! duag!
Tanpa berbicara, dia melompat dan kakinya menerjang kepala mereka dalam sekali tindakan dan kecepatan yang tidak terdeteksi.
Khan telah membuat semua keamanan ambruk dan tersungkur dilantai dalam beberapa tindakan.
Khan melenggang masuk tanpa rasa bersalah ataupun perasaan tertekan. Tidak ada sedikitpun ruang untuk rasa takut saat ini. Yang ada hanyalah energi membunuh dan menghabisi.
"Pria itu datang, bagaimana dia bisa masuk?" Wasit berbisik pada rekannya.
"Diana keamanan? Panggilkan dan suruh pria itu keluar! Dia akan membuat kita bangkrut jika acara selalu kacau!"
"Keamanan!" Teriak rekanya.
Tidak ada satupun keamanan yang datang. Khan segera naik ke atas panggung saat seorang pria sudah memenangkan pertandingan beberapa ronde dan tidak ada lagi lawanya.
"Masih ada. Aku adalah lawanmu yang terakhir," kata Khan dengan santainya. Dia segera melepaskan bajunya dan naik tanpa rasa takut.
"Silahkan naik Tuan," sambut sang juara yang tidak tahu seberapa kuatnya Khan. Dia segera memasang kuda-kuda dan merenggangkan otot-otot nya.
Sementara wasit berdebar-debar dan sangat cemas saat Khan sudah berdiri diatas panggung.
Terpaksa wasit meniup peluit dan membiarkan mereka bertanding.
Wasit sudah memberi kode pada rekanya untuk memanggil beberapa polisi dan meminta mereka segera datang.
Khan yang telinganya peka, bisa mendengar pembicaraan mereka. Tidak menunggu waktu lama Khan segera menghajar pria itu hingga dalam waktu singkat pria itu sekarat.
Wasit segera berlari menyelamatkanya, Khan melenggang tanpa rasa bersalah dan tidak mengambil hadiahnya.
Khan menggelengkan kepalanya dan pergi.
"Tahan pria itu!" Teriak wasit pada anak buahnya.
Tapi anak buahnya tidak ada yang bergeming. Mereka semua tetap berdiri tanpa melangkah maju untuk mencegah Khan.
Anak buahnya hanya menggelengkan kepala tanda perbuatanya akan sia-sia. Mereka sudah melihat kemampuanya dan semua temanya sekarat saat ini.
"Kenapa hanya diam? Cepat kejar!"
Teriak wasit tapi Khan sudah hilang saat anak buahnya ingin mengejarnya karena wasit itu menodongkan pistol ke arah mereka.
"Siapa dia? Apa tujuannya? Kita tidak punya masalah denganya," kata rekanya.
"Entahlah, nanti kita akan cari tahu, sekarang kita harus membawanya kerumah sakit," mereka lalu membawa sang juara yang sekarat karena melawan Khan.
Khan pulang kerumahnya dan melihat Diana sedang duduk sambil minum bersama ibunya.
"Khan, kau baru saja pulang, kau tidak pulang kemarin malam,"
"Aku lelah, aku mau istirahat," kata Khan saat ibunya berdiri mendekatinya.
__ADS_1
"Kau mau dipijat? Ibu akan panggilkan orang untuk melihatmu," kata ibunya.
"Suruh pelayan itu kekamarku. Dia! Aku mau dia!" Khan menunjuk pada Diana.
Ibunya memberi kode pada Diana untuk mengikuti kemauan putranya. Ibunya berjalan mendekati Diana yang tadinya akan menyapa Khan tapi Khan bahkan enggan melihatnya.
"Masuklah, dia ingin kau yang melihatnya, jangan singgung jika kau adalah istrinya, dia akan marah dan akan mengusirmu dari kamarnya,"
"Ya, ibu," Diana segera bangun dan meminta pelayan untuk mengambilkan minyak zaitun untuk memijat Khan.
"Pelayan, tolong ambilkan minyak untuk memijat,"
"Baik nyonya," jawab pelayan dengan patuh dan hormat.
Diana segera masuk kekamar Khan sambil membawa minyak zaitun. Khan sedang berbaring, dan begitu Diana masuk, Khan langsung membuka bajunya.
Dia bertelanjang dada dan membiarkan tangan Diana yang dia anggap sebagai pelayan memijatnya.
"Kau tidak pulang kemarin malam,"
"Bukan urusanmu dan jangan banyak bertanya!" hardik Khan membuat Diana tersentak dan menutup rapat-rapat mulutnya.
Sekarang Diana tidak berani berbicara dan hanya fokus memijat punggungnya serta kakinya.
Diana melihat batu yang tergeser dari leher Khan. Diana sengaja memijat bagian bahu dan leher agar bisa lebih memperhatikan kalung itu.
Diana tanpa sengaja menyenggol kalungnya dan Khan sangat marah. Khan berfikir jika Diana akan melepaskan kalung itu dari lehernya .
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Khan dan berbalik menghadap Diana.
"Tidak ada. Aku hanya memijat bagian leher saja,"
"Sudah! Aku sudah tidak mau dipijat lagi. Keluar dari kamarku. Jangan datang jika aku tidak memanggilmu! Mengerti!"
"Iya.... aku akan keluar,"
Diana ketakutan dan segera mengambil botol minyak zaitun dan melihat pada Khan sekali lagi.
"Apa yang kau lihat?" Khan segera meraih bajunya saat Diana melihat bagian dadanya yang terbuka.
"Ti, tidak ada," jawab Diana lalu segera berjalan kepintu dan menutupnya rapat.
Malam ini Khan sedang makan disuapi oleh ibunya, dia sangat menikmati momen ini yang tidak pernah dia dapatkan dimasa kecilnya.
"Ibu, aku tidak suka gadis itu, carikan pelayan yang lain untukku," kata Khan menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Kenapa tidak menyukainya. Dia sudah lama melayanimu,"
"Aku tidak ingat apapun. Benarkah?"
"Ya,"
"Entah kenapa beberapa ingatan seperti terpotong-potong muncul dikepalaku. Aku ingat saat menguburkan ayah, tapi aku tidak ingat kenapa dia tiada. Dan dua orang dikuburkan bersamanya tapi aku tidak mengingatnya."
__ADS_1
"Besok kita akan kedokter. Kita harus memeriksanya agar kau mendapatkan pengobatan."
"Baiklah," kata Khan lalu masuk kedalam kamarnya.