Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Langkah kedelapan


__ADS_3

Andy dan Diana sampai di desa. Anak buahnya bekerja dengan baik. Tenda yang usang dan berlobang dimana-mana sudah diganti dengan yang baru. Anak-anak berlarian kesana kemari dengan riangnya.


Andy dan Diana turun mendekati Sony, dan Andy berbicara padanya sambil berbisik.


"Apakah ada tenda satu lagi? Aku dan Diana akan menginap disini malam ini." Kata Andy disambut anggukan senang oleh Diana.


Bagi Diana, suasana alam dan berada di alam terbuka sangatlah menyenangkan hatinya. Membuatnya teringat akan kampung halamannya.


Diana lalu berdiri dan mendekati anak-anak yang sedang bermain, Diana melompat dan ikut bermain bersama mereka. Andy melihatnya dari kejauhan sambil tersenyum.


"Dia pasti senang jika malam ini kami menginap disini." Kata Andy pada Sony.


Sony menatap Andy lalu beranjak untuk  membuat tenda untuk bosnya.


"Aku akan mendirikan tenda untuk kalian."


Beberapa pemuda membantu Sony membuat pasak dan menancapkanya ditanah. Setelah itu mereka mengikat tali tenda pada setiap pasak. Mereka membuat tiang ditengahnya.


Selesai membuat tenda Sony lalu pergi dari tempat itu untuk membeli arang dan beberapa ikan segar. Dia juga akan pesta malam ini bersama para warga.


Para warga merencanakan untuk mengadakan api unggun malam ini untuk merayakan hari penuh harapan dan mengubur kesedihan.


Mereka membeli jagung dalam jumlah banyak untuk para warga dari sisa uang yang sudah dibagikan. Hanya saja arangnya mungkin tidak cukup.


Sony mendengar jika arangnya hanya sedikit, maka dia pergi membelinya bersama Lewis.


Mereka naik truk dan pergi ke kota. Hari masih sore dan belum gelap, pasti masih banyak toko yang buka.


"Jangan lupa beli minuman segar. Pesta kali ini pasti sangat menyenangkan." Kata Lewis.


"Ya, aku merasa senang entah kenapa aku juga tidak mengerti."


"Karena kau telah melakukan hal baik hari ini," ujar Lewis.

__ADS_1


"Maksudmu?" Sony nampak bingung.


"Saat kita datang kau lihat wajah mereka penuh kesedihan. Setelah kau datang mereka mulai tersenyum berterimakasih padamu. Itulah yang membuat kau juga merasa senang, aku juga merasakan hal yang sama," itu yang Lewis pikirkan.


"Andylah pahlawan sesungguhnya," sahut Sony.


"Kita sudah sampai,"


Mereka lalu memborong arang dari kakek lanjut usia yang sedang duduk termangu menunggu pembeli.


Rupanya dari siang barang dagangannya hanya laku sedikit, kakek itu sumringah dan senang karena dagangannya habis diborong oleh Sony dan Lewis.


"Terimakasih Tuhan, kau mengabulkan doaku," kakek itu mengangkat tangannya dan mengusapkannya kewajahnya.


Sony tersenyum dan membantunya bangun dari duduknya.


"Biarkan kami yang mengangkatnya. Apakah setiap hari kakek jualan sampai jam segini? Saya lihat mereka semua sudah menutup tokonya." Kata Sony sambil melihat kesekitar tempat itu.


"Iya Tuan. Hari ini dagangan saya sangat sepi. Biasanya dari kampung Telaga banyak yang beli arang. Hari ini tidak satupun dari mereka yang datang," ujar kakek itu.


Kampung Telaga adalah kampung dimana Mr. Charlos membakar semua rumah mereka.


Tentu saja mereka tidak datang, mereka tidak punya rumah dan uang, pikir Sony.


"Sudah kek, ini uangnya, lebihnya tidak usah dikembalikan," kata Sony membayar semua arang itu.


"Terimakasih banyak Tuan," ucap kakek itu.


Sony dan Lewis lalu pergi mencari toko minuman untuk menyegarkan badan.


Setelah mendapatkan apa yang ingin mereka beli, maka mereka segera pulang ke kampung Telaga untuk ikut berpesta bersama para warga.


Andy sedang membuat susunan kayu dan menjadi api unggun, Diana lebih mahir melakukannya sehingga Andy hanya membantunya setelah tahu jika Diana pakarnya.

__ADS_1


"Kau lebih mahir daripada aku,"


"Tentu saja, aku lahir dipulau. Kau di rumah besar," sahut Diana bergurau.


Andy menoleh sambil tersenyum padanya.


"Jika sudah selesai aku akan menyalakan apinya. Lihatlah semua warga sudah menyalakannya dan hanya punya kita yang belum selesai," kata Andy mengedarkan pandangannya .


"Itu karena tadi kau merubuhkannya, aku harus menyusun ulang, sekarang sudah jadi, ayo kita nyalakan!" Seru Diana.


"Lihatlah, Sony dan Lewis sudah pulang!" Teriak Diana.


Sony dan Lewis lalu mengangkat arang dan memberikannya pada para pemuda, akan digunakan untuk membakar ikan dan jagung.


Ibu-ibu sudah membersihkan semua ikan tangkapan dari laut dan sebagian membuka kulit jagung dan menusuknya  agar mudah dibakar.


"Malam ini sungguh indah," bisik Diana sambil menatap keatas langit yang bertaburan bintang.


Andy juga menatap keatas dan tersenyum tipis.


"Kau benar, malam ini sangat indah."


Diana lalu mengambil jagung dan membakarnya diatas api unggun.


"Bagaimana menurutmu?"


"Mungkin akan gosong. Bakarlah disana, arangnya  sudah menyala." Kata Andy.


"Tidak, aku akan disini saja. Aku sedang ingin duduk bersamamu menikmati indahnya bintang-bintang."


"Duduklah disini kalau begitu," kata Andy menggeser duduknya.


Mereka duduk berdekatan dan berpegangan tangan dengan mesra. Akhirnya Diana benar-benar mulai mengisi hati Andy.

__ADS_1


__ADS_2