
Lewis sedang minum saat Andy datang bersama Diana. Rambut Diana menutup sebagian dahinya karena angin kencang. Diana segera menyibakkan rambutnya dan duduk disamping Andy.
Lewis menaruh minuman dan menatap Andy lalu menawarkan minuman padanya.
"Diana yang akan kesana memesanya," kata Andy.
"Diana, bisa kau pesankan minuman untukku?" pinta Andy. Diana mengangguk sambil tersenyum lalu pergi ke kasir.
"Apa yang terjadi?" tanya Andy saat Diana memesan minuman untuknya.
"Villa tempat tinggal Sony dibakar. Awalnya aku berfikir itu kebakaran dari api didapur. Setelah aku kesana memeriksa lebih teliti, api tidak hanya berasal dari dapur tapi dari pintu utama. Ada orang yang sudah mengintainya dan membakarnya saat dia dan istrinya bermalam disana."
"Kurang ajar! Siapa yang sudah melakukanya dan berani menantang ku!?"
"Masih diselidiki. Tidak ada petunjuk apapun. Aku meminta bantuan detektif untuk mencari tahu,"
"Sudah lama tidak terjadi apapun. Bagaimana ini bisa terjadi tiba-tiba?"
"Itu yang sedang aku pikirkan. Apa motif dari pembunuhan berencana ini. Ini jelas direncanakan. Mereka sudah tahu jika Sony akan menginap disana malam itu," kata Lewis.
"Bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Andy.
"Koma. Setelah melewati masa kritis dia koma." jawab Lewis.
"Bagaimana jika setelah ini kita langsung kerumah sakit? Aku ingin melihatnya,"
"Baiklah, dan yang lebih menyedihkan adalah istrinya keguguran akibat kejadian itu. Awalnya dia akan membuat kejutan untuk Sony dengan kabar kehamilanya. Tapi sebelum Sony tahu dia hamil, dia sudah keguguran."
"Dia pasti terpukul. Bagaimana dengan keluarganya?" tanya Andy.
"Papahnya datang tadi dan akan langsung kerumah sakit untuk menemuinya. Dia sangat khawatir dan cemas. Syukurlah, Caroline tidak terluka parah. Sony terluka saat menyelamatkan istrinya," kata Lewis dengan sedih.
"Ini minumanya," kata Diana dan Andy langsung meminumnya karena haus.
"Diana, cepat habiskan, aku akan segera kerumah sakit, Sony koma. Aku ingin melihatnya juga menemui keluarga Caroline istrinya,"
"Ya, baiklah, aku ikut," kata Diana dan segera menghabiskan minumanya.
"Ayo!" Kata Andy dan Diana serta Lewis segera bangkit.
Lewis naik mobilnya sementara Diana dan Andy naik mobil berlapis emas dan anti peluru milik Andy.
Saat memasuki halaman rumah sakit, dua orang tidak dikenal memperhatikannya. Dia segera menelpon bosnya.
"Bos, dia sudah kembali. Andy, orang yang kau cari," kata anak buahnya pada kakak Tom.
__ADS_1
"Awasi dia. Laporkan padaku apa yang dia lakukan," kata bosnya.
"Baik bos. Dia sepertinya akan menemui temanya. Aku lihat tadi Zafira sudah datang. Semoga dia sudah membunuhnya, jadi tinggal satu orang lagi," kata anak buahnya.
"Ya, awasi mereka. Aku akan menelpon Zafira.
Andy dan Lewis sampai dikamar Caroline. Mereka segera menyapanya dan juga papahnya yang sudah tiba disana.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Seperti yang kau lihat? Aku sudah lebih baik, tapi Sony terluka parah saat menyelamatkan aku. Aku juga kehilangan bayiku," kata Caroline dan airmatanya menggenang disudut matanya.
"Aku akan segera mencari pelakunya. Kau bersabarlah, siapapun yang sudah melakukan semua ini, dia pasti akan ditemukan dan kami tidak akan tinggal diam," kata Andy lalu menyapa papahnya.
"Om, saya pastikan pelakunya akan ditemukan. Saya sedang pergi saat terjadi kebakaran itu."
"Iya, Om dengar dari Caroline. Kejadiannya begitu cepat. Beruntung dia bisa selamat. Om sangat cemas dan akan mengajaknya pulang setelah dia sembuh." kata papahnya.
Andy mengangguk pelan.
"Saya akan melihat keadaan Sony. Saya permisi dulu," kata Andy.
"Silahkan," kata papah Caroline.
Lewis berjalan dibelakang Andy. Mereka membuka pintu dimana Sony dirawat. Mereka terkejut saat komputer itu menunjukan jika tidak ada suara detak jantung Sony.
"Tadi masih baik-baik saja saat aku pergi," kata Lewis dengan dada yang sesak karena shock.
"Dia sudah tiada. Panggilkan dokter, kita akan langsung mengurus semuanya," kata Andy dengan tabah. Dia juga menitikkan air mata jika teringat kebersamaan yang sudah dilalui bersama dan kini tinggal kenangan.
Dia telah pergi. Teman sekaligus orang kepercayaannya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tidak akan ada lagi tawa dan canda. Tidak ada lagi tawa itu, kenakalan itu, dan semua keisengannya. Dia telah meninggalkan mereka semua dan tidak ada lagi didunia ini.
Andy lalu menatap pada dokter yang datang dan berkata sesuatu pada dokter dengan pelan. Dokter lalu mengangguk dan segera melakukan tindakan pada pasienya.
"Saya tidak menduga dia pergi secepat ini. Padahal dia sudah melewati masa kritis," kata Dokter.
"Apa yang membuatnya tiba-tiba meninggal? Jika dia sudah melewati masa kritis?" tanya Andy.
"Kami akan memeriksanya," kata dokter.
"Tunggu dulu!" Tiba-tiba dokter terkejut saat melihat sebuah kabel terputus.
"Ini seperti telah ditarik oleh seseorang. Kabel penghubung ini putus dan kabel ini terlepas dari tubuhnya. Artinya ada yang sudah datang sebelum dia meninggal," kata dokter pada Andy.
Andy segera memperhatikan apa yang dilihatnya. Dia segera memanggil kedua anak buahnya.
__ADS_1
"Siapa yang sudah masuk kedalam?" tanya Andy menatap tajam pada dua penjaga anak buah Lewis.
"Tidak ada bos."
"Kalian yakin? Kalian tidak pergi meninggalkanya?"
"Tadi suster sebelah meminta bantuan kami, kami pergi untuk membantunya sebentar, setelah itu kembali lagi,"
"Kapan?"
"Dua jam yang lalu,"
Dokter mengangguk.
"Dia meninggal dua jam yang lalu," kata dokter lalu dibantu suster segera membawa Sony untuk di kafani.
"Ada yang masuk saat kalian pergi,"
"Kami tidak melihat siapapun," kata anak buah Lewis.
"Kalian keluarlah, dan periksa diluar!" kata Lewis sebelum Andy melampiaskan kemarahan pada mereka berdua. Mereka segera mengangguk dan pergi.
"Ada yang datang dan membunuhnya," kata Andy.
"Pasti orang yang sama yang membakar rumahnya," kata Lewis.
"Aku rasa ada musuh disekitar kita, mereka terus mengintai tanpa kita tahu,"
"Lebih waspada mulai sekarang," kata Andy memperingatkan Lewis.
Dokter keluar membawa Sony keruang jenazah. Andy dan Lewis duduk diluar dengan sedih. Mereka belum memberitahu Caroline. Mereka menunggu beberapa saat sampai merasa lebih baik untuk bisa mengatakan kenyataan pahit ini.
"Kau saja yang mengatakanya," kata Andy.
Lewis mengangguk lalu bangun dan pergi kekamar Caroline.
Sampai dikamarnya, Caroline sedang ngobrol dengan papahnya dan langsung terdiam begitu Lewis datang. Lewis menatapnya tanpa berbicara. Hal itu membuat Caroline bertanya-tanya dan mulai merasa cemas.
"Ada apa?" tanya Caroline dengan dada berdebar melihat sikap Lewis dan matanya yang sembab.
"Ada kabar buruk," jawab Lewis pelan.
"Katakan, apa yang lebih buruk dari ini?"
"Sony, dia...dia telah tiada....." kata Lewis pelan sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Tidaaaakkkk! Hh, tidaaaak! Ini tidak mungkin! Sony.........." Caroline berteriak histeris dan seluruh tubuhnya menjadi kaku seakan beku. Dia shock dan langsung pingsan dibagi ayahnya.
Lewis mendekati papahnya dan meminta maaf atas kejadian ini.