Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
SEASON 2-7


__ADS_3

Mereka berempat, Delilah, Eduardo, Julio, dan Roger naik kapal milik Delilah. Eduardo paling depan memegang stir. Kapal itu masih ada cukup bahan bakar untuk berkeliling mencari ayah Delilah.


Tangki penampungan bahan bakar sangat besar, mereka tidak perlu khawatir soal kehabisan bahan bakar.


"Kau yakin kita akan ke wilayah konflik?" tanya Julio pada Eduardo.


Eduardo nampak berfikir sejenak lalu menjawab.


"Mau bagaimana lagi? Kita sudah kesana kemari, dan hanya tinggal wilayah itu yang belum kita lewati."


Eduardo menatap Delilah, karena ini juga tergantung padanya.


"Bagaimana menurutmu? Apakah kau akan menyerah sampai disini?" tanya Eduardo pada Delilah. Setelah dua hari mereka berkelana dan belum menemukan ayah dari Delilah.


"Baiklah, kita akan ke wilayah itu. Yang penting tetap bersama, maka kita akan saling menjaga,"


"Okey, kita kesana," kata Eduardo dibarengi anggukan Julio dan Roger.


Mereka masih ditengah laut dan akan merapat.


Mereka meletakkan kapalnya agak jauh dari kamp-kamp para prajurit perang.


"Kita berjalan untuk mencarinya, aku khawatir ayahmu ada disana," kata Eduardo.


"Ya, yang dia katakan benar, jika sudah dicari kemana-mana tidak ada, mungkin tertangkap mereka,"


"Jika begitu, kita harus datang untuk menyelamatkanya," kata Delilah dengan wajah cemas.


Mereka berempat berjalan ketengah hutan. Semakin menjauhi kapalnya. Mereka mencari kamp, tempat mengurung para warga yang ditahan.

__ADS_1


Karena menurut Delilah, sebagian warga ditahan di kamp untuk menjadi pesuruh disana.


Ternyata mereka sampai di tengah hutan. Disana ada sebuah jurang besar. Dan dipinggir jurang itu ada alat berat.


Para prajurit mendatangkan alat berat untuk menggali tanah.


Entah apa yang mereka cari. Tapi kali ini prajurit berbaju merah maron menguasai daerah itu. Artinya prajurit berbaju hijau, menyingkir dan berhasil dipukul mundur.


Ternyata mereka memperebutkan hutan ini. Dan Eduardo menyelinap diantara para prajurit dan mendengar pembicaraan mereka.


Sementara ketiga temanya menunggu di semak-semak. Jika sendirian, maka akan mudah bagi Eduardo untuk menyelidiki dimana ayahnya.


Sementara jika bertiga, akan terlalu banyak gerakan yang mungkin akan membuat para prajurit berbaju merah itu curiga.


Saat ini Eduardo berada disemak-semak dan terus mendengarkan pembicaraan mereka sekaligus mencari tahu dimana para warga lainya ditahan.


Terlihat para prajurit berbaju merah sedang mengoperasikan alat berat itu sambil yang lainnya berjaga-jaga.


Eduardo lalu meninggalkan mereka dan pergi ke kamp sendirian untuk mencari ayah Delilah berdasarkan ciri yang sudah diberikan.


Rambut sedikit ikal, berwarna kemerahan, badan agak gemuk, dan satu telinganya agak menekuk atau kecil.


Maka dari jauh terlihat kamp yang penuh dengan warga. Mereka ada yang sedang memasak, ada juga yang menimba air, dan para pria sedang menggiling padi.


Eduardo berpura-pura sebagai salah satu warga yang menjadi pesuruh. Terpaksa dia terjun kesana agar lebih mudah mencari ayah Delilah.


Tanpa sengaja dia melihat seorang pria berbadan gemuk dan sedang memotong daging untuk makan para prajurit.


Maka Eduardo berjalan kesana dengan membawa air, pura-pura digunakan untuk mencuci daging.

__ADS_1


"Mana airnya?" tanya pria gemuk itu.


"Ini pak," kata Eduardo sambil memberikan satu ember air dan menatap telinga ayah Delilah.


Dan ternyata benar dugaannya, telinga itu lebih kecil dari telinga pada umumnya. Ciri-ciri ini sama persis seperti yang dikatakan Delilah.


Eduardo menatap ke sekeliling, dan terlihat para prajurit sedang sibuk makan.


Mereka tidak peduli pada para pekerja yang berkeringat dan sebagian juga lapar.


"Apa lihat-lihat?" Tanya satu orang berbaju merah yang sedang makan daging hasil buruan.


"Cepat bekerja!" Hardiknya.


Eduardo menatap pria berbaju merah itu dengan rasa kesal. Dia ingat betul wajahnya. Maka dia akan memberi pelajaran pada pria itu nanti.


Eduardo mengajak pria itu ketempat sepi dan agak jauh dari para prajurit.


"Kenapa mengajaku kemari? Jika mereka lihat, kita akan kena hukuman," kata Jason, ayah Delilah.


"Maafkan aku, aku terpaksa mengajakmu kemari agar tidak terdengar oleh mereka saat kita berbicara. Delilah, dia sedang mencarimu," kata Eduardo berbisik sambil matanya awas melihat keseluruh penjuru.


"Delilah? Dia disini? Bagaimana dia bisa sampai kemari?".


"Ceritanya panjang, yang penting, aku harus membawamu keluar dari sini, setelah itu baru bisa bercerita,"


"Ya baiklah...tapi... bagaimana caranya?" tanya Jason.


"Dengarkan aku, aku akan membuat kabut tebal, setelah itu, kau larilah bersamaku menjauh dari tempat ini," kata Eduardo.

__ADS_1


"Hhh, kabut tebal, apakah kau sedang berhalusinasi?"


"Pejamkan matamu," perintah Eduardo dan Jason menurutinya karena anak gadisnya bersama pria itu.


__ADS_2