
Dokter yang menemukan kartu nama pada dompet Sony segera menghubungi perusahaan dimana Sony bekerja. Dan tidak lama kemudian Lewis datang kerumah sakit itu sendirian.
Saat Lewis pergi, hal itu dimanfaatkan oleh Zafira untuk menemui kakak iparnya dan mengambil anaknya.
"Ok. Aku akan datang," kata Zafira segera berkemas begitu suaminya pergi dan kakak iparnya menelpon untuk menjemput anaknya.
Seorang sopir mengantarkan anak Zafira didepan sebuah mall. Zafira segera pergi kesana dengan menggunakan taksi. Dan saat melihat seorang sipir menggandeng anaknya, maka Zafira segera turun dari taksi dan meminta agar sopir taksi menunggunya.
Zafira segera memeluk anaknya dan buah cintanya dengan Tom. Zafira lalu mengajak anaknya masuk kedalam taksi dan pulang ke apartemennya.
Saat itu Zafira mengatakan jika menitipkan putranya pada saudaranya, Lewis pun percaya. Sekarang Zafira dan anaknya tinggal bersama Lewis diapartemen.
Lewis masih belum pulang saat Zafira sampai diapartemen. Lewis masih dirumah sakit dan berusaha menghubungi Andy, namun Andy tidak bisa dihubungi karena dia pergi kepulau terpencil dan tidak ada signal disana.
Dengan nafas berat, Lewis akhirnya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi ruang tunggu dirumah sakit.
Dia menunggu kabar dari dokter yang sedang mengobati sahabatnya. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dan berjalan kearah Lewis.
"Bagaimana keadaanya dokter?"
"Dia mengalami luka bakar yang sangat serius. Semoga bisa melewati masa kritis," kata dokter dan Lewis terlihat sangat khawatir saat mengetahui kondisi Sony.
"Bagaimana dengan istrinya?"
"Dia hanya mengalami luka bakar yang tidak terlalu parah, tapi, kami tidak bisa menyelamatkan kandunganya, dia mengalami keguguran," kata dokter.
"Baik, dokter, apakah saya bisa menemuinya?"
"Silahkan," kata dokter mempersilahkan Lewis menemui pasienya.
Lewis masuk dan terlihat Caroline sedang menangis karena sedih, kehilangan bayinya saat dia belum sempat memberitahu kabar bahagia itu kepada suaminya.
Lewis duduk disampingnya dan menghiburnya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku kehilangan bayiku, aku sangat sedih. Bahkan aku belum sempat memberitahu Sony jika aku mengandung," kata Caroline dengan berlinang airmata.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
Caroline menggelengkan kepalanya dan dia juga tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi. Caroline lalu menceritakan jika awalnya dia pergi kedapur dan memasak air panas. Dia membuka jendela dan lupa menutupnya kembali.
"Dari mana api berasal?"
"Mungkin dari dapur," jawab Caroline seperti ragu.
"Kau lupa mematikan kompor?"
__ADS_1
"aku tidak mengingatnya, saat aku akan pergi mengeceknya, api sudah membesar dan memenuhi seluruh dapur," kata Caroline.
"Aneh, kau baru saja memasak dan seandainya lupa mematikan kompor maka harusnya ada ledakan atau butuh waktu untuk api membesar," pikir Lewis.
"Apakah kau mendengar suara ledakan?" tanya Lewis.
Caroline menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, sekarang istirahatlah, besok aku akan melihat kesana," kata Lewis dan berpamitan untuk pulang setelah dia berpesan pada Caroline untuk hati-hati pada orang yang tidak dia kenal.
Lewis menyuruh beberapa anak buahnya untuk berjaga diruang sakit. Ada yang mencurigakan atas kejadian yang menimpa Sony. Menurut Caroline api tidak hanya berasal dari dapur tapi juga dari pintu depan. Dan itu membuat mereka terjebak didalam dan tidak bisa keluar.
Lewis sampai dirumah dan melihat istrinya sudah tertidur pulas. Lewis tidak bisa tidur malam ini, dan memutuskan untuk pergi ke villa yang terbakar jam 3 pagi.
Dia ingin melihat apa yang sudah menyebabkan kebakaran itu, beberapa polisi juga masih ada disana untuk memeriksa lokasi kejadian.
Saat Lewis datang seorang polisi mengangguk ramah padanya.
"Aku akan masuk dan melihat kedalam," kata Lewis pada seorang anggota kepolisian.
"Berhati-hatilah,"
Lewis mengangguk dan segera melompat melewati garis kuning yang baru saja dipasang.
Lewis menempelkan jari telunjuknya pada tembok, lalu mengangguk seakan memikirkan sesuatu. Setelah itu dia berjalan kedapur dan menempelkan jarinya pada lantai.
"Aneh, jika apinya berasal dari dapur, harusnya pintu depan tidak rusak separah ini." kata Lewis dalam hati.
Lewis lalu menelpon detektif kenalannya dan menyuruh ya datang ke lokasi kejadian. Polisi memang sudah mengambil alih dan akan menyelidiki masalah ini, tapi Lewis ingin hasilnya lebih cepat, maka dia ingin menyelidiki sendiri dan menyewa seorang detektif.
Semua ini terasa janggal dan mencurigakan. Jika api berasal dari belakang, harusnya pintu depan tidak rusak separah ini. Karena api akan berjalan dari belakang kedepan. Dan pintu depan pasti hanya akan rusak ringan.
Detektif tidak lama datang dan berbicara pada Lewis.
"Lihatlah ini, Caroline pergi kedapur dan menyalakan kompor, dia lupa menutup jendela dapur, kemungkinan dia lupaematikan kompor, jika apinya berasal dari belakang, kenapa pintu depan rusak separah ini? Lihatlah plafon diatas? Api bahkan hanya membuatnya rusak dan tidak separah ini jika api berjalan dari atas," kata Lewis dan matanya melihat kesekeliling. Dia menyalakan senter dan diarahkan pada plafon yang rubuh tapi belum menjadi abu.
"Kau benar, api sepertinya berasal dari belakang dan sebagian dari depan," kata Detektif setelah melihat kerusakan pintu belakang sama dengan pintu depan.
"Dari depan artinya apakah terjadi arus pendek?"
"Tidak, lihatlah ini?"
Detektif itu melihat bekas lantai seperti terguyur minyak. Dia adalah detektif, dia tahu jika itu kebakaran alami atau kebakaran yang disengaja.
"Apa maksudmu?" tanya Lewis.
"Rumah ini dibakar dari luar."
__ADS_1
"Apa!?" Lewis terbelalak dan terkejut.
"Ayo kita kebelakang, kita periksa lantai didapur," kata detektif tersebut.
Mereka berjalan kedapur dan berjongkok untuk memeriksa lantai uang terbakar. "Lantai ini terbakar lebih parah dari sebelah sana. Lihatlah perbedaanya. Artinya apinya dari lantai sebelah sini," jelas Detektif mencoba memecahkan teka-teki ini.
"Jadi?"
"Seseorang mungkin menyiramkan bensin dari jendela," kata detektif. "Kau bilang, Caroline lupa tidak menutup jendela setelah kedapur, begitu dia berbalik, api sudah membesar? Coba kau pikirkan, jika gasnya meledak, maka tidak akan secepat itu bukan?"
Lewis mengangguk,
"Kau benar, ada yang ingin mereka celaka, Brengs*k! Kurang ajar!" Maki Lewis.
"Dia punya musuh?"
"Banyak," kata Lewis yang sering terlibat dalam beberapa pertikaian dengan banyak mafia.
"Pikirkan siapa yang melakukan ini?"
"Akan aku cari orangnya. Aku tidak akan mengampuninya jika menemukanya," kata Lewis sambil mengepalkan tangannya.
"Bantu aku mencari orang itu," pinta Lewis.
"Tentu," kata detektif lalu berpamitan pergi karena ada hal yang harus dia lakukan pagi ini.
Lewis pulang kerumah sebelum matahari terbit, dan Zafira kaget saat melihat bajunya penuh dengan arang.
"Kau baru pulang, aku akan membuatkan minuman untukmu, tapi ada apa dengan bajumu?" tanya Zafira.
"Aku dari villa yang terbakar," kata Lewis.
Deg.
Tiba-tiba Zafira tersentak kaget, namun dia berusaha bersikap biasa saja didepan suaminya.
"Apakah orangnya selamat?" Lewis menoleh pada Zafira.
"Entahlah," Lewis belum tahu karena Sony masih kritis saat dia pulang.
Zafira mengangguk dan memeriksa handphonenya karena ada pesan masuk. Dia segera menghapusnya setelah membaca isinya.
Lewis melihat kearah Zafira sebentar lalu bertanya.
"Ada masalah?" tanya Lewis saat melihat perubahan wajah istrinya.
"Ehm, tidak," Zafira berbohong karena dia mendapat teguran dari kakak iparnya. Mereka tahu jika Sony dan istrinya dibawa kerumah sakit, namun mereka ingin agar Zafira pergi kerumah sakit dan membunuh Sony yang sekarat.
__ADS_1
Lewis mengangguk setelah istrinya mengatakan jika tidak ada masalah apapun yang harus dikhawatirkan.