
Keesokan harinya Andy sudah tiba di kantor lebih pagi dari biasanya. Dia menatap ruang kerjanya dan berfikir jika sebentar lagi, semua ini akan dia serahkan pada Haidar. Andy sungguh tidak menyangka, jika ternyata mereka akan bertukar peran.
Haidar yang awalnya dibesarkan dipanti asuhan, dan bukan siapa-siapa, tiba-tiba akan duduk di kursinya dan menjadi pemimpin perusahaan. Sementara Andy yang dari kecil dibesarkan dan dilayani seperti seorang pangeran, suatu hari nanti akan menjadi orang biasa.
Andy lalu menatap keluar dari jendelanya. Dia melihat Haidar baru saja datang bersama Bondan. Andy lalu menelpon Bondan dan meminta agar Haidar menemuinya keruanganya.
Tok, tok, tok.
"Ya, masuk," jawab Khan dan terlihat Haidar membungkuk padanya.
Khan lalu duduk dan menatap kepada Khan. Khan menarik nafas sesaat dan tersenyum pada Haidar.
"Aku memanggilmu karena aku ingin memberikan beasiswa padamu atas keinginan ibuku. Aku sudah mendaftarkan namamu di universitas terbaik dikota ini. Setelah selesai kuliah kau akan bekerja di kantor,"
"Tapi kenapa? Apakah hanya aku yang akan pergi kuliah?"
"Ya, Presdir ingin agar kau masuk kerja dikantor, dan itu adalah keinginan dari ibu Nining,"
"Benarkah?"
"Ya, ibu panti sangat ingin agar kau kuliah, kau memiliki prestasi yang bagus bukan?"
"Aku ingin bekerja saja," kata Haidar.
"Kau tidak bisa menolaknya, kau akan kuliah mulai besok,"
"Tapi...." Haidar masih bingung dengan keputusan Presdir dan ibu asuhnya yang sangat mendadak.
"Ini demi masa depan yang lebih baik. Kau bisa fokus kuliah dan semua biaya serta untuk kebutuhanmu sehari-hari tidak usah kau khawatir kan. Semuanya ditanggung oleh perusahaan." Terang Andy.
"Baiklah, aku akan kuliah, ibu panti tidak pernah berbicara hal ini sebelumnya," kata Haidar.
"Kau bisa menanyakanya nanti siang," kata Andy.
Haidar lalu pamit dan menemui Bondan. Haidar lalu bercerita pada Bondan tentang apa yang baru saja di katakan atasanya.
"Benarkah?" Bondan juga nampak terkejut.
"Iya, dan besok aku sudah harus mulai kuliah, sebenarnya aku masih bingung, tapi ini keinginan ibu Presdir, dan aku tidak bisa menolaknya."
"Jika begitu, lakukan yang terbaik. Kau harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Kau adalah satu dari sekian pegawai yang beruntung, setelah kuliah kau bisa bekerja di kantor, dan kau tidak perlu kotor seperti tanganku ini," kata Bondan memperlihatkan tangannya yang kotor karena mesin sambil tertawa.
"Ya, aku akan melakukan yang terbaik dan tidak mengecewakan mereka," kata Haidar.
Rupanya keinginan Presdir untuk memberikan beasiswa terdengar oleh dua karyawan yang iri dengan dirinya. Mereka berbisik-bisik dan ingin memberi pelajaran pada Haidar.
Mereka sudah lama bekerja dan tidak pernah mendapatkan promosi atau beasiswa gratis. Sedangkan Haidar yang terhitung pegawai baru kenapa justru mendapatkan beasiswa itu.
Haidar pulang lebih awal karena akan menemui ibu panti yang sudah mengasuhnya. Namun saat akan keluar dari tempat merakit kapal itu, tiba-tiba dia dihadang oleh dua orang yang juga bekerja diperusahaan ini.
Mereka berdiri dan menatap nya dengan amarah.
"Maaf, saya mau lewat," kata Haidar sopan.
"Hahahaha, kenapa kau mendapatkan promosi? Kau adalah pegawai baru, kami lebih duluan bekerja disini, tapi kau lebih diistimewakan dari kami?"
"Soal itu aku tidak tahu, kau bisa tanyakan langsung pada Pak Khan,"
"Sebaiknya kau tolak saja. Biarkan adikku yang mendapatkan beasiswa itu, dia adalah siswa terbaik di sekolahnya. Tapi Pak Khan sudah pilih kasih padamu," Teriak dua orang itu yang ternyata mereka kakak beradik.
"Aku juga terkejut, aku sudah menolaknya tapi mereka terus memaksaku," kata Haidar.
"Hh, ck, kau pasti pandai bersandiwara dan mencari muka, aku tidak bisa terima hal ini!" Teriak pria yang lebih besar.
Dug!
Dug!
Dug!
Mereka menghajar Haidar hingga dia tersungkur kelantai. Dan setelah itu dia pria itu pergi meninggalkannya.
"Awas jika kau bicara, maka aku akan menghabisi nyawamu!" ancam kakaknya.
Kakak beradik itu lalu pergi dan meninggalkan Haidar yang kesakitan dibagian perutnya. Mereka melanjutkan pekerjaannya lagi seakan tidak terjadi apa-apa.
Haidar berusaha bangun dan dengan tertatih keluar dari tempat perakitan kapal. Dia lalu menyetop angkot dan masuk kedalam mobil.
Dia bernafas dengan berat dan berbicara pada sopir untuk mengantarnya ke panti asuhan.
Tidak lama kemudian angkot itu berhenti tepat didepan panti dan Haidar turun. Setelah membayar pada sopir, dia pingsan dan beberapa anak panti yang melihat Haidar pingsan langsung berteriak minta tolong.
"Tolooooong..."
__ADS_1
"Tolooooong..."
Beberapa orang lalu membawa Haidar masuk kedalam dan ibu panti terkejut saat melihat dia pingsan dan bagian perutnya yang tersingkap memar.
"Kita akan membawanya kerumah sakit," kata Ibu Nining yang baru saja menerima telepon dari Presdir jika Haidar sebenarnya adalah putranya, dan hal itu sudah dibuktikan dengan tes DNA.
Ibu Nining segera memberi tahu Presdir jika Haidar akan dibawa kerumah sakit karena pingsan dan perutnya memar. Dia tidak mau disalahkan dan lebih baik memberitahukan pada ibunya setelah tahu kenyataan yang sebenarnya. Hal itu agar dia tidak disalahkan.
Ibu Nining memanggil ambulans dan Haidar dibawa dengan ambulans. Dia masuk keruang UGD dan diperiksa.
Tidak lama kemudian Presdir datang lalu menemui ibu Nining.
"Apa yang terjadi?" tanya Presdir dengan cemas.
"Saya juga tidak tahu. Dia pingsan dijalan," terangnya.
Presdir melihat kedalam dan dokter berbicara padanya jika Haidar baru saja mengalami penganiayaan.
Presdir masuk bersama ibu Nining. Dan saat itu Haidar membuka matanya. Dia menatap Presdir dan akan mengangguk hormat padanya, tapi Presdir tersenyum dan mengatakan untuk jangan banyak bergerak.
"Siapa yang sudah melakukan semua ini?" tanya Presdir?"
"Saya tidak mengenalnya," jawab Haidar berbohong.
"Kenapa mereka memukulimu? apakah kau mengenali wajahnya?"
"Tidak, saya tidak mengenali wajahnya, dan saya harap masalah ini biarlah sampai disini saja. Tidak usah lapor pada polisi," pinta Haidar.
"Polisi akan menangkap mereka, dimana mereka melakukanya?"
"Saya mohon, agar anda tidak membawa kasus ini pada pihak kepolisian,"
Presdir menatap Haidar dan menganguk pelan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Presdir.
"Sudah lebih baik," jawab Haidar.
Ibu Nining lalu masuk dan berbicara dengan Haidar, dan setelah melihat jika Haidar sudah lebih baik maka Presdir pergi dari rumah sakit untuk bertemu dengan Andy.
***
Andy sedang pergi bersama Diana kesebuah yayasan tempat dimana anak-anak terlahir dengan cacat. Andy akan memberikan sumbangan kepada mereka.
Dan saat bersama mereka, Andy sadar, mereka membutuhkan alat agar lebih produktif dimasa depan.
Disana mereka berbicara keinginan Andy. Andy ingin membuat alat uang bisa digunakan oleh anak-anak itu seperti robot tangan dan kaki yang berfungsi sebagai tangan sungguhan.
"Siapa yang bisa membuat semua itu?"
"Aku punya kenalan, dia adalah orang yang bisa membantumu mewujudkan keinginanmu, tapi kenapa ini mendadak sekali?" tanya Lewis.
"Entahlah, tiba-tiba aku ingin melakukan hal yang bisa membantu mereka yang terlahir tidak sempurna."
"Ide yang bagus," kata Lewis.
"Kapan aku bisa menemui orang yang bisa membuat semua itu untuk mereka?"
"Bagaimana kalau nanti sore?" tanya Lewis.
"Baiklah," jawab Andy. Tiba-tiba handphone Sony berdering, dan Presdir memanggilnya untuk datang menemuinya.
"Aku harus pergi dulu kawan, Presdir memanggilku," kata Sony lalu beranjak meninggalkan Lewis dan Andy.
"Ya, pergilah," jawab Andy.
Andy lalu menoleh pada Diana. "Apakah kau ingin ikut nanti sore? Jika tidak maka aku akan memanggil sopir untuk mengantarmu pulang?"
"Aku akan pulang saja," jawab Diana.
"Baiklah jika begitu, kau berjalan kemobil nanti sopir akan mengantarmu, bagaimana? Aku masih ada yang ingin kubicarakan dengan Lewis," kata Andy dan Diana segera bangkit dari tempat duduknya.
Sementara Andy menelpon sopirnya agar mengantar Diana pulang kerumah lebih dulu. Andy akan pergi dengan mobil Lewis.
***
Sore harinya Andy pergi bersama Lewis menemui kendalanya bernama Franky. Franky senang bertemu dengan Andy dan akan membantu Andy mewujudkan keinginannya.
"Aku akan membuat robot tangan dulu, dan mungkin aku akan menggunakan lego kualitas terbaik, ini lebih murah daripada menggunakan bahan robot yang dijual perusahaan lain," kata Franky.
"Ya, gunakan itu saja. Aku ingin memberikannya secara cuma-cuma, tapi jika mereka dari negara lain ingin membelinya maka harganya sangat terjangkau dan orang menengah bisa membelinya. Masih terjangkau untuk mereka," kata Andy.
"Aku ingin kau membuat lima puluh dulu dan setelah itu aku akan menyerahkannya pada mereka secara gratis," kata Andy.
__ADS_1
"Ya, aku akan membutuhkan banyak orang yang bisa membantuku membuatnya. Murid-muridku yang akan membantuku, kebetulan aku menjadi dosen disebuah universitas."
"Tidak masalah, mereka akan belajar menjadi sepertimu," kata Andy lalu pamit untuk pergi setelah mengatakan keinginanya.Saat akan masuk kemobilnya ada segerombolan anak sekolah menengah yang sedang membully salah seorang kawan mereka yang cacat.
Mereka mengitarinya dan Andy melihat mereka terus mencaci maki hingga anak membuat telinga Andy panas.
Andy segera datang untuk memperingatkan teman-temannya.
"Apa yang kalian lakukan? Yang kalian lakukan ini sungguh tidak terpuji," kata Andy.
"Siapa kau? Jangan ikut campur dan pergilah dari hadapan kami," kata pria dengan baju bebas.
"Jangan melakukan itu pada teman kalian. Itu tidak baik. Apakah kalian tidak kasian pada teman kalian ini? Bukanya kalian membantunya kalian malah mengejeknya," kata Andy dengan tenang.
"Hahahaha, kau tidak usah sok bijak Tuan. Lebih baik pergi dan tidak usah ikut campur urusan kami. Ini masalah kami dan kau hanya orang luar," kata pemuda yang berbaju bebas.
Tiba-tiba pria yang sedang dirundung itu berlari kebelakang punggung Andy.
"Dia sudah dikeluarkan dari sekolah karena sering menganiaya teman-teman kami. Dan aku pernah di pukuli olehnya. Sekarang dia mempengaruhi teman-teman kami untuk mengikuti perintahnya,"
Anak yang dirundung itu ketakutan dan menceritakan siapa pria yang berbaju bebas itu dan tidak memakai seragam.
"Kau kemarilah!" Teriak Andy pada pria yang berbaju bebas itu. Bukanya datang dia malah mengeluarkan sebatang rokok lalu menghisapnya.
Andy berjalan mendekatinya. Dia adalah pemimpin dan mempengaruhi teman-teman nya untuk melakukan perundungan.
Andy lalu menarik tangannya dan melemparkanya keatas pohon kelapa yang berada tidak jauh didekatnya. Dengan kekuatan yang Andy miliki, dia ingin agar anak itu jera.
"Tolong! Turunkan aku! Aku tidak bisa turun!"
"Berjanjilah kau tidak akan merundung temanmu lagi!"
"Iya, Tuan. Aku berjanji, tapi turunkan aku," kata pria itu.
Andy santai dan mendekati beberapa orang yang berbaju seragam lalu memperingatkan mereka.
"Jika aku melihat kalian ikut-ikutan merinding gan kalian lagi maka, aku akan melemparkan kalian keatas menara itu?" kata Andy menunjuk sebuah menara yang lebih tinggi dari pohon kelapa.
Mereka terlihat ketakutan dan mulai mengembalikan tas, sepatu dan barang-barang lain milik anak yang cacat tadi.
"Ini barangmu," kata teman-teman yang sudah merampas peralatan sekolah milik temannya yang dirundung.
"Baris!" Mereka lalu berbaris dan tertunduk tidak berani menatap Abdy.
"Kalian ber sepuluh tidak tahu malu mengeroyok teman kalian! Lihatlah, bahkan teman kalian tidak sempurna seperti kalian, kalian punya dua tangan dan dia hanya satu tangan. Tapi kalian tidak punya akal sehat. Orang tua kalian pasti sangat kecewa jika tahu kalian menjadi penjahat diusia sekolah, aku yakin ibu kalian akan menangis, melihat kelakuan kalian yang buruk seperti ini." kata Andy.
Mereka hanya tertunduk tanpa berbicara.
"Minta maaf pada teman kalian!" teriak Andy.
Mereka lalu berjalan dan meminta maaf pada teman yang tadi dirundung, setelah itu mereka pulang kerumah masing-masing dan meninggalkan pemimpinya yang masih ada diatas pohon kelapa
"Tolong! Turunkan aku!" Dia masih terus berteriak.
Andy lalu menurunkannya dengan kekuatanya yang semakin bertambah. Dia bisa menggerakkan barang meski hanya dengan telunjuknya saja.
Orang itu turun tepat didepan Andy.
"Ampun Tuan. Ampun, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," kata pria yang baru saja dikeluarkan dari sekolah itu.
"Minta maaflah padanya," kata Andy dan pria itu segera minta maaf.
"Jika aku melihatmu merundung teman kalian lagi, aku akan melemparkanmu ketengah laut itu!" teriak Andy dan membuat pria itu terkencing dicelana lalu segera berlari menjauh.
Andy mendekati anak sekolah yang dirundung.
"Ini kartu namaku, aku sedang membuat robot untuk memudahkan kalian dan berfungsi seperti anggota tubuh. Maka jika nanti sudah jadi, aku akan memberikan satu untukmu."
"Terimakasih, pak, tapi saya tidak punya uang untuk membelinya, orang tua saya hanyalah buruh tani."
"Aku akan memberikan untukmu gratis,"
"Terimakasih pak,"
"Datanglah padaku satu bulan lagi. Alat itu mungkin sudah selesai. Kau bisa langsung datang ke kantor."
"Baik pak."
"Kau kelas berapa?" tanya Andy.
"10 pak,"
"Baiklah, aku tunggu dikantor. Kau bisa menelpon sebelumnya,"
__ADS_1
"Baik, terimakasih pak,"
Andy segera pergi masuk kedalam mobil. Lewis sedang menelpon seseorang, rupanya itu adalah kekasihnya. Namanya Zafira, istri Tom yang sudah tiada. Namun Lewis tidak mengetahuinya. Zafira datang untuk balas dendam.