Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Mengumbar janji


__ADS_3

Andy mengajak Naina pulang kerumahnya. Diana dan Rossa menemani Naina, Andy terlihat mengobrol dengan Tetua diruang tamu.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Tetua dengan tenang dan menatap Andy yang tertunduk.


"Mereka nomaden sudah lama karena hubungan yang tidak direstui oleh keluarga Naina. Mereka ingin Naina kembali dan berpisah dengan Ali,"


"Bagaimana mereka bisa berpikir untuk memisahkan mereka berdua? Mereka sudah punya anak," kata Tetua terheran dengan sikap keluarga Naina.


"Saya juga tidak tahu, mereka tidak mengatakan apapun. Hanya pesan terakhir Andy yang membuat saya berfikir sangat dalam," Kata Andy menatap tetua.


Andy punya janji dengan Tetua untuk menikahi putrinya, Andy punya janji pada mendiang Ali untuk menjaga istri dan anaknya, Andy juga punya janji pada Rossa untuk kembali dan menepati cinta yang sudah dia ucapkan padanya.


"Kau terlihat sangat tertekan," Kata Tetua menepok pindah Andy.


"Mendiang Ali berpesan untuk menjaga istri dan anaknya. Saya sudah berjanji padanya. Saya juga berjanji untuk menikah dengan Diana, saya sangat bingung bagaimana saya menepati semua janji itu?"


Tetua nampak tersenyum dan mengangguk pada Andy.


"Jangan khawatir, kau harus menepati janjimu pada orang yang sudah tiada, itu lebih utama. Tapi kau juga harus menikah dengan putriku, karena hari baik sudah ditentukan,"


"Menikahi dua orang? Mana bisa?"

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa? Kau lihat pria disini? Mereka punya istri lebih dari satu. Karena jumlah wanita lebih banyak. Biar adil, satu pria menikah dengan dua wanita. Dan mereka bisa bersikap adil dan membagi waktu mereka."


"Saya belum siap membimbing dua wanita sekaligus membagi waktu dan perhatian secara adil," Kata Andy yang keberatan dengan usul tetua.


"Kau bisa belajar dari mereka," kata Tetua.


"Bukan tanpa alasan aku mengatakan hal ini padamu. Kau bisa bayangkan jika sebagian mereka tidak menikah karena stok pria yang terbatas. Maka penduduk disini jumlahnya tidak akan berkembang. Bagaimana jika suatu saat ada gangguan dari luar? Kami butuh cara untuk mempertahankan diri dan generasi dari nenek moyang kami. Para wanita disini tidak keberatan, meskipun harus berbagi suami. Keadaan membuat mereka sadar, bahwa pulau ini terpencil. Jumlah pria yang lahir tidak sebanding dengan jumlah wanita yang lebih banyak."


Andy akhirnya mulai paham maksud pembicaraan Tetua.


"Kau tahu, jika kami berperang, mungkin para pria akan berkurang karena cedera atau meninggal. Harus banyak wanita yang melahirkan baru kami bisa bertahan dan melestarikan warisan nenek moyang kami,"


"Aku sebenarnya kesal padamu!" Kata Tetua tiba-tiba.


"Kau pergi dari kami secara diam-diam. Katakan apa yang bisa kami bantu? Jika sudah menjadi keluarga maka aku akan membantu masalahmu. Jangan sungkan," Kata Tetua lalu Andy tersenyum malu.


"Maafkan kami. Kami bersalah. Kami berpikir sendiri tanpa bermusyawarah,"


"Lain kali, lebih terbuka itu lebih baik," Kata Tetua lalu pergi keluar bersama warga yang lainya.


Andy masuk kedalam dan Rossa serta Diana berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


"Kami akan pulang dan mandi, esok kami akan datang lagi." Kata Diana dan Rossa berpamitan pada Naina yang sedang berbaring.


Andy mengangguk dari pintu dan mengantar Rossa dan Diana sampai diluar.


"Terimakasih, kalian sudah banyak membantu kami."


Diana dan Rosaa mengangguk bersamaan lalu pergi.


Sementara Andy masuk kekamar Naina dan duduk disebelahnya.


Dia menatap wajah yang terus tertunduk itu. Naina juga mendengar pesan terakhir Ali untuk Andy.


Naina terus tertunduk tanpa berbicara. Hanya sesekali airmatanya jatuh dan membasahi bajunya.


Andy mendekat dan menggendong bayi Naina.


"Aku akan mengajaknya keluar, kau istirahatlah,"


Andy lalu meninggalkan Naina yang tertunduk dan tidak berani menatap mata Andy.


Ali menitipkan dirinya pada pria asing yang baru saja dikenalnya. Naina tidak tahu bagaimana harus bersikap padanya.

__ADS_1


__ADS_2