
Suasana menjadi mencekam, saat semua aktivitas bumi terhenti karena batu merah yang pecah itu.
Burung-burung terhenti saat sedang terbang diawan. Pohon juga tidak menggerakkan daun dan kelopak mayangnya.
Eduardo melihat buah ada yang matang dan ada yang masih muda. Maka karena lapar, dia memetik buah mangga yang sudah matang yang kebetulan dia temui saat keluar dari hutan.
Dia meninggalkan semua harta karunnya karena semua aktivitas bumi terhenti.
Dia ingin melihat apakah diluar hutan itu aktivitas manusia normal atau terhenti. Namun, dia menjadi sedih saat melihat laut yang membentang bahkan bisa dia lewati dengan berjalan. Laut itu menjadi seperti kaca saat kakinya menginjaknya.
Eduardo menjadi bingung dengan fenomena ini.
"Kenapa jadi seperti ini?"
Eduardo panik sambil melihat ke sekeliling nya. Merasa sendirian di tengah laut dan tidak ada aktifitas, maka Eduardo memutuskan untuk kembali ke pulau terpencil.
Dia akan menemui ayahnya dan berharap aktifitas disana normal seperti sebelumnya. Eduardo berjalan tanpa lelah sepanjang air laut.
Namun anehnya, dia tidak merasa lelah sedikitpun, dia melihat pada batu dikakinya, dan berfikir jika mungkin batu itu yang membuatnya tidak merasakan lelah.
__ADS_1
Dari jauh dia melihat ada pelabuhan. Diapun lalu berharap ada makanan disana. Maka dia melihat begitu banyak orang tidak bergerak dan berubah menjadi patung sama seperti teman-teman nya.
Dia mulai merasa kesepian. Dia minum disana, lalu makan apa yang ada direstoran itu.
Dia membawa beberapa makanan kedalam kantung plastik. Dan itu akan digunakan sebagai bekal. Maka dia melanjutkan perjalanan lagi keluar pulau ini untuk mencari pulau terpencil.
Dia akan menemui ayahnya dan meminta bantuannya.
Eduardo lalu sampai pada sebuah kota besar. Dan dikira itu keadaanya juga sama seperti temannya. Semua orang menjadi patung dan hanya dia yang masih hidup.
Dia bisa melakukan apapun dengan bebas. Dia bahkan bisa makan semuanya tanpa membayar.
Dia butuh teman. Dia butuh orang-orang yang hidup dan normal seperti sebelumnya.
Kali ini hari sudah mulai gelap. Dia akan beristirahat dan kebetulan sampai didepan rumah petinggi dinegara itu.
Bahkan istana petinggi negara itu bisa dia masuki dengan bebas karena semua pengawalnya menjadi patung.
Dia duduk dikursi petinggi dengan bergaya, namun tidak ada yang memperhatikan ya. Dia lalu memasuki istana itu dan istirahat disebuah kamar.
__ADS_1
Tidak ada lampu atau apapun. Semua barang elektronik yang serba canggih juga tidak bisa digunakan, maka dia merasa sia-sia ada di istana petinggi. Diapun lalu tertidur.
Pagi harinya, matahari menerobos jendela, dan membuat Eduardo terbangun. Dia menggeliat dan berjarak kehidupan sudah normal kembali.
Dia lalu berjalan keluar kamar dan ternyata istana itu masih sepi. Semua pengawal dan ajudan juga masih menjadi patung.
Eduardo lalu pergi kedapur dan mengambil sisa roti yang kemarin mereka makan dan tidak habis. Roti itu memang akan bertahan labih dari satu Minggu. Namun, Eduardo menjadi khawatir, apa yang akan dia makan selanjutnya jika kehidupan berhenti.
Eduardo membawa semua roti itu dalam plastik dan membawanya untuk melanjutkan perjalanan.
Saat ini Eduardo sampai disebuah hutan. Setelah sepanjang siang, dia berjalan ke arah Utara.
Hari pun menjadi gelap kembali, dan saat ini Eduardo singgah disebuah rumah kayu ditengah hutan.
Dia tidak perlu merasa takut, karena tidak akan ada binatang apapun yang membahayakannya, karena semua kehidupan terhenti.
Eduardo lalu tidur pulas hingga pagi hari. Selama berhari-hari dia menjalani rutinitas yang sama dan tidak berbicara dengan siapapun. Maka hal itu membuatnya menjadi stress dan putus asa.
Dia lalu berteriak sangat keras saat sampai disebuah tebing tinggi.
__ADS_1
"Aaaaaaaa!"