Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Ke panti asuhan


__ADS_3

Andy pergi ke kantor polisi dan berpapasan dengan ibunya yang baru saja keluar. Andy lalu mengurungkan niatnya dan pergi ke rumah sakit. Sementara ibunya hanya melihatnya lalu ke mobil.


"Aku tahu kau butuh waktu untuk semua ini," gumam ibunya.


Khan meninggalkan kantor polisi dan pergi ke rumah sakit untuk menemui orang yang dia tabrak waktu itu. Sampai disana ternyata pria itu sudah sembuh. Namanya Haidar.


"Hai, bagaimana keadaanmu?" sapa Khan duduk disamping Haidar yang sekarang sudah bisa berjalan.


"Lihatlah, aku sudah lebih baik. Sore ini aku akan keluar," kata Haidar sambil berjalan.


"Kau sembuh lebih cepat,"


"Ya, sesuai janjimu, kau bilang ada pekerjaan untukku. Aku ingin segera bekerja,"


"Ok. Kapanpun kau ingin bekerja, temui aku dikantor Harun Malik," kata Khan sembari memberikan sebuah kartu nama.


"Itu nama perusahaanmu?" tanya Haidar sambil melihat nama yang tertera dikartu nama.


"Ya,"


"Khan Louise Malik, Apakah aku bisa memanggilmu pak Khan?"


"Iya silahkan," Khan lalu pergi keruang admistrasi untuk menyelesaikan semua pembayaran.


Sore harinya Haidar keluar dari rumah sakit dan pulang ke yayasan. Disana dia menceritakan apa yang sudah dia alami. Tapi lalu dia menyatakan kegembiraannya karena mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Dia mengambil hikmah dari kecelakaan itu.


"Kau bekerja?" tanya ibu pemilik yayasan.


"Ya, aku akan datang ke kantor pak Khan besok," kata Khan pada ibu Nining.


"Aku pikir kau sudah bekerja dan menginap di kos-kosan,"


"Maaf Bu, saya tidak memberitahu. Saya tidak ingin anda cemas."


"Syukurlah kau sekarang sudah sembuh. Duduklah, ibu ada makanan tadi dari donatur, kau makanlah bersama anak-anak yang lain," kata Nining pemilik yayasan itu.


Sementara Gina pergi kerumah sakit dimana suster yang menanganinya bekerja saat ini. Gina berjalan dengan tergesa dan tanpa sengaja menabrak seorang suster yang akan pulang dari rumah sakit.


Brukkkk!


"Oh maaf, biar saya bantu," kata Gina tanpa melihat wajah suster itu. Gina jongkok dan memungut isi tas yang keluar berserakan.


Sementara suster juga memungut barangnya yang tercecer, dia lupa menutup tasnya saat tadi menaruh handphonenya.


"Ini silahkan," kata Gina menyerahkan barang yang berhasil dia pungut pada suster yang dia tabrak. Gina menatap wajah suster itu, dia sangat terkejut saat melihat wajahnya.

__ADS_1


"Suster....Nisa," Kata Gina melirik nama yang melekat di baju suster.


"Suster itu menatap sambil tersenyum pada wanita yang saat ini ada dihadapannya.


"Ya, saya suster Nisa. Kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nisa yang sekarang sudah menutup tasnya kembali.


Gina lalu mengajak suster Nisa berjalan ditaman. Ada yang ingin dia ceritakan. Suster Nisa pun menurut dan mengikuti Gina dibelakangnya.


Mereka duduk ditaman rumah sakit. Mereka mulai berbincang.


"Dulu kau bertugas dirumah sakit Bersalin Ananda bukan?"


"Ya, benar, itu sudah lama sekali, mungkin dua puluh tahun yang lalu," jawab Suster Nisa.


"Kau ingat Tuan Harun Malik? Pemilik kapal pesiar terbesar di Asia. Istrinya juga melahirkan dirumah sakit itu, dan kau yang membantu persalinanya," kata Gina berterus terang.


Deg. Suster itu terperanjat. Menatap orang didepanya sangat lama.


Siapa wanita ini? Bagaimana dia tahu jika istri Tuan Harun Malik melahirkan disana? Batin Nisa dalam hati.


"Iya, saat itu aku tidak tahu jika wanita itu adalah istri Tuan Harun Malik,"


"Kau membantu wanita bernama Fina untuk menukar bayinya bukan?" Gina tidak sabar berlama-lama dan langsung pada pokok keinginannya.


Apa! Bagaimana wanita ini tahu apa yang sudah dia lakukan? Wanita ini bahkan membicarakan hal yang sudah lama dia sesali. Dia melakukan itu karena demi menyelamatkan ayahnya yang harus operasi dan butuh biaya besar. Tapi saat dia kembali membawa uang itu, maka ayahnya justru meninggal. Uang itu menjadi tidak berguna dan sia-sia.


Suster Nisa berkeringat dingin. Tanganya gemetar dan jantungnya berdegup kencang. Dia takut dipenjara karena sudah melakukan kejahatan. Demi uang dia mau diajak kerjasama oleh seorang wanita bernama Fina.


"Katakan, dimana bayi yang kau tukar dua puluh tahun yang lalu. Dipanti asuhan mana kau menitipkanya?"


"A...aku..aku...." Suster Nisa ketakutan masalah ini akan berakhir di kepolisian. Karirnya hancur dan dia masuk penjara. Karena ketakutan dia tidak berfikir panjang dan langsung berlari menyeberang jalan.


Duaarrrr!


Sebuah mobil menabraknya dengan kencang. Suster Nisa terpental dan sekarat. Kejadian begitu cepat dan mengagetkan Gina yang mengejarnya.


Gina segera berlari kearah sister Nisa yang terluka parah. Nafasnya tersengal-sengal, dan dalam keadaan terluka parah.


Gina segera menaruh kepalanya di pangkuannya dan berteriak minta tolong dengan histeris. Dia tidak boleh mati sebelum mengatakan dimana putranya, batin Gina.


"Dimana putraku? Dia adalah putraku...." Gina mulai menangis dan merasa putus asa. Suster Fina merasa jika dia akan segera mati, maka dia lalu mengatakan nama panti asuhan itu sebelum akhirnya dia tiada.


"Pan...ti..asuhan...Putra Anda," kata suster lalu terkulai dan saat Gina memeriksa dan ambulans datang, dia sudah tidak ada.


Suster Nisa meninggal ditempat. Gina tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Dia ketakutan sendiri oleh kesalahannya dan mati sia-sia.

__ADS_1


"Pak, ini kartu nama saya, saya yang akan mengurus semua biayanya," kata Gina lalu memberikan kartu nama yang sudah diberikan oleh Sony dalam waktu cepat.


Gina segera meninggalkan tempat itu dan pergi mencari alamat panti asuhan yang sempat disebutkan oleh suster Nisa.


Sampai dipanti asuhan, dia disambut dengan ramah oleh pemiliknya.


"Mari Bu, silahkan masuk," kata ibu Nining mempersilahkan tamunya. Gina tersenyum lalu duduk dan matanya menyapu sekeliling.


"Saya akan memberikan sumbangan untuk perkembangan panti asuhan ini," kata Gina.


"Terimakasih Bu," kata ibu Nining lalu memanggil Haidar.


"Haidar, tolong ambilkan minum untuk tamu kita," kata ibu Nining.


Haidar lalu keluar dengan dua minuman dan cemilan untuk tamunya.


Gina tertegun saat melihat Haidar, namun dia tidak punya firasat apapun. Dia hanya merasa jantungnya berdebar, jika nanti bisa menemukan putranya. Seperti apa putranya sekarang, dan pasti sudah sebesar pria yang menyuguhkan minuman untuknya.


"Silahkan diminum Bu,"


"Baik, terimakasih, Saya kesini karena ada suatu alasan dan kepentingan. Selain itu saya juga akan memberikan sumbangan untuk anak-anak disini,"


"Baik Bu, apa yang bisa saya bantu?"


"Bisakah saya meminta data dua puluh tahun lalu? Anak saya ada dipanti asuhan ini karena suatu alasan. Saya ingin menemuinya,"


"Benarkah? Jika begitu, baik saya akan ambilkan," kata Ibu Nining sambil pergi mengambil data yang diinginkan tamunya.


Apalagi ini tentang putranya, maka ibu Nining ingin membantunya. Dia lalu keluar dengan buku tebal uang berisi data dari semua anak yang dia terima dua puluh tahun lalu.


"Terimakasih," kata Gina lalu mulai membuka lembar demi lembar data rumah sakit dimana asal bayi itu dilahirkan. Karena pasti ada datanya, kecuali anak itu ditinggalkan begitu saja, maka datanya pasti tidak ada.


Dengan sabar Gina terus membaca setiap lembar dan tidak terasa sudah hampir dua jam dia duduk disana.


Haidar berpamitan untuk pergi dan akan datang sesekali karena sekarang dia sudah bekerja dan akan tinggal dekat dengan kerjaannya.


"Hati-hati nak, semoga berhasil dan kau sukses dimasa depan,"


"Terimakasih Bu, saya akan sering datang untuk melihat ibu dan adik-adik disini,"


"Ya, doa dan restu ibu menyertaimu nak,"


Haidar pergi setelah mencium tangan ibu Nining. Sementara ibu Nining kembali dan melihat tamunya sedang mencatat sesuatu.


"Gimana Bu, apakah sudah ketemu?" tanya ibu Nining dan duduk didekat Gina.

__ADS_1


"Ya, saya mencatat beberapa nama yang dilahirkan hari itu," kata Gina dengan senang.


__ADS_2