
"Baiklah, aku menerima tawaranmu," kata Norman. Dia akan memikirkan bagaimana caranya mengatasi kemarahan Robert.
"Terimakasih, jika begitu saya permisi, besok saya akan datang dengan semua berkas yang dibutuhkan." Andy sangat senang karena Norman sangat mudah dikendalikan jika di iming-iming dengan uang.
"Tapi sebelum saya pulang, bolehkah saya bertemu dengan putrimu?" tanya Andy.
"Ohh tentu saja." kata Norman mengangguk dan memanggil anak buahnya.
"Bawa Tuan Khan bertemu dengan Naina," titah Norman dan Andy bangkit dari duduknya mengikuti anak buah Norman.
"Mari tuan, saya antarkan bertemu nona Naina."
Norman tersenyum senang saat sendirian sementara Andy bertemu dengan Naina.
Disebuah kamar yang luas, Naina sedang melamun duduk dipinggir ranjang. Dia sangat terkejut saat pintu dibuka dan melihat Andy serta Diana bisa ada dirumahnya. Naina berfikir jika yang datang adalah pelayan yang akan membawakan makanan untuknya.
Pelayan itu menutup pintu dan pergi meninggalkan mereka didalam.
Naina sangat senang dan saking kagetnya dia langsung memeluk Andy. Andy kaget dengan ekspresi Naina yang tidak biasanya. Tapi Andi membiarkan Naina memeluknya dan menangis didadanya.
"Andy bawa aku pergi dari sini. Aku akan dinikahkan dan dipisahkan dari kedua anakku. Calon suamiku itu hanya ingin balas dendam padaku. Aku tidak ingin menikah denganya, aku bahkan belum selesai menjalani masa Iddah." kata Naina disela Isak tangisnya yang akhirnya pecah diperlukan Andy.
Selama ini dia merasa sendirian dan tidak ada seorangpun yang bisa menyelamatkanya dari tangan besi ayahnya. Tapi syukurlah Tuhan mendengar doanya dan mengirim Andy untuk menolongnya.
"Aku akan membawamu keluar dari sini," kata Andy dan Naina segera sadar apa yang sudah dia lakukan barusan. Naina melepaskan pelukannya dan mundur dua langkah.
"Benarkah? Apakah kau bisa membuat ayahku setuju padamu?"
"Tentu saja. Dia adalah anak orang kaya raya. Dengan kekuasaan uang, dia bisa membuat ayahmu setuju untuk bekerja sama dan sebagai syaratnya, dia akan membawamu." kata Diana yang tersenyum lega saat melihat Naina baik-baik saja.
"Andy, terimakasih...." Naina untuk pertama kalinya menatap wajah Andy, setelah itu dia tertunduk kembali.
Andy dan Diana lalu berpamitan setelah melihat Naina baik-baik saja.
"Besok aku akan datang dengan berkas dan surat yang diminta ayahmu. Setelah kami tanda tangan diatasnya maka aku akan membawamu kembali ke pulau."
"Terimakasih," kata Naina.
__ADS_1
Diana dan Andy segera keluar lagi dan bertemu dengan Norman. Tapi Norman sudah tidak ada diruanganya, akhirnya mereka keluar dan masuk kemobilnya. Naina melihat dari kaca didalam kamarnya.
Norman sudah mendapat telepon dari Robert. Dan karena Norman juga punya kepentingan denganya akhirnya dia yang keluar dari rumahnya dan bertemu Robert disebuah paviliun milik Robert.
Dia hanya membawa sedikit anak buahnya.
"Aku dengar kau menerima tamu hingga kita harus menunda pertemuan beberapa jam," kata Robert dengan senyum menyeringai.
"Ohh, itu, ya, ada tamu mendadak. Aku tidak bisa mengusirnya. Jadi maafkan aku, membuatmu menunggu."
"Tidak masalah. Bagiku yang penting kesepakatan kita."
"Itulah yang mengganggu pikiranku sekarang," kata Norman mulai mencari kata yang tepat agar pria didepanya ini tidak marah padanya.
"Maksudmu?"
"Begini, Robert, kau ingin menikah dengan Naina, sedangkan Naina sudah punya dua anak yang masih kecil, jika kau membawanya pergi bagaimana aku bisa merawat dua anaknya. Aku sudah tua, jadi itu akan sangat merepotkan,"
"Kemarin kau tidak keberatan, kenapa sekarang kau mempermasalahkannya? Kau bilang ada pelayan yang akan menjaga dua anaknya," Robert mulai menatap tajam dan penuh selidik.
"Tapi, tetap saja, mereka tinggal bersamaku pasti sangat merepotkan." Norman ingin agar Robert lah yang membatalkan perjanjian pernikahan setelah apa yang dia ucapkan.
"Aku punya keponakan yang masih perawan dan belum tersentuh oleh pria manapun. Dia lebih cantik dari Naina. Bagaimana jika aku memperkenalkan ya padamu?"
"Kau ingin mengubah kesepakatan?" tatapan Robert seperti pedang yang siap menghujam.
"Bukan begitu, itu terserah padamu...aku hanya ada yang lebih pantas untukmu yang lebih baik dari Naina."
"Hahahaha, sayangnya aku hanya ingin Naina. Aku tidak mau siapapun wanita didunia ini selain Naina. Aku hanya ingin dia," kata Robert dengan tegas dan membuat bulu kuduk Norman berdiri.
"Ohh, jika begitu, ya sudah. Naina, ya, hanya Naina yang kau inginkan," kenapa dia begitu keras kepala! Aku tidak bisa keluar dari sini jika mengatakan yang sesungguhnya. Aku bisa mati ditanganya jika dia tahu aku membuat kesepakatan dengan orang lain.
"Baiklah, jika begitu, aku bawa berkasnya dan aku akan menandatangani setelah membawanya. Sekarang kepalaku sedikit pusing, besok ambillah kerumahku," kata Norman.
"Baiklah." Robert lalu menyerahkan berkas kesepakatan mereka berdua.
Norman pulang dengan selamat beserta anak buahnya. Jika dia menggagalkan kesepakatan di paviliun itu maka jumlah pengawalnya tidak sebanding dengan anak buah Robert.
__ADS_1
Sampai dirumah dia bertanya pada anak buahnya apakah Rian Khan sudah pulang apa masih ada dikamar Naina.
"Apakah Tuan Khan masih disini?"
"Tidak bos. Dia sudah pulang."
Norman nampak mengangguk lalu membawa berkas itu ke ruang kerjanya.
Malam harinya seorang mata-mata datang menemui Robert. Dia mengatakan apa yang dia lihat tadi dirumah Norman.
"Andy dan gadis itu datang kesana."
"Untuk apa?" Robert menatap tajam anak buahnya.
"Mereka berbicara lama dan sepertinya akan melakukan bisnis bersamanya."
"Bisnis?"
"Ya. Aku dengar begitu dari mata-mata kita yang ada disana."
"Bisnis seperti apa yang akan dilakukan Andy. Setahunya Andy tidak pernah berbisnis dengan siapapun. Manusia komputer itu hanya peduli dengan mainannya, sejak kapan dia mulai belajar bisnis."
Robert terlihat berfikir sambil memainkan pulpen dengan jarinya.
"Awasi Andy dan laporkan padaku setiap gerak-gerik nya. Jika dia berbisnis, dia mulai menjadi ancaman bagiku." kata Robert lalu anak buahnya pergi dari hadapannya.
Andy dan Naina tidak langsung pulang, melainkan pergi menemui Lewis. Andy mengatakan apa yang baru saja dia lakukan bersama Diana.
"Kau menemui Tuan Norman?" tanya Lewis.
"Iya. Aku ingin bekerja sama dengannya." kata Andy dan tidak mengatakan jika semua ini dia lakukan demi Naina.
"Kau mulai tertarik untuk berbisnis?"
"Aku harus meneruskan bisnis ayah. Ayah mulai menua."
"Itu bagus. Ayahmu akan senang dengan berita ini." kata Lewis yang sudah sering kali mendengar keluhan ayahnya soal ketidaktertarikan Andy pada bisnis keluarga.
__ADS_1
"Aku ingin kau menyiapkan semua yang aku butuhkan."
"Tentu saja. Kau tidak usah khawatir soal itu." kata Lewis