Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
SEASON 2-2


__ADS_3

Sampai di Laut Utara


Eduardo menunjukkan beberapa kesaktian yang dia miliki pada Roky. Karena kesaktiannya maka Roky menjadi tenang, dan berfikir jika Eduardo akan menambah kekuatan di kelompok mereka.


"Kita hampir sampai!" Teriak Roger yang ada di paling ujung kapal itu.


Dia menggunakan teropongnya dan menyipitkan matanya.


"Bersiap merapat!" Kata Roky pada seluruh anak buahnya tersebut. Ada kurang lebih 20 orang anak buahnya.


Eduardo bersiap untuk melompat. Dibelakangnya, Julio yang berusia 20 tahun juga melompat.


Selisih usia Julio dan Eduardo, dua tahun, usia Eduardo saat ini 18 tahun.


Dan satu lagi yang dibelakangnya, Roger berusia 19 tahun.


Mereka berpetualang tanpa rasa takut meskipun masih sangat muda. Dan beberapa anak buah Roky uang lain ada dibelakang mereka berusia 29 sampai 35 tahun.


Semua belum punya istri, karena sulitnya lapangan pekerjaan membuat mereka menunda pernikahan dan akan melepas masa lajang, saat nanti menemukan harta Karun dan bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga.


Mereka menyandarkan kapal dan berjalan kepasir lalu memasuki kawasan kosong. Sepanjang mata memandang, hanya ada pasir dan beberapa rumah kosong yang ditinggalkan penduduknya.


"Ada pemukiman," kata Roky.


"Ayo kita kesana!" Teriak yang lainya.


Mereka mempercepat langkah kakinya dan segera pergi ke pemukiman itu. Namun mereka semua terkejut, saat sampai di pemukiman itu, ternyata tidak ada satupun penghuni yang tinggal disana.


Rumah itu kosong dan sepertinya sudah lebih dari sebulan.


Tak ada makanan apapun yang bisa mereka temukan.


"Bagaimana ini? Ternyata tempat ini kosong." kata Julio.


"Kita akan mencari makanan dulu. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan." Kata Roky sambil matanya memandang jauh ke sekelilingnya, seakan mencari rumah makan atau sejenisnya.


"Sepertinya kita telah datang ke tempat yang salah. Tidak ada penjual makanan disini. Bagaimana?" Tanya Tetua meminta pendapat dari semua anak buahnya.


"Coba kita ke Hutan itu. Kita cari apa saja yang bisa dimakan." Kata Roky saat semua anak buahnya diam dan hanya saling berpandangan.


"Kita terlanjur datang kemari. Sangat disayangkan jika pulang begitu saja," Kata Roky menambahkan.


"Benar, kata Bang Roky. Kita sudah sampai disini setelah melakukan perjalanan jauh. Ini tempat kita yang terakhir sebelum akhirnya pulang ke kampung halaman. Mari kita kuatkan tekad dan tetap semangat," Kata seorang diantara mereka.


"Semangat! Semangat!"


Mereka kompak berteriak semangat.

__ADS_1


Dan tiba-tiba, terdengar suara helikopter menuju arah mereka.


"Ada helikopter mendekat!" Seru Roky.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Julio.


"Firasatku mengatakan ini sesuatu yang buruk. Segera sembunyi dan berpencar!" Teriak Roky saat helikopter itu benar-benar telah semakin dekat.


Mereka semua bersembunyi dan tidak melakukan gerakan apapun.


Helikopter itu melemparkan bom dan membuat satu bangunan hancur.


Setelah itu mereka hanya berputar-putar dan tidak lama kemudian pergi dari tempat itu.


Para perompak lalu berkumpul dibawah bangunan yang agak luas setelah helikopter itu pergi.


"Disini tidak aman," kata Eduardo.


"Tahu apa kau anak ingusan." Teriak sekarang yang tidak menyukai kehadiran Eduardo.


"Firasatku mengatakan begitu," kata Eduardo menatap pada Roky.


Roky mengangguk.


"Kita sebaiknya mencari tempat yang aman malam ini. Kita tidak mungkin pergi ke kapal. Mereka pasti sudah menghancurkan kapal itu. Ini mungkin tempat konflik," kata Roky.


"Apa maksudmu?" tanya Roger.


"Kalau begitu, ayo kita isi perut kita sampai kenyang," Kata seorang yang gemuk diantara mereka.


"Dari tadi aku sudah sangat lapar. Cari makanan, bari kita pikirkan langkah selanjutnya," Kata orang bertubuh paling gemuk.


"Hanya makan saja yang kau pikirkan?" celetuk Roger.


"Apakah kau tidak akan makan? Akan menunggu disini sampai mereka datang dan melemparimu dengan bom?" Celetuk orang bertubuh gemuk.


"Jangan bertengkar, aku setuju untuk mengisi perut kita terlebih dahulu. Ayo kita ke hutan. Kita akan cari apa saja yang bisa dimakan disana," Kata Roky dan semua orang berjalan ke hutan.


"Lihat itu? Ada buah pisang!" Teriak Eduardo.


"Matamu jeli juga," kata orang yang tidak menyukai nya.


Orang itu langsung lari sebelum Eduardo dan memetik semua pisang lalu membawanya kehadapan teman-temannya.


"Mari kita habiskan pisang ini," Mereka langsung berebutan dan hanya kebagian satu satu.


Tersisa satu lagi.

__ADS_1


Mereka semua saling berpandangan. Tidak ada yang berani mengulurkan tanganya. Pisangnya hanya tersisa satu. Sedangkan mereka semua sudah mendapatkan satu bagian.


"Ini untuk Ketua kita," Kata Roger setelah mereka semua terdiam.


Mereka semua mengangguk. Roky lalu mengambil pisang itu dan menghabiskanya.


"Pisang satu tidak membuat perut kita kenyang. Kita harus mencari makanan yang lainnya," kata orang bertubuh gemuk.


"Tempat ini penuh dengan pohon besar. Tak ada buah yang dihasilkan. Satu kelinci pun tak ada yang lewat," kata Julio pada Roger.


"Kau benar. Kita hanya terus berjalan dan sekarang sampai ditengah hutan. Entah apa lagi yang akan kita temui nanti," kata Roger mulai merinding karena hari semakin gelap.


"Berhenti semua! Hari semakin gelap. Tidak ada buah yang bisa kita makan. Serigala mungkin akan mengincar kita dimalam hari. Sebaiknya kita cari goa untuk berlindung," kata Roky.


Mereka semua saling berpandangan dan setuju untuk mencari tempat berlindung.


Eduardo sangat lapar, maka dia memisahkan diri dari rombongan dan akan pergi mencari makanan.


Dia pergi sendirian menyusuri jalanan setapak sambil matanya awas melihat kesemak-semak.


Dia paling pandai jika disuruh menangkap kelinci.


Maka saat malam hampir gelap, para kawanan kelinci mulai pulang kerumah mereka disemak-semak.


Eduardo sudah menunggu di belakang pohon besar. Membuat busur dari kayu apa saja yang dia temukan. Dia akan menggunakan sedikit kekuatanya untuk menangkap semua kelinci itu.


Ada sepuluh kelinci yang bersiap untuk masuk. Tiba-tiba Eduardo mengangkat satu tanganya dan menunjuk pada beberapa kelinci dan membuat kelinci itu berjalan kamar dan bahkan tidak bisa berjalan sama sekali.


Sebuah sinar putih kebiruan seperti gumpalan air laut yang bergulung membuat kelinci itu berat untuk melangkah.


Maka saat itu Eduardo menyadari jika dia memiliki beberapa elemen kekuatan dari batu permata yang menyatu dengan tubuhnya.


Dia segera berjalan dengan cepat sekali dan menangkap semua kelinci itu.


Dia mengikat mereka semua dengan tali dari pelepah pohon pisang.


Semua kelinci berhasil dia dapatkan, ada sekitar 11 ekor.


Eduardo tersenyum puas dan akan membawa semua kelinci itu pada Roky dan temannya. Namun saat dia akan berbalik, sebuah senapan sudah diarahkan ke dahinya.


Dua pria berbaju hijau biru, menggertaknya. Satu temanya mengarahkan senapan tepat di dahinya.


Eduardo menarik nafas panjang dan tidak menduga jika dia akan diketemukan oleh mereka.


Namun tiba-tiba dua orang berbaju merah datang dan menembak dua orang berbaju hijau tadi.


Dor!

__ADS_1


Dor!


Dua orang itu tertembak dan kesempatan itu digunakan oleh Eduardo untuk bersembunyi dalam gelap.


__ADS_2