
Andy mengandeng Diana saat dia lihat Diana berjalan kearahnya dengan anggun. Diana tersenyum pada semua tamu yang hadir. Andy menyambutnya dan mengajaknya duduk dikursi pengantin berwarna putih terukir indah yang sudah dipersiapkan.
Diana berhasil memukau semua tamu yang hadir.
Seorang tamu disebelah Tuan Harun Malik bertanya padanya.
"Dia cantik sekali, putramu benar-benar tidak salah memilih pendamping, tapi siapakah dia?"
"Ohh, itu, putraku mengatakan dia anak seorang pebisnis. Dan begitu mereka menikah orang tuanya melakukan perjalanan bisnis, dan tidak bisa datang kemari."
"Ohh, ya, dia benar-benar tepat memilih pendamping yang akan medatangkan seorang pewaris untukmu,"
"Benar, aku sudah tidak sabar menunggu kehadirannya,"
"Oh ya, dimana Robert, aku tidak melihatnya?"
"Mungkin masih didalam bersama ibunya," ujar Tuan Harun Malik.
Tamu disampingnya tampak mengangguk dan menyapu kesekeliling.
Semua tamu adalah pebisnis dan pejabat. Tidak ada orang biasa yang diundang. Dan hampir dari semua yang datang mereka saling mengenal karena rata-rata mereka rekan bisnis.
Dikamar Robert, Amaya menyiramkan air pada wajah putranya.
"Bangun Robert! Hargai ayahmu!"
Robert kaget saat terasa dingin pada wajahnya. Dia mengucek matanya perlahan dan membukanya pelan.
"Ohh, ibu, sudah kuduga, kenapa ibu menggangguku. Biarkan aku tidur," kata Robert dengan suara parau."
"Ibu tidak mau tahu. Cepat mandi dan pakai baju yang bagus. Setelah itu keluarlah! Ibu tunggu diluar, para tamu pasti akan mencarimu!"
"Iya, Ibu yang terbaik," Jawab Robert dengan malas dan tersenyum kecut pada dirinya sendiri.
Ibunya segera memanggil pelayan untuk datang dan membereskan kamar putranya.
Beberapa pelayan datang dengan cepat dan dalam waktu sebentar kamar itu sudah bersih seakan tidak terjadi apa-apa.
Pulih seperti semula dengan hiasan yang sama, vas yang sama, karpet yang sama, setiap pelayan sudah dilatih dengan cekatan dan memegang tugasnya masing-masing.
Robert pergi kekamar mandi dan tidak lama kemudian pelayan sudah berbaris dipintu kamar mandi, satu pelayan mengganti handuk yang basah dengan handuk kering, pelayan disebelahnya menyerahkan baju untuknya, pelayan disebelahnya merapikan rambutnya, dan pelayan yang terakhir memakaikan kaos kaki dan sepatu untuknya.
Robert menyunggingkan senyum menyeringai dan keluar dari kamarnya setelah rapi. Sementara para pelayan mengeringkan kamar mandinya dan membersihkanya.
Robert berjalan dengan tegak dan seorang tamu yang tidak asing karena mereka baru saja membuat kesepakatan bisnis berbicara padanya.
"Kenapa bukan kau yang menikah lebih dulu? Keturunannya akan menjadi pewaris dengan jumlah kekayaan yang fantastis?" Gurau temanya sekaligus rekan bisnisnya. Tamunya tahu betul jika hubungan Robert dan Andy hanya kamuflase.
Mereka terlihat biasa diluar tapi saling menikam dari belakang.
"Ya, kali ini dia satu langkah lebih cepat dariku. Tapi kau tahu, itu tidak akan mengubah apapun. Lihat saja, dia akan membuat kesalahan. Aku tahu itu, kebahagiaan nya hanya sementara," Robert menyeringai dan berlalu.
Dia melewati beberapa tamu dan nampak wartawan memotretnya begitu dia keluar hingga dia berjalan kemanapun, dia tidak luput dari sorotan wartawan.
Semua orang sudah tahu jika Tuan Harun Malik sangat bangga pada Robert, karena bisnis yang dia kendalikan dan dia memang lebih populer dibandingkan Khan, adiknya yang jarang muncul dipublik.
Dan tentu saja berita pernikahan Khan langsung membuat publik heboh, apalagi mendapatkan Diana, gadis berparas cantik jelita yang kecantikanya terlihat sangat alami.
Seorang wartawan berhasil menemui Robert dan bertanya padanya. Saat ini Robert ada diluar acara pesta menunggu kedatangan seseorang. Tapi rupanya yang dia tunggu tidak datang, dia adalah Norman, Robert akhirnya berbalik dan malah berpapasan dengan wartawan.
__ADS_1
"Kami pikir, ini pernikahan anda, tapi ternyata Tuan Khan lah yang menikah. Ini sangat mendadak, bagaimana perasaan anda, melihat adik anda menikah lebih dahulu?"
"Saya ikut bahagia untuknya," jawab Robert dan segera berlalu.
"Tunggu Tuan Robert,"
"Maaf, saya buru-buru...." Robert segera bergabung dengan keluarganya.
Dia menatap Diana yang cantik bak bidadari yang baru saja turun dari langit. Robert terus menatap Diana tak berkedip. Apa yang dilihatnya diperhatikan oleh Amaya.
"Dia cantik bukan?" Ibunya berjalan kearah Robert dan tiba-tiba sudah ada disampingnya.
"Ya, sangat cantik,"
"Ternyata Andy punya selera yang tinggi,"
"Aku malas membahasnya," kata Robert dan mengambil satu gelas minuman, tapi ibunya menahanya.
"Tidak hari ini. Jangan membuat kesalahan yang akan kau sesali," Akhirnya Robert menaruh kembali minuman itu dan ibunya memberi isyarat untuk tetap terlihat baik selama acara berlangsung.
"Banyak wartawan dimana-mana, jangan membuat kesalahan," ibunya segera pergi setelah berpesan pada putranya. Amaya lalu bergabung dengan suaminya dan berbincang dengan beberapa tamu yang hadir.
Acara sudah selesai dan Andy serta Diana beristirahat dikamar Andy yang sudah dihias oleh para pelayannya.
Diana terlihat sangat senang dan langsung melompat keranjang, dan meraih bunga lalu menaburkannya ke udara.
"Fantastis! Pesta yang meriah dan kamar yang indah, terimakasih, sebenarnya ini adalah impianku, dan kau mewujudkannya, terimakasih Andy," Diana lalu berlari kearah Andy yang berdiri dan memeluknya. Diana lalu mencium Andi dan Andi membalas pelukannya.
Andy berusaha menghadirkan Diana didalam hatinya, bagaimana pun Diana sudah resmi menjadi istrinya. Jika awalnya dia menikah karena janji dan keinginan untuk mengetahui rahasia nenek moyangnya lebih jauh lagi, tapi dia juga tidak sampai hati jika mematahkan hatinya.
Bersikap setengah hati itu lebih sulit, dan Andy mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit untuk lebih respect terhadap istrinya.
"Aku akan berganti baju, baju ini sangat berat, dan riasan ini, membuat kepalaku pusing," kata Diana yang tidak terbiasa dengan segala kosmetik berbahan kimia. Dipulaunya dia tidak pernah menggunakan segala macam bedak dan kosmetik apapun, karena memang tidak ada.
"Mandilah," kata Andy dan Andy dengan setia menunggunya sambil memikirkan apa langkah selanjutnya yang harus dia lakukan.
Andy lalu browsing apa saja yang harus dilakukan suami saat malam pertama, dia tidak pernah membaca atau berbicara romantis sebelumnya.
Dia bahkan tidak pernah berpikir akan menikah secepat ini. Dia tidak ingin Diana kecewa padanya karena saat dipulau dia sudah menolaknya dan menunda bulan madunya.
Andy membaca beberapa artikel untuk menyenangkan istri saat berbulan madu. Mulai dari memuji kecantikannya, menatapnya dengan lama, memberinya hadiah kecil, menyisir rambutnya setelah dia mandi, dan mulai memijat kakinya, jika dia merasa lelah akibat pesta.
"Apakah aku harus melakukan semua itu? Apakah harus seperti itu agar dia merasa senang?" Andy berbicara seorang diri.
Diana keluar dari kamar mandi dan menatap heran pada Andy.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Diana dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Dia tidak terbiasa menggunakan hairdryer, dia juga lupa bertanya pada Andy bagaimana cara menggunakannya, akhirnya dia menggunakan handuk untuk mengeringkan rambutnya yang panjang.
"Kemarilah," Andy berdebar saat mulai melakukan seperti apa yang tertulis di artikel itu.
Diana berjalan mendekatinya,
"Duduklah disini, aku akan membantumu mengeringkan rambutmu," kata Andy dan membuat Diana terpana. Ada apa dengannya, batin Diana dalam hati.
Tapi Diana tetap duduk didepan kaca rias seperti yang di inginkan Andy.
Andy mulai mengeringkan rambut Diana dan menatapnya lama dikaca. Ada apa dengannya, batin Diana sekali lagi. Dia terlihat berbeda, apakah kali ini berarti dia sudah siap? pikir Diana.
Andy lalu memuji kecantikannya." Kau terlihat sangat cantik tanpa riasan seperti ini?" Diana tersipu malu saat tiba-tiba Andy memuji dirinya. Kali ini dia yakin, pasti Andy sudah siap berbulan madu.
__ADS_1
Andy berusaha tetap tenang meskipun dia gemetar saat memegang sisir, dan hal itu terlihat oleh Diana.
"Apakah kau sakit, tanganmu bergetar?"
"Benarkah? Oh, ya, mungkin aku kelelahan, jadi tanganku bergetar," kata Andy dan berusaha menenangkan bersikap tenang dan menarik nafas agar gemuruh didalam hatinya mereda.
"Kau terlihat aneh malam ini,"
"Maksudmu, aku terlihat jelek?"
"Bukan begitu, tapi kau tidak seperti Andy yang biasanya,"
"Ohh, itu, itu, ya, karena ini malam bulan madu kita. Jadi aku ingin membuatmu bahagia," kata Andy tiba-tiba terlontar begitu saja tanpa dia sadari.
Diana langsung berbalik dan mengajaknya ke ranjang. Andy hanya menurut saja dan gemuruh dihatinya semakin menjadi-jadi.
Diana lalu duduk disamping Andy, dia memegang tangan Andy dengan erat.
"Ini seperti mimpi bagiku. Rumah mewah seperti istana atau sebuah kerajaan, pesta yang meriah dan kamar yang indah. Aku menyukai semuanya. Kecuali satu, kau membuat jantungku berdebar dengan sikapmu,"
"Maksudmu?"
"Tiba-tiba kau menjadi sangat romantis, dan itu membuatku merasa ada sesuatu,"
"Kau tidak suka?"
"Ehm, aku suka, tapi...." Diana lalu mencium pipi Andy dan tersenyum lekat padanya.
Mereka lalu berguling diatas tempat tidur dan saling bertatapan. Andy menatap Diana dan dia memang mengagumi kecantikannya dibalik sikap bar-bar nya selama ini.
Diana merangkul Andy dan mulai menceritakan apa yang dia alami saat para perompak itu menjualnya.
"Sebaiknya kau melupakan kejadian itu. Saat kau tiba-tiba menghilang, aku sangat mengkhawatirkan dirimu," kata Andy.
"Benarkah? Kau mengkhawatirkan aku?"
"Tentu saja. Kau adalah istriku, belahan jiwaku, jika kau tiba-tiba hilang, aku menjadi suami yang tidak bertanggung jawab,"
"Kau lalu pergi mencariku?" tanya Diana.
Andy mengangguk dan mulai memejamkan matanya.
"Kau mengantuk?" tanya Diana
Andy sebenarnya sangat lelah dan mengantuk, tapi dia menggelengkan kepalanya.
"Jika kau mengantuk tidurlah," kata Diana.
"Tapi, ini....malam bulan madu...." Kata Andy sambil menahan mata yang semakin berat.
"Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan, aku bisa memahamimu," kata Diana dan saat dia menoleh Andy sudah lelap tertidur.
"Dasar," Diana tersenyum lucu.
"Bersikap sok romantis dan sekarang dia benar-benar tertidur," Diana bergumam dan menggerakkan tangannya dimuka Andy.
Saat Andy diam tak bergerak, Diana yakin jika dia benar-benar tertidur.
Diana lalu menggelengkan kepalanya dan tertidur juga disamping Andy.
__ADS_1