Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
SEASON 2-5


__ADS_3

Eduardo berjalan dengan cepat menyusuri lorong goa untuk menemukan kelima anak buah Roky.


Bison dan teman-temannya sampai di pintu keluar, namun rupanya begitu sampai diujung ada sebuah lobang besar yang membuat mereka keluar dari goa itu.


Ujung jalan itu sungguh berbeda dengan ujung jalan yang dipilih Eduardo.


Jalan yang dipilih Eduardo menghubungkan dari tengah Goa ke arah pantai, sedangkan jalan yang dipilih Bison membuat mereka terjebak semakin kedalam.


Karena tidak ada satupun anak buah Roky yang bisa ditemukan, maka Eduardo lalu keluar dengan hati-hati dan waspada.


Dia berjalan diantara semak-semak belukar.


Dan betapa terkejutnya Eduardo saat melihat Bison dan teman-temannya sedang digiring oleh para anggota perang tersebut.


Mereka semua menodongkan pistol pada pelipis dan kadang menendang kelima temannya.


Eduardo menjadi cemas melihat nasip yang akan menimpa kelima anak buah Roky itu.


Jika mereka sampai kedalam markas, maka akan lebih sulit lagi untuk membebaskannya.


Eduardo mencari cara agar bisa melawan para anggota perang itu dan membebaskan mereka semua.


Berpikir Eduardo! Berpikir!


Hatinya terus membisikkan kata itu kedalam otaknya. Agar otaknya bisa berfikir dengan cepat kali ini karena sudah tidak ada waktu lagi.


Eduardo menganggkat kedua tanganya. Dia melihat telapak tangannya.


"Aku punya kekuatan, bagaimana jika aku mencobanya?" Eduardo berkata sambil melihat mereka yang berjalan menjauh.


Dia segera mengucapkan mantra, kedua telapak tangannya berputar seakan memutar bola namun bukan bola. Seperti udara kosong atau energi tidak terlihat.


Dia benar-benar fokus melakukanya. Dan tiba-tiba daun-daun beterbangan. Angin bertiup dengan kencang seakan semua angin di arahkan kearahnya.


Bahkan angin kencang itu membuat para anggota perang itu tidak mampu melangkahkan kakinya dan berjalan mundur ke arah Eduardo.


Mereka sungguh heran dan kaget, karena tiba-tiba ada angin yang sangat kuat dan mampu mendorong tubuh mereka semua mundur.


Bison dan ke empat temannya menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Mereka masuk kedalam goa setelah melihat jika Eduardo yang menghalau angin dan mengendalikannya.


"Anak muda itu ternyata sungguh hebat," kata Bison dan dijawab anggukan oleh teman-temannya.


Eduardo masih mengendalikan arah angin dan begitu tanganya diputar, maka angin yang dia tangkap pun berputar sesuai gerakan tangannya.


Eduardo memutar tangannya lebih cepat dan angin itu berubah menjadi put*ng beliung dan menggulung para anggota perang hingga mereka pusing dan begitu angin itu berhenti, mereka semua pingsan ditempat dan bertumpuk seperti kayu bakar.


Eduardo segera pergi meninggalkan mereka semua dan masuk kedalam goa.


"Ayo ikut denganku, kita akan keluar dari tempat ini dengan selamat," kata Eduardo pada ke lima anak buah Bison.


Kesombongan dan keangkuhan Bison mulai memudar saat melihat kesaktian Eduardo dan menurutnya bisa diandalkan dalam keadaan genting.


"Kami salah, karena tidak percaya padamu,"


"Ya, aku memaafkan kalian, Ayah dan kawan-kawan menunggu kalian," kata Eduardo yang sudah diangkat anak oleh Roky.


Mereka sampai dipintu berbentuk bulat itu dan Eduardo segera membukanya dengan tenaga dalam.


Pintu bergeser dan Eduardo meminta mereka berlima masuk lebih dulu. Setelah itu, baru Eduardo menyusul dan menutup pintu itu dengan bantuan kekuatanya.

__ADS_1


"Syukurlah kalian tidak papa," Kata Roky menatap anak buahnya.


"Kami tertangkap, dia menyelamatkan kami," kata Bison.


"Bagaimana kalian bisa sampai tertangkap?" tanya Roky.


"Dia keluar pertama kali dan terlihat oleh seorang pasukan yang sedang patroli. Mereka lalu mendekati kami melalui semak-semak tanpa kami sadari. Dan begitu keluar dari goa, kami tertangkap oleh mereka," Bisone menceritakan awal mula dirinya bisa tertangkap.


"Syukurlah kalian selamat," Roky menepok bahu Bison yang berdiri disebelahnya.


"Eduardo melakukan hal yang mustahil, entah bagaimana dia melakukanya. Angin tiba-tiba bertiup kencang dan terdorong kearahnya. Mereka ada dalam gulungan beliung lalu setelah angin itu berhenti, mereka jatuh ke tanah bertumpuk seperti kayu bakar,"


Roky mangangguk lalu melirik Eduardo dan tersenyum padanya. Saat ini Eduardo sedang memeriksa tangan robotnya.


"Ayo kita kearah sana," Kata Roky lalu mereka mengikuti lorong itu hingga sampai digoa didekat pantai.


Tidak terdengar bunyi tembakan, tidak juga terdengar bunyi bom.


"Tempat ini sepertinya aman," kata Roky lalu mengajak mereka semua untuk keluar.


Begitu sampai diluar, mereka semua menghirup udara segar sepuasnya. Setelah didalam udara terasa panas dan pengap.


"Tidak ada siapapun," kata Roky pada Julio dan Roger.


"Bahkan tidak ada satu kapal pun yang bisa kita gunakan untuk kembali,"


"Kembali kemana maksudmu?"


"Ke desa kita. Kita kembali saja," kata Roky karena ternyata usahanya merubah nasib tidak berhasil. Dan malah membuat mereka ada dalam bahaya.


"Aku tidak setuju. Sebaiknya kalian berusaha sekali lagi," kata Andy yang masih ingin berpetualang.


Semua menolah kearahnya.


Eduardo berfikir bagaimana agar mereka semua setuju untuk berpetualang bersamanya.


"Harta Karun, bagaimana kalau kita cari sekali lagi. Firasatku mengatakan jika kita akan berhasil."


Roky mengerucutkan bibirnya. Dia menatap semua anak buahnya.


"Kemana?" tanya Julio.


"Dipulau yang tidak pernah didatangi manusia. Aku pernah tersesat disana. Bagaimana kalau kita kesana," kata Eduardo menunjuk pada arah yang berlawanan.


"Kau yakin, disana ada harta karunnya?"


"Ya...jika bersama mencarinya pasti ada. Aku pernah mendengar seseorang menyimpan harta Karun disana," kata Eduardo.


Padahal yang dimaksud Eduardo adalah ayah kandungnya sendiri. Dia pernah mendengar pembicaraan tentang harta karun antara ibu Diana dan Ayah Andy.


Maka dia ingin membuktikanya dengan bantuan teman-temannya.


"Baiklah, mari kita adu nasib sekali lagi. Jika ini gagal maka kita akan kembali ke desa. Bagaimana, apakah kalian setuju?" tanya Roky melihat anak buahnya satu persatu.


"Baiklah, kami ikut denganya..." Karena mereka semua sudah setuju, maka perjalanan kali ini akan lebih menyenangkan.


"Bagaimana caranya kesana?"


"Kita tunggu ada kapal yang lewat, setelah itu kita akan membajaknya," kata Roky menatap pada Eduardo.

__ADS_1


Eduardo tersenyum dan setuju, mereka akan benar-benar menjadi bajak laut kembali.


Mereka terus duduk diatas batu dan merasakan teriknya matahari.


Beberapa dari mereka tidur diatas batu berukuran besar dan tidak peduli pada matahari yang membakar kulit mereka.


Seharian disana dan tidak ada satupun kapal yang lewat.


Mereka merasa lapar sementara hari semakin gelap.


"Bagaimana ini? Tidak ada satupun kapal yang tersesat kemari?"


"Kita tidak boleh putus asa. Pasti akan ada seseorang yang singgah kemari," kata Eduardo pada Julio yang cemas.


"Aku sangat lapar, sebaiknya kita menangkap ikan untuk makan malam," kata Roger menatap pada Eduardo.


Berharap Eduardo bisa menangkap banyak ikan sebagaimana dia menangkap banyak kelinci.


Mereka tidak punya pancing atau apapun yang bisa digunakan untuk menangkap ikan.


Mereka semua menatap pada Eduardo.


Eduardo mendongakkan kepalanya dan membalas tatapan mereka semua dengan menarik sudut bibirnya kebawah.


"Oke, siapa yang mau ikut denganku? Aku yang menangkap, kalian yang membawanya," kata Eduardo.


"Aku akan ikut denganmu," kata Julio, Roger dan juga Bison.


Mereka berjalan ke pantai dan Eduardo mulai menyelam. Tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan di ikuti ikan.


Ikan ada dikakinya mengikutinya. Semua itu karena kekuatan ajaib kalung itu.


Maka Eduardo segera menangkap semua ikan yang mengikutinya dan memberikanya oada teman-temannya.


"Untunglah ada daun pisang ini. Setidaknya kita bisa membawanya dengan mudah," kata Julio yang memetik daun pisang sebelum menangkap ikan.


"Ayo, lemparkan lagi!" Teriak Roger pada Eduardo.


Eduardo menangkap ikan dengan sangat mudah. Begitu tanganya di masukkan kedalam air, maka ikan seperti menempel di telapak tangannya.


Teman-teman nya mengaguminya dan heran dengan kelebihan yang dia miliki.


Mereka lalu kembali ke rombongan yang sudah menyiapkan api unggun untuk membakar ikan-ikan itu.


Mereka membersihkan ikan dengan cepat lalu memanggangnya.


Eduardo bangun sebentar karena melihat sarang lebah, dan mengusir para lebah itu lalu mengambil madunya.


Haaapp!


Kena kau!


Para lebah beterbangan dan Eduardo mengambil sarang madunya.


"Gunakan ini baru enak," kata Eduardo pada Julio dan Roger.


"Haha, kau benar-benar jenius, kami tidak melihat ada madu, tapi kau melihatnya," kata Roger.


Eduardo lalu mengoleskan madu pada ikan yang hampir matang. Dia juga membakar sarang madunya setengah matang lalu memakannya.

__ADS_1


Saat asyik makan, dari jauh ada sebuah cahaya bulat. Dan semakin lama semakin jelas. Ternyata itu adalah kapal dan didalamnya ada seorang gadis sendirian.


Kapal itu tersesat dan mendekati mereka yang sedang menyalakan api unggun.


__ADS_2