
Eduardo mengerakkan kedua tangannya kedepan, seperti membuay adonan kue sambil mengucapkan mantra, setelah itu dia memegang kalungnya.
Dan tiba-tiba kabut sudah menyelimuti tempat itu, dan seakan awan hitam dari langit turun kebawah. Membuat mata mereka tidak bisa melihat apapun. Mereka semua lalu mengentikan aktivitas sementara waktu karena kabut tebal itu membuat sekitarnya menjadi gelap.
Eduardo menarik Jason keluar perlahan, menyelinap lalu berlari dari tempat itu. Dan terus berlari sampai ke tempat yang terang dan tidak ada kabut lagi.
Lalu mereka pergi ke semak-semak dimana Delilah dan dua temanya ada disana.
Begitu Eduardo berhasil kabur, kabut yang awalnya menyelimuti seluruh kamp para prajurit menghilang terbawa angin.
Semua pekerja paksa dan juga para prajurit lalu kembali beraktifitas.
Para Prajurit nampak memperhatikan setiap pekerja. Karena Jason bertubuh besar dan juga ada dibagian persiapan makanan, maka saat dia tidak ada disana, para prajurit lalu saling berpandangan.
"Dimana pria gemuk itu? Kenapa tidak menyiapkan makanan?" tanya prajurit pada warga didekatnya yang juga ada dibagian makanan.
"Tadi ada disini, mungkin kekamar mandi," jawab pria itu yang juga tidak tahu jika Jason telah kabur bersama Eduardo.
Setengah jam kemudian, Jason tidak juga terlihat datang. Seorang prajurit memeriksa kamp dan juga kamar mandi.
Lalu berlari kecil menghampiri temannya.
"Kamp dan kamar mandi kosong, dia tidak ada disana," lapor prajurit itu pada temanya.
"Jika begitu, ayo kita cari dia! Jangan sampai dia melarikan diri!" Teriak prajurit itu dan didengar oleh warga yang bekerja di sana.
Beberapa orang tersenyum lega dan puas. Ternyata ada yang punya nyali untuk kabur dari sini, gumam mereka dalam hati.
Beberapa prajurit lalu mencari Jason keluar dari kamp. Mereka mencari ke hutan. Sementara saat ini Jason sudah bertemu dengan Delilah.
Jason langsung memeluk putrinya.
"Ayah....." Mereka berpelukan.
"Kau mencari ayah?" tanya Jason mengusap rambut Delilah.
"Bagaimana ayah bisa tertangkap?"
"Ceritanya panjang, ayo segera keluar dari tempat ini, mereka mungkin sudah menyadari jika ayah hilang. Dan pasti sedang mencari ke hutan," terang Jason mengajak mereka semua meninggalkan tempat itu.
Mereka lalu berjalan mengendap-endap dan tetap awas meninggalkan para tentara itu.
__ADS_1
Mereka sampai di kapal milik Delilah yang di taruh agak jauh dari daerah konflik.
"Ayah, cepat naik kemari!" Teriak Delilah karena ketakutan akan tertangkap oleh para prajurit.
Delilah dan ayahnya naik duluan. Lalu disusul, Eduardo, Roger, dan Julio.
Mereka berlayar ke kampung Nelayan.
Begitu sampai di kampung Nelayan, Delilah segera turun dan diikuti oleh teman-temannya.
"Wow, disini banyak kapal," kata Julio kagum karena banyak sekali kapal teronggok tidak terpakai.
"Banyak warga yang merantau ke kota, dan meninggalkan kapal mereka disini, tidak dipakai lagi,"
"Ayo, kalian pilih, kapal mana yang kalian sukai, semua kapal disebelah sana tidak terpakai lagi," Seru Delilah.
"Iya, kalian boleh memakainya," kata Ayahnya.
Delilah tersenyum pada Eduardo dan mulai ada getaran dihatinya.
Dia menyukai Eduardo karena keberanian dan sudah membantunya.
Delilah lalu menemani Eduardo memilih kapal yang dia suka.
"Tidak, kita tidak akan berjumpa lagi. Aku hanya tersesat disini, dan setelah aku mendapatkan apa yang aku impikan, aku akan menetap, dan tidak datang kemari, seperti kau bilang, tidak akan ada bajak laut kemari bukan?"
"Hehe, iya, karena tidak ada harta benda yang Menarik perhatian mereka," kata Delilah malu-malu.
"Aku memilih yang ini," kata Eduardo.
"Jika begitu, singgahlah kerumah kami sebentar. Biarkan kami menjamu mu. Ajak semua teman kalian kemari, aku dan ayah akan memasak makanan yang enak sebelum kalian berlayar kembali," kata Delilah yang rupanya masih kangen dengan Eduardo sejak menyadari hatinya bergetar.
Eduardo menatap mata gadis itu. Sepertinya gadis itu berharap sekali agar mereka datang dan makan dirumahnya.
"Baiklah jika begitu, sementara kau masak maka aku akan menjemput ayah angkat dan teman-temannya," sahut Eduardo.
"Iya, terimakasih," kata Delilah lalu reflek memeluk Eduardo.
Eduardo yang dipeluk tiba-tiba, menjadi kaget. Seumur hidupnya dia belum bersentuhan dengan wanita sedekat ini. Dia masih remaja yang beranjak dewasa, dan ini masih tabu baginya.
"Ehem," Saat getaran terasa dihati Eduardo maka kedua temanya datang dan memberikan suara isyarat. Eduardo malu begitu juga Delilah.
__ADS_1
Delilah langsung berlari ke rumahnya.
"Kau diam-diam menghanyutkan," kata Julio dan di ikuti anggukan kepala oleh Roger.
Karena malu, Eduardo mengalihkan.
"Ayo kita jemput semua kawan-kawan. Delilah mengundang kita semua untuk makan sebelum berlayar kembali,"
"Makan?" Tanya Julio dan Roger yang memang merasa lapar.
"Ya," jawab Eduardo melihat air liar dikedua temanya mengalir membayangkan makanan lezat.
"Ayo kita bawa kawan-kawan, mereka pasti juga kelaparan," kata Roger segera naik keatas kapal. Eduardo dan Julio juga naik.
Mereka lalu menyusul teman-temannya, dan akan memboyong mereka semua kemari.
Sementara Ayahnya sedang membersihkan wajan besar untuk memasak. Delilah duduk disampingnya.
"Ayah, Delilah sungguh bosan disini,"
Ayahnya menoleh.
"Bosan? Dikampung kelahiranmu sendiri, bagaimana bisa merasa bosan?" Ayahnya terkejut.
"Bagaimana kalau kita pergi bersama mereka mencari harta karun, aku sungguh ingin melihat dunia luar, dan aku khawatir konflik akan sampai kemari, lihatlah, para penduduk mulai pindah ke kota dan meninggalkan kapal-kapal mereka."
Ayahnya tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Putriku, sepertinya sedang jatuh cinta, apakah kau suka pada salah satu pemuda itu?" Gurau ayahnya.
"Ayah....kenapa tanya hal seperti itu. Mana bisa jatuh cinta pada pria asing yang baru dikenal,"
"Dengarlah putriku, seseorang yang jatuh cinta, selalu merasa tidak nyaman dirumahnya sendiri, dan ingin pergi bersama orang yang dia cintai, seperti kau, yang tiba-tiba merasa bosan di tanah kelahiran sendiri,"
"Ehm, itu....itu...karena...."
Delilah sungguh malu berterus terang pada ayahnya jika dia menyukai Eduardo.
"Yang penting, kau harus menjaga diri, itu pesan ayah, kau sudah dewasa, dan kau mungkin mulai tertarik dengan lawan jenis. Maka, kau tetap harus waspada, mereka adalah para pria asing,"
"....."
__ADS_1
Delilah terdiam.