Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Langkah ke sepuluh


__ADS_3

Andy berniat pergi ke pulau setelah semua pekerjaan dia serahkan pada semua divisi. Andy akan mengajak Diana berlayar untuk mengambil sisa emas yang tersisa dipulau itu.


Emas itu nanti akan dibawa untuk membiayai bisnisnya yang baru. Dia juga mau melihat keadaan Naina dan mau mencari tahu keadaan ayahnya.


Malam ini Andy sedang membicarakan keinginanya itu pada Diana dirumahnya.


"Kita akan ke pulau besok pagi setelah sarapan," ujar Andy sambil menatap wajah Diana.


"Aku ikut denganmu bukan?"


"Ya, tentu saja. Mana mungkin aku meninggalkanmu disini. Kita akan pergi berdua saja."


"Sony dan Lewis tidak ikut?"


"Tidak. Mereka akan menjaga keamanan para warga dan ketertiban disini."


"Baiklah, sekarang aku ingin tidur, aku sangat mengantuk. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan dirimu," kata Diana.


"Maafkan aku, apakah itu sebabnya kau meminta diantar pulang kemari?"


"Ehm, iya," kata Diana sambil berdiri. Andy juga ikut berdiri dan mereka berjalan kekamarnya.


Keesokan harinya Andy sudah menyiapkan semuanya dan bekal selama dalam perjalanan. Diana juga sudah siap dengan baju yang lebih elegan dan nyaman.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Andy saat dia lihat Diana sudah rapi.


"Iya, aku sudah mengunci kamar dan membersihkan dapur," kata Diana.


Andy lalu naik kemobilnya dan akan pergi ketempat dia menitipkan kapalnya pada seorang saudagar yang kaya.


"Tuan, aku pikir kau kemana karena kau bilang hanya sehari dan ini sudah beberapa hari." Kata pria itu.


"Maafkan saya pak, ini saya bayar kekuranganya." kata Andy sambil memberikan sejumlah uang.


"Lain kali kau boleh menitipkanya kembali disini. Aku menjaganya dengan baik. Dan kapalmu akan aman disini," kata Pria itu setelah mendapatkan uang tambahan dari Andy.


"Tentu saja pak," sahut Andy tersenyum karena kapalnya dalam kondisi bersih dan terawat selama dia tinggalkan bersamanya.


"Lain kali aku akan menitipkanya padamu lagi,"


"Ya, Tuan, dengan senang hati," sahut pria itu dengan wajah gembira. Bagaimana tidak? Dia membayar mahal dan baginya tidak ada yang lebih penting selain uang.


Andy segera meninggalkan tempat itu dan berlayar semakin jauh ketengah samudra. Lama kelamaan dia mulai hafal rute yang harus dia lewati.


Kapal itu memiliki kecepatan hampir sama dengan pesawat terbang, maka dia hanya menempuh satu malam untuk sampai dipulau dimana dia mendapatkan harta karun dari sumur itu.


"Kita sudah sampai Diana. Ayo kita ambil peti itu," kata Andy sambil mengulurkan tangan pada Diana.


Mereka berjalan kepinggir menyusuri jalan yang sudah mereka tandai menuju kearah sumur itu. Sekarang setelah menemukan tanda masuk kedalam hutan, maka mereka mulai berhati-hati.


"Kau membawa senjata?" tanya Diana seakan dia mencium aroma serigala.


"Aku membawa senapan," sahut Andy.


"Ada yang berjalan kearah kita. Aku mencium aroma serigala." Kata Diana dan memejamkan matanya sesaat. "Mereka semakin dekat, hati-hatilah Andy, mereka mungkin tidak sendirian," kata Diana.


"Ya, aku mengerti."


"Mereka disana!" Diana berteriak saat melihat kawanan serigala berlari kearahnya dan juga Andy.


Andy segera membidikkan senapannya dan menembaki barisan paling depan.


Dor! dor! dor!


Dor! dor! dor!


Dor! dor! dor!


Sebagian peluru mengenai tubuh serigala dan mereka merosot kejurang. Dan tinggal lima ekor serigala dibarisan paling belakang.


Andy kehabisan peluru dan terpaksa harus melawan mereka.


"Lari Andy!" Teriak Diana yang siap untuk berlari.


"Tidak! Aku harus menghadapinya. Mereka pelari yang handal!" kata Andy


Andy bersiap melawan sisa serigala itu. Sementara Diana dengan cepat menyelamatkan diri dengan naik ke pohon. Diana lalu mematahkan sebuah ranting panjang dan dia melemparkannya pada Andy.


"Andy! Tangkap!"

__ADS_1


Andy dengan cepat menangkap ranting yang dia jadikan tongkat pemukul


Andy mulai memutar tongkatnya dan melakukan konsentrasi tingkat tinggi. Andy sadar kuku mereka tajam dan gigitannya mematikan.


Andy harus lebih berhati-hati kali ini. Dia mulai memukul sambil melompat ke udara dan melompat dua meter dibelakang para serigala yang mengelilinginya.


Plak! plak! plak!


Mereka kesakitan tapi tetap masih menyerang dengan lebih ganas. Dua ekor serigala meloncat kearah kepala Andy. Sasarannya adalah leher Andy, dua serigala itu ingin melumpuhkan bagian leher Andy dan menggigitnya agar lawannya mati.


Namun Andy dengan cepat mengayunkan tongkatnya dan membuat dua serigala itu terlempar tiga meter. Mereka masih belum mati. Mereka terluka tapi tetap berusaha menyerang Andy.


Tiga serigala menyerang bagian kaki. Andy menggunakan tongkatnya untuk melompat ke udara dan menghindari serangan tiga ekor serigala itu. Andy turun dan kakinya menendang badan serigala dengan kekuatan penuh.


Ketiga serigala itu mengerang kesakitan. Dan yang dua dengan cepat menyerang Andy begitu Andy baru menginjak tanah. Dalam posisi tidak siap, untunglah dia cepat mengayunkan tongkatnya dan menusuk dua serigala dibagikan perutnya.


Ujung ranting itu lumayan tajam. Dua serigala berhasil dilumpuhkan. Tersisa tiga serigala yang masih tetap berusaha menyerang meskipun sudah terluka oleh tendangan Andy.


"Majulah kalian!" Teriak Andy memutar tingkatnya lebih cepat dan hampir tidak terlihat. Dan saat ketiga serigala itu maju bersamaan Andy memukul mereka bertubi-tubi hingga mereka jatuh ketanah dan tidak bergerak lagi.


Andy mengamati ketiganya, dia khawatir ini hanya tipuan para serigala.


Setelah yakin mereka sekarat, Andy berteriak pada Diana agar turun dan melanjutkan perjalanan.


"Turunlah, mereka semua sudah mati." Teriak Andy sambil membuang tingkat itu.


Diana segera turun dan memungut tongkat yang dibuang oleh Andy. Diana lalu menggunakan tongkat itu untuk menyibakkan rumput yang tinggi.


"Ayo kita segera pergi dari sini. Mungkin ada binatang lain juga yang kelaparan," kata Andy.


Mereka lalu berjalan masuk kedalam hutan mengikuti petunjuk yang pernah ditinggalkan Andy pada setiap pohon yang akan menuntun mereka pada sumur tua.


"Apakah masih jauh?" Tanya Diana yang sudah berjalan dengan sangat lelah.


"Sebentar lagi sampai, ini tanda yang terakhir," sahut Andy.


"Itu dia sumurnya, ayo kita segera kesana!" Andy dan Diana bergegas pergi kearah sumur itu.


"Aku akan masuk kedalam," Andy segera melompat dan dia sudah mahir dalam urusan ini. Entah dari mana kekuatan itu berasal, dia bisa memanjat dinding sumur dengan tangan dan kakinya sambil membawa peti itu dengan tangannya.


Dia mengikatkan tali pada peti agar mudah membawanya.


"Apakah masih ada?" Tanya Diana saat andy membawa naik satu peti.


"Aku akan turun mengambilnya sekalian," Andy segera turun dan mengambil sisanya.


Tapi saat sampai dibawah dia menginjak sesuatu dan berbunyi seperti suara besi.


Andy lalu meminggirkan peti yang tersisa satu itu dan akan memeriksa apa yang baru saja dia injak.


Ternyata sumur itu mempunyai tutup lebar dan sepertinya sengaja dibuat oleh seseorang untuk menutupi sesuatu.


Andy segera menaikkan peti satunya lagi dan menyuruh Diana untuk naik ke pohon.


Andy sampai diatas sumur dengan peti yang kedua.


"Aku akan memeriksa kedalam sumur, mungkin butuh waktu lama. Naiklah kepohon. Aku khawatir jika akan ada binatang buas."


"Ya," sahut Diana tanpa banyak bertanya dan segera memanjat pohon didekat sumur itu.


Andy menyimpan kedua peti dengan menutupinya dengan dedaunan. Setelah itu dia turun kebawah dan akan memeriksa dasar sumur.


Andy membersihkan tanah yang menutupi atasnya. Perlahan tanah itu dia tumpuk dipinggiran dan Andy sangat terkejut saat melihat sumur itu ditutup oleh lempengan besi dan baja.


Andy yang sudah punya kekuatan, segera mengangkat besi dan baja itu dan berhasil membukanya.


Kali ini dia bukan hanya terkejut tapi sangat shock. Dia melihat begitu banyak emas didalamnya dan bersinar hingga dasar sumur yang tadinya gelap menjadi terang.


"Emas. Harta Karun. Ya, aku yakin ini pasti harta karun yang diincar para perompak itu. Aku menemukanya. Hahahaha! Jika begini, aku tidak perlu khawatir lagi! Aku akan menutupinya kembali. Lain kali aku akan datang untuk mengambilnya. Kali ini cukup. Disini adalah tempat yang paling aman untuk meninggalkannya," Andy segera menutup nya kembali dengan lempengan besi dan baja.


Setelah itu dia menutupnya dengan tanah.


Andy segera naik keatas dan tidak menceritakan hal itu pada Diana. Andy khawatir Diana mungkin akan menceritakan pada ayahnya jika bertemu nanti.


Andy lalu sampai diatas dan mulai mencari tanah untuk dilemparkan kesasar sumur.


Diana turun dari pohon dan bingung dengan apa yang dilakukan Andy.


"Mengapa kau melemparkan tanah kesana?"

__ADS_1


"Aku ingin menutupnya dengan tanah agar tidak terlalu dalam. Mungkin berbahaya jika ada orang jatuh kedalamnya,"


"Tidak pernah ada orang yang sampai kesini," sahut Diana.


"Mungkin saja suatu hari nanti ada yang tersesat." Kata Andy dan terus menggali tanah dan memasukkannya kedalam sumur.


Setelah merasa cukup maka Andy mengikat peti itu dan menyeretnya ke kapal boat miliknya.


"Ayo naik. Aku akan menemukan pulau kita." Kata Andy yang akan mencari arah pulau dimana Naina ada disana.


"Ya, apakah artinya sebelum pergi ke negara MX kita akan mampir dulu ke kampung halamanku?" Tanya Diana dengan ceria.


Seakan lelahnya hilang begitu mendengar Andy akan singgah dikampung halamannya, artinya Diana bisa bertemu keluarganya dan juga teman-teman masa kecilnya.


Setelah berfikir dan mencari arah akhirnya Andy melihat pulau itu. Dan setelah Andi pikir lebih dalam, ternyata pulau itu ada dibalik bukit dimana harta karun itu berada.


Andy berfikir apakah itu artinya mimpinya waktu itu adalah suatu petunjuk? Dan harta Karun itu benar-benar ada. Buktinya dia bermimpi sebuah sumur tua dan seorang kakek berjenggot putih hilang disana.


"Ya, itu pasti sumur yang ada dalam mimpiku," gumam Andy dan membuat Diana menatapnya lama.


"Apa yang kau bicarakan? Mimpi? Mimpi apa maksudmu?"


Andy lalu bercerita jika dulu dia pernah bermimpi melihat sumur itu. Dan ternyata sekarang dia sudah menemukan keberadaan sumur itu. Dan menemukan empat peti berisi emas didalamnya.


"Itu mungkin petunjuk dari nenek moyang, batu ini juga tidak begitu saja ditemukan. Memang sengaja diberikan agar kau gunakan dengan baik." Kata Diana sambil melihat batu dileher Andy.


"Dulu warnanya biru jernih, dan sekarang merah pekat hampir menjadi hitam. Kenapa bisa begitu?"


Diana terheran dengan perubahan batu dikalung Andy. Sementara Andy tidak ingin menceritakan jika kalung itu berubah warna karena dia sudah menghabisi banyak orang. Dan setiap kali tanganya kotor oleh darah manusia maka warnanya semakin menghitam dan pekat.


"Tidak tahu, mungkin memang seperti itu,"


Mereka sekarang sudah sampai dipinggir pulau.


"Kita sudah sampai. Kau sangat jenius, bagaimana kau bisa menemukan pulau kita?"


"Itu petunjuk nenek moyang," Andy mencandai Diana.


Diana lalu mencubit perutnya dan memeluknya sangat senang.


"Aduh!" Andy menjerit saat Diana mencubit perutnya.


Diana dan Andy segera turun dan menyeret peti itu kerumah Tetua. Mereka akan menitipkanya disana.


Dikampung ini uang dan emas serasa tidak berarti dan tidak bernilai? Tidak ada pertukaran uang. Mereka hanya bertani, berburu, dan meramu juga yang penting setiap hari mereka makan.


Mereka tidak membutuhkan uang dan emas. Semua pekerjaan dilakukan bersama dan dinikmati bersama. Kehidupan mereka sangat bergantung pada pertanian yang mereka usahakan sendiri untuk mencukupi makan satu kampung.


Mereka bercocok tanam untuk kebutuhan pangan. Mereka mencari ikan dan berburu untuk lauknya. Mereka memetik buah dihutan tanpa harus membelinya.


Mereka menebang kayu untuk membuat rumah mereka, bagi mereka kebersamaan adalah yang paling utama sehingga hidup mereka selalu damai tanpa ada permusuhan apalagi rebutan warisan.


Dan mereka jarang menerima orang asing, kecuali Andy dan Ali saja. Orang asing mungkin akan mengancam tata cara dan kebudayaan hidup mereka yang sudah berkembang bertahun-tahun lamanya.


Tetua yang memang sedang menunggu kehadiran Andy sangat senang akhirnya dia kembali.


Tetua yang merupakan ayah Diana lalu memeluk anak dan menantunya itu.


"Syukurlah kalian datang, sehingga bencana bisa dihindarkan?" Mendengar ucapan ayahnya Diana dan Andy saling berpandangan.


"Maksud ayah?" Tanya Diana.


"Ayah bermimpi yang sama beberapa hari ini. Andy, yang sudah kami anggap sebagai penyelamat, harus segera memberikan keturunan untuk warga kita. Jika tidak maka akan terjadi bencana."


"Itu tidak benar, itu mungkin hanya ...."


"Tidak nak Andy. Ini benar-benar pesan dari nenek moyang. Ini bukanlah sekedar mimpi bunga tidur semata. Tapi ini adalah petunjuk dari nenek moyang."


Tetua lalu melihat perut Diana.


"Apakah kau sudah hamil?"


"Apa? Kenapa ayah bertanya begitu, Diana sungguh malu," kata Diana dan wajahnya merah seketika.


Diana menggelengkan kepalanya dan artinya dia belum hamil.


"Nanti kau harus pergi ke Nyi Anker."


"Untuk apa ayah?"

__ADS_1


"Untuk memeriksa kondisimu. Ini sangat penting tidak bisa ditunda lagi. Apalagi kalian hanya singgah sebentar dan akan pergi lagi," kata Tetua menoleh pada Andy.


Andy mengangguk dan tidak ingin mengecewakan hati mertuanya akan keyakinannya.


__ADS_2