Pewaris Yang Tersesat

Pewaris Yang Tersesat
Kerumah Naina


__ADS_3

Disebuah ruangan nampak Norman sedang duduk dan berbicara pada anak buahnya. Dia menyalakan cerutu dan menghisapnya.


"Apakah dia sudah makan?"


"Sudah, saya sudah membawakan makanan untuknya," kata anak buahnya.


"Dimana pemuda yang sudah membawanya lari? Aku akan membuat perhitungan padanya," kata Norman ayah Naina.


"Saya mendengar kabar dia meninggal. Tapi ada satu pemuda lagi yang bersama Naina. Mungkin dia temannya," terang anak buahnya.


"Bagus jika pemuda itu sudah mati. Maka putriku yang bodoh itu tidak akan pergi kemanapun sekarang." kata Norman sambil mengangguk.


"Katakan padaku jika dia sudah datang?" titah Norman pada anak buahnya.


"Siapa bos?" tanya anak buahnya karena tamunya banyak dan berganti orang setiap hari jadi dia bingung siapa yang dimaksud bosnya. Padahal jika salah maka stick golf akan mendarat dibokongnya.


Norman tipe orang dengan temperamen tinggi bahkan terhadap anaknya dan istrinya sendiri. Istrinya bahkan melarikan diri dari rumah dan pergi kenegara lain. Hingga sekarang belum diketahui keberadaanya.


Istrinya takut dibunuh karena dituduh berselingkuh dengan pengawal pribadinya. Atau dia takut dikurung dipenjara bawah tanah oleh suaminya sendiri.


Norman sudah mengambil stick golf dan mengangkatnya karena pertanyaan anak buahnya. Dia ingin agar anak buahnya tahu segalanya tentang dirinya. Bahkan saat dia pergi kekamar mandi sekalipun untuk buang air besar.


"Iya bos. Ampun bos. Saya akan memeriksanya," kata anak buahnya ketakutan lalu berpamitan pada Norman.


Norman menaruh stick golf itu lagi dan tidak lama pintunya diketuk oleh anak buahnya yang lain.


"Bos Robert sudah datang."


"Suruh dia menunggu. Aku yang akan datang menemuinya." Norman lalu pergi menemui Robert.


Robert menyambut dengan senyum bahagia karena tidak lama lagi balas dendamnya akan terwujud.


Sementara Norman mengangkat tangannya seakan hendak memeluknya saking senangnya membayangkan uang yang akan dia dapatkan dari Robert.


"Duduklah,"


"Terimakasih,"


Mereka lalu duduk dan Robert melihat ke sekeliling.


"Dia ada dikamarnya. Aku mengurungnya. Dia sedikit sulit diatur. Kau harus menunggu lama. Pria yang membawanya lari sudah mati. Kau tenang sekarang,"


"Bagus. Itu kabar bahagia. Tapi aku dengar dia punya dua anak." Kata Robert.


"Tidak usah khawatir. Kau bisa membawanya dan anaknya akan disini bersama pengasuh yang akan mengurusnya. Kau tetap bisa berbulan madu denganya, haha" kata Norman dengan ramah.

__ADS_1


"Itu ide yang bagus. Aku ingin semuanya dilakukan lebih cepat. Minggu depan." Kata Robert.


"Tentu saja. Rencana ini sudah sangat lama dan tertunda bertahun-tahun. Aku akan mempersiapkan semuanya Minggu depan," kata Norman.


"Baiklah. Aku akan mengirim uangnya dan surat tanahnya nanti saat Naina sudah resmi menjadi istriku,"


"Ya, tidak masalah. Aku akan sabar menunggu kerja sama kita. Oh ya, kau mau minum denganku untuk hubungan yang baru?"


Norman lalu menuangkan minuman dan memberikanya untuk Robert.


Robert menenggaknya dan mereka tertawa karena kerjasama yang akan saling menguntungkan.


Naina mengintip dari kamarnya. Dia mendengar percakapan mereka dari celah pintu. Terdengar apa yang baru saja mereka bicarakan. Naina berharap Andy segera datang untuk menyelamatkanya meskipun kemungkinan itu kecil, pikir Naina.


"Mana mungkin dia datang, dia berada dipulau terpencil. Meskipun kemungkinan itu serasa mustahil. Aku berharap ada seseorang yang menculikku sebelum aku menjadi istrinya. Dia seperti psikopat, aku akan berada dalam neraka, oh mungkin lebih buruk dari neraka jika menjadi istrinya." Kata Naina sambil mengusap airmatanya.


Sementara Andy dan Diana terus mencari keberadaan Naina. Tiba-tiba mereka bertemu dengan Lewis disebuah cafe saat mereka berhenti untuk makan.


"Kau disini?" tanya Andy pada Lewis.


"Aku sedang mengamati gerak-gerik Robert. Dia bertemu dengan seseorang. Mereka akan kerja sama dan dia seolah menjual putrinya."


"Menjual pada Robert maksudmu?" tanya Andy menatap Lewis dengan seksama.


"Kau tahu siapa dia?" Andy menjadi sedikit penasaran.


"Ini," Lewis menyerahkan sebuah foto lama saat dia dan Bondan pergi kerumah Norman dan sempat memotret gadis itu karena saat itu Lewis tertarik padanya. Tapi esoknya dia tidak menemukanya karena dia pergi bersama kekasihnya.


"Naina!?" Andy dan Diana terperanjat saat melihat foto Naina.


"Kau juga kenal dia?" Tanya Lewis pada Andy.


"Ya. Suaminya sudah tiada. Dan dimana rumah nya? Aku minta alamatnya," kata Andy yang tidak ingin bercerita banyak pada Lewis soal Naina.


"Ini alamatnya," kata Lewis memberikan sebuah kartu nama milik Norman.


"Dia importir,"


"Ya."


"Baiklah, sampai ketemu lagi. Aku harus pergi sekarang. Diana, ayo kita pergi." Kata Andy lalu menarik Diana keluar dari cafe itu.


Mereka masuk mobil berlapis emas milik Andy. Diana memegang alamat itu dan Andy menyetir dengan kecepatan tinggi kealamat Norman.


Begitu sampai disana, Robert baru saja pergi. Dan Norman sedang beristirahat. Anak buahnya tidak berani membangunkanya saat bosnya beristirahat.

__ADS_1


Atau jika bosnya tidak suka maka timah panas akan menembus kepalanya karena sifat temperamen nya yang tinggi.


"Aku ingin bertemu dengannya. Ini sangat penting." Kata Andy.


"Tapi maaf Tuan, kami tidak berani membangunkanya jika bos kami tidak berpesan sebelumnya."


"Ini kartu namaku. Jika dia bangun serahkan padanya. Aku ingin bekerja sama dan memberinya keuntungan yang banyak," kata Andy lalu pergi setelah meninggalkan kartu namanya.


Dari jendela Naina melihat mobil berlapis emas dan melihat Diana serta Andy masuk kedalamnya.


"Pasti aku salah lihat. Mana mungkin Andy, pria asing itu naik mobil mewah. Dia ada di pulau terpencil. Dan tidak mungkin itu Diana. Gadis itu, untuk apa dia datang kemari." Gumam Naina lalu tertunduk kelantai.


"Anakku...."


Diana terpisahkan dari kedua anaknya. Anak-anak nya bersama pengasuh dan Diana akan dipaksa menikah. Padahal saat ini dia sedang menjalani masa Iddah setelah suaminya meninggal.


Ayahnya seorang yang bar-bar, dia marah saat Diana menjadi istrinya Ali dan percaya pada apa yang Ali percayai.


Anak buah Norman memegang kartu nama itu. Dia akan memberikanya saat bosnya bangun.


Andy sampai dirumah dan masuk kekamarnya untuk beristirahat. Ayahnya sedang dikamarnya bersama istrinya.


Saat Andy keluar dari kamar, ibu tirinya menyapanya.


"Bagaimana kabarmu? Ayahmu sangat merindukanmu," sapa ibu tirinya.


"Aku baik, Tante." Andy menjawab singkat. Dia memang jarang berbicara pada ibunya itu sejak ayahnya memutuskan untuk menikah denganya .


Setahu Andy, ibunya juga hanya berpura-pura menyayanginya.


Andy lalu masuk kekamar lagi dan duduk disamping Diana.


Diana merebahkan dirinya di kasur dan menatap Andy.


"Apakah Naina pasti tinggal dirumah itu?" tanya Diana dan mereka berbaring berhadapan.


"Semoga saja itu Naina yang sama. Foto itu adalah foto Naina istrinya Ali."


"Tidak mudah untuk menemuinya," gumam Diana.


"Ya. Penjagaan sangat ketat. Jika kita membuat keributan, aku takut Naina justru disembunyikan keberadaan nya. Dan itu akan menyulitkan kita,"


"Ohh," Diana lalu memegang tangan Andy.


"Aku sangat mengantuk, aku akan tidur sekarang," kata Diana dan tidak lama kemudian dia terlelap.

__ADS_1


__ADS_2