Proposal Cinta Sang Ceo

Proposal Cinta Sang Ceo
150.paket Penuh Ancaman


__ADS_3

Nathan tertegun mendengar ucapan Jeni yang begitu tepat sasaran, dia sendiri merasa bingung akan keberadaan dirinya di dekat beberapa wanita yang secara terang-terangan terobsesi padanya.


Meski telah berstatus sebagai seorang suami serta seorang ayah, tidak menyurutkan niat mereka untuk mendekati dirinya.


Melihat wajah Jeni yang masam, Nathan tersenyum senang. Dicemburui oleh sang istri merupakan kebahagiaan bagi dirinya, Jeni bukan tipe wanita yang asal marah atau lekas cemburu terhadap sesuatu, namun sikapnya kali ini sungguh membuat Nathan bahagia.


"Aku sangat menyukai sikap cemburu mu ini, dicemburui oleh mu bagaikan mendapat hadiah besar untuk ku! "


"Kau senang jika aku marah dan cemburu? "


" Tentu saja, itu pertanda kau sangat mencintaiku!"


Pipi Jeni merona mendengar ucapan Nathan yang benar adanya, Jeni memeluk erat tubuh Nathan, menghirup aroma tubuh Suaminya yang begitu ia sukai.


"Aku harus selalu waspada pada setiap wanita yang berada di sekitarmu,mereka selalu siap menyerang ku kapan saja!"


"Apa kau pernah berpikir jika aku terkadang merasa takut? "


"Maksudmu? "


Nathan mengecup kening Jeni dengan lembut, menatap kedua mata indah milik sang istri.


"Terkadang aku takut membiarkan mu keluar rumah, dan berkomunikasi dengan banyak pria. Karena apa, tatapan mereka terhadapmu sungguh berbeda. Dan suamimu ini tidak menyukainya! "


"Darahku mendidih tiap kali mereka tersenyum, dan berusaha menarik perhatian darimu! "


Jeni tersenyum, memberikan kecupan ringan di sudut bibir Nathan.


"Aku hanya milikmu suamiku sayang! "


Pipi Nathan merona, mendengar ucapan manis sang istri. Sikap Nathan sungguh menggemaskan, hingga Jeni tak kuasa untuk tak memberikan ciuman lembut pada sang suami.


"Kau yang menggoda ku terlebih dulu, jadi jangan salahkan aku! "


Dengan suara serak, serta hembusan nafas yang panas Jeni bisa merasakan hasrat sang suami. Jeni tersenyum dan semakin memperdalam ciumannya. Hingga kegiatan panas di sore itu,menjadi pengisi kegiatan mereka.


****


"Aku ingin kalian memberinya pelajaran, kenapa hanya menggores sedikit lengannya?"


"Aku tidak mau tau, jika kalian tidak bisa melukainya secara fisik, lakukan cara lain buat wanita itu menderita!"


Selly melempar ponselnya ke ranjang empuknya, setelah mendapat kabar dari orang suruhannya, emosinya membludak. Ia tidak puas dengan apa yang anak buahnya kerjakan, hanya luka gores di lengan?. Tentu bukan hal itu yang Selly inginkan, ia ingin Jeni menderita atau bila perlu lenyap dari muka bumi.


Tidak aku tidak ingin menjadi pembunuh, aku hanya ingin wanita itu sadar bahwa dia tidak bisa mengalahkan ku, Bahwa akulah wanita yang tepat berada disisi Nathan.


Selly mendesah memejamkan kedua matanya, dirinya bukan Tuhan yang akan mencabut nyawa seseorang begitu saja. Dirinya masih memiliki hati serta perasaan sebagai manusia, meski terkadang marah dan dengki namun itulah sifat manusia pada umumnya.

__ADS_1


Seminggu telah berlalu semua berjalan dengan baik, Jeni menjalani aktivitasnya dengan baik tanpa adanya teror yang biasanya tertuju padanya.


"Mba Jeni, ada paket untuk mu!"


Salah satu karyawan Jeni di Toko Roti, menyerahkan satu kotak berukuran sedang. Jeni mengerutkan kening melihat paket yang ditujukan kepadanya, dengan sedikit penasaran Jeni mencari pengirimannya. Sofi yang menyadari paket itu sedikit mencurigakan, dengan tegas mengambilnya dari tangan Jeni.


"Biarkan saya yang membukanya Nona!"


Sofi membuka paket tersebut dengan cukup berhati-hati dan,,


'Ahkk', sofi sedikit terkejut dengan sesuatu yang tajam melukai jarinya, Jeni melebarkan kedua matanya melihat, benda-benda tajam yang berada di dalam kotak tersebut. Pandangan Jeni tertuju pada selembar kertas yang terlipat rapi, Jeni meraih serta membukanya.


Aku akan membuatmu menderita lebih dari ini, tunggu kejutan selanjutnya dariku.


"Dia mulai mengancam anda Nona! "


"Sebaiknya obati lukamu terlebih dulu, kita bahas ini nanti, buang atau bakar semua ini! "


Dengan patuh sofi mengikuti apa yang Jeni katakan, namun Sofi tidak membuang ataupun membakar benda yang akan menjadi bukti baginya.


Kau hanya berani bermain di belakang ku, kau bahkan tidak berani menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Itu artinya kau takut padaku,,


Jeni tersenyum tipis mengingat apa yang dilakukan oleh seseorang yang telah berani mengancamnya secara diam-diam, Jeni tidak akan membiarkan pengecut sepertinya menang.


Jeni meraih ponselnya, menghubungi Danu yang tetap berjaga di kediaman Danuarta.


Jeni menggenggam erat ponsel di tangannya, kali ini dirinya tidak akan melepaskan orang tersebut.


Malam mulai menjelang, Jeni mengistirahatkan tubuh serta pikirannya bersama sang suami, dan sang putra. Namun berbeda dengan 3 manusia yang kini sedang berkumpul dalam satu ruangan, siapa lagi kalau bukan Elios, Danu dan Sofi.


"Apa kau tidak melihat orang yang membawanya ke Toko? "


"Tidak, mereka menggunakan jasa pengantar! "


Elios Mengangguk-anggukan Kepala, mencoba berpikir siapa gerangan sang pelaku.


"Apakah ada seseorang yang kau curigai sofi? "


Elios bertanya sambil menatap Sofi, yang tampak berpikir akan pertanyaan Elios. Selama dirinya menjaga dan mengikuti Jeni, sang Nona tidak terlihat memiliki masalah dengan orang lain, hanya,, sofi menatap Elios dengan lekat, meski hanya praduganya semata namun instingnya mengatakan dengan kuat siapa kira-kira dalang di balik ancaman yang terus datang menghampiri sang Nona.


"Hanya satu wanita yang terus menerus mencari masalah dengan Nona Muda!"


"Selly! "


Elios langsung menekan nama Selly, membuat sofi menganggukkan Kepala. Sama halnya seperti sofi, Elios juga berpikir hal yang sama. Setidaknya sikap antara Selena dan Selly sedikit mirip, Sama-sama memiliki sikap keras kepala.


“Kerahkan anak buahmu untuk mengintai segala kegiatan Selly,jika perlu retas ponsel atau barang lainnya yang dia gunakan untuk berkomonikasi.aku tidak ingin sesuatu terjadi pada Nona Muda untuk yang kesekian kalinya!”

__ADS_1


“Dia telah berani mengusik ketenangan keluarga Agatha,maka kita harus menyingkirkannya.mereka telah berani bermain dengan kita,maka kita akan meladeninya dengan baik!”


“Baik Sekertaris Elios,akan kami lakukan sesuai perintah anda!”


Elios terdiam dan masih menatap benda-benda yang di tunjukan kepada jeni,jika di lihat dengan seksama semua benda yang ada di meja,bisa saja membuat sang Nona ketakutan serta mengalami trauma.namun sang Nona cukup kuat menghadapi dan melawan ancaman yang datang padanya secara bergantian,setelah menyelesaikan segala urusan dengan Danu dan Sofi,Elios kembali ke rumahnya yang sederhana.


Di tengah kegelapan Elios  melangkah dengan ringan melewati jalan setapak,langkahnya terhenti ketika melihat sosok wanita yang tersenyum lembut kearahnya,siapa lagi kalau bukan sang kekasih Tania.


Elios membalas senyuman Tania,membuka kedua tangannya seolah meminta Tania untuk berlari kepelukannya.dengan senyum manis Tania mendekat dan memeluk tubuh pria jangkung tersebut.


“Kenapa kau belum tidur?”


“Aku menunggu kekasihku,meski kedua kakakku telah tidur namun sepertinya kekasihku masih betah bekerja!”


Elios terkekeh pelan mendengar sindiran halus yang Tania berikan,dengan lembut Elios mengecup kening Tania,menatap kedua mata indah sang kekasih.


“Ada beberapa hal yang harus kami diskusikan karena itu aku sedikit pulang terlambat!”


“Apa ada sesuatu?”


Tania bertanya dengan penasaran mengingat beberapa hari ini Sofi maupun Danu terlihat kelelahan,Elios tersenyum dan mengangguk pelan.diraihnya tangan Tania,hingga wanita muda itu mengikuti langkah Elios yang panjang.


Elios menyandarkan punggungnya di sofa empuk,di mana Tania duduk di sampingnya dengan kening berkerut.melihat sang kekasih yang terlihat lelah dengan segala beban serta masalah dalam pekerjaan membuat Tania sedikit merasa bersalah,sebagai seorang kekasih tidak ada yang bisa dirinya lakukan.


“Tania!”


“Hmm!”


Tatapan mata Elios yang begitu lembut membuat jantung Tania berdegup kencang,jari jemari Elios yang lentik mengusap pelan pipi Tania yang mulus.


“Bisakah kau memberiku waktu,sepertinya kita harus menundanya sampai keselamatan kakak iparmu terjamin!”


Tania mengerutkan keningnya dengan bingung,apa maksud dari ucapan Elios?Tania membenarkan duduknya,menatap Elios dengan tajam.


“Apa yang terjadi pada kakak iparku?”


“Nona Muda dalam bahaya!”


“A,,apa?”


Tania sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar,sang kakak ipar dalam bahaya?.apakah ada seseorang yang ingin melukai kakak ipar terbaiknya?.


“Apa kakakku mengetahuinya? Apa kakak tau jika Kak Jeni dalam bahaya?”


Elios mengangguk,membenarkan apa yang Tania tanyakan.sebagaia seorang suami yang begitu mencintai istri serta ibu dari anaknya tentu Nathan sudah mengetahui segala yang terjadi pada sang istri,namun karena cinta serta kasihnya Nathan bersikap seolah-olah tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


Ya Tuhan,siap ayang ingin melukai kakak iparku?apakah ada seseorang yang tidak suka melihat kebahagiaannya? Kenapa selalu seperti ini,kapan hidupmu akan tenang kakak ipar.

__ADS_1


__ADS_2