
Semuanya tidak akan seperti ini, jika wanita itu menghilang dari rumah lebih awal. Kenapa masih menampungnya di rumah, jika pada akhirnya dia hanya akan membawa masalah bagi keluarga Sanjaya.
Lara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin mengeluarkan amarah serta rasa kecewanya kepada sang ibu. Sesampainya di rumah, Lara langsung mencari keberadaan sang ibu, yang sedang menikmati waktu senggangnya.
"Apa ibu masih bisa bersenang-senang, dengan keadaan kita yang mulia menyedihkan ini! "
Sang ibu melirik putrinya yang baru datang, dengan rasa kesal sang ibu meletakkan, majalah yang sedang dia baca di atas meja.
"Apa kau tidak punya sopan santun pada orang tuamu hah! "
"Lupakan masalah sopan santun ibu, keadaan kita sedang tidak baik!"
"Apa maksudmu? "
Lara menatap sang ibu dengan malas, selain menghabiskan uang dan berfoya-foya, tidak ada yang ibunya ketahui. Karena sang ibu, lebih suka menghabiskan uang, dibandingkan mengetahui keadaan perusahaan atau ayah. Yang penting uang bulanan lancar masuk ke rekeningnya.
"Ayah meminta kita untuk berhemat, dan tidak menghamburkan uang, jika tidak semua kartu yang Lara atau ibu gunakan akan Ayah blokir! "
"Tidak bisa begitu Lara, ibu harus perawatan minggu ini. Dan kau tau sendiri, biayanya tidak murah! "
"Lara sudah mengatakannya pada Ayah, namun Ayah tetap mengancam ku. Ini semua karena anak yang tidak tau diri itu!"
"Maksudmu Jeni, kenapa dengannya. Ingat jangan pernah menyentuhnya, ingat ancaman Tuan Nathan yang dikatakan pada Ayahmu!"
"Ibu, jika bukan karena dia, apa ibu pikir keuangan dan kesenangan kita bisa kacau seperti sekarang. Semua itu karena dia! "
"Semua masalah baik di perusahaan Ayah, dan di rumah kita, semua karena dia. Lara yakin, dialah yang menghasut Tuan Nathan, untuk tidak berinvestasi dan membantu Ayah dalam keuangannya! "
"Padahal jika dia mau, dia bisa meminta bantuan pada Tuan Nathan. Tapi dia tidak melakukan apapun! "
"Benar yang kau katakan, sia-sia usaha Ayahmu memasukkan dirinya ke dalam keluarga Agatha, jika tidak bisa memberi kontribusi lebih! "
__ADS_1
"Ibu tidak ingin uang bulanan ibu di kurangi, ayo kita temui Jeni! "
"Jangan sekarang, Lara yakin dia sudah kembali ke rumah keluarga Agatha! "
"Baik, kita temui dia besok pagi, kita beri pelajaran pada saudari tiri mu itu! "
Keduanya larut dalam kemarahan, mereka tidak menyadari akar dari masalah ini,berasal dari keserakahan mereka sendiri. Namun karena kebencian keduanya begitu kental, Jeni yang sebenarnya tidak melakukan apapun menjadi sasaran kebencian mereka.
Hari itu Tuan Sanjaya,pulang agak malam dari biasanya. Sang istri yang sudah tidak sabar, ingin menyampaikan protesnya, menunggu dengan sedikit kesal.
"Kenapa jam segini baru pulang? "
"Pekerjaanku banyak, dan aku harus menyelesaikannya. Tolong ambilkan aku segelas air! "
Dengan malas sang istri berjalan menuju lemari pendingin, dan mengambil sebotol air mineral. Dan memberikannya kepada sang suami, dengan sekali teguk air di botol itu habis.
"Mama ingin bicara! "
"Apa benar keuangan kita sedang bermasalah?"
"Yang seharusnya Mama tanyakan adalah,Papa sudah makan malam apa belum. Apa di otak Mama hanya ada uang? "
Tuan Sanjaya berteriak marah, membuat sang istri tidak berani menjawab ataupun mengucapkan sepatah kata dari mulutnya.
Bodoh seharusnya kau manjakan dia dulu, baru bicara. Jika sudah seperti ini, aku tidak berani protes lagi.
Dengan malas dan kecewa, Nyonya Sanjaya menyusul suaminya ke dalam kamar. Setibanya dikamar, terlihat Sang suami sudah berganti pakaian dan tidur. Mau tidak mau, Nyonya Sanjaya ikut membaringkan tubuhnya di ranjang.
Sementara di rumah Tuan Sanjaya, sedang kacau karena masalah keuangan. Berbeda dengan kamar yang penuh dengan kebahagiaan, butiran keringat membasahi kening Jeni. Hawa dingin pendinginan ruangan, tidak mampu mendinginkan hawa panas yang terjadi di antara keduanya.
Setelah melakukan pergulatan yang panas, Nathan memeluk tubuh Jeni,yang hanya ditutupi oleh selimut.
__ADS_1
"Bagaimana hari ini, apakah semuanya baik-baik saja! "
"Semuanya masih terkendali, dan tadi siang adik tiri ku,datang menemui ku!"
"Apa dia menyakitimu? "
"Jika dia seberani itu, aku yakin sebelum dia menyentuhku, orang mu akan bertindak lebih dulu!"
"Semuanya demi keselamatanmu, jadi maafkan aku yang sedikit membatasi gerak mu!"
"Aku mengerti, terimakasih sayang! "
Jeni memeluk tubuh Nathan, sementara Nathan memberi beberapa kecupan ringan di kepala Jeni.
Aku tidak akan membiarkan keluargamu, menyentuhmu lagi. Aku tidak akan memaafkan mereka, meski dia adalah Ayahmu sekalipun. Karena dimatanya kau tidak bernilai sayang, dia bahkan lebih memilih putrinya Lara, di banding dirimu.
“Kapan ada malaikat yang tumbuh diperut mu,aku sudah tidak sabar menantinya!”
“Kita hanya bisa berdoa dan bersabar,Tuhan telah mengatur semuanya sayang!”
“Bagaimana wajah mereka nanti,apakah setampan aku, atau secantik dirimu?”
“Haaaa,,,jelaslah jika laki-laki akan setampan dirimu,dan secantik diriku jika dia seorang putri kecil sayang!”
Nathan memeluk tubuh Jeni erat,hubungan keduanya semakin membaik.Nathan tidak menahan dirinya,begitu juga dengan Jeni.mereka memperlihatkan cinta,kasih,dan perhatian mereka satu sama lainnya.setelah perjalanan selama 1 tahun pernikahan mereka,kini keduanya dapat menikmati indahnya sebuah hubungan pernikahan.
Cinta yang lambat laun muncul dan semakin kuat,mempererat hubungan keduanya.kasih sayang dari sang mertua yang dulunya tidak merestuinya,kini dia dapatkan.bahkan perhatian sang mertua melebihi harapannya,dirinya merasakan kasih sayang seorang mertua.sekaligus seorang ibu.Tania yang selalu menempel padanya,membuatnya menjadi seorang kakak yang sebenarnya.mengingat hubungannya dengan Lara sang adik tiri,tidak pernah berjalan baik.
Rasa dengki dan iri yang selalu diperlihatkan sang adik,membuatnya selalu mengalah.dan mendapat penolakan dirumahnya sendiri,membuat Jeni tidak merasakan kasih sayang keluarga.masa mudanya yang berat,membuatnya dewasa sebelum waktunya.beruntung ada sang pelayan yang selalu menyayanginya,dan terkadang melindunginya,dari amukan sang ibu tiri jika Jeni melakukan sedikit saja kesalahan.
Sang Ayah yang tidak pernah peduli padanya,hanya fokus pada pekerjaan dan keluarga barunya,membuat Jeni semakin terisolasi dari anggota keluarga.namun kini semua rasa sakit itu,berangsur terobati.kini dirinya menemukan dan mendapatkan cinta,dari pria dan keluarga yang telah menerima kehadirannya.
__ADS_1
Terimakasih karena telah mencintaiku,dan dengan setia menungguku kembali.jika bukan karena cintamu,aku pasti sudah tidak ada di dunia ini lagi,aku mencintaimu sangat mencintaimu suamiku.