
Pagi hari yang cerah,bagi dua insan yang sedang jatuh cinta.Jeni memulai aktivitasnya dengan penuh drama oleh sang suami,yang bersikap menyebalkan menurutnya.beberapa kali Jeni harus mengganti pakaiannya pagi ini,semua yang dikenakannya mendapat protes dari sang suami.
“Sayang,harus berapa kali aku mengganti pakaianku.ini sudah yang ke lima kali,lihatlah penampilanku,aku sudah memakai kemeja kedodoran dan celana jeans!”
“Tapi kau masih terlihat cantik sayang!”
“Kalau begitu tidak usah pakai baju sekalian!”
“Iya benar sekali,kau yang bilang ya!”
Jeni merasakan firasat yang buruk,ketika Nathan mendekat sambil melempar jas yang sudah dia kenakan.dan firasatnya benar,sang suami melepas semua pakaian yang melekat pada tubuh Jeni dan tubuhnya.terjadilah kegiatan panas di pagi yang cerah itu.
Dimeja makan,Sang ibu dan Tania menunggu kedua manusia yang belum menampakan dirinya diruang makan.membuat Tania kesal,karena sudah beberapa hari ini,dirinya tidak bisa bermanja kepada sang kakak ipar.
“kak Nathan Benar-benar bucin kepada kak Jeni,lihatlah jam segini belum turun untuk sarapan.mentang-mentang Bos,seenaknya saja!”
“Biarkan Kakakmu menikmati waktunya bersama Kakak ipar mu,kasihan mereka hanya bertemu di pagi dan malam hari.jika kau ingin menghabiskan waktu bersama kakak ipar mu,ajaklah dia disiang hari!”
“Mama benar,aku akan mengunjunginya nanti siang dan mengajaknya ke salon!”
“Pergilah,dan berhati-hatilah!”
“Siap komandan!”
Tania tersenyum manis ke arah sang Ibu ,yang kini lebih hangat dan lembut dibanding dulu.sang ibu yang lebih suka menghabiskan waktunya,bersama anggota sosialita dibanding putrinya.ketika mereka sedang menikmati sarapannya,Elios datang menghampiri mereka dengan senyum ramah di wajah tampannya.
“Selamat pagi Nyonya,dan Nona Tania!”
“Pagi Elios,apa kau sudah sarapan?,duduklah kita sarapan bersama!”
“Saya sudah sarapan Nyonya,terimakasih atas tawarannya!”
“Sebaiknya Kak Elios kembali 1 jam ke depan,Kak Nathan belum keluar dari kamarnya.dia masih mengurung kakak ipar ku!”
“Tania,,habiskan sarapan mu,dan cepat berangkat ke kampus nanti kau terlambat!”
Elios merasa senang akan suasana rumah yang kini telah berubah menjadi hangat,dan tidak sedingin dulu.dirirnya selalu berharap kediaman Agatha,selalu dikelilingi oleh kebahagiaan.melihat Elios yang masih berdiri di tempatnya,membuat sang Nyonya tersenyum.dirinya sangat bersyukur ada Elios,yang selalu mendampingi sang putra,baik dalam kesenangan dan kesulitan.
“Tunggulah Nathan diruang kerjanya,seperti yang Tania bilang,mungkin Nathan akan turun 1 jam lagi!”
Ternyata anda sudah mulai bucin Tuan Muda,apa yang Tuan lakukan di pagi hari begini.tidakkah anda ingat pagi ini ada rapat penting.
“Baik Nyonya,saya permisi!”
__ADS_1
Sang Nyonya tersenyum dan menganggukkan kepala,melihat kepergian Elios.dengan cepat keduanya menyelesaikan sarapannya.sementara Elios memundurkan jadwal rapat,dari waktu yang sebelumnya telah di atur.
Setelah menunggu hampir 1 jam lamanya,akhirnya dua manusia yang ditunggu-tunggu keluar dari kamar.meski sedikit kesal Jeni tidak bisa melakukan apa-apa,berbeda dengan wajah Nathan yang terlihat berseri-seri.setelah menghabiskan sarapannya,Nathan berangkat ke kantor di susul Jeni yang pergi bersama sang sopir.
“Apa anda bahagia Tuan?”
“Kau tidak melihat dan merasakannya?”
“Saya bisa melihatnya dengan jelas Tuan!”
“Lalu kenapa bertanya?”
“Saya hanya ingin memastikannya Tuan!”
“Cihh,,Awasi adik tiri Jeni,kemarin dia datang ke toko roti.aku tidak ingin sesuatu terjadi pada istriku!”
“Baik Tuan Muda!”
Elios melajukan mobilnya,menuju gedung Emperor Group.agenda yang mereka miliki hari ini cukup padat,Elios berharap semuanya lancar melihat raut wajah bahagia sang Tuan Muda.
****
Di kemudian Sanjaya,keluarga yang terdiri dari 3 orang,kini menikmati sarapan dalam diam.tidak ada yang berani membuka suara,sampai sarapan selesai.Tuan Sanjaya menatap istri dan anaknya,yang masih menikmati sarapan mereka dengan malas.
Sang istri menyimpan alat makannya,dan menatap sang suami dengan tatapan kesal.
“Papa tidak bisa seenaknya seperti itu dong,jika jatah belanja Mama dikurangi.tentunya hal yang lainnya tidak akan bisa terpenuhi Pa!”
“Mama tidak mau tau,jatah bulanan Mama harus tetap sama seperti bulan-bulan kemarin!”
“Apa kau pikir suamimu ini mesin pencetak uang,300juta untuk biaya hidup kalian selama sebulan itu tidak sedikit Ma!”
“Apa yang kalian berdua lakukan dengan uang itu Hah,,selain berfoya-foya dan membeli barang mahal,yang sebenarnya tidak ada gunanya itu!”
“Semua itu untuk menunjang penampilan Mama,kalau Mama kumpul dengan para teman sosialita,Mama bisa membanggakan diri dan tidak malu-maluin Pa!”
“Hanya itu?,apa di otak dan pikiran kalian hanya ada barang mewah,dan kepuasan.tidakkah kalian berfikir darimana, papa bisa mendapatkan uang itu untuk kalian!”
“Papa harus bekerja keras untuk memenuhi semua yang kalian minta,pernahkah kalian memikirkan Papa Hah!”
“Pokoknya Mama tidak mau tau,uang bulanan Mama harus utuh!”
Nyonya Sanjaya meninggalkan meja makan dengan penuh kekesalan,sementara Tuan Sanjaya berusaha menahan emosinya,Lara hanya menyaksikan perdebatan sang Ayah dan ibunya.meski sedikit terlintas di benaknya,apa yang sang ayah katakan ada benarnya juga.namun karena gaya hidup mereka yang mewah, tentu akan sedikit sulit bagi dirinya dan sang ibu untuk merubah kebiasaan itu.
__ADS_1
“Jika kau tidak ingin tidur di kolom jembatan,ikuti apa yang Ayahmu ini katakan.namun jika otak dan pikiranmu sama seperti ibumu,maka tidak lama lagi kita akan meninggalkan rumah yang nyaman ini,apa kau mengerti!”
“Tapi Ayah!”
“Nasehati ibumu yang egois itu,jika tidak kita semua akan menderita!”
Tuan sanjaya meninggalkan putrinya,yang masih terdiam dengan kekesalan yang tidak bisa dia kelurakan.Lara menggenggam erat sendok makannya,sungguh dirinya tidak ingin hidup sederhana atau pergi meninggalkan rumah mewahnya.apa yang dikatakan para temannya nanti,dia dikenal sebagai wanita berpendidikan,cantik dan tentu kaya.Tidak ada yang memandangnya dengan tatapan rendah,semuanya memuji dirinya.mengingat itu semua,semakin membuat emosi Lara membludak.
Di tengah lamunannya,akan nasib keluarganya yang belum dirinya tau akan berakhir seperti apa.sang ibu menuruni tangga,dan menghampirinya.terlihat sang ibu sudah sangat cantik,dengan dandanan ala-ala ibu sosialita.Lara melihat sang ibu dengan kening mengkerut.
“Mama mau kemana,dengan dandanan seperti itu!”
“Bangun,kita pergi temui saudari tirimu.ini semua karena kekacauan yang dia buat,sehingga kita yang harus menanggung akibatnya!”
“Benar yang Mama bilang,aku kita temui anak yang tidak tau terimakasih itu!”
Lara bangun dari duduknya,dan mengambil tas serta kunci mobilnya.mereka berdua menuju toko Roti milik Jeni.hampir 30menit waktu yang mereka butuhkan, untuk sampai di toko Roti milik Jeni.sesampainya di sana keduanya turun dan masuk kedalam Toko,serta mencari keberadaan Jeni.
“Dimana Bos kalian?”
“Kak Jeni,sedang mengolah kue.ada yang bisa say bantu Bu?”
“Katakan pada Bos mu,ibunya datang berkunjung!”
“Baik Bu,silahkan duduk dan menunggu saya akan panggilkan Kak Jeni!”
Nyonya Andita,ibu tiri Jeni melangkah menuju sebuah meja yang masih kosong.dengan gaya angkuhnya,dirinya dan Lara duduk begitu saja.membuat para karyawan Jeni saling melempar tatapan,dan saling berbisik dengan tingkah ibu dari Bos mereka.
Mendengar kedatangan sang ibu,Jeni mengerutkan dahi dan berfikir apa tujuan ibu tirinya datang kali ini.Jeni menatap sang sopir sekaligus asistennya itu,tanpa diberitahu dia meninggalkan ruangan dan duduk dimeja, yang tepat bersebelahan dengan ibu tiri sang Nona Muda.
Jeni menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali,menyiapkan hati dan mentalnya.kali ini pasti sang ibu tiri,akan membuat masalah dengannya.dengan langkah ringan, Jeni melangkah menemui ibu dan adik tirinya yang ternyata ikut serta.
“Angina pa yang membuat anda datang jauh-jauh kemari!”
Nyonya Andita mengerutkan kening,dengan panggilan yang di berikan sang putri tiri kepadanya.
“Anda?,kau memanggil ibumu dengan sebutan anda?”
“Oh,,jadi aku sudah boleh memanggil anda,dengan panggilan Ibu?.karena selama ini anda sangat mengkeramatkan panggilan itu,jika tidak dihadapan Ayah!”
“Kau!!”
Sialan anak ini sekarang sudah semakin berani,jika tau seperti ini jadinya.aku tidak akan membiarkannya hidup di rumah,seharusnya waktu itu aku meninggalkannya dan tidak menjemputnya sama sekali di dalam hutan.
__ADS_1