
Merasa lelah akan kegiatannya seharian,setelah sampai di kediaman Agatha.Jeni langsung menuju kamarnya,untuk merebahkan diri,meregangkan otot-otot syarafnya yang terasa kaku.kepergiannya kali ini bersama sang ibu mertua,berjalan dengan baik,bahkan terkesan menyenangkan dihatinya.Jeni mengelus perutnya,lambat laut gerakannya melambat,seiring matanya yang ikut terpejam.
Gerakan-gerakan kecil yang menggelitik di atas perutnya,mengganggu tidur lelap Jeni.perlahan dirinya membuka mata,pria tampan dengan senyum menawan,bermain dengan jahil di atas perutnya.membentuk dan menggambar pola-pola kecil, yang hanya di mengerti olehnya.Jeni tersenyum melihat tingkah suaminya,dengan lembut Jeni mengulurkan tangannya dan mengusap rambut tebal nan indah itu,membuat Nathan mengalihkan pandangannya.
“Kau sudah bangun sayang?”
“Bagaimana aku bisa tidur,jika kau mengganggu tidurku!”
“Ini sudah sore sayang,tidak baik bagi wanita hamil tidur di sore hari!”
“Aku hanya merasa lelah sayang!”
“Kau pergi bersama Ibu,bagaimana rasanya ikut berkumpul dengan para nyonya?”
“Aku tidak ingin pergi ke tempat seperti itu lagi,bukan tempatku sayang!”
“Hahaha,,kau harus membiasakan diri mulai sekarang sayang!”
“Sepertinya itu bukan tempatku sayang,aku tidak cocok berbaur dengan mereka.aku lebih suka bersama teman-temanku,dan karyawan ku!”
“Terserah dirimu,buatlah dirimu senyaman mungkin sayang!”
Nathan memeluk tubuh Jeni,memberi kecupan beberapa kali di keningnya.hari ini dirinya merasa sangat bahagia,karena sang ibu telah mengenalkannya sebagai menantu dari keluarga Agatha,kepada para sahabat serta teman-teman arisan sang ibu.selain itu sang ibu mulai memanjakan Jeni,dan membelikan sesuatu yang mungkin Jeni sukai.
****
Makan malam tiba,semua anggota keluarga berkumpul seperti biasanya.Tania mulai memperlihatkan wajah kesalnya,kepada sang ibu dan kakak iparnya.Nathan dan Jeni yang begitu hafal akan sifat kekanak-kanakan Tania,hanya mengacuhkannya sampai acara makan malam selesai.
Tania menghentakkan kakinya kesal dan mendaratkan bokongnya di sofa,menatap sang kaka ipar yang sedang menikmati buah mangga yang lezat.tatapan Tania yang begitu menusuk,membuat Jeni merinding.dengan terpaksa Jeni memberi tepukan ringan di paha Nathan,menunjuk Tania dengan dagunya.Nathan mengarahkan tatapannya,dan sedikit terkejut melihat tatapan Tania yang begitu horor.
“Kau ingin menakuti kakak ipar mu,dengan memberi tatapan seperti itu!”
“Aku sedang kesal pada mereka berdua!”
Sang ibu yang mendengar protes dari Tania,hanya memutar bola matanya,malas menanggapi ocehan putrinya yang belum berubah sama sekali.
“Jangan marah pada kakak ipar mu Tania,marahlah pada ibu kalau kau berani!”
“Ibu!”
“Hari ini kau punya banyak mata kuliah,karena itu ibu tidak membawamu,lagi pula gadis ingusan sepertimu belum boleh bergabung dengan urusan kami orang dewasa!”
__ADS_1
“Ishh,,Ibu menyebalkan!”
“Kapan kau berubah Tania,kurangi sifat manja mu itu.bagaiamana nanti kekasihmu menghadapi sifat kekanak-kanakan mu,bisa jadi mereka menyerah sebelum bertarung!”
“Aku tidak seperti itu Kak Nathan,aku gadis yang sudah berpikiran dewasa!”
Melihat Tania yang di pojokan oleh kakak dan ibunya,Jeni merasa kasihan.setelah menyelesaikan cemilannya,Jeni bangun dari duduknya dan duduk di sebelah Tania.meninggalkan sang suami yang tidak percaya,akan apa yang dilihatnya.Jeni merangkul Tania dengan hangat,menepuk pelan punggung gadis muda itu,membuat Tania merasa menang,dan menjulurkan lidahnya kepada sang kakak.menyatakan bahwa dirinya memiliki tempat istimewa,di hati sang kakak ipar selain kakaknya.
“Lain kali kita pergi ke salon tempat biasa kita kunjungi itu,jangan lupa hubungi Renata,aku sudah sangat merindukannya!”
“Kenapa kita tidak pergi ke salon tempatmu tadi kak,kelihatannya tempatnya sangat nyaman!”
“Kau yakin bisa membayar jasa mereka,kita bisa melakukan perawatan beberapa kali di tempat biasa,dengan jumlah yang harus kita bayar di salon ibu.tagihannya bisa membuatmu pingsan!“
“Untuk apa kakak ipar memiliki suami yang kaya raya,jika kakak tidak menggunakannya dengan baik.aku yakin kakakku itu tidak akan sepelit itu!”
Tania melirik Nathan yang mulai kesal,mendengar sindiran sang adik.namun tidak bagi Jeni,dirinya tersenyum lembut,dan menggelengkan kepala akan pendapat adik iparnya itu.
“Kita bisa menggunakan uang tersebut untuk hal lainnya Tania,aku sudah merasa cukup dengan semua fasilitas yang kakakmu berikan!”
“Dengarkan kakak ipar mu Tania,dan jangan coba-coba mengotori pikirannya yang bersih itu,dengan ide-ide konyol mu!”
Bukannya marah dan kesal,Tania hanya menjulurkan lidahnya,mengejek sang kakak sambil memeluk sayang tubuh Jeni.mereka melakukan berbagai obrolan ringan,pertengkaran-pertengkaran kecil,membuat mereka tertawa.hingga malam mula beranjak dan memaksa mereka kembali ke peraduan masing-masing.
"Kau semakin cantik sayang! "
"Benarkah, tidakkah aku terlihat sedikit gendut? "
"Di mataku kau tetap cantik, kau semakin berisi dan terlihat seksi! "
Nathan menyapu tengkuk Jeni dengan bibirnya, memberikan gelenyar aneh pada tubuh Jeni. Deru nafas Jeni berpacu, dirinya tidak mampu menahan sensasi yang Nathan berikan.
Nathan meraup bibir manis Jeni, membelit lidahnya, merasakan manis yang selalu membuatnya mabuk. Ciuman panjang dan panas, antara keduanya semakin dalam.
Nathan melepaskan tautan bibirnya, memberikan kesempatan bagi Jeni, untuk menghirup oksigen lebih banyak lagi. Tatapan mata mereka bertemu, tatapan mendamba dan penuh hasrat Nathan berikan, perlahan Jeni melingkarkan kedua tangannya di leher Nathan. ******* bibir kenyal sang suami, Nathan mengangkat tubuh Jeni dan membaringkannya di atas ranjang, tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Nathan mengukung tubuh Jeni, memberi ruang bagi perut Jeni yang membuncit. Nathan menopang tubuhnya dengan satu tangan disisi kiri, dan tangan satunya membelai lembut wajah Jeni.
Nathan kembali mendaratkan bibirnya, ketika melihat bibir itu mulai terbuka. Nathan melancarkan aksinya, memberi kecupan-kecupan kecil pada bagian tubuh Jeni yang dia sukai. Malam itu Nathan dan Jeni melewati malam panjang, penuh cinta.
*****
__ADS_1
"Selamat pagi sekertaris Elios! "
"Selamat pagi Nona Tania! "
Tania mengerutkan dahi mendengar Jawaban Elios, tatapan pria itu tidak seperti sebelumnya. Seperti ada sesuatu yang hilang pada tatapannya, tapi apa? Tania berusaha mencari jawabannya, bukannya menemukan jawaban, Tania merasa pusing sendiri.
Elios pagi itu datang lebih awal dari biasanya, agenda Nathan hari ini akan memulai pertemuan di sebuah hotel ternama. Penampilannya memukau seperti biasanya, dengan kaca mata bening yang bertengger di hidung mancungnya.
Tania yang merasa terabaikan mencari cara agar Elios melihatnya, Tania melontarkan beberapa pertanyaan, yang hanya dijawab singkat oleh Elios. Ketika melihat kedatangan sang Tuan Muda, Elios langsung bersikap datar seperti biasanya.
"Apa kau menunggu lama? "
"Tidak Tuan Muda! "
Nathan hanya menganggukkan kepala, mencium kening Jeni, sebelum meninggalkan kediaman Agatha. Elios menundukkan sedikit kepalanya kepada Jeni, sebelum menyusul Nathan.
"Elios! "
Langkah Elios terhenti oleh panggilan Jeni, Elios membalikkan tubuhnya dan menatap sang Nona Muda, yang begitu baik dan ramah padanya.
"Berhati-hatilah, dan jangan lupa bawa suamiku makan siang! "
"Akan saya ingat perintah anda, semoga hari anda menyenangkan Nona Muda! "
"Terima kasih Elios! "
Jeni menatap mobil yang kian menjauh, menghentikan lambaian tangannya. Tania menghampirinya, dengan wajah kesalnya.
"Apakah sekertaris kak Nathan salah minum obat?"
Jeni melirik Tania, yang masih menatap nanar kedepan.
"Setahuku Elios tidak sakit, bagaimana bisa dia salah minum obat!"
"Hari ini dia sangat jutek padaku, bahkan mengacuhkan ku, kakak ipar! "
"Mungkin hanya perasaan mu saja Tania, hari ini mereka akan melakukan pertemuan, mungkin karena itu wajahnya sedikit tegang! "
Dia menghindari ku kakak ipar, baiklah jika itu yang kau inginkan Tuan Elios, aku juga tidak butuh dirimu. Bahkan aku tidak perduli padamu,,
Tania mengepalkan kedua tangannya, meyakinkan dirinya, untuk baik-baik saja. Toh, dirinya tidak memiliki hubungan dengan Elios,Tania menghirup serta menghembuskan nafasnya beberapa kali, menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Jeni hanya diam memperhatikan Tania, yang terlihat aneh pagi ini.namun Jeni tidak ingin mencampuri urusan Tania terlalu jauh, dia masih berusaha membatasi dirinya, dan tidak terlibat dalam urusan asmara adik iparnya itu.
Melihat Jeni yang melangkah pergi meninggalkannya, Tania segera mengejar sang kakak ipar, dan memintanya mengantarkan dirinya ke kampus, dan seperti biasa Jeni tak dapat menolak permintaan adik iparnya yang manja.