
Sang pelayan telah duduk di depan Tuan Sanjaya,dirinya hanya ingin mengatakan suatu kebohongan,yang menurutnya harus di akhiri.
“Semalam wajah Nyonya memiliki banyak lebam,dan tadi pagi setelah anda berangkat kerja,wajah Nyonya cantik kembali.dan baru saja setelah anda kembali ke rumah,wajah Nyonya kembali lebam!”
“Karena saya penasaran jadi saya bertanya kepada Nyonya,katanya Nyonya memakai obat mahal yang di beli dari luar negeri.tapi apa iya Tuan,ada obat seperti itu!”
Apa Andita telah berbohong padaku,agar aku memarahi dan mencari Jeni.tapi tidak mungkin dia berani berbohong padaku,dia paling tau kalau aku tidak suka di bohongi.
Melihat Tuan Sanjaya yang hanya diam,membuat sang pelayan sedikit kecewa.ternyata benar dugaannya,sang Tuan lebih mempercayai istrinya,dibanding siapapun yang ada di rumah ini.
“Maaf Tuan,mungkin saya salah lihat.Nyonya kan memang sering dandan secara berlebihan.maaf Tuan,saya permisi!”
“I…iya Bi,mungkin Bibi salah lihat.saya baru saja melihatnya di kamar.Bibi lanjutkan saja pekerjaannya!”
Tuan Sanjaya sedikit gugup dengan ucapan sang pelayan,perasaannya mejadi kacau,ada keraguan yang muncul di hatinya terhadap sang istri yang telah menemaninya puluhan tahun itu.dirinya juga mengenal sang pelayan dengan baik,sang pelayan yang begitu menyayangi Jeni seperti putrinya sendiri.bisa jadi sang pelayan hanya ingin mengadu domba dirinya dengan sang istri,itulah yang terlintas di kepalanya.
Sang pelayan keluar dari ruang kerja,dengan perasaan sedikit kecewa.hendak hati ingin mencoba menjelaskan kebenaran,namun sepertinya sang Tuan menutup mata dan bermasa bodoh.
Nona Jeni dimanapun anda sekarang Bibi harap anda bahagia,anda gadis yang baik.anda berhak mendapatkan kebahagiaan,berbahagialah Nona.
Suasana dikediaman sanjaya tampak sepi,Tuan sanjaya melakukan pekerjaan di ruang kerja,Nyonya Andita memilih berada di kamar begitu juga dengan Lara.hanya sang Bibi yang terlihat masih sibuk dengan kegiatannya di dapur,untuk menyiapkan makan malam.suara dering telepon rumah,membuat sang Bibi berlari untuk mengangkatnya.
“Hello,.Apa!”
Dengan sedikit terkejut sang Bibi berlari, menyambut tamu yang dimaksud oleh oleh orang yang menghubunginya.sang Bibi dengan sopan menyambut kedatangan suami, dari Nona Muda yang begitu dia sayangi.melihat hanya seorang pelayan yang menyambut kedatangan Tuan Mudanya,Elios mengerutkan dahi dan menatap sang pelayan.seolah mengerti dengan tatapan yang Elios berikan,dengan sopan sang Bibi mengatakan jika pemilik rumah,sedang berada di ruangan masing-masing.
Setelah di persilahkan masuk,Elios dan Nathan memasuki rumah yang bisa dikatakan mewah tersebut.Nathan melihat sang Bibi yang ingin melangkah meninggalkan tamunya,namun Nathan menahan kepergian sang Bibi dengan tangannya,
“Tunjukan padaku kamar istriku terlebih dulu!”
Glek,tubuh sang Bibi mendadak berkeringat dingin,apakah tidak masalah baginya jika dirinya mengantar Tuan Muda Nathan menuju kamar Jeni.melihat kegelisahan di mata sang Bibi,Nathan tersenyum ramah pada sang Bibi,membuat kegelisahan diwajahnya mendadak hilang.
__ADS_1
“Hantarkan saja Bi,saya tidak akan melakukan hal yang tidak pantas di kamarnya!”
“Tapi apa tidak sebaiknya Tuan Sanjaya yang mengantarkan anda Tuan?”
“Tidak perlu Bibi,hantarkan kami!”
“Baik Tuan, mari ikuti saya!”
Sang pelayan berjalan di depan Nathan dan Elios,perasaan Elios sudah semakin tidak tenang,dirinya menyadari perubahan dari raut wajah sang Tuan ketika memasuki lorong rumah bagian belakang.dan ketika sang Pelayan menunjukkan sebuah pintu kamar,yang merupakan kamar Jeni.raut wajah Nathan mulai tidak bersahabat,Nathan memandang Elios dan seakan mengerti arti dari tatapan itu,Elios mendekati Sang pelayan dan membiarkan Nathan melihat isi dari kamar istrinya.
Kamar kecil dan sempit,dengan 1 lemari dan sebuah kasur menempati kamar itu,tidak lupa sebuah kipas yang tergantung di dinding.kamar kecil namun bersih,menjadi kamar untuk istrinya sejak kecil.kamar yang jauh dari kata pantas, yang di miliki seorang putri dari pengusaha sukes seperti Sanjaya Group.kamar yang begitu jauh di belakang,bersama kamar para pelayan lainnya.
Rahang Nathan mengeras,dia bisa merasakan penderitaan yang di alami Jeni kecil hingga dirinya dewasa,kemarahan terlihat jelas dimatanya.hingga pandangannya tertuju pada sebuh foto Jeni,yang tersenyum ceria.Jeni istrinya selalu menampilkan senyum termanisnya,meskipun dirinya sedang terluka sekalipun.
Jika aku tau hidupmu akan semenderita ini,sejak awal aku akan membawamu bersamaku.maafkan aku yang baru menyadarinya Jeni,mulai sekarang aku akan menjagamu dengan nyawaku.
Nathan mengambil beberapa barang yang menarik perhatiannya,dan menyimpannya dibalik saku jas mahalnya,setelah puas menyusuri dan menikmati suasana kamar sang istri,Nathan keluar dan menemui Elios yang masih bicara dengan sang Bibi.melihat kedatangan Nathan Elios dan sang Bibi menundukkan sedikit kepalanya,dan Elios menganggukkan kepalanya.
Tentu kedatangan Nathan,membuat Tuan sanjaya terkejut.apalagi dirinya tidak menyambut kedatangannya.dengan tergesa-gesa Tuan Sanjaya berlari menemui Nathan yang sudah duduk manis di sofa.terlihat Tuan Sanjaya sedang mengatur nafasnya,sementara sang pelayan menaiki tangga menuju kamar sang Nyonya dan Lara.
“Maafkan saya Tuan Nathan,saya tidak mengetahui kedatangan anda,jika anda memberitahukan kedatangan anda sebelumnya,saya pasti akan menyambut anda sendiri!”
“Kami tidak perlu sambutan dari anda Tuan sanjaya,kami hanya ada sedikit keperluan!”
Glek,tubuh Tuan Sanjaya mulai berkeringat dan gemetar,mendengar ucapan sekertaris Elios.bahkan tatapannya dan Tuan Nathan seperti ingin menelannya hidup-hidup.sementara sang Nyonya dan Lara yang mengetahui kedatangan Nathan benar-benar terkejut,Lara bahkan merasa senang luar biasa.pikirannya sudah kemana-mana,tentang kedatangan Nathan kerumahnya.
Lara menganti pakaiannya dengan dress yang cantik,jangan lupa dengan drama sang Nyonya.Lara memapah sang Ibu menuruni tangga,mendengar suara langkah seseorang menuruni tangga Elios dan Tuan Sanjaya menatap ke atas tangga.berbeda dengan Bara,yang tidak mengalihkan tatapannya dari Tuan Sanjaya.
Elios mengerutkan dahi melihat penampilan Nyonya Sanjaya, yang menurutnya aneh,Elios ingin tertawa melihat wajah yang seperti ondel-ondel dimatanya.namun dia berusaha menahan setengah mati tawanya, agar tidak keluar memenuhi ruangan ini.
Astaga Nyonya Sanjaya drama apa yang anda lakoni kali ini,anak SD saja pasti tau kalau anda sedang berbohong.jangan bilang Tuan Sanjaya percaya dengan kebohongan ini,astaga anda memeng pria bodoh Tuan.
__ADS_1
“Selamat sore Tuan Nathan dan Sekertaris Elios,suatu kehormatan bagi kami keluarga Sanjaya,bisa menerima kunjungan anda!”
Nathan tidak menjawab dan tidak mengubah ekspresinya sama sekali,hanya Elios yang menjawab salam Lara dengan senyum yang dia paksakan.melihat Nathan yang tidak bereaksi,Tuan sanjaya meminta kepada pelayannya untuk menyiapkan sesuatu yang enak.
Sebagai pelayan dengan cepat sang Bibi, menyiapkan kopi panas,dan beberapa cemilan enak di atas meja. Namun reaksi Nathan yang sama sekali tidak berubah,membuat suasana menjadi kaku.Lara pun turun tangan mencoba mencairkan suasana.
“Bagaimana kabar anda Tuan Nathan?”
Nathan melirik Lara yang tersenyum padanya,sedangkan Elios menatap jijik senyum yang penuh kepura-puraan itu.mendapat tatapan intens dari Nathan,membuat jantung Lara berdegup kencang.wajah tampan Nathan,dan pesonanya sungguh membuat Lara jatuh hati.
“Dimana kamarmu?”
“Kamarku?”
Apa yang ingin dia lakukan di kamarku,apa dia ingin melihat isi kamarku.apapun itu terserah,yang jelas aku bisa berduaan bersamanya.
Sementara Tuan Sanjaya sudah merasakan sesuatu yang aneh pada pertanyaan Nathan,namun dirinya tidak mengetahui maksud sebenarnya dar Nathan.dan melihat reaksi yang Lara berikan ketika Nathan langsung mengalihkan perhatiannya padanya.
“Kamarku ada dilantai atas Tuan Nathan,apakah anda ingin melihatnya?”
Nathan melirik Tuan Sanjaya dan sang istri,yang masih diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Dimana kamar Jeni?”
Deg,mereka bertiga saling melempar tatapan,rasa gugup dan takut langsung menguasai tubuh mereka.terlihat jelas Dimata Nathan reaksi yang mereka tunjukan ketika Nathan menanyakan kamar Jeni.
“Kamar Jeni ada dilantai atas,bersebelahan dengan kamar Lara Tuan Nathan.apakah ada sesuatu yang anda butuhkan?”
Nyonya Sanjaya berusaha mencairkan suasana,dirinya mencoba terlihat tenang.
Bukannya menanyakan keadaanku yang seperti ini ,dia malah menanyakan kamar Jeni anak sialan itu.apa kau tidak menganggap ku ibu mertuamu,seharusnya kau berterimakasih karena aku menampung Jeni.jika tidak dia tidak akan menjadi istrimu sekarang.
__ADS_1