Proposal Cinta Sang Ceo

Proposal Cinta Sang Ceo
35.Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Udara malam begitu menusuk tulang ,malam-malam yang telah mereka lalui sebelumnya begitu membekas di hati seorang pria.dia seorang pria Dingin,angkuh dan bertindak sesuka hatinya.pria yang dengan diam-diam telah mencintai istrinya,namun karena kekakuan dan gengsinya yang tak bisa mengutarakan cinta, membuatnya salah langkah.rasa cemburu yang menguasai hati dan pikirannya,membuatnya tak berfikir dengan tindakan yang dia ambil.


“Mama bilang aku harus mengikhlaskan mu, dan membiarkanmu pergi dari sisiku. apakah itu yang kau inginkan,apakah kau tak ingin berada disisi ku lebih lama lagi!"


"Aku bahkan belum mencurahkan isi hatiku dan cintaku,aku mohon kembalilah Jeni!”


Sambil mengecup tangan yang dingin itu,Nathan naik keatas ranjang memeluk tubuh Jeni, dan mengalirkan kehangatan untuk tubuh yang begitu dingin itu.Matahari telah menampakkan sinarnya,Nathan masih tertidur pulas sambil memeluk sang istri,ketika Elios ingin mengantarkan pakaian ganti dan sarapan untuk sang Tuan.


Elios tak tega membangunkan sang Tuan,dia melihat pemandangan yang jarang dia lihat. bagaimana sang Tuan begitu mencintai Nona Mudanya,Elios keluar dari kamar rawat, dia memerintahkan kepada anak buahnya untuk melarang siapapun masuk. dia memberi waktu kepada Tuannya, untuk menikmati tidurnya.


Di gedung tinggi tepatnya di Emperor Group,Lara dengan setia menunggu kedatangan Nathan. dia berencana menanyakan keadaan saudari tirinya, dan tentu saja sambil mendekati Nathan. dia datang tanpa sepengetahuan sang ayah,dia ingin melakukan aksinya, berada disisi Nathan dan menghiburnya saat dia terpuruk.saat dirinya sedang membayangkan bagaimana reaksi Nathan nanti saat melihatnya, membuatnya tersenyum sendiri.hingga tak menyadari, Elios sudah masuk kedalam ruangan dan mengerutkan dahi,ketika melihat tingkah adik tiri dari sang Nona Muda.


“Ada keperluan apa Nona Lara datang kemari!'


Suara bariton Elios,membuyarkan lamunan Lara,dia bangun seketika. dengan senyum malunya, dia mengatakan tujuannya datang kekantor Emperor Group.


"Saya datang ingin menemui Tuan Nathan”,,ucap Lara sangat sopan.


“Tuan Nathan tidak di kantor, beliau sedang menjaga sang istri!”,,mendengar ucapan Elios, terbesit pemikiran Lara.apakah saudarinya telah sadar, jika sudah sadar pupus sudah harapan Lara mendekati Nathan.melihat Lara yang sibuk dengan pemikirannya, membuat Elios kesal.


“Maaf Nona saya memiliki banyak pekerjaan, jika tidak ada keperluan lain anda bisa pulang!”,,ucap Elios,yang langsung meninggalkan Lara begitu saja.


“Dasar pria menyebalkan”,,maki Lara pelan.


”Aku harus mencari cara untuk menemui Tuan Nathan,apapun caranya”,,ucap Lara pelan, dan pergi meninggalkan gedung besar itu.


Didalam mimpi Jeni, dia sedang berada disebuah taman nan indah bersama sang ibu. mereka melalui hari-hari bersama dengan perasaan bahagia,Jeni melepaskan semua kerinduannya, bersama sang ibu.


“Sayang kau tak ingin kembali”,,ucap sang ibu, lembut sambil menatap sang putri.


“Aku tidak ingin kembali,aku ingin bersama dengan ibu”,,ucap Jeni sambil memeluk sang ibu.


“Apa kau tidak kasian dengan mereka,yang kini sudah menyayangimu”,,Jeni bingung dengan ucapan sang ibu,dia menatap sang ibu heran,sang ibu hanya tersenyum.

__ADS_1


“Lihatlah mereka yang kini sedang menangisi, dan memanggil namamu,lihatlah kepedihan dimata mereka terutama dimata pria itu.mata yang penuh kerinduan dan cinta itu, berharap kau kembali Nak!”


Jeni melihat ke arah pandang sang ibu, dimana orang-orang sedang menangisi,dan memanggil namanya. Nathan yang tak bisa mengendalikan emosinya, dan hanya bisa berteriak memanggil nama Jeni.Malam itu, Elios sedang menyelesaikan urusan Kantor. dia mendapat telepon dari Tania, kalau keadaan Jeni menurun, dengan cepat dirinya mendatangi rumah sakit.ketika sampai di rumah sakit,sang Nyonya ,Tania dan Renita sudah menangis histeris melihat keadaan Jeni ,yang kini sedang ditangani oleh para Dokter.


Nathan yang sudah kehilangan control akan dirinya,memaki bahkan menghajar salah satu Perawat pria, yang berusaha melepas alat pernafasan Jeni. Elios dengan sigap menahan tubuh,dan amukan Nathan yang tak berdaya melihat Jeni.


Jeni menitikkan air matanya, sebesar itukah rasa kehilangan mereka, jika dirinya pergi dan tak kembali. saat melihat wajah Nathan, dada Jeni terasa sakit,apakah dia mencintai pria itu, sehingga saat melihatnya menangis dadanya terasa nyeri. ketika melihat air mata Nathan, serta panggilannya yang pilu memanggil serta memohon padanya untuk kembali.


”kau sudah lihat bukan,mereka akan sangat bersedih jika kehilanganmu. kau sudah menghabiskan waktu yang begitu lama disini bersama ibu, jadi pulanglah dan kembalilah pada mereka!”


Jeni menatap sang ibu yang tersenyum, dan menganggukkan kepalanya ke arah Jeni.


"Ibu akan selalu disini bersamamu”,,Jeni memeluk erat sang ibu,kemudian dia pergi menuju cahaya tempat dia kembali.Usaha para Dokter membuahkan hasil,detak jantung Jeni kembali berdetak.semua yang berada di ruangan itu begitu bersyukur, terutama para Dokter yang menangani Nona Muda mereka.bagaimana jadinya jika sesuatu terjadi, mereka tak bisa membayangkan apa yang akan Tuan Muda,lakukan kepada mereka.


Setelah menangani Jeni,para Dokter meninggalkan ruang rawat, dan membiarkan keluarga menemani pasien.Elios meminta sang Nyonya,Tania dan Renita kembali ke rumah. Nathan terduduk lemah di samping Jeni, dia menggenggam Tangan Jeni,dan merebahkan kepalanya di samping Jeni.


Nathan tertidur, dia lelah bertarung dengan hati,mental dan fisiknya.Suara kicauan burung, serta sinar mentari pagi yang masuk ke celah jendela mengganggu tidur Jeni. dia mengerjapkan matanya,perlahan dia membuka matanya. hal pertama yang dirinya lihat adalah sinar matahari, dan burung-burung yang beterbangan.saat dia mengalihkan pandangannya, Jeni terpaku pada sosok pria tampan yang tertidur disampingnya.


Tangan Jeni terulur mengusap lembut kepala Nathan,hampir 30menit lamanya ,Jeni memperhatikan serta mengelus kepala Nathan. namun tak ada respon apapun dari sang Tuan Penguasa,Jeni hanya tersenyum. apakah Nathan begitu menikmati belaian tangan Jeni ,merasakan ada seseorang yang mengelus kepalanya, Nathan membuka matanya.


“Kau sudah sadar sayang”,,ucap Nathan tak percaya dengan apa yang dia lihat,dielusnya pipi Jeni yang sudah sedikit menghangat itu.tatapan Jeni masih sama, dia hanya mengedipkan matanya tanpa mengucapkan sepatah kata.


Nathan kebingungan, dia berlari keluar ruangan mencari keberadaan Dokter.sang ibu ,Tania dan Elios yang baru saja sampai di rumah sakit, kebingungan melihat Nathan yang berlari seperti orang gila. dan sesaat kemudian mereka mengingat Jeni,mereka begitu takut jika sesuatu terjadi lagi padanya seperti halnya kemarin.


Mareka berlari menuju ruang rawat,dan betapa terkejutnya mereka mendapati Jeni,yang sudah sadar dan menatap mereka dalam diam.tangis haru memuncah,Tania berlari memeluk sang kakak ipar,sedangkan sang ibu melakukan hal yang sama. namun berbeda dengan Jeni, yang masih diam tanpa ekspresi itu, Nathan dan para Dokter, datang memeriksa keadaan Jeni.


”Bagaimana Dokter”,,ucap Nathan menatap sang Dokter.


'Semuanya baik Tuan muda,selamat Tuan Muda,ini semua mukjizat dari Tuhan. dan Nona masih butuh istirahat Tuan Muda!"


Nathan tak puas dengan jawaban sang Dokter.


”Tapi dia tak bereaksi apapun, tidakkah kau lihat”,,ucap Nathan yang sedikit emosi.

__ADS_1


Para Dokter menjelaskan keadaan Jeni,dengan mendetail yang bisa diterima oleh akal dan pikiran Nathan. sang ibu, serta adiknya hanya bisa memberi dukungan kepada sang kakak, untuk lebih bersabar,karena bagaimanapun Jeni baru sadar dari tidurnya yang panjang.


Sang ibu serta Tania,memilih keluar untuk menenangkan diri, dan mencarikan sang kakak makanan,karena Nathan tak pernah menerima makanan lagi dari rumah selama Jeni dirawat.Jeni menatap Nathan dalam diam,terlihat jelas kerinduan dan penyesalan dimata pria, yang kini duduk dihadapannya.


Tangan Jeni terulur mengusap rahang Nathan yang sudah tak terawat itu,wajah yang sedikit tirus serta mata panda,membuatnya tak terlihat seperti si Tuan Penguasa, nama yang Jeni berikan untuknya.


“Kenapa kau jadi jelek sekali,kemana wajah tampan mu pergi”,,ucap Jeni pelan ,yang membuat tubuh Nathan membeku,suara yang begitu dia rindukan kini dapat dia dengar kembali. Nathan tersenyum bahagia,dia bangun dan memeluk tubuh Jeni,yang ikut tersenyum bahagia.


“Terimakasih karena telah kembali,terimakasih karena tak melupakanku,terimakasih Jeni”,,ucap Nathan dengan suara paraunya, dia mengecup kening Jeni lama. menyalurkan kerinduannya selama ini, dia tak mengira akan merasakan cinta yang teramat dalam, pada istri kecilnya itu.


“Kau mau membuatku tertidur lagi,kau berat dan aku tak bisa bernafas”,,omel Jeni, membuat Nathan sadar akan perbuatannya. Nathan membantu Jeni duduk, dan memandang wajah pucatnya.


"Kau mau sesuatu”,,ucap Nathan lembut.


"Aku rindu makan,makanan rumah",,ucap Jeni yang membuat Nathan tersenyum, dengan segera dia menghubungi Pak Mul,memintanya untuk membuatkan dan mengantarkan bubur dan minuman hangat ke rumah sakit . Setelah 1 jam menunggu akhirnya bubur dan minuman hangat tiba,Pak Mul sangat bersyukur melihat sang Nona Muda telah sadar.


Di dalam ruang VVIP itu,mereka menghabiskan hari mereka untuk menemani Jeni.


Setelah mandi dan membersihkan diri, Nathan menghampiri Jeni yang masih duduk menatap bintang dari luar jendela.


"Apa yang kau lihat hem”,,ucap Nathan membuyarkan lamunan Jeni .


"Hanya menatap bintang di langit malam”,,Nathan merebahkan kepalanya dipangkuan Jeni, sambil menatap wajah yang teramat ia rindukan itu.


“kenapa tidurmu lama sekali,aku begitu ketakutan disini,karena kau tak kunjung bangun dari tidurmu itu”,,ucap Nathan menatap Jeni yang hanya dibalas senyuman manis.


”Aku masih jalan-jalan,dan menghabiskan waktuku bersama dengan ibu di sana”,,ucap Jeni,yang membuat tubuh Nathan membeku.


"Apakah kau bertemu ibumu, di mimpimu”,,Jeni mengangguk.


“Ibu lah yang memintaku kembali kesini, dan ibu juga mengatakan, bahwa ada orang-orang yang akan sedih jika aku harus meninggalkan tempat ini!'


Jeni menatap kembali indahnya malam, yang bertabur bintang itu.Nathan memeluk erat pinggang Jeni, dia sangat bersyukur dan berterimakasih ,kepada sang mertua.karena telah menuntun Jeni kembali,sehingga dia bisa memeluk tubuh wanita yang begitu dia cintai.

__ADS_1



__ADS_2