Proposal Cinta Sang Ceo

Proposal Cinta Sang Ceo
46.Mengadu Domba


__ADS_3

Rasa tidak percaya menguasai pikiran Nyonya Andita dan Lara,apakah Tuan Nathan telah menerima Jeni sebagai istrinya.dan apakah Jeni,menjadi orang yang sangat penting bagi hidup Tuan Nathan.semua asumsi menjadi satu,membuat keduanya saling melempar pandangan.


Tubuh Nyonya Andita tiba-tiba lemas,ancaman dan kekejian Tuan Nathan serta sekretarisnya,tidak bisa di anggap main-main.jika keduanya sudah mengeluarkan ultimatum seperti itu,maka ancaman itu bisa saja berlaku.


Tatapan Nyonya Andita terarah pada Sofi,yang masih dengan tenang berdiri di hadapnnya.namun tatapannya yang dingin mengisyaratkan,agar mereka menghentikan semua kekacauan dan perbuatan mereka,yang hanya akan melukai mereka sendiri.Sofi melemparkan dua amplop yang Jeni berikan kepada mereka,dengan tangan gemetar Lara memasukkan kedua amplop itu kedalam tasnya.melihat sang ibu yang sudah lemas dan tidak berdaya,Lara dengan cepat memapah dan membawa ibunya meninggalkan toko Jeni.


Lara mengemudikan mobilnya ke sebuah ke RS  terdekat,agar tangan sang ibu cepat mendapatkan penanganan.Nyonya Andita hanya diam dan tidak bicara,namun terlihat dengan jelas pancaran kemarahan didalam matanya. Lara membawa sang ibu,untuk menerima perawatan.setelah hampir 30 menit menerima perawatan,dirinya dan sang putri meninggalkan RS dan kembali ke rumah.


“Untunglah tangan Mama tidak patah,hanya retak saja!”


“Kau bilang untung!,berani sekali wanita itu menyakitiku,Mama akan mengadukan semuanya ke Ayahmu.Mama yakin,Ayahmu yang memang sudah membencinya, akan semakin marah melihat keadaan Mama yang seperti ini!”


“Apa Mama yakin,Ayah akan berani menghampiri Jeni?.dia memiliki orang kuat dibelakangnya,Lara yakin Ayah tidak akan berani!”


“Mama punya cara sendiri,untuk meyakinkan ayahmu.kita lihat saja nanti,ayahmu pasti akan berpihak pada Mama,dan kau hanya perlu ikut alur cerita yang Mama buat!”


Lara hanya menganggukkan kepala tanda setuju,dengan rencana ibunya.sesampainya di rumah,sang ibu langsung menuju kamarnya,sementara Lara hanya menatap aneh sang ibu yang entah memiliki rencana apa.


Siang telah berganti malam,Nathan telah kembali ke rumah setelah mendapatkan laporan dari sofi,tentang yang di alami sang istri hari ini.meski marah ,namun Nathan bangga kepada Jeni yang dengan sikap tenang menghadapi kelakuan,ibu serta adik tirinya yang tidak tau malu itu.


Nathan memeluk Jeni yang kini merebahkan kepalanya ke dada bidangnya,Nathan membelai rambut serta mencium beberapa kali kepala Jeni.Nathan menikmati waktunya bersama Jeni,bahkan Tania yang ingin sekali mengobrol bersama sang kakak ipar,harus gigit jari karena kelakuan Nathan kakaknya.


“Kau bertemu ibu, dan adik tiri mu hari ini?”


“Iya,mereka datang menemui ku di toko.tidak usah membahasnya,biarkan saja mereka.sekarang aku ingin menikmati hidupku dengan baik bersama kalian!”


Nathan tersenyum dan mengecup pucuk kepala Jeni berulang kali,Jeni membenamkan kepalanya ke dada putih sang suami.dirinya benar-benar nyaman,dan merasa aman berada dalam pelukan sang suami.

__ADS_1


****


Tuan Sanjaya memasuki kediamannya,tampak putrinya Lara telah menunggu kedatangannya,untuk makan malam bersama.melihat ketidak keberadaan sang istri,Tuan Sanjaya mengerutkan dahi dan menatap Lara.seakan mengerti arti tatapan sang Ayah,Jeni hanya menunjuk dengan dagunya,kalau sang ibu masih berada dikamar.


“Panggil ibumu,untuk makan malam bersama!”


Dengan patuh Lara mengikuti perintah sang Ayah,dia menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar ibunya sebelum masuk.Lara terkejut dengan apa yang dia lihat,wajah ibunya penuh luka lebam.dengan panik Lara berlari dan menghampiri sang ibu.


“Ada apa dengan wajahmu Ma,siapa yang melakukannya!”


“Sssttt,,pelankan suaramu,apa Ayahmu sudah datang?”


“I…iya,tapi kenapa dengan wajah Mama?”


“Ini hanya rekayasa,tidak mungkin Mama membiarkan  wajah cantik ini babak belur!”


Keduanya menuruni tangga,Tuan Sanjaya sedang menikmati makan malamnya lebih dulu.rasa lapar telah menyerangnya,dirinya sudah lelah menunggu anak dan istrinya yang tidak keluar dari dalam kamar.Langkah yang memang disengaja berjalan pelan dan tertatih-tatih,membuat pandangan Tuan sanjaya teralihkan.matanya membulat melihat keadaan istrinya yang begitu menyedihkan,sendok dan garpu yang berada ditangannya terlepas.bahkan sang pelayan ikut terkejut,pasalnya tadi siang dirinya melihat  sang Nyonya baik-baik saja,setelah kembali dari luar.dan kini beberapa lebam diwajahnya,membuat sang pelayan kebingungan.


“Apa yang terjadi padamu Ma?”


Tuan Sanjaya membantu istrinya untuk duduk dikursi,sementara Lara menjauh dan duduk  di kursinya,sambil menikmati drama yang akan sang ibu pentaskan.


“Ini semua ulah putrimu Jeni Hiks,,hiks,,dia meminta pengawalnya untuk menghajar Mama!”


“Jeni,,kalian menemuinya?”


“Iya,Mama berusaha bicara baik-baik padanya,dan memintanya membantu perusahaan dan keuangan kita.tapi lihat yang dia lakukan pada Mama,lihat ini Pa!”

__ADS_1


“Bukan hanya wajah Mama yang hancur,tapi tangan Mama juga patah dibuatnya!”


Tidak mungkin Jeni akan melakukan hal sekejam ini,meski dia sering menerima perlakuan buruk dariku maupun ibu dan adik tirinya,Jeni tidak akan melakukan semua ini.


Melihat kebungkaman sang suami,Nyonya Andita menjadi kesal.dan semakin membenci putrinya itu,dirinya mengira sang suami sudah mulai luluh hatinya,dan tidak ingin menyalahkan Jeni dengan apa yang terjadi.


“Apa Papa sekarang tidak percaya pada Mama,memang benar hubunganku dan putrimu itu tidak cukup baik,tapi apakah dia boleh melakukan hal ini kepada ibunya.dia bahkan sudah tidak menghargai kita sebagai orang tuanya,dia menghina Mama!”


“ Dia bahkan sudah tidak menganggap kita keluarganya,dia bahkan mengatai kita pengemis karena meminta bantuan padanya!”


Ucapan demi ucapan yang dilebihkan bahkan terkesan penuh penghinaan bagi Tuan sanjaya,dilontarkan oleh sang istri. ditambah lagi Lara yang semakin membumbui drama sang ibu,menyebabkan Tuan Sanjaya mempercayai semua ucapan istri dan anaknya.emosi menguasai diri Tuan sanjaya,dirinya yang selalu memiliki kebiasaan hanya mendengarkan di satu pihak,tanpa bertanya ke pihak lainnya.membuat posisi Jeni dimata sang Ayah semakin buruk.


“Anak kurang ajar,dan tidak tau berterimakasih.jika aku tau akan seperti ini jadinya,aku tidak akan menikahkannya dengan Tuan Nathan.aku akan menyingkirkannya dari rumah,jauh hari sebelum Tuan Nathan mengetahuinya!”


“Aku akan memberinya pelajaran besok pagi,dan kau Lara urus ibumu malam ini,obati dan jaga ibumu.Ayah akan tidur diruang kerja!”


Setelah kepergian Tuan Sanjaya keruang kerjanya,senyum penuh kemenangan terukir di wajah ibu dan anak itu.kebahagiaan mereka tidak luput dari perhatian sang pelayan,yang ikut sedih dengan tuduhan keji yang dilontarkan sang ibu tiri padanya. Sang bibi yang mengetahui betul sifat sang Nona sangat yakin,bahwa Nona Mudanya tidak akan melakukan hal sekeji itu terhadap orang tua,yang selalu didambakan oleh Jeni akan memberi kasih sayang padanya.


Tuhan bukalah mata hati Tuan Sanjaya, agar dia bisa melihat siapa sebenarnya yang dengan tulus menyayanginya.sadarkanlah Tuan Sanjaya,dari semua prasangka buruknya terhadap Nona Muda,yang sebenarnya sangat menyayangi Ayahnya.


Sang pelayan yang telah berumur setengah abad,meninggalkan ruang makan dengan perasaan sedih.dia menghapus air matanya yang tidak bisa dirinya bendung,dialah yang paling  mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah,jika Tuan Sanjaya berangkat kerja.Jeni yang hanya di anggap pembantu oleh keduanya,dan selalu mendapat perlakuan buruk,selalu menjadi anak baik dan penurut. 


Tuan Sanjaya duduk dan memijit keningnya, seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya, anak yang memang selama ini dia telantarkan. anak yang selama ini tidak pernah dia anggap keberadaannya, salahkah Sang putri yang pada akhirnya memberontak, karena semua perlakuan keluarganya.


Tuan Sanjaya mengeluarkan selembar foto usang, yang sengaja dia selipkan didalam buku bacanya, foto almarhum Sang istri bersama Jeni yang tersenyum bahagia. dirinya menikahi ibu Jeni karena perjodohan, dan dari pernikahan mereka lahirlah Jeni. namun cinta tidak pernah Sang istri dapatkan darinya, karena dirinya lebih mencintai Sang kekasih yang dia dia miliki sebelum menikah.


Maafkan aku yang begitu menyakiti dirimu semasa hidupmu, dan menyakiti putri kita. bukan karena aku tidak menganggapnya putriku, aku pun tidak tau kenapa, setiap melihatnya mengingatkan ku padamu.

__ADS_1


__ADS_2