
Sebuah pesan yang masuk dari sofi,membuat Elios menghentikan kegiatannya.setelah memutar dan mendengar dengan seksama obrolan antara Nona Muda dan Tuan sanjaya,Elios menahan rasa kesalnya.
Sungguh Orang tua yang tida tau diri,bagaimana bisa dirinya menuduh dan menyakiti hati Nona Muda,dengan ucapannya yang menyakitkan.bagaiamana keadaannya sekarang,apakah Nona baik-baik saja,ah,,sial,,
Elios menuju ruangan Nathan,dirinya tidak tau reaksi seperti apa yang kan sang Tuan tunjukan ketika melihat video itu.mengetahui Tuan Sanjaya datang menemui sang Nona saja,Tuan Mudanya sudah menahan rasa kesal dan amarahnya,apalagi mendengar obrolan mereka.
Elios mengetuk pintu dan menundukkan sedikit kepalanya,Nathan yang melihatnya hanya mengangguk dan mengacuhkannya.Elios mendekat dan menghampiri Nathan.
“Tuan Muda,Sofi mengirim laporan tentang pertemuan Nona dan Tuan Sanjaya!”
Nathan menyandarkan tubuhnya,dan menunggu Elios.dengan cepat Elios memberikan ponselnya dan memutarkan video yang Sofi kirm.Nathan diam dan tidak bereaksi,meski kemarahan terpancar jelas dimatanya,rahangnya mengeras.Elios yang melihat perubahan di wajah sang Tuan,menahan nafas takut akan kemarahan yang selanjutnya keluar.
Nona Anda sangat penting dalam hidup Tuan Muda sekarang,dan kunci suasana hati Tuan Muda berada di tangan anda Nona.dan hari ini sepertinya akan ada masalah besar yang akan terjadi.Elios
Ketabahan dan kesabaran apa yang kau miliki Jeni,sehingga kau dengan sabarnya menghadapi sikap dan tekanan dari Ayahmu.bahkan dengan terang-terangan pria ini menghina dirimu dan ibumu,pria yang tidak kau pantas sebut sebagai Ayah. Nathan
Nathan melemparkan ponsel Elios yang langsung di tangkap oleh si pemilik,Nathan memejamkan matanya dan menguasai dirinya dari amarah,yang sebenarnya dirinya redam sejak tadi.
“Kosongkan jadwalku sore ini,kita berkunjung ke rumah keluarga Sanjaya,kita beri mereka peringatan!”
“Baik Tuan Muda!”
Aku akan memberi mereka pelajaran yang tidak akan mereka lupakan,mereka yang telah menyakiti hati istriku yang begitu rapuh.
*****
Isak tangis terdengar memilukan di sebuah ruangan,Jeni menumpahkan semua kesedihannya,dan meratapi nasib ibunya yang begitu mencintai sang Ayah.yang hanya memberinya luka,tanpa memberinya cinta dan perhatian.Diluar pintu Sofi berdiri seperti patung,mendengar isak tangis Sang Nona yang rapuh,tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain menemani dan menjaganya.
Kenapa hidupmu begitu malang ibu,kenapa ibu harus mencintai pria seperti ayah,yang bahkan tidak menginginkan keberadaan ku dan dirimu ibu.kenapa ibu tidak mengejar kebahagiaan ibu sendiri,dan tetap bertahan pada pria sepertinya,kenapa Ibu,,,
Jeni menangis mengeluarkan kesedihan, yang dirinya rasakan untuk dirinya dan sang ibu.lebih dari satu jam lamanya,Jeni menangis hingga kelelahan dan tertidur di sofa ruangannya.tidak mendengar suara sang Nona membuat Sofi sedikit khawatir,hingga dirinya memutuskan masuk dan melihat keadaan sang Nona,yang sekarang sedang tertidur.
Anda pasti sangat menderita Nona,lupakanlah mereka yang pernah melukai dan menyakiti anda,hiduplah bersama Tuan Muda yang begitu mencintai anda .kejarlah kebahagiaan anda Nona,karena anda berhak bahagia.
Sofi menyelimuti Jeni sebelum meninggalkan ruangan,dan menunggu sang Nona bangun dari tidurnya.sambil mengamati dan memeriksa keadaan Toko yang semakin ramai pelanggan.
Sementara itu di kediaman Sanjaya,Nyonya Andita sedang menikmati waktu senggangnya.penampilan sudah kembali seperti biasa,tidak ada lagi wajah yang penuh lebam yang dirinya perlihatkan semalam.dirinya sedang menikmati kemenangan karena telah berhasil mengelabuhi sang suami,dia meyakini sekarang sang suami pasti sedang menemui putri tirinya.hanya membayangkannya saja sudah membuatnya senang,apalagi jika dirinya ikut menyaksikan amukan sang suami pada putrinya itu.
Mestinya aku ikut dan semakin memprovokasi keadaan,tapi ada wanita gila di samping Jeni sekarang.bisa saja perbuatan ku terbongkar, senangnya melihatmu menderita Jeni.aku membencimu seperti aku membenci ibumu yang sudah menjadi tulang itu.
__ADS_1
Sang pelayan datang membawakan minuman jus yang Nyonya Andita minta,dan betapa terkejutnya dirinya melihat wajah sang Nyonya sudah cantik dan lebam yang terlihat semalam telah hilang.
“Nyonya,wajah anda sudah membaik?,wah hebat sekali obat apa yang anda gunakan,sehingga dalam semalam lebam di wajah anda telah hilang!”
“Khuukk,,Khukk”
Mendengar ucapan sang pelayan,Nyonya Andita yang sedang meneguk jusnya terbatuk-batuk.ditatapnya sang pelayan dengan tatapan kesal,dan tidak suka.
“Bukan urusan Bibi,yang seharusnya bibi urus itu pekerjaan rumah,dan bukan urusan majikan.bini mengerti!”
“Hehhee,,Maaf Nyonya,saya hanya penasaran dengan obat yang anda gunakan!”
“Tentu saja aku menggunakan obat yang paling mahal,dan di beli diluar negeri jadi lebamnya cepat hilang.sudahlah sana kerjakan urusan rumah!”
Sang pelayan menunduk dan meninggalkan sang Nyonya,yang melanjutkan kegiatannya membaca majalah itu.
Sungguh anda buta Tuan,anda tidak melihat dan mengetahui sifat istri anda yang sebenarnya.bahkan anda selalu membandingkan, almarhum Nyonya dengan istri anda yang sekarang.tidakkah anda tau telah banyak kebohongan yang telah istri anda ini lakukan di rumah ini.
Dengan langkah gontai sang pelayan yang paling mengetahui, apa yang telah Nyonya Andita lakukan selama menjadi Nyonya di rumah ini,meninggalkan sang Nyonya sendiri menikmati waktunya yang berharga.Melihat wajah sang pelayan yang lesu,Lara yang baru saja berpapasan dengannya mengerutkan kening.namun Lara tidak menghiraukannya,dan menemui sang ibu yang masih asyik dengan dunianya.
“Apa yang ibu lakukan?”
“Kau tidak lihat apa sedang ibu lakukan!”
“Astaga kau benar Lara,tunggu disini ibu akan merias wajah ibu lagi!”
Dengan cepat sang ibu berlari menaiki tangga dan masuk kedalam kamar,Lara yang melihat tingkah sang ibu hanya geleng-geleng kepala.sambil menunggu sang ibu kembali,Lara menikmati cemilan yang di bawa oleh sang pelayan.
Tuan Sanjaya merasakan firasat yang tidak enak,hingga akhirnya dirinya memilih kembali kerumah.di dalam perjalanan,otak dan pikirannya masih mengingat pertemuannya dengan sang putri Jeni.ada perasaan bersalah dan menyesal yang dirasakan oleh dirinya, ketika mengatakan kalau dirinya tidak menginginkan Jeni dan ibunya.meski dirinya tidak mencintai sang ibu, kelembutan dan kesabaran sang ibu hampir meluluhkan hatinya.namun karena suatu hal,dirinya lebih memilih Nyonya Andita dan menyakiti hati ibu Jeni.
Tuan Sanjaya larut dalam kenangan masa lalu,yang begitu menyakitkan untuk Ibu Jeni bila dirinya kenang kembali.dirinya yang menyetujui perjodohan,dan dirinya pula yang menyakiti hati wanita yang begitu lembut padanya.hingga mobil yang membawanya memasuki halaman rumahnya.
Mendengar suara mobil sang Ayah,Lara terkejut dan dengan segera berlari menemui sang ibu.tanpa permisi Lara membuka paksa pintu kamar ibunya,membuat Nyonya Andita terkejut.
“Ibu cepat selesaikan semuanya,Ayah sudah kembali.aku akan berusaha menahan Ayah di bawah!”
“A..apa Ayahmu sudah kembali!”
“Cepat sudah tidak ada waktu lagi!”
__ADS_1
Lara menutup kembali pintu kamar sang ibu,dan berlari menuruni tangga.dan kembali duduk di sofa melanjutkan kegiatannya,seolah-olah tidak mengetahui kedatangan sang Ayah.
Sial,apa yang terjadi kenapa masih sore begini dia sudah kembali ke rumah,apa ada sesuatu yang terjadi di pertemuannya dengan Jeni hari ini.ah,,cepat berdandan sebelum dia mengetahui kebohonganku.
Tuan Sanjaya masuk ke dalam rumah,dan langsung menuju kamarnya.Lara hanya melirik dan berpura-pura tidak melihat sang Ayah,yang setelah itu turun kembali dan menemui sang Pelayan yang entah memerintahkan apa padanya.melihat Lara yang duduk disofa,Tuan Sanjaya berlalu begitu saja menuju ruang kerjanya.Lara bangun dan melangkah menghampiri sang Pelayan,yang sibuk membuat sesuatu.
“Ayah mengatakan apa Bi?”
“Tuan meminta Bibi,membuatkan kopi dan cemilan Nona!”
“Oh,,Tolong hantarkan Jus ke kamar Mama dulu ya Bi!”
“Baik Nona!”
Lara meninggalkan sang pelayan yang sibuk dengan pekerjaannya,sementara dirinya kembali ke kamar sang ibu,setelah itu kembali ke kamarnya.dia yakin sang Ayah bekerja dari rumah,jadi situasi masih aman terkendali menurutnya.
“Nyonya,ini saya mau nganterin Jus!”
“Masuk saja Bi,tidak dikunci!”
Sang pelayan terkejut melihat sang Nyonya, yang kini sedang duduk bersandar di ranjangnya,dengan wajah yang kembali penuh lebam lagi.melihat keterkejutan sang pelayan,membuat Nyonya Andita memutar bola matanya jengah.
“Jangan banyak terkejut,dan mencoba mencari tau Bi,bawa kemari jusnya dan lanjutkan pekerjaanmu!”
“I…iya Nyonya!”
Setelah memberikan Jus ke tangan sang Nyonya,dengan langkah cepat sang Pelayan meninggalkan kamar,dan membawakan sang Tuan apa yang tadi dia minta padanya.meski begitu banyak pertanyaan dibenaknya, namun dirinya yang hanya seorang pelayan tidak mempunyai keberanian untuk bertanya.
“Tuan ini kopinya!”
“Terimakasih Bi!”
“Sama-sama Tuan!”
Sang pelayan masih berdiri antara ingin mengatakan apa yang ada dibenaknya,atau tidak.dirinya sungguh tidak bisa tahan melihat sikap sang Nyonya di rumah itu.melihat kegelisahan sang Bibi,yang telah ikut keluarganya selama belasan tahun,membuat Tuan Sanjaya mengerutkan dahi.
“Apa ada yang ingn Bibi sampaikan,katakanlah jika ada!”
Sang pelayan memberanikan diri menatap Tuannya,dan dengan keberanian dia mengutarakan semua yang ada di kepalanya.
__ADS_1
“Tadi malam wajah Nyonya lebam,tapi pagi ini wajahnya sangat cantik Tuan,lebamnya sudah hilang.tapi ketika anda kembali,wajah Nyonya kembali lebam.apa iya ada obat yang bisa menghilangkan lebam dalam beberapa menit terus muncul kembali di beberapa menit kemudian!”
Ucapan dan pertanyaan polos dari pelayannya,membuat Tuan Sanjaya kebingungan.Tuan Sanjaya memberi kode kepada Sang pelayan untuk duduk di kursi yang ada dihadapannya.dengan patuh Bibi duduk dihadapan Tuannya,dengan tenang dia menjawab semua yang ingin di ketahui oleh sang Tuan.