
Nyonya Agatha terduduk lemas di sofa,Jeni berusaha menenangkannya dengan memberi segelas air minum.Tania dan Elios hanya bisa menundukkan kepala dengan rasa bersalah,sementara Nathan hanya cuek dan tidak menghiraukan sang adik yang terlihat menyedihkan.
“Dasar anak nakal,beraninya kau membohongi ibumu.kenapa tidak jujur pada kami!”
“Maafkan Tania Bu,Tania takut jika Ibu dan kakak akan melarang hubungan kami!”
Nathan mengangkat alisnya,heran dengan apa yang Tania ucapkan.dengan wajah kesal Nathan menatap sang adik dengan tajam,baik Tania dan Elios mulai merasakan bulu kuduknya berdiri karena mendapat tatapan tajam.
“Jadi kau berfikir jika kakak merestui hubungan kalian?”
Deg,jantung Tania terasa mau copot mendengar ucapan Nathan yang mengejutkan.wajah cantiknya pucat menatap wajah Nathan yang terlihat serius,wajah dingin yang terlihat marah dan menatap Elios dengan tajam.Takut,itulah yang Tania rasakan sekarang.
Nathan bangkit dari duduknya,meraih sang putra ke dalam gendongannya dan melangkah menuju kamarnya.Tania yang melihat kepergian sang kakak mulai bersedih dan menitikkan air matanya,dengan keberanian Tania berusaha menghentikan sang kakak.
“Kakak,maafkan aku yang telah berbohong kepadamu.aku tidak memilki keberanian serta kepercayaan diri untuk mengungkapkan hubungan kami!”
“Tuan Muda,semua ini bukanlah salah Tania.semua ini salah saya yang meminta Tania untuk menyembunyikan hubungan kami,sampai saya siap mengatakan kebenarannya!”
Nathan membalikkan tubuhnya,menatap Tania dan Elios bergantian.wajah dinginnya masih sama,hingga Tania tak berani untuk menatap kedua mata sang kakak.
“Kau pasti tau jawabanku bukan,jawabanku masih sama seperti terakhir kali kau meminta restu kepadaku!”
Tania mengangkat kepalanya menatap kepergian sang kakak yang mulai menaiki tangga menuju kamarnya,Tania mengepalkan tangannya.apakah ini akhir dari kisah cintanya bersama pria yang dicintainya,bahkan dirinya belum membuktikan apapun kepada kakaknya kalau Elios adalah pria yang pantas untuknya.
“Katakan alasanmu kak,kenapa kau tidak merestui hubungan kami?”
“Karena Elios belum layak untukmu,kau masih saja manja dan keras kepala!”
“Apa maksudmu kak,,kakak!”
__ADS_1
Tania meneriaki nama Nathan yang mulai menghilang di balik pintu kamarnya,Tania meneteskan air matanya,membalikkan tubuh dan menjatuhkan kepalanya di bahu Elios yang mengusapnya dengan lembut.Jeni tak bisa melakukan apapun,namun Jeni merasa ada yang aneh dengan sikap Nathan yang tidak bisa ia tebak.
Tania mengangkat kepalanya,dan berlari kearah sang ibu yang terduduk lemas di sofa.Tania begitu menyedihkan malam ini,bahkan Jeni tidak pernah melihatnya menangis seperti itu.
“Ibu,aku mencintai Elios Bu aku mencintainya!”
Nyonya Agatha terdiam dan menatap Elios dengan dalam,perlahan Elios mendekat dan berlutut di hadapan Nyonya Agatha yang terkejut akan tindakan Elios yang berlebihan menurutnya.
“Elios bangunlah,duduklah di sofa jangan berlutut seperti itu seolah-olah kau meminta pengampunan padaku!”
“Saya ingin meminta maaf Nyonya,saya mencintai putri anda.ijinkan saya menikahi serta membahagiakannya!”
Nyonya Agatha menutup kedua matanya,kepalanya seperti akan pecah.Elios adalah pria baik selain itu dirinya begitu mengenal kepribadian Elios,yang sopan serta bertanggung jawab.siapa yang tidak ingin memiliki menantu sepertinya,yang menjadi masalah saat ini adalah sang putra Nathan yang sepertinya menentang hubungan keduanya.
“Elios,aku tidak melihat siapa dirimu serta asalmu,kau pria baik dan menantu idaman setiap ibu diluar sana yang memiliki seorang putri,yang tentunya ingin putri mereka mendapatkan pria yang baik.begitu juga denganku sebagai seorang ibu,tapi aku harus menghormati keputusan putraku sebagai kepala keluarga Agatha!”
“Ibu!”
“Ibu!”
“Tania,belajarlah untuk menjadi wanita dewasa yang berfikiran luas.kalian harus berusaha mendapatkan restu Nathan,ibu selalu menghormati keputusanmu sayang!”
Nyonya Agatha menghela nafas,bangkit dari duduknya dan meninggalkan ketiganya.semakin membuat Tania berderai air mata,Jeni menatap sedih sang adik ipar.dengan penuh kasih sayang Jeni meraih tubuh Tania,memeluknya dan menepuk pelan pundaknya agar perasaannya sedikit membaik.
Jeni melirik Elios dan memintanya untuk menemui Nathan, menggunakan kode mata. Namun Elios menggeleng pelan, Elios merasakan hal aneh pada diri Nathan, karena itu dirinya memutuskan untuk menunggu sampai besok pagi, dimana dirinya akan memiliki banyak waktu untuk bicara berdua.
Sementara diruang keluarga seorang wanita muda sedang menangis tersedu-sedu, dikamar yang luar Nathan berusaha menahan tawanya agar tidak terdengar. Betapa puas dirinya mengerjai sang adik, yang membuatnya menunggu terlalu lama hanya untuk mendengar pengakuan sang adik.
Jeni memasuki kamarnya, mengedarkan pandangannya mencari sosok suaminya yang sedang menidurkan jagoan mereka. Jeni mendekat dan menatap Nathan dengan lekat, mendapat tatapan tajam dari Jeni, Nathan mendesah. Nathan meraih tubuh Jeni dan memeluknya, mencium pucuk Kepala Jeni dengan lembut.
__ADS_1
"Aku hanya sedang berpura-pura sayang, tolong jangan marah padaku,aku tau tatapan mu itu sedang meminta penjelasan padaku! "
Jeni mendorong tumbuh Nathan dengan perlahan, menatap kedua mata Nathan yang teduh.
"Kau sedang berpura-pura? "
"Iya, aku ingin memberi hukuman pada gadis nakal itu. Setelah sekian lama, dia baru berani bicara dan hal itu membuatku kesal! "
Jeni mendesah lega, dan menggelengkan kepala pelan melihat sikap kekanak-kanakan Nathan.
"Apa kau tidak kasihan pada Tania? Dia sungguh bersedih, butuh keberanian baginya untuk jujur padamu suamiku sayang! "
Nathan mengangkat alisnya, memiringkan kepalanya, sambil tersenyum nakal melihat Jeni yang mengerutkan dahi.
"Kau memanggilku apa barusan? "
"Apa,, tidak ada! "
Jeni mengarahkan pandangannya, agar tidak menatap Nathan. Wajahnya memerah karena malu,malu akan panggilan yang ia berikan kepada Nathan. Melihat Jeni yang malu-malu, dengan wajahnya yang merona membuat Nathan gemas dan semakin menggoda Jeni.
"Ayo ulangi lagi, aku ingin mendengarnya. Kedengaran manis di telingaku! "
"Suamiku sayang! "
Jeni sedikit berteriak, setelah itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Membuat Nathan tertawa bahagia, dengan gemas Nathan mengangkat tubuh Jeni dan membawanya keranjang. Keduanya memulai aktivitas malam yang menggairahkan, menyampingkan permasalahan Elios serta Tania.
"Hikss,, hikss,, "Tania masih menangis di kamarnya, andai saja dirinya memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya, apakah kakaknya akan berubah pikiran. Bahkan Elios terlihat begitu tenang, mengahadapi sikap kakaknya yang dingin.
Aku tidak akan kalah, aku akan mendapatkan restu mu kak, aku akan membuktikan padamu bahwa Elios pria yang tepat untukku.
__ADS_1