
Pagi harinya suasana di halaman kediaman sang Adipati menjadi cukup ramai oleh para prajurit yang akan ikut mengawal sang Adipati mencari barang yang menjadi syarat dari wati.
"Apakah kanjeng Adipati yakin akan pergi untuk mencari selendang mayang itu"
tanya wati kepada sang Adipati saat berpamitan pada wati.
"Tentu saja, aku adalah seorang ksatria dan pantang bagi seorang ksatria mengingkari perkataan dan juga janjinya"
kata sang Adipati mantap penuh percaya diri.
"Kanjeng tidak perlu melakukannya dan anggap tidak pernah ada perjanjian diantara kita, dan biarkan hamba pergi dari sini"
"Sudahlah aku sudah memutuskan maka itu yang akan aku lakukan, kau cukup menungguku kembali dan bersiaplah menjadi istriku saat aku kembali dengan membawa selendang yang menjadi syarat darimu"
kata sang Adipati lalu mengangkat dagu wati dengan jarinya sambil tertawa gemas.
"Kau benar benar membuatku tak sabar ingin menjadikanmu milikku nona, baiklah aku pergi sekarang, baik baiklah selama aku tinggal"
Adipati angkoro kemudian pergi dengan menunggangi kudanya dan diikuti oleh puluhan prajurit yang mengawalnya.
Adipati itu tidak pernah tahu kalau perjalanannya tidak akan pernah membawa hasil apapun karena selain barang yang diminta wati sebagai syaratnya merupakan sesuatu yang mustahil untuk dipenuhi, disamping itu perjalanannya tidak akan pernah mulus karena pasukan dari anak buah wati akan menghabisi seluruh perajurit yang mengawalnya satu persatu.
__ADS_1
Tanpa disadari oleh Adipati angkoro kalau dia telah melakukan perjalanan yang tidak akan pernah ada akhirnya, hanya penderitaan dan penyesalan yang akan dia dapatkan pada akhirnya.
Pada dasarnya wati tak ingin membunuh sang Adipati, tapi karena keinginan balas dendam dari putri kemuning yang menginginkan balas dendamnya dengan mengakhiri hidup sang Adipati membuatnya harus melakukannya dan mengakhiri drama balas dendam ini agar wati dapat segera kembali pada kehidupannya sendiri.
"Ekhem.... ehem....."
Wati segera kembali pada kesadarannya saat suara deheman dari pemuda yang belum lama dikenalnya ini mengagetkannya.
"Apakah sebegitu besar harapanmu pada ayahku itu, seolah kau sangat ingin menjadi istrinya"
pertanyaan yang mengandung aura cemburu langsung ditujukan pada wati yang masih menatap kepergian rombongan sang Adipati.
"Oh.... sepertinya aku mencium aroma kecemburuan, bukan begitu raden ?"
"A...aaku...bu.. bukan begitu aah...."
katanya terbata bata juga kesal tak tahu harus berkata apa karena malu dan wajah yang memerah, lalu pergi masuk ke dalam meninggalkan wati yang tertawa cekikikan geli.
Wati kemudian menyusul raden permadi masuk kedalam rumah masih sambil tertawa geli.
Dengan tanpa malu dan sengaja ingin menggoda raden permadi, wati ikut masuk ke dalam kamar sang raden lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Raden katakan padaku apakah kau cemburu, apa kau mencintaiku ?"
tanya gadis itu masih sambil memeluknya dari belakang.
"Apa itu perlu kau tanyakan lagi hah...?!"
tanya balik sang raden sambil memutar tubuhnya membuat posisi mereka berhadapan masih dengan wati yang memeluk sang raden.
"Aku ingin kau mengatakannya, apa kau mencintaiku ?"
tanya wati lagi sambil sedikit menjauh membuat jarak agar dapat melihat wajah pemuda yang juga sangat dicintainya pada kehidupannya sebelumnya didunia asalnya.
Raden Permadi kembali menarik wati dalam pelukannya untuk sekedar memberikan rasa tenang di jiwanya, karena bagaimanapun dia cemburu dan takut wati benar benar menjadi istri dari ayahnya suatu hari nanti.
"Aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu dengan mu, tapi kau justru terlibat dengan ayahku, katakan bagaimana aku harus bersikap"
katanya sambil mempererat pelukannya pada wati.
"Apa yang terjadi antara aku dan kanjeng Adipati tidak seperti yang raden pikirkan, pada saatnya nanti raden akan tahu"
kata wati sambil menengadahkan wajahnya keatas melihat ke manik mata raden permadi.
__ADS_1
*Maaf ya readers karena makin kesini author makin susah bagi waktu jadi sering bolong up nya, author minta tolong agar tetap semangat dan dukung terus author dengan vote like koment dan rate nya 😘👍*
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍