
Tengah malam baru Arya kembali ke klinik herbal-nya, sementara Oma juga Ayah dan Bunda-nya mereka semua sudah di rumah Andre setelah acara pesta pernikahan Andre dan Wati selesai.
Setelah sampai di klinik herbal-nya, Arya langsung menuju kamarnya dan berbersih diri, setelah cukup segar Arya mengambil sikap bersila dan berpindah tempat ke rumahnya di lereng gunung tempat dia dibesarkan oleh Wati Bunda-nya dan Ki Ireng yang bagi Arya adalah kakeknya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh"
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi wabarakaatuh"
"Hem bocah nakal, apa kau begitu sibuk hingga tak pernah kembali walau hanya sebentar untuk menengok kakek-mu ini selama kau di Pontianak dasar cah ndablek"
Ki ireng langsung menyambutnya dengan omelan sambil tangannya menjewer telinga Arya.
"Aaaaddduuuuhhhhh.... kek ampun.... ini kuping ku bisa panjang nanti kek?"
teriak Arya saat telinganya di jewer oleh Ki Ireng.
"Katakan kenapa kau tak pernah pulang menengok kakek-mu ini hah?"
Tanya Ki Ireng lagi sambil melepaskan jewerannya.
"Maafkan Arya Kek, seperti kata Kakek tadi, aku memang terlalu sibuk oleh pekerjaan dan pulang kerumah sudah malam kadang mandipun sudah tak sempat karena mata sudah ingin langsung merem kalo sampe rumah kek"
Jawab Arya cengengesan sambil mengusap usap telinganya yang panas akibat jeweran Ki Ireng.
"Banyak alasan kau bocah nakal, kemarilah peluk kakek dulu"
Ki Ireng yang terlalu menyayangi Arya tidak akan betah berlama-lama memarahinya, dia merentangkan tangannya untuk memeluk cucu asuhannya itu.
"Jadi gimana keadaannya disana, apakah begitu rumit? sampai kau tak ada waktu untuk sekedar pulang dan istirahat kerumah mu ini"
Tanya Ki Ireng setelah memeluk Arya cucu asuhannya.
__ADS_1
"Terlalu banyak intrik, ternyata dunia bisnis tidak sesederhana yang kita kira kek"
Keluh Arya kemudia menceritakannya semua situasi di sana dan apa saja yang dia lakukan selama disana.
"Selalu waspada dan hati hati jangan lengah, kakek hanya bisa mengawasi dari sini"
Pesan Ki Ireng pada Arya.
"Siapppp kek, Arya ngantuk kek mau tidur dulu ya"
"Hmmm.... ya sudah istirahat sana, besok kita latihan, kakek sudah kangen ingin menggerakkan otot-otot ini ha... ha.... ha...."
"Jangan ketawa keras keras kek,nanti yang dibawah pada takut mendengarnya"
Gurau Arya sambil berlari menuju kamarnya.
"Hais.... bocah ini"
Ki Ireng walaupun penampakannya sudah sepuh sebagai kakek tua tetapi sejatinya tetaplah seorang ponggawa di masanya dulu, dan hidup yang tak terikat oleh waktu membuatnya sosoknya dari waktu ke waktu tak berubah kecuali yang Maha Kuasa berkehendak lain.
Setelah berlatih kedua kakek dan cucu itu mulai ke kebun tanaman obat obatan, bahan baku herbal yang selama ini dijual di klinik herbal Wati.
"Sudah lama sekali Arya gak merasakan bertanam dan memetik herbal kek, aroma alami tanaman ini membuat Arya kangen."
"Apa kamu gak berminat menanam dan menjual herbal seperti Bunda-mu di Kalimantan sana cah bagus"
tanya Ki Ireng sambil tangannya terus memilih daun yang sudah cukup umur untuk di petik, dan membuang daun daun yang terkena hama ulat.
Mereka juga menggemburkan kembali tanahnya dan mengumpulkan keong yang ada disekitar tanaman agar tanaman tidak habis dimakan keong.
"Saat ini belum bisa kek, mungkin besok jika masalah di Pontianak sudah selesai dan suasana mulai kondusif, baru Arya akan coba untuk memulai menanam herbal."
__ADS_1
Jawab Arya sambil memungut keong keong untuk dijadikan makanan itik atau bebek.
"Kebun sudah selesai, ayo kek sekarang waktunya kita mandi sambil menangkap ikan"
Teriak Arya yang sudah lebih dulu berlari kearah kali.
"Waktu cepat sekali berlalu, bocah kecil yang dulu lucu sudah bertumbuh menjadi dewasa, aku akan selalu setia mengabdi padamu dan keturunanmu den Putri"
Gumam Ki Ireng sambil mengikuti langkah Arya menuju kali.
Sesampainya di kali, Arya langsung melompat dan menyelam menuju bagian terdalam dan berenang sambil menangkap ikan seperti berang berang.
Beda lagi dengan Ki Ireng yang tak perlu bersusah payah untuk menangkap ikan, karena dengan ajaibnya ikan ikan akan muncul dan mendekat dengan sendirinya.
Ki Ireng juga tidak serakah, dia hanya mengambil beberapa ikan secukupnya untuk makan mereka hari ini.
Setelah puas bermain air di kali, akhirnya Arya kembali seorang diri ke pondok karena Ki Ireng sudah lebih dulu balik ke pondok, bahkan saat Arya sampai sudah tercium harum aroma ikan bakar.
"Hmmm... ikan bakar harumnya... , bikin perut Arya yang lapar tambah rame demonya kek he... he... he..."
"Itu sudah ada yang matang, tapi lebih enak dimakan dengan irisan kencur cabe bawang pake kecap, coba kamu bantu buatkan saus kecapnya cah bagus, biar kakek yang bakar ikan"
"Siappp... kek, ternyata kakek juga pinter urusan dapur ya he... he... he..."
"Ya selama Bunda kamu jiwanya berkelana waktu itu, terpaksa kakek harus masak sendiri, dan sepertinya mulai saat ini juga akan sering masak sendiri setelah Bunda kamu menikah dengan Ayahmu pasti waktunya habis untuk suaminya."
"Aduh duh kacian kakek ku satu ini, jangan khawatir kek, Arya akan senggangkan waktu untuk pulang tengok kakek hem..."
Arya memeluk kakeknya dan menghiburnya agar Ki Ireng tak bersedih.
*Setelah 4 hari gak update, akhirnya hari ini outhor selesai juga update-nya ya gaes, walau hanya bisa up 1 bab setelah 2 hari nulis, do'a kan semoga outhor bisa rutin up setiap harinya ya gaes. Ikuti terus ceritaku dan jangan lupa untuk tetap dukung author dengan vote like koment dan rate 😘👍*
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍