
Siang harinya tak disangka ternyata Wati juga pulang ke pondok berkumpul bersama Ki Ireng dan Arya putranya semata wayang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh"
"Wa'alaikumsalam Warahmatullahi wabarakaatuh"
Jawab Ki Ireng bersamaan dengan Arya menjawab salam Wati yang tiba tiba-tiba muncul ditengah tengah kebersamaan mereka.
"Kok bunda bisa tahu kalo Arya sedang bersama kakek sih?"
Tanya Arya yang kembali ke mode bocah kalo sedang bersama Ki Ireng dan Bunda-nya itu.
"Ya pasti tahulah, kamu itukan bagian dari Bunda sayang"
"Aki kalo bocah ini nakal suruh ambil air di curug biar dia penuhi gentong yang dibelakang, kebetulan air untuk masak di gentong itu sudah mau habis."
Kata wati mengingatkan Ki Ireng untuk tidak terlalu memanjakan Arya.
"Iya cah ayu, nanti biar aki bantu Arya mengisinya."
"Kakek memang yang terbaik, ayoklah kek kita ke curug selagi masih terang, karena sore nanti Arya masih harus gabung sama temen temen selagi belum balik ke Kalimantan."
Arya Dan Ki Ireng ke curug dan masing masing-masing memanggul 2 ember untuk membawa air.
Sementara Wati menyiapkan masakan untuk makan mereka, di lihatnya masih ada beberapa ikan bakar dan bumbu kecap dengan irisan cabe bawang di atas meja makan.
Setelah selesai masak, dan menyiapkan tanaman herbal kering yang siap dibawanya untuk dijual di klinik, Ki Ireng dan Arya juga sudah pulang dari curug dan gentong air juga sudah penuh terisi.
"Bunda masak apa tadi? harum sekali sampe perut Arya laper banget Bun."
"Lihat saja di meja, Bunda cuma masak sayur pakis tumis sama sambal teri,"
Karena tadi Wati sempat melihat banyak kuncup pakis di samping pondok, jadi dia inisiatif memetiknya untuk dimasak, kebetulan di kota gak ada yang jual pakis.
__ADS_1
"Sudah lama kita tidak merasakan masakan Bunda-mu ya cah bagus, jadi ingin makan sekarang he... he..."
"Iya bener kek, sejak Bunda koma kita gak pernah lagi merasakan masakan Bunda, ayo sekarang kita makan kek, sudah gak sabar merasakan lagi masakan Bunda."
Wati yang mendengar semua percakapan Ki Ireng dan Arya tak terasa matanya berlinang air mata.
"Maafkan Wati ya Ki, maafkan juga Bunda ya sayang, Bunda hanya mengikuti jalannya takdir kemana Bunda dibawa."
"Wes wes ojo sedih sedih, yang penting sekarang Ibu dan anak sudah kembali bersama, itu sudah buat kita semua bahagia penuh rasa syukur, ya sudah ayo sekarang kita makan, sudah lapar ini kapan makannya kalo cerita terus."
Ki Ireng mencoba mencairkan suasana yang mendadak berubah melow tadi.
"Iya, ayo kita makan."
Wati mengisi piring Ki Ireng dengan nasi dan sayur juga lauknya.
Bagi Wati Ki Ireng adalah orang tuanya, yang selama ini menjaga dan membimbingnya melebihi orang tua kandungnya.
"Kakek tidak perlu khawatir, Arya bisa jaga diri kok, semua didikan Kakek dan Bunda selama ini sudah cukup untuk Arya bisa mengatasi semuanya."
"Cah bagus, jangan selalu meremehkan apapun, apa lagi di tanah orang"
"Cah ayu, kalungmu itu tidak berguna untukmu saat ini, tapi sangat berguna untuk Arya, jadi pinjamkanlah untuk Arya."
"Maksud Aki kalung kantung harimau ini? bagaimana aki tahu kalo aku memiliki ini"
"Apa kamu sudah lupa siapa sejatinya aku cah ayu?"
"Maaf Ki, ku tidak menyangka Aki juga mengenali si harimau putih ini"
Wati melepaskan kalung kantung harimau itu dari lehernya, tapi sebelumnya Wati juga lebih dulu memanggil nama Ashlan.
Saat itu juga muncullah auman seekor harimau beserta wujud harimau putih yang besar bahkan lebih tinggi dari manusia.
__ADS_1
"Goaarrrrrrr......"
"Wati...."
"Ki Ireng...."
"Dan pemuda ini siapa? tapi aromanya seperti milikmu Wati"
"Ashlan perkenalkan dia ini putraku namanya Arya, Arya perkenalkan ini Ashlan"
"Dan kau Ki Ireng bagaimana hmmm.... apakah aku sedang dikawasan Merapi?"
"Selamat kembali Putih, kau benar saat ini kau sedang dikawasan Merapi, dan ini junjunganmu serta putranya."
"Goaarrrrrrr..... hmmm.... jadi benar yang aku ikuti selama ini sang Putri kekuatan jiwanya sangat berbahaya jika dikenali musuh."
"Tapi kau sudah membantunya mempelajari mantra segel untuk melindungi identitasnya saat itu, Terimakasih."
"Lalu apa lagi? kenapa aku harus dipanggil kemari Gusti Putri?"
"Jangan memanggilku formal begitu, aku hanya kepingan jiwanya, mungkin sebaiknya Aki saja yang menjelaskannya kepada Ashlan."
"Hmmm... ehem.... kantung harimau-mu itu tidak berguna untuk Wati saat ini, tapi akan sangat berguna sekali untuk putranya, jadi aku minta kau memberikannya pada Arya."
Arya yang melihat interaksi ketiganya hanya diam tidak berani ikut bersuara.
"Hmmm.... hanya itu, baiklah cah bagus kemarilah."
Ashlan meminta Arya untuk mendekat dan saat Ashlan memakaikan sebuah kalung terbuat dari serat tumbuhan dengan kantung kulit harimau berwarna putih sebagai bandulnya, saat itu Arya dapat merasakan ada energi yang sangat besar memasuki tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya terasa panas dan ada semacam ledakan energi di dada juga perutnya.
*Akhirnya hari ini outhor selesai juga update-nya ya gaes, walau hanya bisa up 1 bab hari ini, do'a kan semoga outhor bisa rutin up setiap harinya ya gaes. Ikuti terus ceritaku dan jangan lupa untuk tetap dukung author dengan vote like koment dan rate 😘👍*
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
__ADS_1