
Singkat cerita aku mulai beranjak gadis, dan aku kembali ke kota J untuk meneruskan sekolah ku di kota itu.
Sebagai gadis kecil aku memiliki aura tersendiri dibandingkan kawan kawan yang lain seusia ku.
Bahkan sahabat ku sendiri mempunyai rasa iri pada ku, tapi aku tidak terlalu memperdulikan sikapnya selama dia tidak berniat jahat padaku aku masih nyaman nyaman saja bergaul dengannya.
Di kota J aku bersekolah di sebuah sekolah negeri tingkat SMA dan aku hanya punya satu orang sahabat.
Ya aku tidak suka bergaul terlalu akrab dengan teman temanku karena aku tahu rata rata dari mereka hanya akan saling memanfaatkan.
Aku selalu menjaga jarak dari orang lain karena aku tidak suka dengan perasaan saat aku merasa dimanfaatkan oleh orang lain.
Aku hanya mau menerima satu sahabat ya dia teman sebangku ku, dia orang yang sederhana simple tidak banyak tingkah dan sifatnya tidak jauh dari sifatku sendiri, dan hanya satu yang tidak kusuka darinya yang selalu kasar kalau berkata kata.
Saat di kota J aku ikut dengan eyang dan tanteku yang dulu, tapi tanteku sudah bersuami, hanya saja secara ekonomi kehidupan kami hanya pas-pasan karena eyangku sudah pensiun.
__ADS_1
Singkatnya karena ekonomi yang miris akupun ikut menjalani hidup prihatin.
Tiap berangkat sekolah untuk menghemat ongkos kalau belum kesiangan biasanya aku berjalan dulu lewat jalan kampung untuk sampai ke stasium bus kota baru naik bus ke arah sekolah ku.
Dan suatu hari aku kesiangan saat sampai disekolah jam pelajaran pertama sudah lewat, aku berjalan terburu buru menyusuri lorong sekolah menuju kelas ku.
Saat sedang terburu buru tiba tiba entah datang dari mana rombongan kakak kelas dan ada satu orang dari mereka yang sok bad boys merangkulku.
Saat itu aku emosi karena sudah telat dan masih diganggu pula, otomatis reflek badanku berputar dan memelintir lengan nya yang merangkulku tadi dan kaki ku langsung menendang kakinya,"krak.." terdengar tulang kakinya patah.
Beruntung kawan kawan nya masih membantunya untuk berdiri sebelum mereka semua kabur ketakutan.
Yah begitulah siapa yang lemah pasti ditindas dan dibuli, tapi mereka salah sasaran jika menganggapku lemah dan mudah ditindas atau dibuli.
Pernah suatu hari teman cowok yang satu kelas dengan ku berniat membuli ku, aku tahu dia anak lurah di kampungnya, jadi sikapnya yang sok arogan ingin membuli ku.
__ADS_1
Saat aku keluar kelas dia mengambil tas sekolah ku, dan dia mengacak acak isi tas ku sampai berhamburan.
Ketika aku masuk ruang kelas,ku lihat semua isi tas ku sudah berserakan, aku bukan orang yang banyak bicara tapi orang yang langsung bertindak,dia salah kalau mengira aku jenis orang yang mudah di buli dan hanya akan menangis kalau di injak.
Aku berjalan menghampirinya dan mengangkat kursi yang dekat dengan ku lalu aku memukulkan kursi itu padanya.
Sontak semua kaget, aku hanya tertawa dan mengatakan, "kamu salah mengganggu kucing yang sedang tidur" kataku dengan tatapan penuh marah.
"Cepat kumpulkan semua barang barang ku, atau kau akan tahu akibatnya" gertak ku.
Dengan wajah pucatnya dia melaksanakan perintahku mengumpulkan dan menyusun nya lagi kedalam tas ku, dengan wajah pucatnya dia meminta maaf padaku.
"Aku bukan gila hormat ataupun kata maaf tapi aku tidak suka ditindas dan dibuli ingat itu" ucapku pada semua teman sekelas ku.
*Tapi author suka like👍💖*
__ADS_1