PUTRI DARI DUNIA LAIN

PUTRI DARI DUNIA LAIN
*"Membawa Wangi Pulang"


__ADS_3

Arya sadar jika yang ada dalam ingatan Wangi saat ini mungkin hanya ada Mak Yaya karena hilangnya semua ingatan Wangi, pastinya gadis cantik yang biasa berbuat absurd jika sedang didekatnya dulu sudah tak lagi mengingatnya..


Arya bahkan berpikir jika Wangi mungkin sama sekali tak mengenali dirinya lagi, jika benar saat ini Wangi telah bereinkarnasi menjadi sosok Gadis yang saat ini tak sadarkan diri dalam pelukannya.


Karenanya Arya langsung mengatakan dirinya akan mengambil alih merawat Wangi, dan juga mengajak Mak Yaya sebagai orang tua angkat Wangi.


'Tapiii.... bagaimana ya? Emak bingung, bagi Emak sekarang ini Gadis adalah anak Emak tapi berat bagi Emak untuk meninggalkan rumah Emak di pesisir ini."


Ucap Mak Yaya yang menjadi dilema karena satu sisi tak ingin berpisah dari Gadis, dan sisi lain dia mencintai tempat tinggalnya.


Belum lagi selesai percakapan antara Arya dan Mak Yaya, tiba-tiba terdengar suara Boy disela sela percakapan diantara mereka berdua.


"Bro ini kita mau ke Rumah Sakit di kota sekalian balik, atau kita ke klinik terdekat saja?"


Tanya Boy tiba-tiba yang memutus percakapan Mak Yaya dan Arya.


"Kita langsung pulang ke kota bro, Wangi butuh perawatan yang lebih intensif agar ingatannya kembali pulih."


Ucap Arya seolah memberikan perintah kepada sopirnya.


Ya lebih baik jika Wangi langsung dia bawa pulang ke kota untuk memeriksa apa penyebab Wangi pingsang, dan kemungkinan bisa membuat Wangi kembali mengingat dirinya, setidaknya juga akan mudah baginya untuk memantau Wangi, begitulah yang dipikirkan oleh Arya.


Percakapan antara Arya dan Mak Yaya tadipun putus terhenti begitu saja, dan Arya juga tak ingin repot repot membahasnya lagi.


Perjalan kembali kekota memakan waktu yang cukup lama, sehingga Wangi lebih dulu bangun tersadar dari keadaan pingsannya.


"Ukhhhh.... kepalaku sakit sekali."


Ucap Wangi lirih sambil meremas kepalanya yang masih terasa nyeri sakit yang teramat sangat.


"Kamu sudah sadar Wangi? bagaimana keadaan kamu sekarang? apa yang kamu rasakan?"


Ucap Arya, dengan banyak pertanyaan begitu melihat Wangi mulai tersadar.


Wangi yang tak mengingat siapa pemuda yang sedang memeluknya itupun, segera menggeser tubuhnya dan menegakkan duduknya gak menjauh dari Arya.


"Pemuda ini... bukankah si ganteng yang tadi sedang bernyanyi di pantai, kenapa aku bisa ada disini."

__ADS_1


Batin Wangi sambil memperhatikan sekitaran dimana di depan juga ada Mak Yaya.


"Syukurlah nak..... kamu sudah sadar, Mak sangat khawatir saat kamu pingsan tadi, apa kamu sudah merasa lebih baikan?"


Kata Mak Yaya yang langsung menghadap kebelakang begitu mendengar suara Wangi saat awal tersadar tadi.


"Emmm.... iya Mak, tapi kita ini kenapa ada didalam benda aneh ini Mak? kita mau kemana?"


Tanya Wangi yang merasa bingung disela sela rasa sakit kepalanya.


Mendengar perkataan Wangi yang tak mengenali kendaraan yang biasa kita sebut mobil telah mampu membuat perhatian Boy teralihkan dari jalan raya hanya sekedar untuk melihat wajah gadis yang kini duduk sedikit menjauh dari Arya.


Berbeda dengan Boy, Arya justru menahan tawanya dan merasa lega karena kata kata Wangi tadi telah membuktikan kalo kesadaran yang ada pada Wangi yang tak mengenali kendaraan modern itu bearti gadis disebelahnya benar benar Wangi.


"Bujang disebelahmu itu, katanya mmmm...."


Mak Yaya bingung harus mengenalkan Arya sebagai apa, karena tak tahu hubungan antara Arya dan Gadis sebenarnya.


"Aku tunanganmu Wangi, aku sudah mencarimu selama beberapa bulan ini, apa kamu tidak mengingatku?"


Arya sengaja mengatakan jika dirinya adalah tunangan Wangi agar lebih mudah kedepannya untuk hubungan mereka.


Sejak Wangi menghilang beberapa waktu lalu, Arya mulai menyadari jika rasa rindunya pada Wangi dikarenakan hatinya telah memilih Wangi sebagai sang pemilik hatinya.


Wangi yang mendengar pengakuan pemuda disampingnya, yang sejak awal membuat matanya selalu memandang kearah pemuda ini tiap kali mereka bertemu, sejenak otak Wangi tak dapat mencerna semua yang telah terjadi.


"Dia.... apa karena ikatan ini makanya pandanganku selalu saja padanya walau aku tak dapat mengingat apapun."


Batin Wangi sibuk dengan pikirannya sendiri.


Dan tanpa sadar Wangi perlahan mendekat kearah Arya lalu perlahan tangannya terulur kewajah Arya dan jemari tangannya perlahan menyentuh wajah Arya.


Arya yang mendapati tingkah Wangi seperti itu hanya mampu menandang kearah mata Wangi, seolah ingin menembus melihat apa yang sebenarnya sedang dipikirkan Wangi saat ini.


"Jangan teruskan( Arya segera menangkap tangan Wangi saat jari jemari Wangi mulai menyentuh bibir Arya), hahhh..... dalam keadaan kehilangan ingatanpun semua tingkah absurd kamu tetap tak berubah."


Ucap Arya setelah menangkap tangan Wangi dan membuat Wangi bingung sendiri dengan prilakunya barusan.

__ADS_1


"Emmm..... itu.... eh..... maaf!"


Wangi sampai tak tahu harus berkata apa saat ini.


Ketika tangannya di tangkap Arya tadi dia sendiri bingung dengan apa yang dilakukannya. Seolah tangannya bergerak sendiri melakukan semuanya diluar kesadaran diri Wangi.


"Beristirahatlah tak lama lagi kita akan sampai."


Ucap Arya, lalu melakukan panggilan telepon kepada orang kepercayaannya yang mengurus perusahaannya disaat dirinya sedang tak di kantor seperti saat ini.


Arya memerintahkan asistennya untuk menyiapkan sebuah rumah hunian sederhana untuk Wangi dan Mak Yaya, karena tak mungkin baginya membawa keduanya kerumah utama milik Oma-nya.


Pastilah Oma-nya akan bingung dan memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


Boy yang mendengar percakapan Arya lewat handphone-nya sudah bisa menebak rencana Arya itupun segera bertanya,


"Bro, tujuan kita sekarang ke rumah sakit atau kemana?"


"Kita kerumah yang sudah disiapkan oleh Fariz, karena Wangi juga sudah sadar dari pingsannya,jadi biarkan si Emak dan Wangi beristirahat lebih dulu."


Jawab Arya yang segera di setujui oleh Boy.


"Ok, alamatnya kemana ini."


Arya lalu men-share lokasi yang sudah dikirimkan oleh Fariz sebagai asisten pribadinya.


"Kalo tidak jadi ke Rumah Sakit, kenapa tidak kalian antar pulang lagi saja kami ke pesisir?"


Ucap Mak Yaya yang merasa keberatan dan takut jika ternyata kedua pemuda ini memiliki niatan jahat.


"Mulai sekarang Wangi akan tinggal di rumah yang sudah saya siapkan, kalau seandainya Emak ingin pulang, maka nanti pegawai saya akan mengantarkan Mak pulang tapi Wangi akan tetap tinggal "


*Hai gaes maaf ya karena outhor lama gak update, satu kata selamat membaca para readers setia-ku. Alhamdulillah akhirnya hari ini othor bisa up walau hanya 1 bab ya gaes dan jangan bosan bosan untuk memberikan dukungan terbaik dari kalian tentunya gaes.


Dan semoga outhor bisa up 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.


Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*,

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍


__ADS_2