
Wati mulai berlajar berlatih membuat mantra segel, dan ternyata membuat mantra segel lebih sulit dari belajar ilmu kanuragan dan ilmu beladiri lain.
Ilmu mantra seger mengharuskan orang yang mempelajarinya untuk memiliki kekuatan spiritual yang kuat.
Mantra segel ada yang bisa dibuat hanya dengan melakukan gerakan tertentu dengan merapalkan semacam mantra, tapi ada juga yang dibuat dengan dituliskan menggunakan tinta tertentu, dan tinta segel bukanlah tinta biasa.
Tinta untuk segel dibuat khusus dengan menggunakan beberapa ramuan dari sumber daya berupa herbal ditambah dengan darah hewan cemani.
Untuk mempelajari ilmu segel, wati lebih dulu berlatih ilmu yang bisa meningkatkan kekuatan spiritualnya yang di bantu oleh siluman harimau putih itu.
Selama mempelajari ilmu segel, wati terpaksa menginap di dalam hutan untuk sementara waktu.
Karena untuk meningkatkan kekuatan spiritualnya saja wati harus melakukan tapa atau yoga selama berhari-hari atau bahkan mungkin sampai berbulan-bulan.
Setelah seratus hari akhirnya siluman harimau putih memerintahkan wati untuk mengakhiri tapanya karena kekuatan spiritual wati sudah menjadi cukup kuat.
Wati yang telah menyelesaikan tapanya segera mengkonsumsi pil herbal yang selalu dibawanya untuk memulihkan staminanya.
"Ah....rasanya aku tidak dapat merasakan kakiku, sudah berapa lama aku melakukan tapa tuan harimau ?"
tanya wati sembari meluruskan kakinya untuk melemaskan otot-otot kakinya yang kaku.
"Gadis lemah, baru juga seratus hari melakukan tapa, sudah seperti orang yang bertapa selama berabad-abad"
__ADS_1
jawab si siluman harimau putih dengan sengaja mengejek wati, bertujuan agar wati lebih bersemangat dan tidak mengeluh.
"Aku ini hanya ingin berlatih membuat segel bukan ingin menjadi pertapa, untuk apa bertapa lama sampai berabad-abad seperti katamu itu"
balas wati dengan ketus sambil melakukan gerakan peregangan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku semua.
"Hah.... terserah kau sajalah gadis kecil, apa kau tidak ingin makan setelah tapa seratus harimu ?,itu sudah aku siapkan makanan untuk mu"
kata siluman harimau putih itu penuh perhatian.
"Wah.... ternyata kau cukup baik juga tuan harimau, kau tau saja kalau perutku mulai menjerit minta diisi"
kata wati sambil menyengir memegang perutnya yang mulai bernyanyi.
"Tuan harimau dari mana kau mendapatkan semua makanan ini ?, karena tidak mungkin kau memasaknya"
tanya wati dengan mulut yang penuh makanan.
"Tentu saja aku membelinya, kan tidak mungkin aku mendapatkan makanan seperti ini dihutan"
jawabnya tak acuh sambil mengistirahatkan tubuhnya dibawah pohon dan menjilati jari jari tangan atau kakinya entahlah.
Wati memperhatikan semua makanan yang tersaji di hadapannya,
__ADS_1
ada nasi, sayur dan lengkap dengan lauk seperti ikan udang dan ayam bakar, bahkan ada sambal dan lalapannya.
"Bagaimana kau membelinya dengan tubuhmu yang seperti itu ?"
tanya wati heran, namun sejenak kemudian dia kembali berbicara saat ingat kalau ki ireng yang wujud aslinya ular raksasa atau naga itupun bisa berubah wujud menjadi manusia
"Jangan katakan kalau kau juga bisa berubah wujud menjadi manusia ?"
kata wati sambil memberikan tatapan tajam pada si siluman harimau putih itu dan menggigit ayam bakarnya seolah ingin menggigit sang harimau siluman yang sedang rebahan dengan memejamkan matanya.
"Hem"
Siluman harimau putih itu hanya menjawabnya singkat dengan suara malasnya tanpa membuka matanya.
Wati yang mendadak kesal, sengaja melemparkan tulang ayam sisa makannya ke harimau siluman itu
"Keletok !, aduh...kau ini tidak tahu terima kasih ya ! dasar gadis tidak punya sopan santun"
suara tulang yang dilempar mengenai kepala siluman harimau putih itu, dibarengi jerit mengaduh sang harimau siluman dan disambung dengan omelan.
"Baiklah terima kasih untuk makanannya tuan harimau, tapi kau harus memperlihatkan wajah mu padaku"
*Author kembali update, dan terimakasih untuk semua readers yang selalu setia membaca dan menantikan cerita author ini, ikuti terus ceritaku dan jangan lupa tinggalkan jejakmu vote like koment dan rateππ*
__ADS_1
ππππππππππππππππππππππππππππππππ