
Malam ini wati kembali berlatih, tidak ada yang tahu semua latihan yang dilakukan oleh wati.
"Sudah cukup lama aku tidak berlatih ilmu batin dan beladiri ku, dan tampaknya eyang putri dan bik yati sudah tidur, jadi aman aman saja kalo sekarang aku berlatih"
Wati mulai mengambil sikap duduk bersila dan berkonsentrasi memfokuskan semua inderanya pada titik fokus, kemudian mengatur pernapasannya seiring konsentrasinya mulai fokus.
Tampak cahaya putih dan emas mulai menyelimuti seluruh tubuhnya dan perlahan lahan sebuah ruang waktu tercipta dan membawanya kesebuah puncak hijau.
"Selamat datang kembali putri, lama tidak berjumpa"
Wati segera membuka matanya begitu mendengar sapaan dari seseorang yang di kenalnya.
"Assalammu'alaikum, ki ireng.. senang bisa bertemu ki ireng lagi"
"Iya tuan putri saya juga senang, sudah lama putri tidak berkunjung dan berlatih"
"Saya terlalu sibuk ki, kalau bukan karena peristiwa baru baru ini mungkin saya tidak sadar kalau saya masih sangat lemah"
"Baiklah mulai sekarang putri harus mulai belajar olah tenaga dalam"
Wati pun mulai belajar untuk menguasai tehnik tenaga dalam.
Ki ireng membantu membuka beberapa titik di pembuluh darah nya untuk membantu wati menyerap energi alam dan mulai mengolahnya menjadi tenaga dalam.
Ki ireng juga mengajarkan beberapa tehnik untuk memperkuat aura kehidupannya, sehingga dimasa depan wati bisa lebih sensitif terhadap bahaya yang mengintainya.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, wati pun menyudahi latihannya.
"Saya rasa latihan malam ini cukup sampai disini dulu ki, kita akan lanjutkan malam berikutnya lagi"
"Baikla karena memang sudah menjelang subuh, memang sebaiknya kita lanjutkan besok lagi putri"
"Kalau begitu saya pamit dulu ki ireng"
Wati segera mengambil posisi seperti awal saat dia memulainya di kamarnya.
Cahaya putih dan emas kembali menyelimuti tubuh wati dan sebuah lobang ruang waktu muncul, saat itu juga tiba tiba tubuh wati sudah berpindah tempat kembali di dalam kamarnya.
Wati membuka matanya, lalu melihat ke arah jam dinding.
"Untunglah tidak kesiangan"
Wati mulai berkonsentrasi menyerap pil yang baru diminum nya.
Pagi harinya seperti biasa andre sudah datang menjemput wati, seolah sudah menjadi rutinitas yang wajib bagi andre.
"Nak andre ayo kita sarapan dulu, sebentar lagi juga wati sudah siap"
ajak eyang putri sambil menggandeng tangan andre.
Eyang putri sudah menganggap andre sebagai cucunya sendiri sejak andre membantu wati dan eyang pindahan, sejak itu andre sering datang dan eyang putri menganggapnya sebagai cucunya.
__ADS_1
Saat andre dan eyang putri sedang sarapan, tak lama putri muncul dan ikut sarapan.
"Eyang..,wati dan andre pamit berangkat kerja dulu ya eyang, Assalammu'alaikum"
wati dan andre berpamitan dan mencium punggung tangan eyang putri.
"Wa'alaikum salam"
"Seng hati hati di jalan ya nduk, andre jangan ngebut ngebut ya"
"Iya eyang"
jawab wati dan andre bersamaan.
Wati dan andre berjalan keluar lorong karena hari ini andre memakai mobil dan diparkir pinggir jalan depan lorong.
Eyang putri memandangi kepergian wati dan andre dengan tatapan penuh arti.
"Tumben kamu pakai mobil, padahal kamu pernah bilang lebih suka naik motor"
"Aku memang lebih suka naik motor berdua dengan kamu wat...tapi aku takut gak kuat iman kalo sudah merasakan pelukanmu itu"
bisik andre ke telinga wati, membuat wati menahan nafas karena gugup.
Tanpa disadari wati mukanya sudah memerah.
__ADS_1
"Ha...ha...kamu lucu sekali, segitunya sampe itu muka merah banget".
*Dukung author dengan vote dan like ya gaes๐๐*